
"Oke, kalau begitu bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan seru?" tawar Yudha setelah mereka sama-sama menenangkan diri.
"Apa?" tanya gadis itu seakan tak acuh.
Cih... Pemuda itu berdecih.
"Kenapa?" tanya Jeana seakan ada sesuatu yang janggal.
"Kau begitu pintar dan genius bagaimana bisa aku begitu mempercayaimu. Bahkan semua permainanmu selama ini, meskipun kau begitu menenggelamkan diri di dalamnya. Tapi aku tahu persis seberapa berbahayanya dirimu."
"Apa maksudmu?" tanyanya Jea yang tak lagi memperlihatkan sisi manisnya di depan Yudha.
Pemuda itu terkekeh. Ketika melihat perubahan gadis itu yang nyaris seperti bunglon.
"Ular itu memang tak bersuara dan pandai berkamuflase untuk membunuh mangsanya. Sama denganmu. Kau bahkan lebih licik dari seekor ular berbisa paling mematikan." tudingnya hingga membuat gadis itu terbelalak.
"Mau bermain apa?" tantang gadis itu tiba-tiba.
"Dampingi aku dan pastikan bahwa kau bukan musuh dalam selimut yang berkamuflase menjadi kehangatan." ujar Yudha penuh makna dan langsung meninggalkan gadis malang itu yang sebenarnya masih belum pulih total.
Rencana mereka pun dimulai keesokan harinya. Yudha tahu seberapa cerdas gadis itu hingga tak perlu lagi menjelaskan rencananya.
Mereka bersandiwara sebagai pasangan yang sedang di mabuk cinta di depan Tuan dan Nyonya Wirabraja.
Mereka tinggal di atap yang sama dan mendapat pengawasan ketat dari para pengawal pilihan sang dokter.
Yudha benar, pengawal mereka akan benar-benar menutup mata dan juga telinga mereka ketika disana. Bahkan semua gerak gerik mencurigakan Yudha seolah sama sekali tak terekam.
Bahkan Tuan dan Nyonya Wirabraja seakan membantu mereka begitu banyak. Ia membantu kedua pasangan itu untuk meneruskan pendidikan mereka secara privat di rumah besar itu. Mereka juga yang berperan besar untuk mengubah penampilan Jea dan menjadikannya sosok yang baru.
Nyonya Chintya Wirabrata adalah ahli bedah plastik andal. Ia nyaris melakukan semua hal dengan sempurna tanpa bekas ataupun tanda mencolok terkait operasinya. Tuan Sandia Wirabraja juga adalah seorang pebisnis hebat yang memiliki koneksi di mana-mana.
Dengan semua jalan yang begitu mulus dan nyaris tanpa celah itulah dia akhirnya kembali dengan sebuah rencana baru untuk menghancurkan ayahnya beserta semua kenangan buruk pada masa lalu.
****
"Dia tunanganku. Icy Aylana Goksel." Moment di mana dia diperkenalkan sebagai calon istri dari seorang Yudha Sandia bukanlah akhir tetapi baru sebagian kecil dari permulaan rencana mereka.
__ADS_1
"Aku juga mau melamarmu sebagai istriku. Di pesta yang begitu meriah ini, di moment yang sangat sakral bagiku. Nona Icy Aylana Goksel, maukah kau menjadi satu-satunya yang akan mendampingiku di sisa umurku?"
Yudha bertekuk lutut di hadapan gadis itu sambil memegang sebuah cincin berlian yang sangat manis. Gadis itu mengangguk dengan ekspresi yang sangat mendukung untuk menyiratkan sebuah kebahagiaan.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Mungkin beberapa dari mereka berpendapat bahwa ini semua terjadi terlalu cepat. Terlebih karena kedua insan itu baru saja akan menapaki jalan kariernya. Mereka bahkan belum mendapatkan hasil apapun.
Tetapi bagi mereka, hanya tersirat kata lakukan atau tidak sama sekali. Mereka hanya ikut serta dalam peran dan skenario yang saling terikat satu sama lainnya.
Saling mengikat diri dengan janji tak akan saling melukai. Mereka bahkan tidak sadar bahwa itu adalah janji sumpah pernikahan yang sebenarnya.
"Mulai besok, aku yang akan mengantar jemputmu ke kampus." ujar Yudha yang hanya diangguki oleh gadis itu.
Keduanya kini tengah berkendara menuju kediaman Lio yang kini juga ditinggali oleh dua orang kakaknya Rayden dan juga Raga.
