Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 21 : Emosi Adelio


__ADS_3

"Kalian ngehilang selama dua tahun lebih dan sekarang malah datang dengan berita mengejutkan?" ujar Raga dengan nada barbalut penolakan.


"Saya janji bakal bahagiain dia. Saya janji akan menjaganya, tetapi saya mohon kasih saya kesempatan untuk membuktikan itu semua. Untuk membuktikan semua perkataan saya sama abang."


Yudha menggenggam tangan Adelio dan menatapnya dengan penuh keyakinan. Mereka berdua menunjukkan sikap yang sangat aneh.


Delapan Bulan yang Lalu..


"Anak buah saya berhasil menemukan keberadaan Nyonya Angela." lapor Yudha yang tiba-tiba saja mengajak Adelio bertemu di sebuah gubuk tinggal yang berada di tengah desa.


"Beliau mengelola butik dan berhasil menjadi seorang perancang busana ternama di pusat kota. Semua orang mengenalnya sebagai Nyonya Arumi. Ia adalah pemilik Sky Boutique yang juga menjadi partner utama Goksel Kingdom.


Putranya Lucio, berganti nama dengan Arsen dan ia berusia sekitar Dua puluh lima tahun. Yang mengejutkan adalah bahwa selama ini ia bekerja sebagai Ketua Tim Marketing di Goksel Entertainment. Mereka berdua ada di dekat Anda bang." jelas Yudha sambil menunjukkan beberapa bukti seperti foto, dokumen dan beberapa berkas lainnya.


"Setahu saya Nyonya mengalami kecelakaan sekitar satu tahun setelah ia meninggalkan Kastil. Kecelakaan itu melukai sekitar 65% wajahnya dan itu menyebabkan perubahan besar setelah dilakukan operasi. Beliau menyelinap sebagai musuh dalam selimut bagi Tuan Sanjaya."


"Apa yang sebenarnya ingin kau jelaskan?" tanya Adelio dengan sorot mata yang berubah tajam.


"Tolong temui Nyonya, ada yang ingin beliau sampaikan kepada Anda." pinta Yudha terdengar tulus.


Sebenarnya Yudha sudah lama berhasil melacak keberadaan Angela. Ia bahkan juga mengenal Arsen dengan sangat baik. Arsen adalah manager yang menangani Icy Aylana secara langsung.


Tetapi tujuan awalnya adalah perang dan adu domba. Ia terlalu tertarik dengan kelicikan Jea dan bermaksud untuk sedikit mempermainkannya. Gadis itu sangat licik, ia benar-benar merasa sangat tertantang.


Namin makin ia mengenal sisi terdalam dari emosi gadis itu. Perlahan dia makin luluh. Hatinya terus membawanya untuk membantu Jea. "Dia tidak pantas untuk dijadikan objek balas dendam" pikirnya.


Jujur ia sebenarnya juga tertarik dengan permainan Adelio dan juga Tuan Sanjaya. Tetapi, semakin dipikirkan ia malah semakin kehilangan jati dirinya sebagai seorang Yudha, si Iblis dari Dunia Hitam.


Ia harus membantu gadis itu. Dia adalah gadis baik-baik. Hanya saja ia terjebak di antara begitu banyak dendam yang saling terkait. Bahkan Angela pun mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


"Aku mengirim orang untuk mengawasinya dari jauh. Aku begitu yakin kalau dia adalah seorang anak yang baik. Kau tidak akan mendapat apa-apa dari Sanjaya meskipun memanfaatkannya. Lelaki itu berhati iblis, ia tak memiliki kasih sayang apapun. Putrinya tak akan pernah menjadi kelemahannya."


Mata Yudha perlahan-lahan mulai terbuka. Apalagi ketika melihat gadis itu yang begitu mirip dengan kakaknya. Sifat mereka nyaris sama. Ia benar-benar luluh dengan keberadaan gadis itu meskipun tak berani mengakuinya.


****


"Saya mohon beri saya kesempatan untuk membuktikan itu semua. Untuk membuktikan semua perkataan saya sama abang."


Perkataan yang ia maksud adalah perkataannya tentang jati diri Jea yang sebenarnya. Ia tak membahas janjinya untuk menikahi Jea.


Ia begitu tulus saat ini hingga sulit untuk mengetahui isi hatinya yang terpendam.


"Baiklah. Aku akan merestui kalian. Tetapi dengan identitas baru Jea, aku yakin bahwa kami bertiga tidak akan bisa hadir di dalam perayaan kalian." jelas Lio yang sadar akan rencana mereka.


