
Yudha sudah selesai mandi dan langsung berlalu turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama istrinya. Namun dia tak menemukan gadis itu dimanapun.
"Mbak Rana lihat Jea tidak?" Yudha hanya menemukan Rana disana. Ia adalah suster yang membantu Jea semalam.
"Nona Muda belum keluar dari kamar sejak semalan Tuan." Yudha mematung.
"Tapi.." ucapannya terputus ketika Rana mulai menjelaskan perihal kejadian semalam kepadanya.
"Semalam Mas Rayden menemukan Nona tidak sadarkan diri di kamar mandi Tuan. Mas Rayden mengetuk pintu kamar itu cukup lama hingga akhirnya beliau mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Nona tidak sadarkan diri di bawah guyuran shower."
"Apa? Lalu?" ujar Yudha terlihat panik.
"Mas Rayden meminta saya untuk membantu Nona berganti pakaian. Setelah itu beliau sendiri yang menggendongnya ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. Demam Nona sangat tinggi, saya menyuntikkannya obat penurun demam. Dan kami meninggalkannya beristirahat di kamar."
"Lalu di mana Rayden sekarang?"
"Mas Rayden pulang bersama Mas Arsen sekitar pukul empat pagi Tuan. Mas Rayden menginap di kamar tamu semalam."
"Jadi, Mbak Rana tidak melihat Jea lagi setelah itu?" wanita itu menggeleng.
"Kalau begitu terima kasih. Aku akan mengeceknya ke kamar."
Yudha kembali naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ia ingat bahwa pintu balkon terbuka ketika ia terbangun. Ia harus mengecek istrinya disana.
Dan benar saja, Jea tengah membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya dan memeluknya cukup erat. Rambut basahnya masih belum kering sempurna dan sedikit terlihat kusut karena masih belum di sisir.
Ia meraih pundak gadis itu dan mengangkat dagunya agar mereka saling bersitatap.
"Kau menangis?" Yudha melihat genangan air mata di pipi gadis itu, namun dia masih menggeleng dan menghapusnya kasar.
Apa Kak Yudha mengingat kejadian semalam? batin gadis itu.
Apa dia menyesal melakukannya. seru Yudha yang juga larut dalam pikirannya sendiri
Yudha menatap gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. ia mengenakan kemeja putih besar yang hampir transparant. Kemeja itu memperlihatkan dengan jelas tangtop berwarna hitam yang ia pakai di dalamnya.
Warnanya makin jelas karena baju itu yang setengah basah akibat air rambutnya yang menetes. Hal itu membuat Yudha tersenyum dan kembali teringat dengan kejadian semalam. Kejadian di mana gadis itu tampak begitu sexy dengan warna pakaian itu di tubuhnya.
__ADS_1
Aku harus berterimakasih kepada Mbak Rana karena memakaikannya pakaian itu semalam. gumam Yudha membatin sambil terus mengulum senyum di wajahnya.
"Kakak kenapa tersenyum?" tanya Jea bingung.
"Kau masih merasa sakit?" Yudha meletakkan punggung tangannya di dahi gadis itu. "Untunglah demamnya sudah turun." ujarnya tersenyum hangat.
Ia pun berpindah duduk di samping gadis itu dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.
"Apa sesakit itu?" tanya Yudha yang langsung di balas dengan tatapan heran dari gadis itu.
"Apanya?" tanya Jeana yang terdengar sangat ambigu di telinga Yudha.
"Ini pengalaman pertamamu, dari yang aku dengar kau pasti akan merasa tidak nyaman untuk beberapa waktu. tapi seiring berjalannya waktu, kau akan terbiasa." ujar Yudha yang terdengar aneh di telinga Jea.
"Maksud kakak?" gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap Yudha penuh arti.
"Ya, kau tahu sendiri. Karena semalam, jujur itu juga pertama kalinya untukku." bahkan Yudha pun ikut bersemu kala mengingatnya.
"Kakak sadar ketika melakukannya?" tanya Jea lagi yang membuat Yudha makin bingung.
"Maksudmu aku khilaf semalam? Bagaimana mungkin? Jika iya, maka aku sudah melakukannya sejak lama." bantah Yudha membela diri.
"Aku kira kau melakukannya karena mabuk. Aku mencium bau alkohol semalam. Aku takut jika kau tidak menyadarinya dan tidak mempercayaiku."
