Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 6 : Masa Sekolah


__ADS_3

Dua tahun kemudian,


Starhigh Art School


Dua tahun sudah berlalu sejak mereka memulai permainan rumah-rumahan itu. Keduanya kini sudah berada di tingkat kedua Sekolah Menengah Atas. Mereka juga tercatat sebagai siswa terbaik dan terpopuler di sekolah itu.


Tidak ada yang mengetahui identitas mereka yang sebenarnya. Mereka juga bersikap normal selayaknya sepasang sahabat biasa.


Di sekolah itu Aksa dikenal sebagai Aksara Adya Putra yang merupakan Kapten Tim Basket sekolah sekaligus Ketua OSIS di sekolahnya.  Sedangkan Jea, dia kembali sebagai Nashara Adelyn, siswa tercantik sekaligus berprestasi di sekolah.


Mereka hanya menunjukkan kedekatan mereka sebatas teman masa kecil. Namun sudah mendapat dukungan satu sekolah untuk menjadi perfect couple disana.


“Sha, makan siang bareng?” tawar Aksa yang juga berada di kelas yang sama dengan Jea. dia duduk di kursi di belakang Jea, dan sering menggoda gadis itu sekalipun dalam jam pelajaran.


“Aku harus ke perpus, mau cari beberapa buku buat bahan riset Jurnal Ilmiah.” Jawab gadis itu sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


“Mau di temenin gak?” gadis itu menggeleng.


“Kamu kan gak suka perpustakaan.” jawabnya santai membuat Aksa sedikit merasa kesal.


Jea berlalu meninggalkan Aksa yang masih mematung di tempat. Kelas mereka berada tepat di lantai ketiga gedung utama. Yang artinya dia perlu menuruni beberapa anak tangga serta menelusuri lorong untuk mencapai perpustaan yang berada di ujung bawah lorong lantai utama.


Ini adalah jam yang cukup sibuk. Karena para siswa pasti akan berebut untuk saling mendahului menuju ke arah kantin. Sangat sulit untuk menuruni anak tangga itu dengan hati-hati.


Awh!! Pekik Jea ketika tubuh salah seorang siswi menabraknya cukup keras. dia terpeleset jatuh dan hampir saja berguling ke bawah jika tangan seseorang tak meraih pinggangnya dan membawanya ke tepi.


Pemuda itu tidak memakai seragam, hanya setelan kemeja santai yang dipadukan dengan celana jeans, dan sebuah ransel di punggungnya. Sepertinya dia bukan siswa disana. Namun tampak seumuran, dia terlihat seperti seorang  siswa baru.


“Kau tidak apa-apa?” ujarnya setelah menarik pinggang Jea dan menyudutkannya ke dinding. dia membokir kerumunan dengan punggungnya demi melindungi Jea yang tengah ia kunci di antara kedua lengannya.


“Iya, aku baik.” Jea mendorong tubuh pemuda itu perlahan, dan mencoba melepaskan diri. “terima kasih.” Ujarnya dan langsung berlalu.

__ADS_1


Jea adalah seorang Queen di sekolahnya. Ia  terkenal dengan image dingin dan tak mudah di dekati. Dia juga terkenal sangat ramah dalam hal berteman. Namun dia begitu menutup diri dengan orang-orang yang berniat untuk mendekatinya atau sekadar cari perhatian kepadanya.


Sontak saja, kehadiran sosok pemuda tampan dengan image polos yang menggoda iman itu tak berpengaruh sama sekali padanya.


Ada sebuah ungkapan yang begitu terkenal di kalangan para gadis di Starhigh ‘Justru karena dia adalah Nashara, maka hidupnya hanya akan berotasi di sekitar Aksa.’


Tidak pernah ada orang yang berhasil untuk mendekatinya selama ini. dia selalu menutup diri, dan juga menutupi hubungannya dengan Aksa.


“Kalian pacaran?”


“Gak kok, Cuma temen, dari kecil.” Jawabnya santai tanpa melirik bagaimana perubahan ekspresi dari Aksa yang berada di sebelahnya.


Sejujurnya adegan dramatis yang terjadi antara Jea dengan seorang pemuda di tangga itu tak luput dari perhatian Aksa. dia selalu mengawasinya bahkan saat dia tak lagi bisa menangkap aura kehadiran gadis itu di depan matanya.


ia melihat dengan jelas bagaimana orang itu menabrak wanitanya dengan sengaja. Orang itu adalah Alicya, salah seorang gadis cantik yang begitu tergila-gila dengan Aksa.


“Apalagi yang lo rencanain buat celakai Nasha?” Aksa menarik tangan gadis itu kasar ke salah satu sudut lorong yang cukup sepi.


