
Kembali ke kejadian dimana Ayla pinsan di kampus bersama Aini.....
"Ayla sadarlah!"
Yudha sengaja tak membawanya ke rumah sakit. Ia hanya melajukan mobilnya ke tempat sepi dan menepikannya disana. Ia meninggalkan Aini sendirian di kampus mereka dengan segenap perasaan bersalahnya.
"Bang Raga..." lirihnya.
"Ayla...." Yudha mengguncangkan tubuh istrinya lebih kencang dari sebelumnya. Ia benar-benar kalut. Bukan karena gadis itu tidak sadarkan diri. Tetapi karena takut akan kenangan yang muncul di kepalanya.
Ia pingsan setelah nama Aksa di sebut. Yudha benar-benar gelisah. Ia takut jika kenangan yang muncul adalah kenangan saat ia masih menjadi istri Aksa. Itu akan membuatnya menjadi seorang pembohong besar.
Hati kecilnya masih mengatakan bahwa hati gadis itu adalah milik Aksa. Ia masih belum mengisinya sepenuhnya. Wajar jika dirinya merasa khawatir.
"Bang Raga!" gadis itu berteriak ketika matanya terbuka. Tubuhnya menggigil sambil melihat kesekeliling mencoba mencari keberadaan Raga di sekitarnya, namun pemuda itu tak kunjung muncul.
"Ayla.. ada apa?" tanya Yudha masih bingung.
Mereka berdua masih berada di dalam mobil. Tidak ada siapa pun disana. Tetapi gadis itu mencari keberadaan seseorang seakan baru saja kehilangannya.
"Ayla, tenanglah! Coba ceritakan padaku, ada apa?"
Yudha memutar kepala gadis itu menghadap kearahnya. Ia meraihnya masuk ke dalam dekapannya dan menepuk-nepuk pundak gadis itu pelan.
"Aku di sini. Jangan takut!" bisik Yudha yang perlahan membuatnya tenang dan membalas pelukan Yudha.
"Ada ingatan yang muncul." ujarnya dengan suara gemetar.
"Bang Raga pelakunya." lirihnya.
Mata Yudha membulat sepenuhnya. Ia ingin melepas pelukannya, namun Jea menahannya.
__ADS_1
"Kumohon, jangan lepaskan!"
"Ayla, kau harus menjelaskannya." Yudha masih bersikeras untuk melepaskan pelukannya dan menatap mata gadis itu dalam.
"Kumohon jangan membencinya. Jangan sakiti dia, kumohon." Jeana memohon. Ia meletakkan kepalanya di atas lutut Yudha seakan mengisyaratkan bahwa ia tengah bersujud di kaki lelaki itu.
"Kenapa? Apa yang kau ingat? Coba jelaskan perlahan!" Yudha mengangkat wajah gadis itu.
Ia tahu gadis itu masih panik dengan ingatannya yang muncul. Ia mencoba menenangkannya terlebih dahulu. Ia menangkup kedua pipi Jeana dan mengecup lembut bibirnya, membuatnya merasakan kehangatannya. Ini adalah kali pertamanya melakukan itu sejak mereka menikah.
"Aku ada di sini, untukmu." lirihnya setelah melepaskan gadis itu.
Ia kembali menggenggam tangan istrinya dan mendekapnya erat. "Ceritakanlah! Perlahan." lirihnya.
Jea berusaha menetralkan pikirannya sejenak dan menetralkan detak jantungnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mencoba untuk buka suara.
"Aku ingat semua, ah tidak. Masih ada yang belum jelas." gadis itu menggeleng cepat. Yudha berusaha menenangkannya dengan mengelus lembut punggung tangannya.
"Ceritakan, perlahan." lirihnya lagi.
"Siapa? Anak siapa?" tanya Yudha bingung dengan jawaban Jea yang terdengar sangat membingungkan baginya.
"Anak Alicya. Anak yang di kandung Alicya adalah anak Bang Raga." ujar gadis itu gemetar.
"Apa?" Yudha tercengang dengan kebenaran yang baru saja didengarnya. Ia sudah mencari kebenarannya selama ini, tetapi ternyata istrinya sendirilah yang selama ini menyimpan segala itu untuknya.
"Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Yudha ragu.
"Awalnya aku menyelidikinya secara diam-diam. Aku menyelidiki alasan Bang Raga bertingkah makin aneh dan mulai membenci Aksa. dia yang menjatuhkan semua popularitas Aksa. Ia yang menciptakan skandal di antara kami.
