Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 56 : Kondisi Yudha


__ADS_3

Jeana terbangun di sebuah kamar rumah sakit dengan selang infus dan masker oksigen terpasang di tubuhnya. Ia mencoba melihat sekelilingnya untuk mencari petunjuk.


Itu adalah kamar rawat inap untuk dua orang. Ia melihat ke ranjang di sebelahnya. Ada pasien lain dengan begitu banyak alat penopang di tubuhnya.


Kepalanya di balut perban, begitu juga kakinya dan kedua lengannya. Kondisinya nampak cukup parah dibanding dirinya yang hanya mengalami beberapa luka lecet di tubuhnya.


Ia mereka ulang semua adegan terakhir yang berputar di kepalanya. Ia tengah berbincang dengan Yudha ketika sebuah truk menghantamnya dari arah belakang.


Ia ingat, ia bersama Yudha pada saat terakhir. Gadis itu berusaha bangun dan memeriksa kembali wajah pasien di ranjang sebelahnya.


Tidak salah lagi, itu adalah Yudha. Jea melepas paksa masker oksigen itu dari wajahnya, ia melompat turun dan menghampiri Yudha. Ia bahkan tak menyadari bahwa selang infus di tangannya tertarik dan mengakibatkan pendarahan disana.


"Aylana!" pekik Ny Angela saat ia tiba-tiba saja masuk dan melihat kondisi putrinya.


Ada begitu banyak wartawan di luar, ia harus bersikap hati-hati.


"Nak, tangan kamu. Sini Mama obati dulu ya?" ia meraih lengan Jea sementara gadis itu masih bertumpu pada ranjang Yudha dengan posisi badannya yang tengah memeluk tubuh lemah Yudha.


"Lepas dulu sayang, kamu duduk disini." Ny Angela menarik sebuah kursi dan mendudukkan gadis itu disana.


"Kak Yudha ma." rengeknya kepada Ny Angela yang masih sibuk mengobati luka di tangannya.


"Dia meluk kamu pas kecelakaan itu Ay. Dia berusaha lindungi kamu. Karena itu kondisinya bisa separah ini. Dia sayang sama kamu Aylana." Ny Angela membelai lembut kepala putrinya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Ini salah aku Ma. Aku bahkan selalu buat dia kecewa. Dan sekarang dia celaka karena aku Ma." rengeknya.


"Nggak ada yang salah soal cinta Nak. Cinta memang terkadang bisa berjalan diluar nalar manusia. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah dengan menjaganya. Cuma itu yang bisa menebus semua kesalahan kamu sama dia."


Mereka berdua menangis bersamaan, dan saling peluk satu sama lain. Kondisi Yudha memang seburuk itu.


Ia mengalami benturan yang cukup keras di bagian belakang kepalanya karena berusaha melindungi Jea dan menghadang semuanya sendirian.


Kakinya juga terjepit diantara badan mobil. Tulang punggung dan lehernya patah. Ia sebenarnya sudah lebih dulu sadar di banding Jea. Tapi ia kehilangan kemampuan motoriknya dan hanya bisa terbaring menatapi gadis itu menangis sejak tadi. Ia tak bisa menggerakkan kaki maupun tangannya.


"Kamu mengalami trauma yang menyebabkan kamu tak sadarkan diri. Tapi Yudha sepenuhnya sadar, bahkan sejak kalian di bawa kemari. Ia begitu kesakitan sebelumnya, tapi tak bisa merasakan apapun kini. Maaf, karena mama harus memberitahunya kepadamu."


Jeana menatap Yudha dengan raut wajah bersalah. Ia terus menggenggam jemari pemuda itu dan meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya ia melihat suaminya lemah dan tak berdaya seperti itu. Hatinya sakit.


"Ia kuat Ay. Ia bahkan masih terus berusaha sadar demi melindungi kamu. Tapi kondisinya tak begitu baik, ia pasti sangat menderita saat ini." jelas Angela yang semakin membuat gadis itu merasa bersalah.


Satu bulan pun berlalu. Jeana masih terus setia berada di samping Yudha. Jea benar-benar telaten mengurus suaminya itu. Ia mengurus semua kebutuhan Yudha mulai dari bangun tidur sampai malam kembali menjelang.


