
“Sanna, tunggu!” teriak Yudha yang juga mengenakan seragam yang sama dengan milik Sanna.
“Ada apa dengan seragammu? Kau juga menjadi relawan di sini?” tanya gadis itu dengan tatapan yang tak sepenuhnya bisa diartikan.
“Apa kau sebenci itu kepada ku? Asal kau tahu, usiaku itu jauh di atasmu. Setidaknya bersikap manislah dengan memanggilku Kakak.” Tegur Yudha yang langsung mensejajarkan langkahnya dengan Sanna.
“Aku ada kuliah siang ini. Aku harus segera pulang.” Sanna melirik jam tangan yang meingkar di pergelangan tangannya. Itu adalah jam tangan pemberian Yudha semenjak mereka menikah. Setidaknya hal sekecil itu telah berhasil mengembalikan mood Yudha yang sempat hancur karena ketidakpekaan Sanna terhadapnya.
“San,” panggilnya ketika gadis itu sudah mulai menjauh.
“Ya?”
“Aku akan mengantarmu. Tunggulah sebentar, aku akan mengambil mobil.”
"Berhentilah mengikutiku! Apa kau yakin bahwa kau benar-benar relawan disini? Hanya dengan mengenakan pakaian ini bukan berarti bahwa kau adalah bagian dari tim." sanggahnya yang langsung membuat Yudha melangkah mundur dan kembali berada di hadapan gadis manis itu.
"Aku relawan disini, aku tidak berbohong." Yudha mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya di hadapan Sanna untuk menandakan bahwa ia memang bersungguh-sungguh.
Sebenarnya hubungan antara Yudha dan Sanna memang tidak seburuk itu. Sanna mengenal Yudha sebagai tunangannya setelah dia sadar. Dan hubungan di antara keduanya bisa dibilang cukup canggung semenjak saat itu, namun semua kecanggungan itu memang tercipta murni karena ia melupakan segalanya.
Sanna masih bersikap seolah Yudha memanglah oranng baru di dalam hidupnya, karena itulah sikapnya menjadi seperti itu. Namun bagi Yudha, ia hanya berfikir untuk memancing semua sikap polos gadis itu dengan terus menggodanya sepanjang waktu.
Bagaimana tidak? Dengan semua memorinya yang sudah di cuci habis oleh Chyntia, pasti akan cukup sulit untuknya menerima sebuah hal baru. Apalagi itu adalah seorang yang baru dan berstatus sebagai tunangan untuknya.
“Apa kita pernah menikah sebelumnya? Atau kita pernah menjadi model di majalah pernikahan?” tanya Sanna yang langsung membuat Yudha mengerem mendadak mobilnya.
“Kau ingin membunuhku?” pekik Sanna setelah melihat Yudha menepikan mobilnya di sembarang tempat.
“Aku masih ingin hidup dengan baik. Aku masih belum menggapai semua mimpiku.” Gerutu gadis itu kesal.
“Memangnya apa mimpimu?” tangan Yudha bergetar ketika memegang kendali kemudi. Ia mencoba menahan gejolak yang ada dalam dirinya. Gejolak perasaan yang sudah lama ia tahan demi Sanna. Andai saja gadis itu mengingatnya walau untuk beberapa detik saja, ia benar-benar berfikiran untuk memeluk gadis itu saat ini juga.
“Jangan mengalihkan perhatian! Aku tahu kau merasa terusik dengan pertanyaanku tadi. Karena itu kau seperti ini. Sekarang coba ceritakan, semua tentang masa lalu kita.” Sanna melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya dan memutar badannya agar menghadap dengan sempurna ke arah Yudha.
__ADS_1
“Jangan lari kali ini, karena aku sudah memiliki bukti untuk mempertanyakan semua ini.” Sanna mengeluarkan beberapa foto dari dalam tasnya, dan itu adalah foto pernikahan mereka yang selalu Yudha simpan di dalam dompetnya.
“Itu milikku, kenapa bisa bersamamu?” tanya Yudha masih dengan raut wajah yang penuh dengan kekesalan.
“Kau menjatuhkan dompetmu saat hendak mengeluarkan kunci mobil tadi. Aku hanya memungutnya dan foto itu tak sengaja melompat keluar. Apa itu benar aku? atau justru seseorang yang mirip denganku?” tanya Sanna kali ini dengan nada suara yang lebih lembut.
“Itu benar kau. Kita pernah menikah, namun kita terpisah selama beberapa tahun. Ada masa-masa buruk yang terjadi dan kau melupakan segalanya. Talak telah jatuh dengan waktu perpisahan kita yang selama itu.” Jawab Yudha jujur tanpa ada yang bisa ia sembunyikan lagi.
Ia tak berpikir terlalu jauh. Yudha tak bisa berpikir dengan jernih dan memikirkan bagaimana dampak akhirnya kepada Sanna. Ia hanya bisa berfikiran untuk memancing reaksi keras Sanna. Ia tengah menduga tentang apa yang mungkin dalam benak gadis itu. Mungkin saja bukan, jika ia yang sebenarnya telah kembali dan semua ini hanyalah sandiwara untuk menjebak dirinya.
“Maafkan aku. Pasti masa itu terlalu singkat sampai aku tak bisa mengenang lebih banyak hal tentangmu.” Lirih Sanna yang membuat Yudha tertegun.
“Ya?” Apa aku berfikiran terlalu negatif tentangnya? batin Yudha. Bukankah ia memang selicik itu dan bisa saja jika ini juga adalah sandiwara. pikirnya.
“Aku berpikir bahwa masa pernikahan kita terlalu singkat. Untuk menjatuhkan talak karena sebuah perpisahan jarak dan juga waktu, pasti kita sudah berpisah terlalu lama. Tetapi di usia segini, bukankah seharusnya pernikahan itu belum lama terjadi.” Ujarnya yang ternyata berpikir hanya dengan menggunakan logika, Yudha tergelak.
Yudha menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum memandangi gadis yang tengah tertunduk di hadapannya. Ia bahkan telah berubah menjadi gadis yang begitu polos bersamaan dengan ia kehilangan semua ingatannya.
“Aku mencintaimu.” Ujar Yudha dengan air mata yang mulai menggenang. Kalimat yang selama ini berusaha ia tahan, dan kini malah keluar dengan spontan tanpa permisi dari bibirnya yang telah berusaha ia bungkam.
“Aku tak bisa menanggapinya sekarang. Semua ini masih terlalu sulit bagiku. maaf.” Geleng Sanna dengan air mata yang ternyata sudah berderai jatuh dan membasahi bagian bawah roknya yang sedikit transparan.
“Besok, jangan kenakan pakaian seperti ini lagi saat kau hendak keluar rumah." ujar Yudha yang matanya terfokkus pada ujung rok Sanna. Bagian bawahnya basah dan nampak semakin transparan dengan air mata yang menggenang disana.
"Kau sudah terlalu terbiasa mengenakan gaun, dan sudah cukup. Aku tak ingin orang lain memandang ke arahmu lebih dari apa yang pernah kupandang.” Racaunya yang langsung di balas Sanna dengan ekspresi paling cemberut yang dia miliki.
"Apa kau pernah melihatku berkeliling kota dengan menggunakan bikini?" racaunya yang langsung membuat wajah Yudha memerah.
"Apa?"
"Kenapa bisa-bisanya kau membandingkannya dengan apa yang pernah kau lihat dariku? Bukankah sebagai seorang pasangan yang pernah menikah kau sudah melihat segalanya?" gerutunya yang langsung membuat Yudha tergelak.
“Aku sama sekali tak bermaksud begitu, aku hanya tak ingin kau mengumbar tubuhmu seperti para wanita diluaran sana. Kau itu bukan wanita biasa, kau itu wanitaku dan aku ingin menjaga itu." jelasnya yang langsung dibalas Sanna dengan memonyongkan bibirnya pertanda kesal.
__ADS_1
CUP Yudha mengecup bibir Sanna sekilas. Membuat gadis itu semakin memerah karena perasaan malu yang membakar dalam hatinya.
"Kau menjadi makin manis dan menggemaskan setelah melupakan segalanya. Maafkan aku untuk semua waktu berat yang pernah kau lalui.” Lirih Yudha membatin ketika dia menarik gadis itu masuk ke dalam dekapannya.
“Kau tidak akan menikahiku dalam waktu dekat bukan?” Sanna menarik dirinya dari dalam pelukan Yudha.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” jawab Yudha dengan nada suara yang sengaja dia buat sesedih mungkin.
