Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 42 : Tarik Ulur Yudha


__ADS_3

“Kak Yudha jahat! Itu artinya apa coba?” gerutunya yang tak terdengar jelas karena ada bantal yang menutupi wajahnya.


“Itu jawabanku. Coba aja tebak.”


"Kak Yudha..." Jea pun memberanikan dirinya untuk menatap wajah Yudha dan menyingkirkan bantal itu dari wajahnya.


"Aku mencintaimu Je. Hanya kamu. Gak pernah ada orang lain." ujar Yudha mantap yang membuat gadis itu kembali menangis. Tetapi kali ini ia menangis lantaran terharu dan tak mengeluarkan suara apapun berbeda dari rengekan sebelumnya.


"Kak Yudha." ia melompat ke arah Yudha dan memeluknya dengan sangat erat. Ia bersikap seakan tak ingin kehilangan pemuda itu meskipun hanya sebentar.


"Je.." Yudha mengangkat dagu gadis itu agar bersitatap dengannya.


"Jangan pernah tunjukkan sikap seperti ini di depan orang lain. Cukup hanya di depanku saja." ujarnya.


Cup..Cup..Cup..


Ia mengecup bibir gadis itu berkali-kali. Ia masih berusaha menetralkan detak jantungnya sebelum kembali kepada bibir gadis itu. Bibir yang selama ini selalu ia idamkan.


Ia pun mulai m***ulumnya ketika gadis itu sudah mulai terbiasa. Ia men***apnya dan tak berhenti untuk waktu yang cukup lama. Ia membiarkan gadis itu kehabisan napas\, sebelum kemudian melepasnya dan menatapnya dalam.


"Bolehkah?" tanyanya penuh makna. Gadis itu mengangguk seakan mengerti apa yang dimaksud oleh Yudha.


"Asal Kak Yudha janji kalau aku akan jadi satu-satunya untuk Kak Yudha." ujarnya terdengar sangat dewasa berbeda dengan sebelumnya.


"Aku bisa pastikan kalau kamu yang pertama sekaligus terakhir buat aku Je. tetapi gak sekarang." Yudha mengelak ketika ia mendapati ada pesan masuk dari ponselnya yang berada di belakang tubuh Jea.


Ia meninggalkan gadis itu memaku di tempatnya. Ada sebuah kejanggalan, ia bahkan tidak mengatakan apapun dan langsung pergi begitu saja. Jea benar-benar menangis kali ini.


Air mata yang turun sama seperti ketika ia melihat Aksa berselingkuh di depan matanya. Bahkan lebih sakit daripada itu.

__ADS_1


"Ia tak menginginkanku. Cinta macam apa itu." isaknya. Gadis itu berjalan menuju ke kamar mandi dan menjatuhkan tubuhnya kasar di bawah pancuran air shower yang sengaja dia hidupkan.


"Aku tidak pernah di sentuh oleh siapa pun. Kenapa ia masih tak mempercayainya." isak gadis itu disana.


Hatinya begitu terluka. Semua perkataan Alicya kembali terlintas di kepalanya.


Gadis itu benar, sekeras apapun dia berusaha pasti tidak akan pernah sesuai dengan harapannya. Yudha memang menikahi seorang janda, ia tetaplah bekas dari seseorang sekeras apapun ia berusaha menjelaskannya.


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia kehilangan kekuatan untuk menjelaskan dirinya sendiri. Hatinya hancur, hidupnya pun sama.


Ia masih enggan berdiri dan terus berada disana selama berjam-jam. Bahkan meskipun tubuhnya menggigil, ia masih tak memilih untuk pergi.


"Jeana! Apa yang kau lakukan?" ia mendengar suara shower dari dalam kamar mandi. Tidak ada suara pergerakan sama sekali. Ia mencurigai sesuatu, suadaranya begitu nekat.


"Aku akan mendobraknya, menyingkirlah dari pintu." Dan benar saja. Ia menemukan gadis itu tengah pingsan disana.


Ia mengangkat tubuh Jea ke atas bathtub kosong dan memanggil salah seorang pelayan wanita untuk mengganti semua pakaiannya. Ia kembali mengangkat tubuh adiknya itu setelah pelayan itu selesai, dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


Ia menunggu sampai pelayan itu membawakan obat yang dia maksud. Pelayan disana adalah seorang yang berlisensi sebagai perawat yang dipekerjakan oleh Ny Chyntia untuk mengontrol kondisi Jeana selama berada disana.


