Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 55 : Pengakuan Jeana


__ADS_3

"Kak Yudha.." Jeana tak sengaja beradu tatap dengan Yudha saat pemuda itu hendak berlalu pergi.


Tak ada celah yang cukup untuk mengintip di gubuk sederhana itu. Jeana sudah mengurusnya dengan sangat baik, hingga tak ada udara dingin yang bisa masuk.


Karena itulah Yudha harus mengikutinya masuk untuk bisa melihat keadaan dengan sangat jelas. Lampu disana juga cukup temaram, hingga membuatnya tanpa sadar sudah melangkah terlalu dekat.


"Je, aku.." Yudha menggaruk tengkuknya. Ia kehabisan akal, entah ia harus marah, curiga atau justru malah berpura-pura bodoh. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Kakak ipar? Kau mengajaknya Je?" Jason tiba-tiba menoleh dan membuat Yudha seketika terbelalak.


"Jadi itu kau?" ujarnya gugup.


"Percayalah. Dia ada di pihak kita, kay tak perlu takut." Jea berusaha meyakinkan Jason terlebih dulu sebelum akhirnya meninggalkannya dan berlalu keluar bersama Yudha.


Ia menarik tangan Yudha keluar menuju mobil. Ia mengajaknya berbincang disana.


"Apa kakak bisa membantuku? Jaga rahasia ini, dan bantu aku untuk melindungi Jason." gadis itu meraih tangan Yudha dan menggenggamnya.


"Kau tidak mempercayaiku Je? Sudah pasti aku akan menolongmu." Yudha melepaskan genggaman tangan Jea dan menangkup kedua pipi gadis itu.


Ia menegakkan bahu Jea agar bisa terlihat lebih tegap dan percaya diri. Ia membuat gadis itu menatapnya dengan penuh percaya diri. Istrinya harus bergantung padanya, begitulah tekadnya


"Jason mendengarnya. Soal kecelakaanku dan keterlibatan Alicya." ujarnya gadis itu terdengar ragu.


"Lalu?"


"Ia yang melenyapkan Alicya. Aku sudah berusaha menutupinya dengan usaha terbaikku. Tapi mentalnya sedang tidak stabil saat ini, aku takut jika ia malah mengakuinya dan berakhir menyakiti dirinya sendiri.


Ini semua karenaku, aku akan menggantikannya bertanggung jawab jika perlu." pinta Jea sungguh-sungguh.


"Je, lelaki itu siapa?" Tiba-tiba saja, Yudha melihat seorang pria tua keluar dari rumah itu bersama Jason. Ia memapah Jason keluar dari rumah dalam kondisi yang tak begitu baik.


"Papa." teriak Jeana yang langsung berlarian keluar dan mengejar keduanya.

__ADS_1


"Kal Ray kenapa Pa?" tanya nya khawatir.


Tuan Sanjaya dan Yudha merasa heran dengan sapaan nya yang tiba-tiba. Tapi kondisi Jason saat ini jauh lebih penting.


"Ia gemetar, tubuhnya berkeringat, tapi semakin lama ia malah tertidur. Aku khawatir kondisinya memburuk."


"Aku akan membawa Kak Ray, Papa lebih baik masuk dan jaga diri Papa baik-baik. Aku akan meminta seseorang menjaga Papa disini." Jeana meraih tubuh Jason dan membawanya masuk ke dalam mobilnya yang dikemudikan oleh Rana. Ia meminta Rana untuk membawanya lebih dulu, sementara ia mengurus Yudha.


"Tuan Sanjaya..." tanya Yudha ragu, yang masih bersitatap dengan Tuan Sanjaya.


"Aku..." pria itu bahkan tak bia melanjutkan kalimatnya. Untung saja Jeana cepat muncul dan membawanya.


"Ayo masuk Pa." ujarnya bersikap sesopan mungkin dan membawa lelaki paruh baya itu masuk kembali ke dalam gubuk.


"Kak nanti aku jelasin di mobil. Sekarang ikut aku antar Jason dulu ya?" Jeana menarik tangan Yudha untuk masuk ke dalam mobilnya sendiri. Yudha langsung menurut.


Mereka mengikuti mobil Rana dari arah belakang. Mereka menuju ke kediaman mereka.