Berita pernikahanku dengan Aksa bukan di sebarkan oleh Alicya, tetapi Bang Raga. Aku menyelidikinya sendiri. Aku memperlakukan Alicya dengan buruk di hari pernikahan kita. Aku meminta penjagamu untuk menyekapnya selama sekitar beberapa hari. Tidak mungkin jika dia yang menyebarkan berita itu.
__ADS_1
Mereka selalu mengawasinya. Ia bahkan tidak menghubungi siapa pun ketika itu. Karena itu aku meminta Bang Arsen untuk menyelidikinya. Itu semua di unggah dari akun pribadi Bang Raga. Aku sempat meretasnya ketika kami tinggal bersama.”
“Kau benar-benar yakin soal itu?” gadis itu mengangguk.
“Kau yakin itu bukan anak Aksa? Lalu kenapa kau bisa bersama Aksa ketika kecelakaan itu?” tanya Yudha penuh selidik. Ia masih berpikir bahwa gadis itu tengah membela Aksa.
“Kak Aksa sempat menelfonku lewat ponsel Bang Arsen, karena aku memblokir kontaknya. Ia menjelaskan semua rentetan kejadian di malam itu. Ia mengalami mual parah karena efek alkohol. Ia pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan berada disana cukup lama.
Ia menemukan Bang Raga disana begitu dia kembali. Pakaian Alicya sudah terkoyak parah. Dan aku hanya menyaksikan potongan kejadian itu masuk. Bang Raga bersembunyi saat aku ada disana.
Dari yang aku dengar, Bang Raga sering mendatanginya di apartement pribadinya. Karena itulah kenapa Bang James bisa menemukannya dalam keadaan hamil waktu itu. Hubungan mereka bukanlah hubungan secara sepihak. Ia berbohong dan mengatakan bahwa ia hamil pada malam itu karena Yudha.
Padahal jika dihitung maka seharusnya ia tengah hamil tua ketika Bang James menjebaknya. Tetapi kenyataannya tidak. Ia memakai senjata itu untuk Kak Aksa.
Ia sempat menghilang dengan alasan bahwa ia tengah melahirkan anaknya. Padahal tak pernah ada anak sama sekali. Gadis itu telah mengandung sebanyak dua kali. Dan salah satunya ia gugurkan dengan tangannya sendiri. Dia iblis Kak, Alicya adalah seorang iblis dan dia menjebak kakakku untuk itu.”
“Lalu apa yang terjadi di hari itu Je?” Yudha mengungkit hari di mana gadis itu mengalami kecelakaan.
“Kak Aksa hanya menjelaskannya secara tidak langsung. Ia hanya mengatakan bahwa itu bukan anaknya, dan aku harus percaya.” Jea menjelaskannya dengan terlalu terburu-buru hingga nafasnya terasa sesak.
Yudha menatapnya cukup lama. Ia kembali menenangkan gadis itu dengan meraihnya masuk ke dalam pelukannya. ia berpikir cukup keras. Dirinya masih dihantui dengan perasaan takut. Ia benar-benar takut jika kebenaran itu akan membawa Jeana pergi kembali darinya.
“Ada lagi yang kau ingat?” gadis itu menggeleng.
"Semuanya masih samar, Kak."
Yudha pun melepaskan pelukannya dan memberikannya sebotol air mineral yang selalu ia simpan di dalam laci dashboard mobilnya. Gadis itu perlahan mulai tenang. Nafasnya teratur dan ia pun tertidur.
Yudha memasukkan obat tidur di dalam minuman itu. Itu adalah minuman yang selalu ia sediakan sebagai senjata andaikan ada yang bermaksud jahat kepadanya. Dan sayangnya, ia harus memberikan minuman itu kepada istrinya sendiri.
“Tenanglah dahulu. Aku akan membawamu pulang. Aku akan memastikan bahwa tidak ada yang bisa merebutmu dariku.” Yudha kembali menjalankan mobilnya. Kali ini mereka pergi kembali ke kediaman Wirabraja yang berada di pulau pribadi sang ayah.
__ADS_1
Hanya disanalah ia merasa aman untuk menjaga istrinya. Ada pengawalan yang begitu ketat. Gadis itu akan aman, dan Aksa juga tidak memiliki kesempatan untuk menemuinya lagi. Ia juga mengirim pesan kepada Aini untuk membatalkan jadwal gadis itu bersama Aksa. Ia bahkan bersedia untuk membayar semua penaltinya.
Yudha bahkan juga meminta izin kepada ibu mertuanya untuk tidak pulang selama beberapa hari. Ia meminta izin dengan alasan untuk pergi berbulan madu bersama istrinya. Ia membawanya di saat kedua Orang tuanya sedang dinas di luar negeri. Dan itu berarti hanya ada dia dan Jeana disana. dia masih butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya.