
"Halo Kak Yudha. Kakak semalam kenapa menghilang gitu aja?"
Ponsel Yudha berdering dengan begitu keras. Lelaki itu sedang berada di kamar mandi dan meminta Jeana untuk mengangkatnya.
Ada suara wanita dari seberang telfon. Ia membahas pertemuannya dengan Yudha semalam. Dan waktu semalam, adalah saat dimana Yudha meninggalkannya ketika mereka saling mengutarakan perasaan mereka.
Hati Jeana berubah gundah. Ada perasaan yang sedang berusaha untuk ia kendalikan.
"Siapa Je?" tanyanya saat keluar dari kamar mandi. Gadis itu membeku, ponsel yang berada di telinganya kini lepas, jatuh dan terjun bebas membentur lantai.
"Diandra." jawabnya singkat.
Gadis itu hendak berlalu meninggalkan Yudha, namun Yudha mencekal lengannya.
"Dia masih anggap aku Theo Urdha." ujarnya yang membuat gadis itu membeku.
"Maksudnya?" Yudha menatapnya aneh.
Ingatannya memang telah kembali. Tapi masih belum sepenuhnya. Ia hanya mengingat hal-hal tertentu secara garis besarnya saja.
"Kamu masih belum ingat?" Yudha tersenyum manis ke arahnya. Ia memutar tubuh gadis itu menghadapnya dan mengacak-acak gemas rambut gadis itu.
"Dia adik Theo Urdha yang sebenarnya. Dan dia masih memperlakukanku seperti kakaknya." Yudha menariknya ke atas tempat tidur.
"Je, aku ngantuk. Temenin istirahat ya?" Yudha bersandar ke sandaran tempat tidur dan menarik Jea masuk ke dalam pelukannya.
Ia menyandarkan tubuh gadis itu kepadanya dan menjadikannya guling, sebelum akhirnya tertidur dalam posisi itu.
Pikiran Jeana melayang kemana-mana. Ia sedang mencoba mengingat hal kecil yang mungkin terlewat. Namun gagal, ingatannya masih begitu kacau.
Yang bisa ia lakukan hanyalah bersandar ke tubuh Yudha dan menikmati deru nafasnya yang teratur berhembus di tengkuknya.
Ia benar-benar kelelahan. Semalam ia baru pulang setelah subuh. Di tambah lagi dengan aktivitas mereka semalam. Ia benar-benar kehabisan energinya saat ini.
__ADS_1
****
"Ray, semalam kamu datang?" siang harinya Jeana menelfon Rayden untuk menanyakan kebenaran dari cerita yang ia dengar. Ia benar-benar tidak sadar dengan kehadiran Rayden semalam.
"Iya, terus nemuin kamu pingsan di kamar mandi." jawabnya dari seberang telfon.
"Kenapa?" gadis itu menanyakan alasannya.
"Pacarku, Diandra. Mungkin kamu belum ingat. Tapi dia kan adiknya Bang Yudha. Semalam ada masalah di rumah, aku gak tahu apa. Tapi dia bilang kalau ia butuh kakaknya.
Makanya aku mutusin untuk tukar posisi sama Banh Yudha. Aku jagain kamu, dan dia ke Diandra." Jeana tersenyum lega.
Ia benar, Yudha tak akan pernah membohonginya lagi. Meski masih ada yang belum ia ingat, tapi setidaknya ia lega karena Yudha tidak membohonginya.
"Halo, " Jea pun memutuskan untuk Mendial nomor seseorang demi menenangkan hatinya.
"Aku tahu, kamu pasti penasaran kenapa dia nemuin aku semalam. Cafe Dirgana jam enam sore gimana?" jawab seseorang dari seberang telfon tanpa berbasa-basi.
Entah ini adalah hal yang tepat. Tapi ia masih belum bisa melupakan nomor gadis itu ketika menelfon suaminya semalam. Nomor gadis itu cukup familiar di dalam kepalanya.
Satu-satunya jalan untuk bisa keluar dari pulau pribadi adalah dengan menggunakan helikopter pribadi Keluarga Wirabraja. Dan jet itu hanya bisa dikendalikan oleh James, Tuan Sandia dan juga Yudha suaminya.
Ia pasti akan meminta izin kepada Yudha untuk pergi. Tapi ia tidak akan pergi dengannya. Ia harus memberikan alasan yang tepat.
"Tolong ajak Bang Lio bersamamu." pesannya kepada James.
James sudah cukup dewasa untuk bisa menangani semua sekelumit masalah ada, terutama bagi Keluarga Wirabraja. Ia tahu persis gadis ini membutuhkan alasan. Dan bukan tidak mungkin jika itu berhubungan dengan kepergian Yudha semalam. Karena ua juga berada disana.
"Baiklah." jawab James singkat.
Jea pun segera bersiap dan menemui Yudha yang sedari tadi sibuk di ruang kerjanya. Ia memakai Adelio sebagai alasan.
"Mau nemanin Bang Lio nge date." ujarnya dengan senyum mata yang berbinar seolah tak ada kebohongan sama sekali.
__ADS_1
Dan benar saja. Yudha percaya dan bahkan ia juga memberinya izin. Ia tidak terlihat curiga sama sekali. Ia hanya menitipkan pesan kepada James dan Lio untuk menjaganya.
"Mudah-mudahan lancar bang. Semangat, gue doain cepat nyusul." godanya kepada Adelio yang memang usianya sudah terlalu tua untuk menjadi seorang bujangan.
James tergelak. Pipi Adelio pun bersemu. Semua bersikap seolah itu semua adalah kebenaran dibanding semua skenario.
"Dah sayang." Yudha mengecup kening istrinya dan juga memeluknya dalam waktu yang cukup lama. Ia tak melepasnya pergi begitu saja.
"Dia beneran gak curiga?" tanya James begitu helikopter itu sudah lepas landas.
"Aku gak pernah pergi nemuin laki-laki lain tanpa ada suami atau saudara laki-lakiku Bang. Begitupun dengan abang-abang. Jadi bukan hal yang aneh memang kalau aku bilang mau nemenin Bang Lio nge date."
"Kenapa bukan Arsen atau Rayden? Kenapa harus abang?" tanya Lio cemberut.
"Bang Arsen akan laporin apapun tentang aku ke Kak Yudha. Dia adalah mata-mata Kak Yudha sejak awal. Sedangkan Ray, Kak Yudha gak pernah bisa ngelepas aku sama Ray. Karena kondisi mentalnya. Meskipun mungkin dia memang sudah lebih baik."
"Tenang aja, gue bakal jagain lo dan dukung lo. Apapun rencana lo, ini cuma diantara kita bertiga aja." janji James kepadanya.
Mereka bertiga pun pergi ke tempat yang dimaksud sesuai arahan Jeana. Mereka tidak terlibat langsung, pun tidak menanyakan alasannya. Mereka hanya mengawasinya dari jauh.
Lio tahu persis jika seorang yang ditemui Jea adalah kekasih Rayden sejak SMA. Dan James tahu jika ia adalah adik Theo Urdha yang asli. Tapi mereka tak pernah tahu apa alasan gadis itu menemuinya.
Jeana kembali setelah memeluk gadis itu cukup lama. Tak ada perubahan ekspresi sama sekali. Mereka hanya saling tersenyum satu sama lain sejak awal pertemuan mereka. Tak ada yang mencurigakan. Karena itu James dan Lio memilih untuk tetap diam.
"Bang kita ke Bar Xpresi." Jea menghampiri keduanya yang sedari tadi menunggunya di mobil.
Keduanya tercengang. Gadis itu nampak baik-baik saja. Tapi kenapa tiba-tiba mengajak ke bar?
"Are u Okay Je?" tanya James sedikit khawatir.
"Aku gak bisa bohongin Kak Yudha. Aku bakal kenalin Bang Lio sama seorang perempuan disana. Ia memang pekerja disana, tapi bisa kupastikan bahwa ia adalah seorang gadis baik." ujarnya menyengir dan membuat Lio menatapnya dengan ekspresi jengkel.
"Aku udah tahu kalau kamu gak akan tiba-tiba ajakin aku kayak gini." ketusnya namun tetap menurut.
__ADS_1
"Namanya Syifa. Asyifa Zahrana. Dia cantik, berpendidikan, tapi cuma gak beruntung aja. Sampai harus bekerja disana. Ia punya masalah keuangan, tapi aku bisa pastikan kalau Mbak Syifa itu orang yang baik " ujarnya memberi penjelasan namun tidak didengar oleh Adelio.