Jadi Angela adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Ia memercayakan Jason kepada Rana. Jeana hanya mengantarnya sampai gerbang masuk. Ia meminta Yudha untuk mengarahkan mobilnya ke arah lain, alih-alih ikut masuk ke dalam rumah.


Mereka berhenti di taman depan kompleks. Jeana sengaja memintanya untuk berbicara di dalam mobil, akan sangat berbahaya jika membahasnya di luar. Ia takut tentang adanya peluang munculnya mata-mata yang tak diduga nantinya.


***


"Jason yang bunuh Alicya. Kondisinya kembali memburuk karena emosi. Ia tidak bisa berfikir jernih, apalagi ketika ia mengetahui semua rencana Alicya terhadapku dan juga tentang kecelakaan itu." Yudha membeku.


"Terus semua bukti itu?" Jea tahu persis bahwa Yudha mempertanyakan alasan kasus itu ditutup sebagai kasus bunuh diri.


"Aku dan Mbak Rana yang merekayasa nya. Bang James membantu kami."


Yudha berusaha mencerna semuanya dengan baik.


"Lalu tadi itu apa?" pertanyaan Yudha mengarah kepada Tuan Sanjaya.

__ADS_1


"Dia bukan Papaku." Yudha terpaku tak mengerti.


"Dia yang memimpin Goksel dan mengusir Mama dari rumah, dia bukan Sanjaya yang asli. Dia adalah orang jahat yang memperdaya Mama, dan mengusir Tuan Sanjaya. Dia iblis jahat.


Dan dia adalah ayah kandungku dan juga Jason. Aku bukan adik kandung Bang Arsen. Jason menggila karena itu, ia memburuk karena kenyataan itu." Gadis itu terisak.


Tubuhnya bergetar hebat, ini adalah tangisannya yang paling keras dan paling menyakitkan yang pernah Yudha lihat sejak ia mengenalnya.


"Je.." Yudha menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Ia mengubah wajahnya dan mengusir Tuan Sanjaya asli dari sana. Ia memanfaatkan kelembutan hati mama untuk memperdayanya. Ia membuat mama melahirkan kami sebagai keturunannya. Ia juga yang mengusir Bang Arsen dari rumah itu.


Racun yang diberikan Clara kepada Jason adalah racun yang sama yang diberkannya kepada ibunya Mbak Rana. Dan itu juga racun yang sama yang digunakan untuk mengakhiri kakakmu." Yudha kembali membeku. Ia melepaskan pelukannya di tubuh Jeana.


"Theo Urdha adalah kakakku. Dia adalah anak sulung ayah kandungku. Ia yang meracuni kakakmu, tapi ayahku yang melakukan aksinya." isakan gadis itu semakin kencang.


"Apa maksudmu Je? Urdha adalah pelakunya. Ia bahkan mengakuinya di detik terakhir aku mengakhirinya."


"Urdha tiga tahun lebih muda darimu. Mana mungkin seorang anak yang berusia sepuluh tahun bisa berfikir sejauh itu. Ia hanya senjata, Ayahku yang melakukannya.


Mereka sama-sama iblis. Ia bahkan meniru perilaku ayahku dan mengulanginya kepada Diandra. Ia baru saja menodai Diandra dimalam kau mengakhiri nyawanya. Karena itu Diandra tak pernah membencimu sama sekali.


Aku menyesal Kak. Orang yang menghancurkan hidupmu adalah ayah dan kakak kandungku. Aku merasa tak pantas untukmu."


Butuh waktu lama bagi Yudha untuk menetralkan perasaannya. Tinjunya mengepal, buku-buku jarinya memutih lantaran menggenggam kemudi begitu keras.


"Maafkan aku Kak. Aku berjanji akan menebus semuanya dan memperbaiki segalanya. Aku sendiri yang akan menghukumnya. Aku mohon maafkan aku."


Brakkkk!!!!


Entah muncul dari mana. Tiba-tiba saja ada sebuah truk yang muncul dan hilang kendali. Truk itu menghantam mereka dari arah belakang dengan begitu keras.


Kecelakaan tunggal itu kembali terjadi dan dengan alasan yang sama. Pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol.

__ADS_1


__ADS_2