Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 47 : Rencana Jea (Part 2)


__ADS_3

"Aish... Sial!" Adelio bangun keesokan paginya dengan rasa sakit yang begitu menguasai kepalanya.


Ia tertidur di meja bar, di tempat terakhir dirinya berada semalam. Sedangkan gadis itu, Ia tidur di kursi berlawanan yang berada di seberang meja.


Ia terlihat begitu cantik. Matanya indah, rambut ikalnya menambah kesan dewasa dan elegan pada dirinya. Pesonanya begitu kentara, wajar jika ia sempat lengah semalam. Bahkan sama dengan saat ini, di mana ia masih tertegun dan memandangi wajah gadis itu cukup lama.


"Masih berani menatapku? Tidakkah kau ingin membuat perhitungan? tentang semalam." serunya dengan mata yang masih tertutup sempurna.


Adelio menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia berusaha menguasai dirinya dan menengok keluar jendela. Mobil James tidak lagi berada disana.


"Apa sebenarnya yang kau lakukan?" bentaknya kepada gadis itu.


Ia sudah berbalik, gadis itu juga sudah bangun dan duduk dalam posisi tegap menghadapnya. Lagi-lagi ia tetap sama. Jantungnya bersikap begitu kurang ajar dengan berdetak sangat kencang tanpa seizinnya.


"Dia ingin kau aman. James sudah berada di markas, dan aku juga sudah menyampaikan pesannya kepada Yudha. Kau hanya perlu pulang dan berpura-pura tidak tahu apapun tentang kejadian semalam." gadis itu melempar kunci mobil yang langsung disambut dengan tepat oleh Lio.


"Apa maksudnya ini?"


"Kau akan segera mengetahuinya. Pulanglah!"


Syifa berjalan ke arah Adelio dan merobek paksa bagian depan kemeja Lio. Ia mengecup beberapa bagian dari kemejanya dan mengacak-acak rambut pemuda itu.


"Apa yang kau lakukan?" bentak pemuda itu lagi.


"Ayo pulang!" ia menarik tangan Lio menuju mobilnya yang ia parkir di basement.


Ia juga menyemprotkan beberapa tetes alkohol ke kemeja pemuda itu sebelum memberinya jaket. Selembar jaket kulit dengan motif bunga berwarna pink yang selalu ia letakkan di kursi belakang mobilnya.


"Pakai ini, dan ayo kita pergi!" ujarnya memberi titah kepada Adelio untuk mulai mengemudi.


Entah mengapa, Adelio menurut. Ia melajukan mobilnya sesuai arahan Syifa, dan itu adalah arah menuju rumahnya sendiri.


"Kau?" Lio menatapnya penuh pertanyaan, namun gadis itu masih terlihat sangat tenang.

__ADS_1


Syifa turun dan menekan bel rumah yang ada di depan pagar. Ia berbincang dengan para penjaga rumah untuk beberapa waktu sebelum mereka membukakan pintu itu untuknya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Permisi!" ia mengetuk jendela mobil tempat Lio berada. Ia memberi isyarat dengan wajahnya untuk menyuruh pria itu masuk.


"Kenapa mereka langsung membukanya? Biasanya mereka begitu protective?" tanya Lio lagi masih dengan nada yang tak bersahabat.


"Karena apalagi? Mereka melihatmu, ayo cepat masuk." gadis itu kembali ke kursi penumpang di samping Lio.


Lio pun menurut, ia masuk dan membawa mobil itu sampai ke pilar depan rumah. ia meninggalkan mobil itu disana dan masuk bersamaan dengan gadis asing yang saat ini ia bawa.


"Ryan, apa-apaan ini?" tanya Ny Angela tak bersahabat ketika melihat penampilan adiknya itu ketika masuk.


"Permisi, Nyonya." safa Syifa ramah. Gadis itu mengekor di belakang Adelio dan langsung disambut oleh teriakan Jeana yang berasal dari tangga utama.


"Mbak Rana!" gadis itu berlari dan langsung memeluk Syifa hingga gadis itu sedikit terhuyung.


"Rana?" tanya Lio dan Angela bersamaan.


"Oh ya, namaku Asyifa Zahrana. Jea biasa memanggilku Rana. Kamu apa kabar sayang?" sapanya ramah sambil membalas pelukan gadis yang terlihat manis di depannya itu.


"Lupa? Semalam abang ninggalin aku di depan bar sama Bang James." rengeknya sambil menoleh tanpa melepaskan pelukan Rana.


"Kalian semua saling kenal?" tanya Ny Angela bingung.


"Itu.. aku, maaf." Rana menggigit bibirnya dengan ekspresi penuh rasa bersalah. Ia menunjuk ke arah Lio yang penampilannya sangat berantakan.


"Jea yang kenalin mereka Ma." sela Jeana. Ia berdiri di depan Rana dan menghalanginya dari tatapan tajam Ny Angela.


"Kamu, dasar anak nakal! Katanya gak mau urusan sama perempuan. Tapi sekalinya ada, langsung diburu. Udah sana mandi!" Ny Angela memukul lengan Adelio dan hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


Pemuda itu menatap aneh ke arah dua gadis di belakangnya. Ia berjalan ogah-ogahan ke kamarnya yang berada di lantai atas.


"Ayo masuk! Jea udah banyak cerita tentang kamu." Ny Angela bersikap sangat ramah dan penuh penerimaan kepada Rana. Ia mengajaknya untuk berbincang di meja makan. Sementara Jeana kembali ke kamarnya dengan alasan harus menelfon Yudha.

__ADS_1


"Apa yang kamu rencanakan Je? Semalam itu apa? Mobil Bang James? Bang James di mana?" Adelio tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar Jeana dan memberondongnya dengan ribuan pertanyaan.


"Abang cuma harus nikahin Mbak Rana, dan aku akan urus sisanya." jawab gadis itu sekenanya.


"Aku kira kembalinya ingatan kamu itu berefek baik. Tapi ternyata ini hanya makin membangkitkan naluri iblismu Jea." Lio menudingnya dengan tatapan tak percaya.


"Ternyata percuma ya, Bang Ryan besarin aku selama ini. Masih aja gak kenal sifat aku gimana." jawabnya enggan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lio.


"Jangan berbelit-belit dan cepat kasih tahu di mana James?" bentaknya.


"Aku minta Bang Arsen untuk antar dia pulang. Puas!" balasnya dengan nada yang tak kalah tinggi.


"Lalu, gadis itu siapa dia? Dan apa maksud semua ucapannya?"


"Itu semua, bukannya kamu gak tahu Bang. Tapi emang kamu gak mau tahu. Itu semua adalah hal yang bikin kamu buta dan gak tahu siapa sasaran kamu yang sebenarnya."


Adelio membeku. Ia masih belum mengerti apa maksud dari ucapan gadis itu.


"Yang jahat itu, Clara bukan Sanjaya. Dan ada rahasia lain yang selama ini kamu menutup mata dari itu semua."


"Apa maksud kamu dan jelaskan semuanya!"


"Aku yang akan bertindak. Kamu cuma perlu duduk manis aja Bang."


Gadis itu kembali meraih ponselnya dan berlalu keluar menuju balkon kamarnya yang dia kunci rapat.


Ia menelfon seseorang, namun Adelio tidak bisa mendengar hal apapun dari dalam. Kamarnya begitu kedap dan pintu itu juga sangat rapat.


"Jea buka!" bentaknya namun gadis itu tak bergeming.


Adelio dihantui dengan semua rasa penasarannya dan mencoba mencari tahu. Tapi semua alibi gadis itu terbukti.


Arsen mengantar James pulang ke kediaman pribadinya dengan alasan bahwa pemuda itu mabuk. Di dalam mobilnya ada tumpukan botol alkohol dan ia juga tak mengingat apapun.

__ADS_1


Ny Angela mengatakan jika Jeana pulang semalam bersama Arsen sebelum ia mengantar James pulang. Tak ada yang aneh sama sekali. Padahal ia ingat persis bagaimana mobil James bisa mengeluarkan kepulan asap yang begitu banyak semalam.


"Apalagi yang direncanakan gadis licik itu!" ujarnya gusar.


__ADS_2