Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 58 : Yudha tahu Segalanya


__ADS_3

"Apa aku begitu bodoh?" ujar Jeana setelah menenangkan diri.


Yudha telah berpindah kembali ke tempat tidurnya dan berpura-pura pulas disana. Sedangkan Angela dan Ryan yang merasa khawatir memilih untuk kembali masuk. Mereka tak menemukan Jeana disana. Yudha masih belum sadar sejak insiden tadi pagi.


Ryan mengecek pintu kamar mandi yang tak terkunci, Jeana merendam tubuhnya di dalam bathtub masih dengan pakaian lengkap. Suhu air itu begitu dingin, ia juga menyalakan penyejuk ruangan ke suhu terendah. Bibirnya membiru dan juga gemetar. Ia mengalami hipotermia parah.


Ryan pun mengangkatnya dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Yudha berpura-pura terbangun karena merasakan kasurnya yang basah. Ia bangkit duduk dan mengecek kondisi gadis itu. Ia memeluknya dan menggosok-gosokkan tangannya ke jemari Jea. Ia mencoba membuatnya hangat.


"Kamu bisa duduk sendiri Yud?" tanya Angela membuat semua orang terpaku ke arah Yudha.


"Aku bisa menggerakkannya sejak semalam Ma." lirihnya sambil terus fokus kepada sang istri.


Ia menyelimuti Jeana dan berpindah dengan sendirinya ke kursi roda. Ia meraih beberapa pakaian panjang dan juga hangat dari lemari. Ia memutuskan untuk mengganti pakaian Jeana sendiri.


"Abang sama Mama boleh tunggu diluar dulu, biar aku bantu Jea ganti baju." pintanya sopan.


"Kamu yakin bisa sendiri Yud?" tanya Angela, Yudha mengangguk.


Mereka pun menurut dan keluar dari ruangan itu. Mereka sengaja memberikan privasi untuk Yudha dan juga Jeana. Mereka yakin Jeana pasti punya alasan dari semua sifat randomnya hari ini.


"Kak dingin." lirih gadis itu gemetar dengan mata yang masih tertutup.


"Maafkan aku Je. Kamu harus menjernihkan pikiranmu dulu. Aku tidak bisa mengambil resiko setelah semua yang kita perjuangkan." ia mengganti pakaian istrinya dengan pakaian kering, lalu kembali memanggil Ryan untuk membantunya memindahkan tubuh gadis itu ke atas sofa.


"Bang, bisa bantuin gue sebentar?" teriaknya dari dalam kamar. Ryan langsung muncul dalam hitungan detik.


"Bantu gue pindahin dia." Yudha tengah memeluk Jeana yang ia sandarkan ke tubuhnya. Ia menariknya ke sisi tempat tidur yang lain.


"Tadi waktu lo langsung angkat dia ke kasur. Kasurnya jadi basah, kita harus pindahin dia dan ganti seprainya dulu. Atau dia bisa terus kedinginan." ujar Yudha dan Ryan menurut.


Ia mengangkat tubuh Jeana ke atas sofa di sudut ruangan, sementara para pelayan menyelesaikan tugasnya untuk mengganti seprai beserta selimut yang sudah sangat basah. Ia juga memintanya untuk mengganti kasur dengan alasan yang sama.

__ADS_1


Ada penyadap yang ia deteksi berada di antara celah kasurnya. Ia sengaja memanfaatkan Jeana untuk menyingkirkan itu.


Maafin aku Je..batinnya.


Angela menyarankan mereka berdua untuk pindah kamar selagi mereka memperbaiki pintu. Namun Yudha menolaknya. Kamarnya itu, ia desain sendiri dengan begitu banyak celah untuk keluar dan juga ruang rahasia. Ia tak pernah membiarkan orang lain masuk ke dalamnya begitupun Jea.


Jika dengan tingkat pengawasannya selama ini saja, ia masih bisa lengah. Maka apa jadinya jika ia meninggalkan tempat itu lebih lama. Sepertinya alat penyadap itu dipasang selagi mereka berdua di rawat di rumah sakit. Ia tak ingin terkecoh dua kali.


****


Pintu pun selesai diperbaiki dalam waktu yang cukup singkat. Yudha meminta anak buahnya untuk mengerjakannya dengan sangat cepat.


Jeana juga sudah sadar sepenuhnya. Angela sudah memberinya beberapa suntikan dan Yudha juga menyelimutinya dengan selimut yang cukup tebal.


Setelah selesai, Ryan datang kembali dan mengantarkan makanan ke dalam kamar mereka karena keduanya belum memakan apapun sejak pagi. Mereka begitu disibukkan dengan kejadian teror yang tiba-tiba muncul, tapi belum ada penjelasan apapun baik dari Yudha maupun Jeana.


