Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 14 : Menghilangnya Jeana


__ADS_3

Selang berapa lama Yudha pun kembali. Ia kembali ke kamar gadis itu dan menemukannya tengah tertidur begitu lelap dengan wajah yang pucat pasi. Nafasnya terdengar berat. Keningnya di penuhi peluh yang tak henti bercucuran. Tubuhnya juga menggigil. Ia nampak begitu ringkih, raut wajahnya seakan sukses menggambarkan seberapa berat beban yang kini tengah dia pendam.


Yudha memandangi wajah gadis itu dari jarak yang cukup dekat. Ia merapikan helaian rambutnya yang sedikit berserakan menutupi wajah polosnya yang tanpa make up. Gadis itu biasanya selalu terlihat ceria dan juga kuat. tetapi kini dia begitu ringkih, lemah dan tak berdaya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” lirihnya sambil mengelap keringat gadis itu dengan selembar handuk kering yang di genggamnya.


“Bang, aku pusing.” Gadis itu tiba-tiba saja terbangun, ia seakan terusik dengan sentuhan yang diberikan Yudha. Ia menahan tangan pemuda itu dan langsung mendekapnya.


Jea beringsut bangun dengan bantuan Yudha yang menopang tubuhnya. Ia duduk bersandar di sandaran tempat tidur dengan satu tangannya yang masih menggenggam tangan Yudha.


“Antar aku ke suatu tempat bang?” pintanya lirih dengan suara yang begitu serak.


“Ke mana?”


****


Jea menghilang selama hampir dua tahun lamanya. Ia pergi bersama Yudha tanpa memberi kabar kepada siapa pun. Semua orang panik, mereka telah mencari berbagai sumber informasi yang memungkinkan namun tak ada hasil.


Ia hanya meninggalkan sepucuk surat di atas nakas. “ Jangan cari aku! Aku akan kembali pada waktu yang tepat. “


Anehnya, setelah kepergian gadis itu memang tak ada pergerakan sama sekali dari pihak keluarga. Rayden dan Raga memutuskan untuk tetap bersikap tenang dan percaya dengan keputusan gadis itu. Begitupun Lio.


Hanya Tn Sanjaya dan Aksa saja yang terlihat sibuk. Mereka bahkan memeriksa rekaman kamera pengawas apartement dan seluruh jalan di sekeliling apartement.


Tak ada jejak kepergian gadis itu sama sekali. dia tak memiliki banyak teman dekat, satu-satunya yang mereka ketahui juga turut menghilang bersamanya.

__ADS_1


Tetapi mereka sama sekali tak bisa mencurigai Yudha. Karena dia diketahui pulang ke rumah orang tuanya yang berada cukup jauh di daerah timur negara bagian. Tak ada yang curiga. Hanya perasaan khawatir, terlebih karena pertengkaran hebat yang mereka lalui sebelum gadis itu menghilang.


Aksa meneruskan setiap pemotretannya dengan fokus yang buyar. Hatinya terus menerus merasa tak tenang. Ia baru merasakannya, sesuatu hal yang baru. Perasaan kehilangan saat gadis itu berhenti ada di sampingnya.


“Sayang, kamu kenapa?” Alicya bergelayut manja di lengan Aksa mengingat konsep pemotretan mereka saat ini yang bertemakan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.


Aksa terlihat muak, dan tidak menunjukkan emosi apapun. Ia bahkan mengacaukan keseluruhan naskah dengan bertindak tidak professional.


“Aku capek! Aku akan bayar penaltinya dan kita selesaikan semua sampai di sini!” tegasnya sambil menepis kasar tangan Alicya.


“Kamu mikirin dia? Memangnya dia siapa sampai bisa bikin kamu ninggalin aku?” bentak gadis itu merajuk.


Suasana hati Aksa sedang sangat tidak baik. Wajar saja jika dia merasa langsung terpancing dan menarik kasar tangan Alicya menuju sebuah ruangan yang terlihat cukup sepi di sekitar lokasi. Ia menariknya dan menyentak kasar tangan gadis itu hingga tubuhnya terhempas ke dinding.


