
Berhubung Arsen bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan, otomatis dia harus bersiap lebih awal dan berangkat begitu pagi. Jarak apartement Yudha dan perusahaannya cukup jauh, jadi dia tidak boleh terlambat.
Ia pun akhirnya mengurungkan niat untuk membangunkan pasangan manis itu dan membiarkan mereka tidur lebih lama. Karena bisa dibilang bahwa itu juga adalah malam pertama mereka bersama setelah pernikahan.
Itu karena Yudha yang menghilang setelah pernikahan dan baru kembali kemarin malam bersamanya.
Arsen pun memutuskan untuk pergi dengan sangat tenang dan meninggalkan notes untuk mereka yang ia tempel di kulkas.
Aku sudah menyiapkan sarapan dan memasukkannya ke dalam kulkas. Jangan lupa untuk memanaskannya terlebih dahulu. Aku berangkat lebih awal, karena ada meeting penting. Nanti malam aku akan kembali.
Pada akhirnya Arsen memutuskan untuk mengganggu pasangan itu sedikit lebih lama lagi. Jika mereka memang terpaksa tidur bersama karena keberadaan dirinya, maka bukankah lebih baik jika dia terus mengganggu disana?
Bukankah perasaan yang muncul karena terbiasa itu akan lebih bermakna. Karena itulah dia memutuskan untuk kembali ke rumah itu dan tinggal disana lebih lama lagi.
Sementara di kamar pengantin yang cukup luas itu, ternyata Yudha sudah bangun lebih dahulu. Namun lantaran tangannya masih berada di bawah kepala Jeana, ia memilih tetap bertahan dengan posisi itu.
Ia takut membangunkan Jea. Tidurnya sangat pulas. Ia tahu persis bahwa gadis itu semalaman gelisah. Ia tidur cukup larut karena berada pada posisi yang kurang nyaman.
Bagaimana tidak, ini kali pertamanya bukan? Tidur dengan seorang pria, apalagi untuk seorang yang sebenarnya cukup asing untuknya.
Ia memang sudah cukup terbiasa dengan Aksa, tetapi Yudha bahkan tak pernah melihat dia melakukan hal yang lebih dengan Aksa.
Ia tahu persis hal itu karena ia selalu mengawasi gadis itu selama dua puluh empat jam penuh. Itu semua bisa terjadi berkat kamera pengawas yang dipasang di setiap sudut rumah dan juga alat penyadap suara yang dipasang di dalam kamar pribadi gadis itu.
Rayden yang memasangnya secara diam-diam karena merasa khawatir dengan kondisi saudara kembarnya. tetapi dia jugalah yang telah lalai hingga Yudha berhasil mendapatkan hasil sadapan itu dan memanfaatkannya untuk mendekati Jea.
Suasana kamar mereka saat itu cukup gelap, karena Yudha mematikan lampu dan menutup semua jendelanya sebelum mereka tidur. Hanya ada dua buah lampu tidur yang ia letakkan di atas nakas di sisi kiri dan kanan tempat tidur.
Setidaknya nuansa itu sudah cukup untuk membuat Jeana tertidur dengan nyenyak. Hanya perasaan guguplah yang tinggal dan menahan matanya untuk tidur.
Sama halnya dengan pagi ini, di mana ia tertidur sangat lelap padahal matahari sudah naik begitu tinggi. dia terlalu merasa nyaman hingga enggan untuk membuka mata.
🎶Make me feel so high
__ADS_1
미치 ê² ì–´ ë‚ ë©ˆì¶œ 순 없어
You make me fell so high
i'm so crazy
너가 나를 본 순간🎶
Bunyi suara nada dering ponsel Jeana yang cukup nyaring pun akhirnya membangunkannya. Ia memasang lagu yang cukup berisik untuk deringnya. 'Energetic from Wanna One'.
Ia berusaha terlihat normal dan serupa dengan anak muda seusianya yang tergila-gila dengan para idol tampan dari negeri ginseng itu. Karena itulah ia memilih salah satu lagu mereka yang mungkin dia suka dan menjadikannya sebagai nada dering ponsel.
Mau bagaimana lagi, namanya begitu terkenal sebagai idola remaja sekarang. Ia menjadi model tunggal hampir di semua brand produk khas remaja. Karena itu, mau tidak mau ia harus menciptakan sebuah image yang mungkin akan melekat pada dirinya.
"Halo." ujarnya dengan suara berat setelah meraih ponselnya yang ia letakkan di bawah bantal.
"Apa?" gadis itu melompat bangun dan melirik jam beker di atas nakasnya. "Aish sial! Alarm nya tidak berfungsi."
"Awh! Kau mau membunuh suamimu? Di hari pertama kalian menjadi pasangan?" gerutu pemuda itu sambil memegangi pipinya yang terasa cukup sakit akibat di lempar ponsel oleh Jea.