Mereka hanya makan dengan tenang. Dan Ryan pun meninggalkan keduanya untuk beristirahat di dalam kamar.


"Biarin aja dulu Kak. Kita kenal Yudha, dia pasti udah bertindak. Kakak cuma perlu kasih mereka waktu, ruang dan juga rasa percaya." Ryan berlalu kembali menuju kamarnya.


Sedangkan Angela ia masih larut dalam pikirannya sendiri dan memilih menghabiskan waktu di taman belakang rumah.  Tempat yang berada tepat di bawah balkon kamar putri dan juga menantunya.


"Apa ada yang bisa masuk lewat sini?" gumamnya mencoba mencari celah, namun tak ada petunjuk apapun .


Di kamarnya Ryan pun memikirkan hal yang sama. Ia menelfon Rana untuk datang dan mendiskusikan masalah ini dengannya. Cuma Rana yang saat ini bisa membantunya. Ia satu-satunya penghubung baginya dan juga Jeana.


Sedangkan Jeana dan Yudha, mereka larut dalam keheningan di dalam kamar pribadi mereka. Jea memilih bersandar pada tubuh Yudha dan menyurukkan kepalanya di dada suaminya.


Satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang belakangan ini adalah dengan mendengar detak jantung suaminya. Seburuk apapun hal yang ia alami, asalkan jantung itu masih berdetak dengan begitu keras, maka ia tak akan memikirkan apapun.


"Ngapain Je?" tanya Yudha sambil mengelus lembut kepala sang istri.

__ADS_1


"Cuma dengerin  detak jantung kamu." ujarnya singkat.


"Jantung ini akan selalu berdetak selagi ada kamu dalam denyutnya." ujar Yudha memberi kiasan.


"Maksudnya?" gadis itu mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Yudha dengan begitu jelas.


"Yang aku tahu, sekarang aku cuma bernafas untuk kamu Je. Entah kamu akan percaya atau tidak." Yudha mendekapnya lebih erat.


"Kamu gak takut sama aku Je?" Jeana menggeleng.


"Selama hidupku, aku selalu dikelilingi oleh orang yang ingin membalaskan dendamnya ke papa. Aku sudah terbiasa Kak. Bahkan sekarang aku udah gak tahu lagi harus percaya sama siapa." Yudha merasakan hatinya lebih sakit ketika mendengar ucapan gadis itu.


Sepertinya kata cinta yang selalu ia bualkan di awal rencana mereka benar-benar diwujudkan Tuhan menjadi sebuah kenyataan. Bahkan meski ia sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis itu benar-benar orang yang ia cintai. Ia masih saja meragukan dirinya sendiri.


"Oh ya, Kakak sejak kapan bisa jalan lagi. Apa mungkin karena kakak gak makan obatnya?" Jeana melepaskan pelukan Yudha dan duduk bersimpuh di depan suaminya.


"Kamu tahu dari mana soal obat-obatan itu?" Yudha menatapnya penuh selidik.


"Diandra yang racik obat-obatannya. Itu adalah obat pelumpuh saraf, obat yang sama yang Bunda Clara kasih buat Jason. Diandra belajar soal ramuan tradisional dari Bang Urdha. Tapi Bang Urdha cuma ajarin dia cara buat racun, karena itu ia bikin penawarnya sendiri. Dan dia juga yang kasih aku penawar itu." jelas gadis itu dengan raut wajah polosnya.


"Kamu tahu, dan kamu masih kasih aku obat itu Je?" Raut wajah Yudha berubah kecewa.


"Kakak cuma makan obat yang aku kasih langsung ke mulut kamu kan?" Yudha mengangguk.


"Obat yang aku kasih lewat tanganku itu adalah penawarnya Kak. Karena kakak gak minum obatnya lagi, makanya kakak bisa cepat pulih. Tapi selagi kamu masih minum racunnya, penawarnya gak akan pernah bereaksi."


"Racun yang mereka racik itu jauh lebih kuat. Mereka kasih itu ke kamu selama kamu di rumah sakit. Ada yang tukar cairan infusnya, dan masukin racun itu lewat sana. Aku tahu, tapi aku gak bisa bilang. Atau kamu akan semakin dalam bahaya." jelasnya panjang lebar.


"Berarti harusnya kamu tahu kalau aku bakal sadar, tapi kenapa tadi kamu teriak?"


"Karena aku lihat orang itu di balik pintu balkon. Aku berniat mengalihkannya, tapi malah berbalik memancingnya. Tadi itu adalah asap yang berisi racun yang sama, dengan yang kamu dapatkan di rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2