“Lo, dasar ya! Cewek licik” Aksa makin menyudutkannya ke dinding mencoba mengintimidasi.


“Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri kalau lo yang  dorong Nashara di tangga. Masih mau ngelak?” gertak pemuda itu membuat gadis di hadapannya ini tersudut. "Kalau di sampai jatuh gimana?"


“tetapi dia gak jatuh kan? Kamu lihat sendiri, aku bahkan udah bantu dia buat ciptain adegan yang  super romantis. Mana cowoknya ganteng banget lagi” Ujarnya sambil menyengir mencoba memprovokasi Aksa.


Brakk!! Aksa meninju dinding di belakang gadis itu tepat di samping telinganya. dia mencoba untuk membuatnya makin terintimidasi. "Kalau ganteng, kenapa gak lo aja yang ngejar-ngejar dia? Gak usah ngerepotin gue dan bikin gue muak ngurusin lo terus kayak gini." gertaknya.


“Hei Aksa, di hidup lo itu Cuma ada Nasha ya? Ingat dunia ini tuh luas, bukan Cuma ada satu cewek, apalagi yang bikin lo berpusat sama dia. Kalian itu Cuma teman kecil.” Jawabnya menyerang Aksa telak, membuat pemuda itu tak bisa lagi mengelak.


“Hidup gue, bukan lo yang harus ngatur ke mana arahnya.” Jawab Aksa masih ketus.


Aksa berbalik hendak berlalu menuju kelas. Namun sial, karena saat berbalik dia langsung beradu tatap dengan sosok Jea yang entah sejak kapan sudah berdiri disana.

__ADS_1


“S…. sss…sha..” ujarnya gugup.


“Aku udah selesai. Tadi sekalian mampir di kantin juga sih, mau makan bareng gak?” tawar Jea ragu sambil melirik sekilas kepada Alicya yang berada di belakang Aksa. “Aku ganggu ya?”


“Udah tau nanya.” Alicya menatapnya dengan tatapan tak suka, dan langsung berlalu dari hadapan mereka berdua. Dia tampak sangat muak. dia bahkan bermaksud untuk menabrak Jea lagi ketika lewat, namun Aksa sudah terlebih dahulu menarik Jea dan memblokirnya dari jalan Alicya.


“Ish..” ujarnya mengumpat dengan tatapan tak suka ke arah Jea.


“Mau makan kan? Ayo!” tawar Aksa melunak sambil meraih bungkusan berisi makanan itu dari tangan istrinya.


“Bukunya sini, biar aku bawain sekalian.” Tawar Aksa yang melihat tangan Jea dipenuhi dengan buku-buku tebal yang sedikit membuatnya kesulitan.


“Gak terlalu berat sih.” Ujarnya menyengir, namun tetap memberikannya kepada Aksa.


“Dengan buku sebanyak ini kamu masih sempat beli makanan dan bawa langsung ke sini. Pasti sulit, bawa semua itu di tengah kerumunan.” Jawab Aksa.


“Gak juga. Kantin sama perpus kan deketan. Lagi pula aku yakin aja kamu belum makan siang. Makanya sekalian di beliin.” Ujarnya membuat hati Aksa makin menghangat.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang kelas untuk menghabiskan makan siang mereka disana.


“Oh ya, tadi itu aku ganggu gak sih?” tanyanya sambil mempersiapkan makanan di atas meja.


“Gak, Cuma ngobrol biasa kok. Tau kan Alicya itu anaknya kayak gimana.” Jawab Aksa sambil menghindari tatapan Jea.


“Aku gak papa lho, kalau kamu mau pacaran sama seseorang. Toh, pernikahan ini Cuma naskah yang di bikin keluarga. Kita masih bisa nyelesainnya kapan aja. Tinggal cari cara untuk sampai ke endingnya aja kan?”


Gadis itu memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Itu adalah hal yang selalu dia lakukan untuk menyembunyikan rasa gugup. Dengan memenuhi rongga mulutnya dengan makanan, maka dia akan menyembunyikan segala macam ekspresi yang mungkin muncul di balik pipi gembulnya yang berisi makanan.


“Gak usah di bahas. Mending lanjut makan. Jangan buru-buru juga, nanti keselek.” Ujar Aksa gemas sambil menyodorkan segelas air kepada Jea.


“Makasih.”

__ADS_1


Keduanya melanjutkan makan siang mereka dalam keheningan. Mereka benar-benar larut dalam pikiran mereka sendiri saat ini. Jika dipikir-pikir lagi meskipun pernikahan ini hanyalah settingan keluarga, tetapi mereka sudah terlalu terbiasa untuk ada satu sama lain selama dua tahun terakhir. Jadi pasti akan sulit bagi keduanya untuk memilih berpisah.


__ADS_2