"Asal abang merestui kami dan berkenan hadir, Jea tidak masalah bang. Tante Arumi yang nantinya akan diperkenalkan sebagai ibu sekaligus waliku nanti."


Perkataan Jea membuat Adelio tersentak. Yudha telah bertindak begitu jauh. Ia bahkan memakai Angela sebagai ibu tiruan untuk Aylana. Meskipun tanpa sepengetahuan keduanya, tetapi ia telah berhasil menyatukan ibu dan anak yang sempat terpisah belasan tahun.


"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Jea yang menyadari perubahan sikap abangnya.


"Abang cuma terharu sekaligus khawatir karena pernikahanmu Je." ujar Raga mencoba menenangkan.


Sementara Adelio, dia hanya berlalu ke dapur dan berpura-pura baik dengan memasakkan suatu makanan untuk mereka semua.


"Abang khawatir?" lirih Jea yang berusaha mendekatinya dengan hati-hati.


"Kamu tahu siapa aku sebenarnya?"


Ternyata selama ini alasan Lio pergi adalah untuk menahan amarah. Ia tengah mengumpulkan semua perasaannya dan meluapkannya dalam satu waktu.

__ADS_1


Satu..Dua.. Tiga..


Ia mengarahkan pisau dapur yang tengah dia genggam ke arah Jea. Namun gadis itu sama sekali tak bergeming.


"Bang, Stop!" Pekik Rayden ketika dia tiba-tiba menyaksikan adegan itu tepat di depan mata kepalanya sendiri.


Ia hendak melangkah, namun takut Jea akan terluka. Rayden pada dasarnya adalah sebuah robot boneka yang diprogram khusus oleh Nyonya Clara dan juga Lio pada saat yang bersamaan.


Lio yang membuatnya bertahan di dalam rumah itu. Semua tindakannya berada di bawah skenario Lio. Sedangkan Clara, ia mengendalikannya dengan obat penekan ingatan yang perlahan membuat pemuda itu larut dalam halusinasi dan divonis mangalami kegilaan karena tingkah lakunya yang abstrak.


"Selama ini aku diam, demi melindunginya. Jangan coba-coba untuk menyakitinya karena aku tak sepenuhnya seperti yang kau bayangkan bang." ancam Rayden dengan suara bergetar.


Jea mengangkat tangannya ke arah Rayden, seolah mengisyaratkannya untuk diam. Tatapan matanya perlahan berubah tajam ketika memandang Lio.


"Aku juga boneka yang kau mainkan bang. tetapi sepertinya kau tak benar-benar mengenalku." ujar gadis itu dengan suara yang terdengar sangat tenang.


Jea melangkah maju makin mendekat ke arah Lio yang masih menatapnya dengan tatapan kebencian. Ia menantang mata itu, dan melihat persis bagaimana mata yang perlahan berubah memerah dan ada bulir-bulir air mata yang tertahan di sana.


"Aku tidak takut. Aku tak memiliki emosi, kau tahu persis itu." lirihnya dengan suara serak.


Ia menggenggam pisau itu tepat di depan matanya. Menggenggamnya dengan sangat erat hingga darah segar mulai bercucuran dari sana.


"Kau yang membesarkanku dengan sangat baik, tetapi masih tak bisa mengenalku." gadis iti makin maju, hingga membuat pemuda di hadapannya makin tersudut ke arah kompor yang tengah menyala.


Klik..


Jea meraih kenop kompor yang berada tepat di belakang tubuh Lio dan mematikannya. Tubuh Lio seketika melemas dan tubuhnya terhuyung. Sepertinya bukan Jea melainkan dia yang kini tengah terintimidasi.


Gadis itu melempar pisau itu keluar jendela dan berjongkok tepat di depan Lio yang tengah mengeluarkan keringat dingin dengan begitu derasnya. Ia meremas tangannya dan membiarkan darah itu bercucuran jatuh tepat di depan mata Adelio.

__ADS_1


"Kalau ini yang bisa buat abang bahagia, maka bunuh aku bang! tetapi ingat, kalau aku masih darah daging dari kakak yang begitu kau sayangi." ujarnya mengintimidasi.


"Jea!!" gadis itu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri tepat ketika Yudha meraih tubuhnya dari arah belakang. Suasana berubah panik, terlebih karena begitu banyak darah berserakan di mana-mana.


__ADS_2