Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 54 : Rasa Kecewa Yudha


__ADS_3

"Apa-apaan ini Je? Kamu bahkan gak diskusi dulu sama aku?" sesuai dugaan Yudha mempertanyakan perannya dalam drama yang ditulis dan di skenario sendiri oleh Jeana.


"Apa arti aku sebagai suami kamu? Kalau aku sendiri aja gak pernah benar-benar paham siapa kamu sebenarnya."


Aku adalah adik dari orang yang sudah membunuh kakak kamu Yud. Aku bisa bilang apa untuk membuat kamu membenciku?


"Aku udah nyusun semuanya dengan matang. Dan aku harap Kak Yudha dukung aku." ujar gadis itu seolah tak membutuhkan persetujuan apapun.


"Apa yang sebenarnya kamu cari Je? Kenapa harus bertindak sejauh ini? Apa selama ini semuanya kurang, apa kebahagiaan kita kurang sampai kamu harus mengusik hidup orang lain?"


"Aku mengusik hidup siapa Kak?" nada suara Jeana tiba-tiba meninggi. Ia seolah menolak pernyataan Yudha terhadapnya.


"Kebahagiaan Aksa. Kamu lakuin itu demi Aksa kan? Apa pentingnya itu sekarang? Keluarga kita sudah bahagia sekarang." Yudha meraih tangan Jeana, namun gadis itu menepisnya dengan kasar.


"Penting buatku Kak. Selama Kak Aksa masih anggap aku Jeana, maka itu semua adalah masalah. Aku gak mau dia menggantungkan hidupnya cuma buatku.


Sampai kapan ia akan terus berharap dan berhenti berjuang untuk hidupnya? Dia juga berhak bahagia Kak." jawab gadis itu seolah hendak memulai pertengkaran.


"Sepenting itukah dia untukmu Je. Kamu istriku dan kamu memilihku. Apa sekarang kamu menyesal? Kamu menyesal setelah memberikan semua hidup kamu buat aku Je? Iya?" ujar Yudha membuat asumsi.


"Benar, dan aku juga menyesal karena aku harus hidup dalam identitas orang lain. Hidup dalam persembunyian selamanya." Jeana mulai bermain dengan air matanya dan menggoyahkan hati Yudha.


"Apa kamu kira aku bahagia, saat melihat ibu dan kakakku hidup tanpa jati diri sementara wanita lain dengan santainya duduk di atas singgasananya?


Kamu kira aku lupa, sama Bunda Clara yang udah buat Jason hidup seperti orang gila?


Dan kamu kira aku juga terima, kehilangan semua masa kecilku dan mengorbankan pernikahanku di usia muda. Mereka menghinaku sebagai gadis yang mengandung di luar nikah. Menikah di usia muda dan menyembunyikan semua identitas. Aku ingin mengubur itu semua Kak.

__ADS_1


Aku ingin semua orang mengira bahwa Jeana itu sudah mati. Karena hanya itu yang bisa membuatku berpikir bahwa takdirku yang sebenarnya berbeda. Aku benci dengan takdirku sendiri, aku membencinya."


Gadis itu menangis sejadi-jadinya namun Yudha hanya menatapnya. Ia benar-benar tak bisa memahami hatinya saat ini. Di satu sisi, ia begitu memahami perasaan gadis itu yang meluap setelah sekian lama ia menahan segalanya seorang diri.


Namun di sisi lain, ia seperti melihat orang lain. Jeana yang ia kenal akan selalu bersikap dewasa dan menghadapi masalah dengan kepala dingin.


Gadis itu bahkan memaklumi semua perbuatannya sebelumnya. Lalu apa yang ia lakukan kini, ia bertindak seperti seorang anak yang tengah merajuk. Ia berusaha menghancurkan apa yang ada di depan matanya dalam sekali serangan. Ia benar-benar tak memahami gadis itu saat ini.


Ia meninggalkannya sendiri. Ia pun butuh waktu untuk menelaah semuanya, dan mereka berdua sedang dalam kondisi emosi saat ini. Tak akan ada pembicaraan yang berbuah baik dalam kondisi emosi.


