Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 19 : Yudha Sandia


__ADS_3

(CERITA DI BAB INI DIBUAT DARI SUDUT PANDANG YUDHA)


Gue Yudha. Gue adalah seorang Predator…


Namanya Inara Sandia Wirabraja. Usianya waktu itu adalah tujuh belas tahun. dia adalah kakak perempuanku satu-satunya dan dia melenyapkan dirinya sendiri tepat di depan mataku.


Kakak tahu, ini berat. Tutup mata kamu dan anggap aku gak pernah ada. Jangan lagi mengingatku Yud. Waktuku sudah habis dan ini adalah kehendak Tuhan untuk kita.


Ia begitu tenang ketika ia mengiris pergelangan tangannya sendiri tepat di depan mataku.


Aku gemetar, bibirku benar-benar bungkam. Aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk  berteriak. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana Inara malam itu pulang dengan pakaian yang berantakan serta bekas luka yang bertebaran di sekujur tubuhnya.


Usiaku masih tiga belas tahun waktu itu. Aku benar-benar gagal memahami semua kekesalan serta ketakutanku. Aku kesal karena dia yang meninggalkanku di saat aku begitu bergantung kepadanya. Aku juga merasa takut ketika melihat mereka mengubur jasad Inara tepat di depan mataku. Aku juga takut ketika melihat ibuku jatuh pingsan berkali-kali. Bahkan api amarah yang berkobar di mata Papa juga turut terngiang bersamanya.


Aku takut, aku kesal dan aku marah. Karena itu aku berpikir bahwa orang lain juga harus merasakannya. Merasakan rasa kesalku, rasa marahku dan ketakutan Inara saat itu.


Aku memulainya dengan pergi dari rumah. Satu hari, dua hari, ,tiga hari. Periodenya terus meningkat. Aku bahkan mulai menghilang selama berminggu-minggu, bulan dan bahkan tahun.


Aku yakin bahwa bahkan Papa dan Mama mungkin juga sudah lupa bahwa mereka juga memilikiku sebagai anak mereka dan bukan hanya Inara.


Aku mulai menyakiti mereka dalam pelarianku. Mereka yang tidak bersalah tetapi menjadi alasan bagi kesalahan seseorang.


Aku ingat persis apa yang aku fikirkan saat itu. Pada dasarnya aku berpikir bahwa ini semua adalah kesalahan kedua orang tuaku. Karena mereka yang begitu acuh kepada kami lantaran pekerjaan mereka.


Sejak itulah Inara pun lebih sering melupakan rumah, begitu juga denganku. dia hidup tersiksa seumur hidupnya. Aku berkali-kali melihatnya menangis. Namun sayangnya, dia selalu tersenyum ketika berada di hadapanku.


Dasar Gadis Bodoh! Pikirku. dia bahkan tak memedulikan perasaannya sendiri. Lalu mengapa dia harus memikirkanku.

__ADS_1


Aku mulai menyakiti satu persatu gadis dengan menculiknya dan memberikan mereka ke sarang predator. Aku yang masih berusia cukup muda bahkan tak pernah sekalipun di curigai. Aku perlahan menjadi tangan kanan seseorang. Aku memiliki kekuatan dan makin menyakitkan dari sebuah belati yang tak sengaja menikam pemiliknya dari saku belakang mereka.


Aku benar-benar berbahaya. Seorang remaja yang memiliki jiwa seperti singa. Aku berada di puncak rantai makanan asal kau tahu. Aku menyakiti semua yang menyakiti. Aku hanya mengincar putri dari seorang penjahat. Entah mereka seorang bajingan atau mungkin seorang iblis yang bermain peran sebagai seorang malaikat.


Sama seperti Inara yang dilecehkan oleh lawan bisnis Papa dan dihancurkan harga dirinya hingga berkeping-keping. Ia hampir saja di jual saat itu. Andai saja ia tidak membahayakan dirinya dengan kabur dari tempat itu dengan taruhan nyawanya sendiri.


Tapi ia memanglah seorang gadis bodoh. Untuk apa dia menyusahkan diri untuk kabur jika pada akhirnya ia juga memilih untuk mengakhiri nyawanya sendiri.


Inara berengsek! Bahkan aku masih mengutukinya meskipun jiwanya mungkin sudah sangat tenang di atas sana. Dia benar-benar membuatku merasa menyesal dan marah dalam satu waktu yang sama.


Satu per satu tahun mulai berlalu, dan aku pun mulai menyukai pekerjaanku sebagai puncak rantai makanan. Aku menjadi pemimpin mereka. Karena satu per satu pemimpin yang melawanku pun ikut merasakan terkamanku yang tak pernah bisa terelakkan.


