
"Halo, Ma. Jea terluka aku butuh bantuan Mama." Yudha terlihat sangat panik dan langsung menelfon ibunya seketika.
Ia meraih tubuh Jea dan hanya memeluknya sambil menangis. Sedangkan Lio, wajahnya berubah menjadi sangat pucat dengan tubuh yang masih memaku di tempat yang sama.
Hanya Rayden yang masih tampak cukup tenang di sana. Ia terbilang sangat cepat tanggap. Ia mencari beberapa lembar kain panjang yang biasa selalu disimpan Lio di lemari pakaian.
Ia mengikat lengan Jea, agar darahnya tak terus mengalir. Ia juga yang membalut luka Jea setelah sebelumnya terlebih dahulu mensterilkan luka itu dengan menggunakan alkohol.
Tubuhnya juga gemetar, itu semua tergambar jelas dengan getaran hebat di bibirnya yang tak lagi bisa ia tutupi. Namun tangannya masih lebih sigap dan cekatan untuk mengobati sang adik yang tangah terkapar.
Ia menggenggam tangan Jea begitu erat setelah menyelesaikan semua tugasnya. Ia hanya bisa terus merapalkan doa, bahwa pendarahan itu akan cepat berhenti dan ia bisa menggantikan semua rasa sakit adiknya.
"Tolong dia Tuhan, hanya dia yang aku punya. Tolong dia, tolong dia, kumohon." mantranya berulang.
"Diam kau berengsek! Ingat kau masih memiliki ayah, ibu dan juga saudara yang bisa kau lindungi. Berhenti bersikap berlebihan dan hentikan suaramu." bentak Lio begitu mendengar suara itu bergema samar di telinganya.
"Dan kau berhenti menjadi iblis, dan sudahi sandiwaramu itu keparat!" umpet Raga yang tiba-tiba saja muncul dan memukul kepala Lio hingga dia juga tak sengaja menyenggol selang gas di belakangnya.
Habislah sudah. Semua orang sudah cukup panik. Gadis itu masih tak sadarkan diri. Sekarang di tambah lagi dengan Lio. Belum lagi kebocoran gas yang cukup membuat mereka semua sesak napas.
Benar-benar rencana yang sempurna untuk menghancurkan puluhan semut kecil sekaligus. Untung saja, orang tua Yudha datang lebih awal dan pemuda itu juga sempat menutupi mulut serta hidung Jea dengan salah satu kain yang di bawa Rayden selagi menunggu bantuan datang.
Setidaknya masih ada satu orang yang sadar dan dia juga masih sangat waras. Berbeda dengan sekumpulan keluarga yang tengah terbaring tak sadarkan diri di depannya. Ia bertindak sok kuat dan berusaha tetap tegak meskipun dadanya juga tak kalah sesak.
***
"Kau melakukan apalagi?" gertak ibunda Yudha begitu kedua mata mereka bertemu di salah satu kamar inap rumah sakit milik keluarga Wirabraja.
__ADS_1
"Mereka hanya kekanak-kanakan, bertengkar dan aku ada di sana." ujar pemuda itu acuh dan langsung merebahkan diri di sofa yang saat ini sedang di dudukinya.
Mereka saat ini tengah berada di dalam ruangan inap Jea. Kondisinya lumayan buruk karena telah kehilangan begitu banyak darah sebelumnya. Begitupun dengan Yudha yang saat ini masih mengenakan masker oksigen di wajahnya.
Kondisi Rayden dan yang lainnya juga tak kalah buruk. Mereka semua mengalami keracunan gas. Dan otomatis tidak ada yang bisa membantu Jea untuk menjadi pendonor.
Keadaan gadis itu bahkan sempat drop untuk beberapa waktu. Dan saat ini ia benar-benar sangat lemah hingga Yudha pun tak bisa pergi meninggalkannya.
"Kau akan menemaninya? di sini? Bukankah kau benci rumah sakit?" tanya Nyonya Chintya dengan nada yang masih ketus.
"Terserah apa yang akan aku lakukan, memangnya Mama akan peduli?"
"Apa maksudmu?"