"Owh, bagaimana ini? Aku lupa kalau kita tidur bersama." gadis itu gugup, dia menutup mulutnya sambil menggeleng. " Mm..mmm.maks..sud ku adalah.. tidur di tempat yang sama..." ujarnya terbata-bata mencoba memperbaiki kesalahan kalimatnya yang mungkin akan mengundang kesalahpahaman.
"Heh.." Yudha terkekeh melihat tingkah gadis itu. "Managermu?" tanyanya, gadis itu mengangguk.
"Baiklah, bersiaplah! Aku sengaja tidak mengangkat telfonnya karena takut akan mengganggu tidurmu." Yudha pun bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan ponsel Jea.
Gadis itu bergegas menuju ke kamar mandi sambil menyambar asal sembarang pakaian dari dalam lemari. Hari ini hanya ada acara ramah tamah yang akan diadakan di apartement mereka untuk menyoroti kehidupan pengantin baru. Ia tidak perlu memakai pakaian mewah.
Jea menyelesaikan ritualnya di kamar mandi dengan cepat. Ia benar-benar bergegas untuk mandi dan juga mengganti pakaiannya. Ia keluar setelah mengisi bathtub dengan air hangat.
"Aku sudah selesai." ujarnya keluar dengan setelah pakaian santai dan juga handuk yang membungkus kepala.
"Baiklah." angguk Yudha acuh, dengan tangannya yang masih asyik dengan ponsel Jeana di tangannya.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan air hangat. Mandilah lebih dahulu! Aku akan mengambilkan pakaianmu dari kamar sebelah." ujarnya yang langsung di turuti oleh Yudha.
"Oh, aneh. mengapa aku langsung menurut?" Yudha menggaruk-garuk tengkuknya kikuk begitu ia sampai di dalam kamar mandi. Ia merasakan ada yang aneh dalam dirinya.
Bahkan dia tidak mendengarkan perkataan siapa pun ketika di kediaman Wirabraja hingga membuat para asistent rumah tangganya kewalahan. Kenapa sekarang ia malah menurut hanya dalam satu kali perintah.
Yudha pun menyudahi kebingungannya dengan berendam di dalam bathtub yang sudah di isi air hangat dan juga aromatherapy oleh Jea. Ia menghabiskan waktu lebih lama dari gadis itu dan menggunakannya untuk bersantai.
"Wah, ternyata inilah alasan mengapa orang-orang sangat terburu-buru untuk menikah." gumamnya sambil menikmati waktu santainya di dalam kamar mandi.
Ia pun keluar dari kamar dengan hanya berbalut sehelai handuk di pinggangnya. Dan benar saja, pakaiannya sudah tertata rapi di atas tempat tidur lengkap dengan pakaian dalamnya dan semua di pilih dengan warna yang senada dengan pakaian yang dikenakan Jea.
"Gadis itu ingin bermain sebagai pasangan yang romantis rupanya." gumam pemuda itu dan langsung memakai semua pakaiannya yang ternyata juga sudah di semproti parfum oleh Jea.
Gorden kamar itu juga sudah dibuka lengkap dengan jendelanya hingga membuat udara segar bisa masuk. Untung saja kamar apartement mereka berada di lantai lima belas, lantai yang cukup tinggi. Hingga bukan masalah jika dia harus berganti pakaian dengan jendela yang terbuka lebar. Tidak akan ada yang mengintip di ketinggian segitu bukan?
Jea juga sudah merapikan kamar itu dan mengganti seprainya. Seprai besar itu lengkap dengan selimutnya sudah berpindah tempat ke tempat jemuran hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Bahkan dia juga menyelesaikannya dengan seprai milik Arsen.
"Pekerjaan dengan mesin cuci memang lebih mudah bukan? tetapi bukankah itu cukup berat." geleng Yudha menyadari betapa tangguh istrinya itu.
"Kak, bang Arsen udah nyiapin sarapan buat kita di kulkas. Udah aku panasin juga, sarapan yuk?" ujar gadis itu mengagetkannya dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka ketika dia sedang berganti pakaian. Untung saja, dia sudah selesai lebih awal, karena jika tidak pasti akan terasa sangat canggung bukan?
"Ya, ayo." jawabnya gugup sambil menghampiri gadis itu yang masih berdiri di ambang pintu.
Ia memang mengganti panggilannya terhadap Yudha menjadi kakak, Karena dia hanya memanggil abang terhadap orang yang ia anggap sebagai kakaknya. Sementara Yudha saat ini sudah menjadi suaminya.
"Rambut Kak Yudha masih basah. Aku bantu keringin dulu ya?" Ia menarik Yudha untuk duduk di depan meja rias, dan membantu Yudha mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk dan juga hair driyer.
Sebuah tindakan kecil, tetapi cukup untuk membuat keduanya tersemu.
"
Terima kasih." lirih Yudha. Namun ia hanya membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1