Ia juga membantunya untuk menjalani therapy. Yudha sudah bisa menggerakkan sedikit demi sedikit tangannya. Tapi ia masih membutuhkan bantuan untuk duduk. Separah itulah kondisinya saat ini. Dan Jea tahu persisi itu semua karena dirinya.


"Jangan nangis." Yudha mengusap air mata gadis itu dengan segenap tenaga yang ia punya. Tangannya masih begitu lemah. Ia hanya bisa menggerakkan jari-jarinya, gadis itu yang mengarahkan tangan sang suami ke wajahnya.


Setiap harinya Jea selalu bangun lebih pagi untuk memasakkan sarapan untuk Yudha. Ia juga membantunya untuk mandi dan berganti pakaian. Ia membawanya untuk berjemur setiap pukul delapan pagi dan dilanjutkan dengan therapy pada satu jam setelahnya.

__ADS_1


Luka-lukanya juga sudah mengering, karena gadis itu benar-benar merawatnya dengan telaten. Semua keputusan yang mengatasnamakan Yudha di perusahaan, juga ia handle dari rumah. Ia mengatur perusahaan secara daring dari rumah dengan bantuan Yudha.


Ia juga masih melaksanakan perlahan semua rencananya di bawah bantuan Rana dan Diandra. Kondisi Jason juga sudah membaik di bawah bantuan therapy psikologi dari Angela.


Semuanya berjalan dengan lancar, namun tidak dengan kondisi Jeana. Kondisi mentalnya sangat labil, meskipun ia masih terlihat tenang. Ia selalu menghabiskan malamnya dengan menangis sambil memeluk sang suami.


Tubuhnya semakin kurus, matanya bengkak, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tak lagi bisa disembunyikan dengan riasan. Ia selalu memakai riasan tebal di depan Yudha. Ia bahkan tak menghapusnya saat tidur. Ia tak ingin Yudha melihat air matanya.


"Kak Yudha, makan dulu ya?" pagi itu seperti biasanya Jeana mengatur menu sarapan sehat untuk Yudha setelah membantunya mandi. Ia meninggalkan Yudha lebih lama dari biasanya, karena ada tamu dari perusahaan yang mengantarkan berkas untuk ia tandatangani.


Ia selalu membiasakan diri untuk mengetuk pintu terlebih dulu sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. Tapi berbeda dari biasanya, tak ada jawaban apapun dari Yudha.


"Kak, aku masuk ya?" ujarnya dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin.


"KAK YUDHA!!!" Pekiknya yang langsung menghebohkan seisi rumah. Mereka berbondong-bondong datang ke kamar Yudha untuk mengecek kondisi pemuda itu.


Yudha terjatuh dari tempat tidurnya ketika ia sedang memaksakan dirinya untuk berdiri. Kepalanya terbentur ke nakas. Jeana shock ketika melihat kejadian tersebut dan hampir menjatuhkan nampannya ke lantai, tapi sebuah tangan tiba-tiba menyambarnya dan menahan nampan itu.


"Aku gak apa-apa. Jangan teriak." pria itu mengunci pintu dari dalam.


Ia adalah Yudha. Ia berdiri dengan tubuh tegap sempurna di hadapan Jeana saat ini. Ia menangkap kedua bahu Jea, dan memintanya untuk tenang.


"Aku terjatuh dari kursi saat hendak mengambil ini." Ia menunjukkan sebuah alat penyadap berukuran sangat kecil yang ia temukan di plavon kamarnya.

__ADS_1


Ia sudah menyelidikinya selama ini. Ia memakai alasan kelumpuhannya untuk menyingkirkan semua jebakan yang terpasang begitu dekat dengannya. Ia benar-benar baik. Ia bahkan mampu berlari mengelilingi lapangan sepak bola saat ini dengan kekuatannya sendiri.


"Aku tahu kamu siapa, dan aku tahu kalau kamu dalam bahaya." ujarnya membuat nyali Jea semakin ciut. Gadis itu berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar hebat. Ia jatuh tak sadarkan diri di dalam dekapan Yudha.


__ADS_2