“Baru tahu? Aku tu udah muak sama kamu. Jadi berhenti merengek! Dan berhenti manfaatin aku untuk panjat image!” ujarnya kasar.


“Aku berhak, karena aku yang bikin kamu berada di titik ini.” Jawab gadis itu masih terlihat angkuh.


“Aku gak butuh bantuan kamu.” Bentak Aksa kasar.


“Terus apa yang kamu butuh? Gadis gak tahu malu itu! Perempuan yang kabur sama cowok di tengah malam?” ujarnya memprovokasi membuat darah Aksa makin mendidih dan tergerak untuk makin menyakitinya.


“Jangan ngomong sembarangan tentang istri gue!” bentak Aksa yang terus menyudutkannya ke dinding.


“Kalau dia benar istri lo, lo gak bakalan habisin setiap malam lo sama gue. Kalau dia emang istri lo, dia gak bakal kabur sama cowok lain di tengah malam Aksa.” Ujar gadis itu menohoknya dengan kenyataan.

__ADS_1


“Jangan ngomong macam-macam tentang Jea!” bentaknya lagi dengan mata yang makin memerah menahan amarah.  dia sedang berusaha keras untuk tidak menyakiti gadis itu secara fisik. Tinjunya sudah mengepal, buku-buku tangannya memutih. Hanya menunggu beberapa menit hingga emosi itu akan meledak dengan sendirinya.


“Gue lihat sediri Sa. Dengan mata kepala gue. Yudha yang bawa dia keluar dari apartement. Mereka ke rumah sakit, gue ikutin. Mereka disana sampai malam, dan terus ngehilang gitu aja."


"Mereka pergi pas tengah malam, menurut lo mereka lakuin apa Sa? Sejak lo sering gak pulang, apa mereka tidur bersama trus istri lo hamil? Kalau nggak mana mungkin dia kabur sama cowok setelah pulang dari rumah sakit.” Ujar Alicya lantang seolah tak kenal takut.


PLAK!!!


Aksa benar-benar kehilangan kesabaran dan menampar gadis itu cukup keras. Air matanya mengucur seiring dengan tindakannya. Ia bukan tipe pemuda yang akan menyakiti seorang gadis. Ia terbilang sangat sabar, bahkan untuk menghadapi Jea dan Alicya sekaligus selama ini.


“Lo nampar gue Sa, buat cewek murahan itu?” gertak Alicya dengan suara yang bergetar.


“Iya, karena cewek murahan itu lebih penting bahkan dari hidup gue sendiri.”


Aksa meninggalkan Alicya disana seorang diri. Gadis itu masih terpaku dan tak habis pikir. dia masih memegangi pipinya yang terasa begitu menyengat. Selama ini dia mengira kelembutan hati Aksa akan sangat mudah untuk ditangani. Pemuda itu selama ini terlihat begitu tenang. Tetapi dia baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. Ia telah membangunkan seekor harimau yang tertidur.


“Sial! Mereka beneran saling jatuh cinta. Ishhh!!” umpatnya sambil menendang sembarang barang yang ada di sekitarnya. Alicya masih terus memegangi pipinya. Tamparan itu memang sangat keras. Dan itu adalah kali pertama ia ditampar oleh seseorang.


Sementara di tempat lain, Aksa tengah merenung di ruang tunggu pribadinya ketika dia menerima sebuah surat resmi dari pengacara keluarga Jeana.


“Perjanjian Anda dengan Keluarga Goksel sudah resmi di batalkan. Saya juga sedang mengurus proses perceraian Anda dengan Nona muda.” Ujar sang pengacara makin membuat Aksa geram.


“Apa maksud Anda dengan kata cerai? Siapa yang mau bercerai? Sekarang katakan di mana Jea?” Aksa mencengkeram erat kerah pemuda itu dan menatapnya dengan tatapan mengancam.


“Tenanglah Tuan Muda, emosi Anda saat ini sedang tidak baik. Sebaiknya Anda tenang dan temui Nona Muda di Apartement. Beliau sedang menunggu Anda.” Ujar sang pengacara seolah tak terintimidasi sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2