Mereka sengaja melibatkan ketiganya dalam rencana permainan mereka. Karena itu adalah cara terampuh untuk menarik perhatian semua orang akan kisah masa lalunya.
"Apa yang akan kau beritahukan kepada Bang Lio?" tanya Jea serius
"Aku tak akan memberitahukan apapun. Jika seseorang mengetahui seperti apa rencanamu maka tidak akan ada keseruan di dalamnya, kau tahu." jawabnya santai.
"Mereka hanya akan tahu bahwa kau Jea. Selebihnya, semua orang akan menerka sendiri. Entah itu awal, akhir atau bagian dari kisah perjalanan yang mengerikan ini."
Ungkapan itu seharusnya terdengar seperti ancaman. Tetapi Jea bukanlah orang yang akan dengan mudah terintimidasi.
"Kapan pernikahannya?" tanya gadis itu lagi seolah sedang mengurut semua kronologi dari rencananya.
"Bulan depan. Aku akan mengatur semuanya semeriah mungkin agar sebisa mungkin menjadi pusat perhatian. Urusan perceraianmu, masa idah dan juga proses dokumen antara kau dan Aksa juga sudah selesai. Jadi rencana ini akan terlaksana secepatnya."
"Baguslah." jawab gadis itu dengan ekspresi masih tak peduli.
"Kau takkan menyesal?" tanya Yudha penasaran.
"Tentang?"
"Pernikahan ini?"
"Entahlah." gadis itu menggerdikan bahu.
__ADS_1
"Aku hanya berpikir jika dua orang gila seperti kita bersatu, maka akan ada satu hal baru yang sangat menarik akan terjadi." jawabnya masih tak acuh.
" Aku tak ingin jika pernikahan ini nantinya akan menyulitkan. Tidak ada pisah kamar, apalagi pisah ranjang. Kau harus tetap melaksanakan semua tugas dan kewajibanmu sebagai seorang istri."
"Anggap saja jika aku memberimu nafkah lahir dan batin. Lalu kau membalasnya dengan kewajiban dan tanggung jawabmu."
"Baiklah, aku tak peduli. Bahkan jika aku memiliki anak darimu. Aku yakin bahwa tak ada seorang bajingan pun yang akan membuang anaknya" jawab gadis itu seakan sama sekali tak terusik.
"Oke."
"Oke." jawab keduanya saling setuju.
Mereka menyelesaikan semua isi perjanjian hanya dalam satu jam perjalanan menuju kediaman Adelio, Rayden dan juga Raga. Seakan tak ada nyawa yang terkait, dalam permainan itu. Mereka benar-benar menjadikannya sangat mudah.
***
"Abang." ujar gadis itu dengan nada manja khasnya. Sebuah topeng yang hanya dia kenakan di depan kakak tirinya Adelio.
"Jeaaaaa." teriak Rayden histeris menghampiri Jea dan Yudha yang masih mematung di ambang pintu.
"Lo kenapa sih Ray? Jangan alay deh!" ujarnya kesal ketika Rayden tiba-tiba saja berlari dan melompat ke dalam pelukannya.
"Kangen tau." Rayden memajukan bibirnya setelah dipaksa melepaskan pelukannya dari Jea.
"Bang, abang baik-baik aja kan selama aku gak di sini?" tanya Jea kepada Rayden dengan nada khawatir.
"Aku sangat baik. Cuma hatiku yang gak baik karena ngangenin kamu." jawab Rayden hangat.
"Lagian ini muka, udah cantik-cantik juga kenapa harus di ubah sih? Kan gak gemes lagi, udah gak chubby." godanya sambil mencubit pipi Jea dengan segenap tenaga.
"Abang.. Rayden nih, usil." rengek gadis itu lagi ketika Raga dan Adelio menghampiri mereka secara bersamaan.
"Lo bikin dia berubah banyak Yud. dulu dia gak seceria ini waktu tinggal bareng kita." ujar Raga mencoba berbasa-basi di hadapan Yudha.
Jea pun memeluk mereka bergantian. Adelio dan juga Raga. Sedangkab Rayden, setelah adegan penuh drama yang tadi sempat dia suguhkan dia kini kembali disibukkan dengan handphone nya yang terus berbunyi nyaring sedari tadi.
"Gue datang mau minta restu, buat nikahin Jea." ujar Yudha tiba-tiba merebut semua perhatian ke arahnya.
__ADS_1