
Di sebuah gubuk tua yang sudah tak lagi terawat. Sanjaya menjaga putrinya yang tengah mengalami gangguan jiwa akibat trauma.
Dua tahun telah berlalu, kondisi gadis itu benar-benar jauh dari kondisi baik. Setiap harinya ia hanya menatap ke sekeliling rumahnya yang berada di tengah hutan. Hanya ada pepohonan, dan hewan-hewan liar berkeliaran.
Ia tinggal di sebuah desa tertinggal dengan rumah yang juga sedikit terpencil dari permukiman.
“Ayo, makan dahulu nak?” pinta Sanjaya yang sebenarnya sudah kehilangan semangat akan putrinya.
Gadis itu setiap harinya hanya menatap ke semua arah dengan tatapan kosong. Entah itu kepada dirinya, hewan ataupun pepohonan yang ia lihat. Gadis itu tidak mengeluarkan suara apapun, entah ia memang telah bisu atau memang tak ingin berbicara.
Tetapi begitulah kondisinya sejak Sanjaya menyelamatkannya dari kecelakaan tragis yang telah merenggut saudara dan juga ayah kandungnya.
Benar, gadis itu adalah Jeana yang kini hidup sebagai putri dari Sanjaya. Seorang petani bayaran yang hidup dengan menggarap lahan orang dan mendapat upah harian. Upah yang hanya cukup untuk memberi makan sang putri, tanpa bisa membayar biaya pengobatannya yang makin mahal.
“Papa tidak bermaksud untuk menghentikan pengobatan Jea sayang. Tetapi Papa belum memiliki uang yang cukup. Papa minta maaf.” Ujar Surya sambil terus menyeka air matanya yang tak henti mengalir.
Putrinya itu hanya memakan makanan di hadapannya tanpa memperhatikannya. ia hanya meraih apapun yang ada di hadapannya dengan menggunakan sendok dan baru berhenti ketika tidak ada apapun lagi yang bisa diraih.
Ia tidak mengatakan apapun, meskipun itu hanya sekadar berkata bahwa ia lapar ataupun haus. Ia hanya makan dan minum ketika di suruh. Ia hanya akan mandi setelah Sanjaya mengantarnya ke dalam kamar mandi dan gadis itu bermain-main dengan air di hadapannya.
Jea selalu berteriak ketika hujan petir melanda tempat itu dan menyebabkan bunyi ribut yang seolah memekakkan telinganya.
Dunia memang telah mengakuinya telah tiada semenjak tragedy bom yang terjadi di Hari Jadi Goksel Media. Namun, Sanjaya muncul di waktu yang tepat dan menyelamatkannya. Jeana menderita sejak kejadian itu.
Ia merasa bersalah terlebih karena telah menyebabkan ayah kandungnya dan juga dua saudaranya meninggal dalam insiden itu.
“Aku yang telah membunuh mereka.” Isaknya histeris ketika Sanjaya berhasil membawanya keluar tepat waktu dan menyelamatkan nyawanya.
__ADS_1
Jeana selalu histeris selama berhari-hari hingga suatu saat ia kehilangan kesadaran dan juga kemampuannya untuk berbicara. Ia hanya menatap semua hal seperti orang asing. Ia tak melakukan apapun selain apa yang diberikan kepadanya.
Kondisi gadis itu sangat memprihatinkan, namun Sanjaya juga belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan kebenaran itu kepada dunia.
Sanjaya memilih untuk merawatnya dan membesarkannya sebagai putrinya sendiri. Dunia mengenal gadis itu sebagai putrinya dan juga ia adalah darah daging dari wanita yang sangat dicintainya. Sanjaya berjanji akan menjaga gadis itu di sisa umurnya.
Tok!!! Tok!! Tok!!!
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang sangat jarang terdengar di gubuk lusuhnya. Ia tak menduga akan kehadiran siapapun disana.
“Permisi!” terdengar suara seorang lelaki di depan pintu rumahnya. Sanjaya melangkah ke arah pintu itu berniat untuk membukanya.
“Apakah itu bapak kepala desa? Ada urusan apa malam-malam begini?” gumam Sanjaya sambil meraih handle pintu yang sudah mulai rusak di makan usia.
“Nak Yudha..”lirihnya terkejut karena melihat keberadaan sang menantu yang tak lain adalah suami dari putrinya itu. Pemuda itu ada di depan kediamannya.
“Maafkan aku Pa, aku baru saja kembali dari luar negeri karena harus menjalankan pengobatanku. Maaf karena aku baru bisa datang untuk menjenguk Anda.” Ujarnya membungkuk hormat kepada seorang pria tua yang selalu ia anggap sebagai ayah mertua.
Surya mengetahuinya ketika ia hendak menjemput Yudha ke kediamannya untuk menjadi penyemangat Jea, Namun ia terlambat, karena pemuda itu sudah bertolak ke Swiss bersama keluarganya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya ragu, tanpa berani mempersilakan Yudha untuk masuk.
“Aku sangat terpukul dan sangat sulit untuk tetap berada di Indonesia dengan semua kenangan buruk ini. Tetapi Mama Arum memintaku untuk datang hari ini. Beliau telah berhasil mengembalikan Goksel. Mama ingin Anda kembali. Aku datang untuk menjemput Anda.” Jelas Yudha tanpa berbasa-basi.
“Beliau bertekad untuk mengembalikan semua yang seharusnya menjadi milik Anda Pa. Karena itu butuh waktu yang cukup lama untuk beliau memberanikan diri untuk menjemput Anda kemari.”
“Kenapa dia tidak datang sendiri?” tanya Sanjaya yang masih mempertahankan raut wajahnya yang sangat terkejut dengan kehadiran Yudha. Di satu sisi ia terkejut dengan kedatangan anak menantunya itu, namun di sisi lain ia juga menyayangkan Arumi yang tidak datang langsung untuk menemuinya.
__ADS_1
“Masih ada urusan seputar perusahaan dan juga publisitas media. Mama meminta maaf yang sebesar-besarnya. Beliau ingin menemui Anda di suatu tempat keesokan harinya. Ini juga sangat berat untuk Mama, Pa.” jelas Yudha dengan nada suara yang dibuat selemah mungkin.
Sanjaya tak bisa mengalihkan pandangannya dari arah rumah di mana terdapat Jea di dalamnya. Gubuknya memang sangat kecil, hanya ada ruang tamu dan satu kamar yang hanya terbatas oleh selembar tirai.
Kamar mandi yang sering ia gunakan juga berada di luar rumah dan hanya ditutupi seadanya dengan sebilah kayu. Dapurnya juga berada di luar rumah di sisi berlawanan. Akan sangat mudah untuk mengetahui apa isi dari rumahnya termasuk penghuni di dalamnya, hanya dengan melihat dari balik pintu masuk.
“Apa ada orang lain di dalam? Kenapa Papa tampak sangat gelisah?” tanya Yudha heran.
“A.. itu…. Ada putriku di dalam.” Sanjaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ia tidak bisa menyembunyikan keberadaan Jeana kepada Yudha. Karena mau bagaimanapun Yudha adalah suaminya dan ia berhak untuk mengetahui keberadaan istrinya. Yudha juga sudah sangat menderita selama ini. Namun juga sulit untuk memberitahukan kondisi Jeana saat ini.
“Papa punya putri? Siapa? Apa dia adalah gadis baik yang selalu membantu Anda?” tanya Yudha penasaran. Sanjaya memang sering membahas perihal gadis baik itu sewaktu Yudha masih menjadi menantu sahnya. Tetapi ia tak pernah mengatakan bahwa itu adalah Jeana putri tirinya.
“Bolehkah aku menemuinya?” Sanjaya mengangguk ragu, namun juga merasa salah tingkah dengan apa yang akan dihadapinya.
Yudha melangkah masuk ketika Sanjaya menyingkir dari pintu seolah memberinya jalan. Ia tak mengatakan apapun seolah tergigit oleh lidahnya sendiri. dia tak tahu harus menjelaskannya dari mana.
Di saat yang bersamaan, Jeana melangkah keluar dan berjalan tak tentu arah ke sekeliling rumah sambil menatapi bingkai foto yang Sanjaya taruh di sepanjang dinding.
Semua foto itu berisikan kenangan gadis itu semenjak dia kecil sampai saat dia menikah dengan Yudha. Namun ia hanya menatapinya dengan pandangan kosong.
“Dia, bukankah?” tanya Yudha ragu. Sanjaya mengangguk membenarkan seolah dia tahu apa yang Yudha maksud.
“Aku menyelamatkannya dari kecelakaan itu, tetapi mentalnya sangat terguncang. Ia menyaksikan kematian saudara dan juga ayahnya di depan mata kepalanya sendiri. Ia tak bereaksi akan apapun, dan hanya akan bertindak histeris ketika mendengar suara gemuruh. Suara yang ia dengar di detik-detik kecelakaan itu.” Jelas Sanjaya yang mengiringi langkah Yudha mendekati gadis itu.
Jujur Yudha memiliki ketakutannya sendiri. Ia takut jika gadis itu hanya ciptaan Surya sama seperti sebelumnya. Namun ia juga sangat mengenal istrinya, ia tak mungkin salah mengenalinya.
__ADS_1
“Dia benar istriku Pa.” lirih Yudha begelinang air mata sambil meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Namun yang dipeluk masih tetap tak merespon apapun.
“Aku sempat menyusulmu untuk memberitahukan keberadaannya. Tetapi aku terlambat, kau telah terbang ke Swiss bersama keluargamu. Karena itulah aku memutuskan untuk menjaganya hingga saat ini.”