“Karena setiap  orang memiliki kelemahan berupa orang yang sangat mereka sayang.” tetapi aku berbeda. Inara sudah lama pergi dan aku pun sudah begitu kokoh berdiri tanpa memiliki satu pun kelemahan terselip dalam hati maupun nuraniku.


“Ada apa?” tanyaku sangat tak acuh begitu seorang pemuda bernama Adelio datang menghampiriku untuk menawarkan pekerjaan.


“Aku justru ingin kau bermain. Bermainlah! Kalau perlu untuk waktu yang sangat lama. Kau tahu makin lama permainannya, maka akan makin menyenangkan bukan?” tawarnya yang makin membuatku tertarik.


Aku ingat bahwa kali terakhir aku telah cukup puas bermain  dengan mengakhiri nyawa seorang anak lelaki dan bukan wanita dari musuh incaranku. Mungkin dengan hidup dalam identitasnya akan bisa membantuku lebih bersenang-senang.


Mengasuh seorang musuh sebagai anak kandungmu sendiri, bukankah itu akan mengundang permainan yang sangat ekspresif dan mengundang emosi. Aku bisa memainkan dua permainan sekaligus dalam satu waktu.


“Oke!” jawabku singkat.


Aku benar-benar tak mengira bahwa permainan itu akan berlangsung sampai hari ini.


******

__ADS_1


“Kamu takut sama abang?”


“Aku dengar semuanya. Aku tahu siapa kamu. Aku takut mereka celakain kamu Yud.” Gadis itu bisa-bisanya dia memelukku begitu erat. dia benar-benar membuatku bingung akan perasaanku untuk sesaat.


Ini sebenarnya adalah hal yang aku suka. Ketika musuhku menangis meminta bantuanku. Maka itu akan menjadi moment yang paling tepat untukku membuatnya terasa lebih menyakitkan. Namun kali ini rasanya sungguh berbeda.  Gadis itu mengatakan jika ia takut aku akan terluka. Gadis itu merobek harga diriku, tetapi bisa-bisanya aku malah merasa hangat.


Perasaan macam apa ini, Yudha? umpatku tak bersuara.


Tanganku mengepal begitu keras ketika gadis itu makin mempererat pelukannya.


“Dia yang di culik, di jual dan di lecehkan hingga mengakhiri nyawanya sendiri. dia memang kakak kamu. Aku paham kamu kesal, kamu kecewa. tetapi dengan melakukan hal yang sama, lantas apa perbedaan kamu dengan mereka?” ujar gadis itu yang membuat emosi ku makin memuncak.


“Tahu apa kamu soal perasaan saya! Saya senang dan saya bahagia, terus kamu mau bilang apa? Penyesalan? Itu tak pernah ada di dalam kamus Yudha.” Bentakku.


“Jangan jadi iblis untuk membalas mereka. Kamu Cuma akan menambah korban lainnya, ingat mereka tak bersalah. Menjadi orang tersayang dari seorang yang biadab bukanlah sebuah kesalahan bang.” Aku tersentak, lidahku membeku begitupun tubuhku. Ada getaran tak biasa yang tiba-tiba menguasaiku saat itu.


“Kamu tahu, aku deketin kamu pun untuk alasan yang sama?” ujarku mencoba membuatnya terintimidasi.


“Aku tahu, dan aku setuju. Karena itu aku selalu berada di sisi kamu. “ jawab gadis itu mantap.


“Kamu tahu?” aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran gadis itu saat ini. Mengapa ia begitu bodoh? Jika ia mengetahuinya, lalu mengapa ia tidak kabur?


“Jika itu bisa membuat dendam Bang Lio hilang, dan membuatmu berhenti aku tidak masalah. Aku hanya percaya bahwa kau adalah orang baik dan aku bisa merasakannya.”


Tubuhku melemas. Aku menjatuhkan tubuhku di samping gadis itu. Kami saling berbagi tangis untuk waktu yang cukup lama. Ia bahkan juga memelukku dan menenangkanku. Padahal ia tahu persis bahwa aku berniat ingin melenyapkannya.


Ia benar-benar mengingatkanku kepada Inara di malam itu. Tatapan mata mereka serupa. Mereka sama-sama mengorbankan diri mereka untuk orang yang mereka cinta. Setidaknya itulah yang aku temukan ketika kembali ke rumah ini beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Surat cinta dari Inara untuk papa, bahwa dia begitu menyayanginya dan tidak ingin menjadi titik kelemahannya. Mereka berdua sama-sama bodoh, dan itu sungguh membuatku melemah.


__ADS_2