
"Aku merindukanmu Je." lirih Yudha sambil mendekap erat gadis itu, namun yang dipeluk masih saja diam dan tak memberikan respon apapun.
"Jea, lihat aku!" titahnya tanpa melepaskan Jea.
Gadis itu menurut. Ia mendongakkan kepalanya menghadap ke arah Yudha. Yudha mengecup bibirnya dengan hangat hingga tiba-tiba mata gadis itu terpejam.
"Pergi! Jangan dekat-dekat!" teriaknya hingga membuat Yudha melangkah mundur.
"Aku Yudha, suamimu." ujarnya ragu.
"Pergi! Semua orang pembunuh. Surya membunuh semuanya. Semua ingin balas dendam. Aku bukan anak Surya." ujarnya histeris.
Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke salah satu sudut ruangan dan memeluk kakinya dengan sangat erat. Bibirnya bergetar, dan ia terus mengulangi kalimatnya tanpa henti.
"Pergi! Semua orang pembunuh. Surya membunuh semuanya. Semua ingin balas dendam. Aku bukan anak Surya."
"Iya, nak. Kamu bukan anak Surya. Kamu putri Papa." ujar Sanjaya yang menghampirinya dan memeluknya hangat.
Gadis itu diam untuk sesaat. Sampai akhirnya ia kembali histeris dan ketakutan saat melihat Yudha yang masih berdiri di hadapannya.
"Dia terus seperti ini sejak aku selamatkan. Dia menolak kehadiran orang baru dan berfikiran bahwa semua orang ingin menyakitinya."
Yudha meneteskan air matanya tanpa henti. Hatinya sakit melihat kondisi Jea seperti itu.
Sedangkan Jea. Ia hanya menenggelamkan wajahnya di dada Sanjaya dan enggan untuk menoleh.
Sanjaya dengan terpaksa menyuntik gadis itu dengan obat penenang. Jea tertidur begitu lelap seperti bayi. Air mata yang sebelumnya terus mengalir, perlahan mengering dan mengembalikkan wajahnya nan cantik.
"Apa papa tidak berfikiran untuk memberi tahu Bang Arsen atau Aksa?" tanya Yudha sambil menatap wanitanya dengan tatapan sayu.
"Aku ingin sekali memberitahu Aksa. Apalagi karena pemuda itu sudah mengetahui jati dirinya sebagai kakak Jeana. Tapi...." Sanjaya menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi apa pa?"
Sanjaya mereka ulang kembali kejadian disaat ia menyelamatkan Jeana dari kecelakaan itu.
*****
"Aku sudah membantunya Tuan. Aku membantunya banyak, bahkan setelah aku tahu bahwa aku bukan putri Surya melainkan putri dari Keluarga Akeno.
Sulit untuk memaafkan kejahatan ayahnya. Aku juga butuh keberanian untuk membantunya mengembalikan semuanya. Aku tidak siap mengambil resiko lebih jauh." pinta Diandra yang dimintai bantuan oleh Sanjaya perihal Jeana.
"Jika Aksa menolak pernikahan ini, maka mereka juga tidak bisa mengungkapkan jati diriku sebagai putri Akeno. Aku yang akan menanggung semuanya. Aku bahkan sudah mengambil resiko untuk menikahi seorang yang tak mencintaiku."
Sanjaya terdiam. Ia mencoba berfikir dari sudut pandang Diandra.
Sudah cukup sulit baginya selama ini untuk hidup di bawah bayang-bayang Surya. Ia tak bisa bersikap sama dan menjauhkan gadis itu dengan keluarganya.
Singkat cerita, identitas Diandra sebagai putri Akeno sudah diketahui oleh pihak keluarga. Mereka sudah tahu perihal Surya yang menukar Diandra dan Aksa sewaktu mereka lahir.
Para tetua juga tidak ingin keluarga besar menjadi buah bibir karena tragedi ini. Ditambah lagi karena mereka semua yang sudah begitu menyayangi Aksa sebagai bagian dari keluarga.
Keputusan terbaik yang ada saat ini adalah dengan menikahkan Diandra dan memperkenalkannya sebagai menantu Keluarga Akeno. Diandra harus menikahi Aksa untuk mendapatkan kembali hak dan statusnya. Dan mereka berdua menyetujui semua itu.
"Aksa bersedia melakukannya demi kebenaran dan masa depan keluarga. Tapi aku tak yakin jika ia akan tetap melakukannya jika tahu Jeana masih hidup." tolak Diandra.
"Aksa sudah tahu bahwa Jeana adalah adiknya. Ia takkan bisa mencintai Jea karena cinta mereka sangat terlarang." Diandra menggeleng.
"Tapi tetap saja mereka sudah pernah menikah dan Aksa pernah begitu mencintai Jea."
"Ia tak pernah menyentuh Jea selama pernikahan mereka Nak. Jeana sudah mengetahuinya sejak awal, dan ia membatasi interaksinya dengan Aksa." jelas Sanjaya namun masih tak bisa diterima dengan baik oleh Diandra.
"Aku pernah memperjuangkan gadis itu karena berfikir bahwa dia adalah adikku. Aku juga pernah mengorbankan Theo yang kukira adalah saudaraku. Aku sudah melalui banyak hal Tuan. Tidak bolehkah jika aku berfikir untuk memiliki keluarga yang utuh saat ini? Memiliki keluarga yang memiliki ikatan darah, dan memiliki seorang suami yang akan mencintaiku. Meskipun ku tahu ia masih berusaha untuk itu."
__ADS_1
Tangis Diandra semakin pecah, begitupun dengan Sanjaya. Mereka berdua larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Keduanya sama-sama mengutamakan ego dan berfikir bahwa situasi mereka itu sama sulitnya. Butuh beberapa waktu agar Sanjaya akhirnya memutuskan untuk mengalah dan kembali ke tempat persembunyiannya untuk menemani sang putri.
Harapan terakhirnya adalah Arsen putra kandungnya. Tapi Arumi membawanya menghilang ketika kasus Goksel mencuat.
Sudah terlambat juga untuk membawa Yudha kembali karena keluarganya yang bertolak ke Swiss dengan alasan pengobatan.
Satu-satunya harapan yang ia miliki adalah Syifa. Namun Syifa juga tak berhasil membawa keluarga itu kembali. Gadis itu juga memutuskan untuk menikahi Adelio dan ikut pindah bersama Arumi. Ia hanya meninggalkan pesan bahwa ia akan kembali. Ia belum mendapatkan kebenaran soal Jeana yang masih hidup.
Alhasil ini semualah yang terjadi hingga saat ini. banyak dokter dan rumah sakit yang menolak Jeana lantaran kendala biaya. Pengobatan tradisional juga tak membuahkan hasil.
Harta yang ditinggalkan Surya untuknya memiliki kode akses yang hanya diketahui oleh gadis itu. Dan ia tak bisa memberi informasi apapun karena keadaannya.
Dan itulah alasan kenapa mereka berdua bisa berakhir dengan takdir naas di gubuk lusuh ini.
*****
Hati Yudha terenyuh begitu mendengar penjelasan Sanjaya mengenai kondisi Jea.
"Andai saja aku mencarinya terlebih dulu. Andai saja aku tak mempercayainya. Andai aku tak mengira bahwa ia telah tiada. Andai aku...." Yudha menguraikan segala kemungkinan takdirnya akan berubah dan mulai meneteskan air mata yang tak ada hentinya.
"Sabar nak. Tidak ada yang bersalah disini. Sekarang kau juga sudah berada disini. Jeana akan memiliki dukungan kuat dari keluarganya, orang tua dan juga keluarga mertuanya. Ia akan segera membaik, percayalah." ujar Sanjaya yang masih memeluk Jeana dalam posisi yang sama.
"Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa hidup dalam keadaan seperti ini Pa." isak Yudha.
"Ia kuat Nak. Istrimu kuat, putriku kuat. Kita harus mendukungnya mulai saat ini. Sudah cukup ia berjuang sendirian selama ini. Sekarang kita yang akan membantunya." Yudha mengangguk.
Mereka bertiga pun menghabiskan malam itu dalama keheningan.
Yudha memutuskan untuk menginap di gubuk malam itu. Hanya ada satu kamar dengan kasur lusuh yang sudah mengempes. Ketiganya tidur disana dengan posisi Jea yang berada di tengah.
__ADS_1
Hati Yudha terasa sangat sakit. Ia benar-benar tak bisa membayangkan apa yang dilalui oleh istrinya selama ini.