Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 17 : Jati Diri seorang Theo Urdha


__ADS_3

"Kalau ada yang bisa abang lakuin buat bikin kamu senyum lagi..." gadis itu menatapnya dari seberang ayunan yang berbeda.


Mereka berdua kini tengah menaiki ayunan yang berada di dekat lokasi pemotretan. Duduk di ayunan yang berbeda dan menatap ke arah yang berbeda.


"Apa?" sambungnya setelah beberapa detik.


Gadis itu merenung sesaat. Fikirannya melayang ke mana-mana. Rohnya sedang pergi jauh dan ia tengah berjuang untuk memanggilnya. Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, setelah mematung selama beberapa menit.


"Buktiin sama aku, kalau benar ada orang yang bisa dipercaya di dunia ini. Aku benci kebohongan." jawabnya dengan tatapan yang melayang entah ke mana.


"Kamu cemburu soal Aksa?" tanya Yudha yang membuat gadis itu tertegun.


"Aku benci waktu dia bohong. Andai dia bilang kalau dia suka Alicya, aku pun bakalan janji untuk merestui hubungan mereka."


"Kamu suka Aksa?" gadis itu menggeleng.


"Aku merasa punya tanggung jawab sebagai istri, atau sebagai orang yang selama ini ada di sampingnya. Aku pernah mikir kalau Aksa yang butuh aku. Tetapi ternyata, itu cuma rasa percaya diriku yang berlebihan dan aku yakin, egoku terluka karena itu." jelasnya mantap.


"Dia selalu bersikap seakan cuma aku yang ada di dunianya. Aku kira akulah yang menjebaknya dalam perasaan yang tidak perlu, karena rencanaku. Tetapi aku salah. Dia hanya terlalu terbiasa dengan kehadiranku."


"Kalau abang egois, dan minta kamu ninggalin dia. Apa kamu mau?"


Gadis itu merenung sesaat. Matanya mengungkapkan kekosongan. Ia tak memikirkan apapun, Ia tak memiliki jawaban. Atau mungkin justru ada jawaban pasti yang tak lagi memerlukan pilihan


"Aku punya rencana, aku punya tujuan. Dan untuk saat ini, aku cuma berpikir kalau selama tujuan itu tak terpengaruh maka bukan masalah." jawabnya santai kemudian.


Jawaban yang memiliki arti sangat ambigu bagi seorang Yudha. Namun begitu berarti untuknya.


"Oh ya Je, hari ini abang mulai mikir untuk masuk kampus. Papa akan kenalin aku sama dosen yang bisa bantu aku secara privat. Aku juga udah mulai belajar bisnis hari ini. Mungkin minggu depan aku bakal diangkat secara resmi sebagai CEO sementara buat gantiin tugas Papa."

__ADS_1


Gadis itu mengangguk tanpa reaksi apapun. Kehidupannya selama dua tahun terakhir benar-benar bak roller coaster yang naik turun.


Mulai dari rumor perselingkuhan Aksa yang mengusik egonya. Belum lagi perubahan drastisnya dan terbongkarnya jati diri seorang Yudha benar-benar membuatnya merasa sedang berada dalam permainan peran.


Dua tahun yang lalu, di Rumah Sakit Light Medika tepat setelah ia memutuskan untuk meninggalkan Aksa, jati diri Yudha yang sebenarnya pun terungkap.


Ia tengah berada di dalam kamar inap rumah sakit dengan keadaan lemah waktu itu. Waktu ketika beberapa pengawal berbadan kekar menculiknya dan juga Aksa dan mengurung mereka di salah satu rumah besar dengan fasilitas dewa.


Ia disekap, namun ia juga mendapat perlakuan yang sangat baik. Perawatan medis kelas atas yang dirangkum dalam sebuah kamar VIP berukuran hampir sebesar ruangan auditorium.


Belasan penjaga berpakaian serba hitam yang menjaganya dua puluh empat jam tanpa henti. Dan kamar yang langsung menghadap ke laut dengan pencahayaan matahari yang sangat baik.


Gadis tahu persis bahwa ini adalah sebuah vila yang terletak di pulau pribadi.


Ia di sekap disana bersama dengan beberapa tenaga medis andal. Makanan yang dia dapatkan juga kaya akan nutrisi.