Ia membawakan obat berupa suntikan yang langsung dia berikan di bawah pengawasan Rayden.


"Jangan beri tahu Kakak Ipar tentang kondisinya. Aku harap dia membaik setelah kakak ipar kembali." ujarnya yang langsung diangguki oleh suster tersebut.


Rayden memilih untuk menunggu di kamar tamu dan tertidur disana hingga Arsen menjemputnya untuk segera pergi.


"Ayo, bangunlah! Kita harus pergi." Arsen membangunkannya dengan menarik tangan pemuda itu langsung dan menyeretnya keluar.


"Bang, apa tidak menginap saja?" rengeknya lantaran rasa kantuk yang menguasai matanya.

__ADS_1


"Jangan bersikap bodoh dengan mengganggu bulan madu mereka." ujar Arsen yang langsung dituruti olehnya.


Ia pun melangkah dengan bantuan Arsen yang memapahnya. Berbeda dari Jea, Rayden masih terlihat seperti seorang remaja yang manja dengan semua sikap manis dan kekanak-kanakannya.


Ia benar-benar bersikap sesuai umurnya. Tidak seperti saudaranya yang bersikap sangat dewasa.


"Je..." Yudha kembali setelah subuh dengan kondisi setengah mabuk. Gadis itu masih terlalu pulas, hingga ia tak menyadari kedatangan suaminya.


Yudha langsung melompat naik ke tempat tidur setelah mengunci pintu masuk. Untungnya pintu balkon dan juga jendela sudah ditutup oleh Rayden sebelumnya.


Entah karena mabuk atau karena ia memang sedang tidak waras, tetapi pemuda itu langsung mencumbu Jea begitu tubuhnya naik ke tempat tidur. Demam gadis itu sudah turun hingga ia tak menyadari apa kesalahannya sebelumnya.


Ia hanya terlalu asyik me**mat bibir gadis itu hingga akhirnya dia terbangun lantaran aroma alkohol yang menyeruak masuk ke hidungnya.


Yudha berusaha untuk menguasai rongga mulutnya dengan memasukkan lidahnya lebih jauh dan sesekali menggigit kecil pada lidah dan juga bibir gadis itu.


Ini adalah pertama kalinya bagi mereka. Ada sebuah perasaan yang tak bisa mereka kendalikan dan saling menguasai satu sama lain. Matanya masih dikuasai rasa kantuk yang luar biasa, tetapi tubuhnya tak bisa menolak dan malah turut larut dalam permainan Yudha.


Perlahan ci**an itu turun ke leher jenjangnya dan mendatangkan sensasi yang luar biasa baginya. Gadis itu mengenakan gaun pendek selutut tanpa lengan yang dikenakan oleh perawat sebelumnya.


Gaun agak tipis dengan warna putih setinggi lutut tanpa lengan. Hanya ada satu tali kecil di bahunya yang bertengger bersamaan dengan tali tangtop berwarna hitam yang mencetak begitu jelas di balik bajunya apalagi ketika ia berkeringat.


Suster itu melakukan tugas yang sangat baik. Penampilan gadis itu berhasil menambah gairah Yudha dan membuatnya bertindak makin jauh. Ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.


Ia menurunkan gaun itu makin jauh, hingga terlepas dan menampakkan tubuh putih mulus gadis itu yang tanpa celah. Ia juga tak mengenakan b*a sama sekali. Mungkin suster itu sengaja melakukannya agar ia bisa tidur dengan nyaman.


Pantas saja Rayden hanya menyelimutinya dan berlalu pergi. Ia tak bisa membiarkan dirinya berlama-lama disana atau dia akan melakukan hal di luar nalar kepada saudaranya sendiri.


Gadis itu begitu sempurna hingga tak ada satu orang pun yang bisa menolaknya. Sangat bisa dibayangkan bukan, apa alasannya selama ini Aksa dan Yudha begitu tersiksa ketika harus menahan hasratnya ketika sedang bersama dengan Jeana.

__ADS_1


Hanya cinta yang bisa menahan mereka hingga sejauh itu.


__ADS_2