"Aku sendiri yang menelfon Mama untuk datang, tetapi Anda malah mengirim segerombolan pengawal untuk menjemput kami. Dan setelah semua drama yang begitu panjang, Anda baru datang kesini sekarang? Setelah kondisinya baik-baik saja?"
"Aku seorang ahli bedah plastik, karena itu aku mengirimi mu beberapa orang profesional ke sana." ujarnya membela diri.
"Lagi pula, pertolongan pertamanya sangat membantu. Jika tidak, maka kita akan kehilangan dia saat ini. Apa kau yang membantunya?"
Fikiran Yudha melayang mendengar perkataan ibunya. Ia bisa, sangat bisa. Ia cukup memahami ilmu kedokteran meskipun tidak pernah belajar secara langsung.
Ia bisa saja menolong gadis itu, tetapi dia begitu panik, perasaannya kacau dan sangat campur aduk. Untuk pertama kalinya, ia gagal memahami isi pemikirannya sendiri.
"Sudahlah, biarkan aku istirahat. Lebih baik anda meninggalkan kami di sini." jawabnya ketus. Yudha pun langsung memejamkan mata seolah benar-benar tak peduli dengan keberadaan ibunya di sana.
Nyonya Chuntya pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Andai aku bisa mengubah anak itu jadi sedikit lebih baik. Oh Tuhan semoga Jea baik-baik saja. Hanya dia yang bisa mengendalikan anak nakal itu." gerutunya sambil meninggalkan ruangan inap kelas VVIP itu.
Sedangkan Yudha yang masih tertinggal di dalam ruangan besar itu, terkurung bersama gadis itu dan juga konflik di dalam batinnya sendiri.
Apakah aku menyukainya? Mengapa aku mengkhawatirkannya? Dia yang terluka, tetapi mengapa aku yang merasa begitu sakit?
Berbagai pertanyaan yang sama sekali tak memiliki jawaban terus berseliweran di dalam kepala pemuda itu. Ia merasa gundah, untuk pertama kali di dalam hidupnya.
Ia tak lagi memedulikan rasa kantuk yang menghantuinya. Ia bangkit dari tidurnya, dan berpindah ke kursi pengunjung yang berada tepat di samping tempat tidur gadis itu.
Ia bahkan tidak peduli dengan masker oksigen dan juga slang infus yang menempel di tubuhnya. Ia hanya memanfaatkan tiang infus itu untuk membantunya berjalan karena tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia juga melepaskan masker oksigen itu begitu saja, melemparnya ke sembarang arah.
Ia berjalan ke arah gadis itu tanpa sedetik pun mengalihkan pandangannya. Ia bersikap seolah tak ingin kehilangan gadis itu meskipun hanya dari pandangannya.
Yudha mengambil posisi nyaman dengan duduk di samping Jea. Ia menggenggam tangannya dengan sangat hangat sambil terus memandangi wajah polos gadis itu yang tampak sangat pucat.
Ia sudah menerima transfusi darah yang cukup. Dokter juga sudah mengobati lukanya, tak ada yang serius. tetapi mengapa dia masih merasa sangat khawatir.
Ia bahkan juga berada di lokasi yang sama. Bahkan pemuda itu jugalah yang mengalami keracunan gas paling parah. Di saat yang lain masih sempat berpikir untuk menutupi mulut dan hidung mereka masing-masing. ia malah menyibukkan dirinya untuk melindungi Jea.
"Dasar bodoh!" ujarnya mengumpati diri sendiri.
Dia benar-benar bertindak bodoh dengan lebih memikirkan keselamatan gadis itu dibanding dirinya sendiri.
Ini kali pertamanya bersikap diluar nalar seperti itu. Namun entah mengapa, dibanding merasa kesal dia malah lebih merasa hangat.
Ia tersenyum meski hanya dengan mengetahui bahwa keadaan gadis itu baik-baik saja. Berbeda dengan sebelumnya, di mana dia bersikap histeris untuk mendapat pertolongan untuk gadisnya. Ia bahkan tak memedulikan kondisinya yang juga tak kalah kritis saat itu.
__ADS_1