Namun siapa sangka, jika setelah kesembuhannya ia justru malah bertemu dengan seseorang yang tak lagi asing di matanya.


Tuan Sandiara Wirabraja. dia adalah pemilik universitas di tempatnya menuntut ilmu. Tuan Sandi bahkan juga dikenal sebagai seorang professor andal di bidang kedokteran. dia merajai dunia medis serta menjadi distributor tunggal alat-alat kesehatan di Asia dan juga Afrika.


Dan pria yang terlihat muda dengan wajah ramah ini ternyata adalah ayah kandung dari seorang Theo Urdha yang selama ini menyembunyikan identitas Wirabraja dari balik namanya.


Nama aslinya adalah Yudha Sandia Wirabraja. Ia selama ini memakai nama samaran yang ia curi dari seseorang.


Jati dirinya yang sesungguhnya sangat berbeda dari apa yang terlihat. dia adalah ketua dari Markas Gelap yang mengepalai tindak kriminal kelas kakap.


Singkatnya, ia adalah ketua geng mafia yang mengepalai pasar gelap dan perdagangan manusia. Nama aslinya begitu dikenal di dunia hitam.


Bukan hanya nama, identitas dan semua yang ia nampakkan selama ini adalah palsu. Nama aslinya Yudha Sandia Wirabraja. Usia aslinya adalah dua puluh lima tahun. dia dua tahun lebih tua dari identitasnya saat ini.

__ADS_1


Ia adalah seorang yang tak berpendidikan. Ia tak pernah mengenyam bangku sekolah selama hidupnya. Namun ia dikenal sebagai seorang yang sangat cerdas. Semua ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan selama ini ia kumpulkan dari pengalamannya di lapangan saat bertemu dengan orang-orang hebat.


Yudha adalah orang yang tak tersentuh. Bahkan jati diri seorang Theo Urdha yang di dapatkannya hanya ia gunakan untuk menggertak musuh. Melenyapkan Theo Urdha yang asli dan hidup dalam jati dirinya. Ia benar-benar membuat keluarga itu mati kutu.


Mungkin lebih baik melenyapkan diri dibanding harus tinggal bersama dengan pembunuh dari putra mereka sendiri.


Tetapi Jeana berbeda. Ia benar-benar mengubur jati diri seorang Yudha Sandia dan menggantinya dengan Theo Urdha yang sebenarnya. Pemuda itu benar-benar lembut ketika bersamanya.


Bahkan ketika ia mengetahui bahwa Yudha adalah senjata yang di selundupkan oleh Lio ia sama sekali tak merasa gentar.


"Kamu takut sama abang?" tanya Yudha khawatir ketika semua jati dirinya terbongkar di kediaman Wirabraja.


Gadis itu menggeleng. Dengan wajahnya yang masih sangat pucat, dan tubuhnya yang ringkih ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Yudha dengan berpegangan kepada tiang infus.


Ia sesenggukan ketika kaki lemahnya ia paksa berjalan menuju ke arah Yudha yang berdiri di ambang pintu. Namun kakinya tersangkut, seakan dia telah kehilangan semua tenaganya dan terhuyung jatuh.


Yudha menangkap tubuh gadis itu dan mendekapnya dengan sangat erat. "Abang ke mana aja? Aku takut" ujar gadis itu sesenggukan dalam pelukan Yudha.


"Abang di sini. Jangan takut " lirihnya sambil menahan air mata.


"Aku dengar semuanya. Aku tahu siapa kamu." sambung gadis itu yang membuat Yudha melepas pelukannya dan menatapnya dengan intens.


"Aku takut mereka celakain kamu Yud." lanjutnya makin terisak.


Yudha tersenyum. dia merasa hangat sekaligus bahagia. Gadisnya benar-benar merasa nyaman di dekatnya dan dia bersyukur untuk itu.


Bahkan berkali-kali ia menjelaskan jati dirinya kepada gadis itu. Namun Jea benar-benar menerimanya. Ia terharu untuk itu, begitupun gadis itu.


Jea selalu bisa membaca orang di sekitarnya. ia benar-benar mampu mendinginkan api dan melunakkan besi. Ia gadis yang sangat berbeda.

__ADS_1


__ADS_2