“Aku hanya tidak ingin menikah sampai aku mendapatkan gelarku. Aku butuh gelar ini secepatnya, kau tahu aku sangat ingin mengelola butik dan juga merek ku sendiri. Aku sudah cukup belajar tentang mode selama ini dari ibu. Dengan pengalamanku sebagai model, aku yakin ini akan menjadi karier yang bagus untukku.”
“Dari mana kau tahu karier mu sebagai model?” tanya Yudha curiga. Ia berpikiran buruk dengan mengira bahwa gadis itu telah mengingat segalanya tanpa sepengetahuan dirinya.
“Dari semua koleksi foto-fotoku di rumah, aku yakin bahwa itu adalah ambilan gambar dari seorang profesional. Jika aku memang bukan seorang model, maka aku sudah menyewa fotografer professional untuk mengambilnya.” Jawab gadis itu dengan percaya diri. Namun tebakannya memang tak sepenuhnya salah.
Dibanding mengenal masa lalunya sebagai seorang putri telantar dari Keluarga goksel. Sanna lebih mengenal dirinya sebagai seorang putri manja dari Keluarga besar Fernand Aliandro, seorang pengusaha besar yang berasal dari Indonesia.
Ia bahkan sama sekali tak mengetahui bahwa nama besar keluarganya itu juga memiliki pengaruh besar bagi orang-orang di sekitarnya. Keluarga itu begitu besar, hingga sangat sulit untuk menembus pertahanan mereka. Dan Sanna sebagai penghuninya bisa-bisanya hanya berfikir bahwa itu hanya lah sebuah sangkar emas biasa yang mengurungnya.
Dan untuk keluar dari sangkar emas itu, maka ia harus bisa membuktikan dirinya. Ayahnya yang dikenal sebagai Fernand Aliandro itu adalah Sanjaya yang ikut mengganti identitasnya untuk mengikuti istri dan anak-anaknya ke Italia.
Kakak tertuanya Arsen kembali memakai nama Lucio, yaitu nama pemberian ayahnya sewaktu ia kecil. Namun Ia tetap mengganti nama belakangnya menjadi Aliandro. Sedangkan Arumi, kembali dikenal sebagai Angela. Angela Harrison, yaitu nama aslinya sebelum menjadi bagian dari Goksel Kingdom.
Sekuat itulah pengaruh di belakangnya, belum lagi dengan keberadaan Keluarga Wirabraja sebagai mertuanya dan juga latar belakang Akeno yang masih melekat pada diri Aksa. Namun saat ini ia hanya pernah mendengar nama Aksa dan begitupun sebaliknya. Aksa masih belum mengetahui bahwa adiknya itu masih hidup dan sekarang berada di Italia.
***
“Baiklah, terserah kau mau mengkhayalkan apapun. tetapi ingat, bahwa hatimu hanya milikku dan itu adalah kenyataannya Nona Besar Sanna Marseille Aliandro.” Yudha memajukan tubuhnya untuk kembali memasangkan sabuk pengaman itu di tubuh Sanna. Ia kembali melajukan mobil itu menuju ke kampus sesuai tujuan awal mereka.
Sedangkan Sanna, ia masih mematung. Seakan masih mencoba untuk mencerna semua dialog antara dirinya dan Yudha barusan, terutama juga tentang kecupan singkat yang diberikan Yudha kepadanya. Ia memang berubah menjadi agak tulalit semenjak kehilangan semua isi memorinya.
Namun Yudha maupun keluarga besar mereka justru hanya menganggapnya menjadi makin menggemaskan. Sikap polos dari gadis yang ayu dan juga cantik. Terkadang ia malah tak terlihat seperti seorang pewaris perusahaan besar. Melainkan hanya seorang mahasiswa fashion biasa.
Ia sempat beberapa kali pergi ke Prancis untuk melakukan studi banding dan malah berakhir dengan membuat satu kompleks pemuda disana patah hati karena sikap imutnya. Bayangkan, bagaimana tidak. Ia bahkan hampir menolak pria satu kampus. Dan ia menolaknya dengan cara yang sangat halus dan menggemaskan, membuat semua orang selalu mengikuti semua pergerakannya dan berubah mengidolakan gadis manis itu.
__ADS_1