***


"Mama paham dengan apa yang dialami Jea saat ini. Semua yang ada di sekitarnya saat ini berhubungan dengan masa lalunya sebagai Jeana. Sedangkan ia harus hidup dengan identitas berbeda. Itu pasti sangat menyiksanya.


Apalagi ia baru saja kehilangan anaknya. Seseorang yang ia yakini sebagai bagian darinya yang asli. Ia bahkan pergi sebelum ia sempat untuk menyapanya. Wajar jika emosinya labil seperti itu. Mama harap kamu busa memahaminya Yudha." ujar Angela mencoba menenangkan menantunya yang nampak gusar.


Aku bisa apa? Aku pun frustasi Ma." Yudha mengacak-acak rambutnya kasar. Emosinya sungguh tengah memuncak saat ini.


Angela menyiapkan segelas teh hijau untuk membantu Yudha sedikit relaks. Pemuda itu menyesapnya sekaligus menelaah semua perkataan mertuanya.


Ia tak bertindak sebagai ibu dari gadis itu. Ia hanya berusaha menjadi penengah diantara keduanya.


Bahkan Yudha pun berfikir bahwa Angela benar. Dengan semua kondisinya, dimulai dari hormon kehamilan, sampai rasa depresi karena kehilangan seorang anak. Pastilah istrinya yang lebih menderita.


Ia juga baru saja mendapatkan ingatannya. Ditambah lagi dengan emosinya yang labil soal rumah tangga mereka. Jika dipikir-pikir memang Yudha lah yang memberinya banyak masalah sejak awal.


Sesuai dugaan Yudha pun memilih mengalah dan meminta maaf kepada sang istri. Namun ketika ia sampai di dalam kamar pribadinya itu, istrinya tak ada disana. Ia menghilang dan pergi, dan lagi tanpa izinnya.

__ADS_1


Kak Yudha, aku pergi nemuin Papa.


Ia hanya meninggalkan sebuah notes yang ia tempel di kaca meja rias. Lagi-lagi, ia berhasil membuat emosi Yudha meledak dan naik hingga ke puncak kepalanya.


Gadis itu selalu meminta izinnya sebelumnya. Tapi kini tidak lagi, ia benar-benar berubah total. Untung saja, ia sudah meminta salah satu anak buahnya untuk mengikuti Jeana diam-diam.


"Cepat beri tahu dimana istriku!" bentaknya kepada seseorang di seberang telfon, bahkan sebelum sempat mengucapkan kata 'Halo'.


"Baiklah, aku segera kesana." Ia langsung menutup telfonnya dan berangkat menuju lokasi yang disebutkan.


Jeana merasa frustasi untuk sesaat, ia mulai bertindak gegabah dengan pergi ke gubuk tempat Tuan Sanjaya seorang diri tanpa ada pengawalan dari orang kepercayaannya.


Ia masih juga mengurung Jason disana. Belum ada yang menyadari bahwa ia menghilang, karena kebiasaannya yang jarang pulang.


Ia tiba di gubuk itu pada saat hampir malam. Ia membawakan makanan untuk Tuan Sanjaya dan juga Jason.


Jason tak lagi di ikat, ia bisa bebas dan bergerak sesuka hatinya. Tapi untuk berjaga-jaga ia memasang kamera tersembunyi dan juga mengunci pintu itu dari dalam.


"Kak Ray maaf." ia memeluk tubuh Jason sangat erat dan menangis disana. Tuan Sanjaya pun hanya bisa tersenyum hangat ketika melihat persaudaraan mereka berdua yang begitu kuat bahkan setelah terpisah lama.


"Aku yang minta maaf. Aku yang menyulitkan mu." Jason membalas pelukan saudaranya.


Mereka berpelukan begitu lama hingga tanpa mereka sadari ada kehadiran dari seorang yang tak diinginkan.


"Jea, apa yang kau lakukan?" ujar Yudha dengan nada suara penuh kekecewaan saat melihat istrinya memeluk lelaki lain.


Ia memergokinya dari bagian belakang gadis itu. Ia tak bisa melihat wajah Jason dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2