"Soal apa? Soal aku yang pertama bagimu?" tebak Yudha seakan ia begitu peka dengan perasaan sang istri. Gadis itu mengangguk.
"Aku yang pertama. Aku bisa pastikan itu. Hanya aku yang akan menembus pertahananmu." ujarnya meyakinkan.
"Apa kau setakut itu hingga tadi menangis.Kau bahkan menyakiti dirimu sendiri semalam. Apa kau pikir kau tidak akan mati kedinginan jika melakukannya?"
Jea menatap suaminya itu tanpa melepaskan pelukannya di tubuh Yudha.
"Berada di bawah guyuran air semalaman. Bayangkan jika Rayden tidak datang dan mendobrak pintu itu untukmu."
"Kak Ray memberitahumu?" Yudha menggeleng.
"Mbak Rana yang menceritakannya. Kau tahu Ray bukanlah tipe orang yang suka mengadu. Aku bahkan tidak tahu jika pintu itu rusak. Kau tahu sendiri bukan, aku bahkan hampir tak pernah mengunci pintu kamar mandi ketika berada di dalamnya."
__ADS_1
Gadis itu mencubit perutnya gemas.
"Dasar mesum! Aku bahkan sudah menerobosnya beberapa kali tanpa sengaja. Awas saja jika ada gadis lain yang memergokimu seperti itu." ujarnya cemberut.
"Bukankah itu namanya kau yang mesum. Kenapa harus menerobos saat aku ada disana?"
"Mana aku tahu jika ada orang di dalamnya. Kau bahkan tak bersuara ketika sedang berada di dalamnya."
Cup!!
Yudha mengecup bibir gadis itu dan menghentikan Jea untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ingatlah! Aku hanya akan menyentuh satu wanita selama hidupku. Dan itu adalah wanitaku. Jadi jangan pernah merasa takut, karena kau sudah menjadi wanita itu." bisiknya hingga membuat pipi Jea kembali bersemu.
"Aku hanya takut karena kau melakukannya dalam keadaan mabuk. Kau bahkan telah menolakku sebelumnya."
"Oh itu, ada sedikit masalah di markas. Aku pergi mengeceknya sebentar dengan Arsen. Karena itu aku meminta Rayden untuk menjagamu. Lagi pula aku bukanlah tipe orang yang akan kehilangan kendali di bawah pengaruh alkohol." jelasnya.
"Aku hanya merasa khawatir. Bagaimana jika kau tidak mempercayaiku karena tidak bisa mengingat pengalaman pertamaku."
Yudha mengerti betul perasaan gadis itu. Hatinya begitu rapuh belakangan ini. Terlebih sejak dia terlibat dengan Alicya dan kehilangan ingatannya.
"Lalu, apa urusannya sudah selesai?" Yudha mengangguk. Gadis itu memang tidak pernah ingin tahu tentang dunia hitamnya, dan dia bersyukur untuk itu.
"Apa kau mau aku mengingatnya dengan lebih jelas?" gadis itu menatapnya ambigu.
Yudha melepas pelukannya dan berlutut di hadapan gadis itu agar tinggi tubuh mereka sejajar. Ia menangkup kedua pipi gadis itu dan meraih wajahnya makin dekat.
Ia mengecup seluruh wajah gadis itu di mulai dari kedua kelopak matanya hingga berakhir dengan mengu**m lembut bibir gadis itu.
Ia meraih tubuh gadis itu ke dalam gendongannya dan mengangkat tubuhnya masuk kembali ke dalam kamar mereka. Ia sempat lupa dengan sepray dan juga selimut yang ia singkirkan.
Untung saja asisten rumah tangganya sudah lebih sigap dan telah memasangkan sepray baru disana. Sepertinya mereka sama sepertinya. Mereka tidak menyadari kehadiran orang lain di balkon dan terus melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Yudha tampak sangat lega dan langsung merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur.
"Mau mengingatnya dengan lebih jelas?" godanya, gadis itu kembali tersipu.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan apapun dari istrinya. Ia pun menggendong wanitanya itu untuk kembali masuk ke dalam kamar. Ada kewajiban yang mulai saat ini tidak boleh di lewatkan, ujarnya.
Dan seperti biasa, istrinya selalu bersemu dan memerah seperti tomat masak ketika ia memperlakukannya seperti itu.