Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 15 : Jeana Kembali sebagai Orang yang Berbeda


__ADS_3

“Jea..” lirih Aksa dengan tangannya yang gemetar ketika memegang handle pintu Jea dan membukanya perlahan.


Ia langsung berlari kembali ke Apartementnya ketika mendapat informasi dari sang pengacara. Wajahnya tampak berseri ketika menatap punggung gadis itu dari arah belakang. Jeana mengenakan dress selutut berwarna putih dengan rambut yang tergerai panjang.


Ia tampak sangat cantik meskipun hanya dari belakang. Aksa sangat merindukan gadis itu. Ia merindukan kehangatan yang pernah ada di antara mereka. Ia melangkah mendekatinya secara perlahan dan hendak meraih pundak gadis itu ketika dia tiba-tiba saja berbalik.


“Oh, kamu?” ujarnya kaget seolah melihat seorang yang ia kenal.


“Jeana Ashara Goksel.” Ujar gadis itu dingin.


Gadis itu mengubah total penampilannya. Aksa benar-benar tak mengenalinya saat ini. Wajahnya tampak lebih tirus dengan polesan make up natural yang makin membuatnya bersinar. Rambutnya di cat cokelat dengan sedikit gradasi yang mendatangkan kesan pirang.


Tubuhnya tampak lebih tinggi dengan kaki jenjang yang makin menambah keanggunannya. Kulitnya sangat putih, mulus dan bersinar seolah ada intan yang bertaburan di sekujur tubuhnya. Ia sangat berkilau bahkan meski hanya disoroti dengan sinar alami cahaya matahari.


Matanya tampak lebih tajam dari sebelumnya, ditambah dengan sedikit tatapan sinis yang memberinya kesan angkuh. Keanggunan dan Kesombongan yang terpancar dalam satu waktu. Tatapannya benar-benar mengintimidasi, membuat nyali Aksa makin menciut.


“Kamu berubah Je.” Ujar Aksa tak percaya.


“Kenapa? Gak sadar kalau selama ini aku ada didekat kamu?” jawabnya santai sambil berlalu ke arah sofa di sudut ruangan dan duduk disana.


Sebenarnya Aksa sudah pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Gadis itu dikenal dengan nama panggung Icy Goksel. Ia adalah seorang model pendatang baru yang merajai billboard hanya dalam waktu beberapa pekan dengan hasil pemotretannya.


Ia memakai nama belakang Goksel, karena ia memang berada di bawah naungan Goksel Entertainment yang merupakan anak perusahaan Goksel Kingdom yang terbesar. Ia bernaung di bawah Agency ayahnya sendiri. Dan ia juga pernah hampir berkolaborasi dengan suaminya sendiri. Namun mereka tak pernah menyadarinya.

__ADS_1


“Icy Goksel?” tanya Aksa lagi seolah masih tak mempercayai matanya sendiri.


“Pengacaraku udah ngasih dokumen perceraiannya ke kamu kan? Karena pernikahan kita ini gak terdaftar secara hukum, aku rasa prosesnya akan lebih mudah. Aku udah urus semuanya, dan mulai hari ini udah gak akan ada lagi hal apapun diantara kita.


Aku dengar Bang Rayden sama Bang Raga udah pindah gak lama sejak aku pergi. Aku juga sebenarnya cuma mau ambil beberapa barang. Masa idahku juga seharusnya udah habis kan? Karena kamu gak ngasih aku nafkah lahir maupun batin selama dua tahun terakhir.” ujarnya dengan nada angkuh. Berbeda dari biasanya.


Jea hanya berceloteh tanpa berani menatap mata Aksa secara langsung. Ia bahkan tak menunggu reaksi pemuda itu. Ia hanya bersikap acuh dan mulai berkeliling kamar untuk mencari semua barang-barang yang mungkin ia butuhkan.


“Kamu gak pernah dengar penjelasanku dan pergi begitu aja Je.” Ujar Aksa dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kamu salah Sa. Aku datang di pesta ulang tahun yang kamu siapin buat aku. Aku datang dengan maksud mau memperbaiki semuanya. tapi apa yang aku lihat disana? Kamu mabuk, dan pelacur itu bawa kamu masuk ke dalam kamar pribadi. Kalian nyewa bar di dekat lokasi pesta ulang tahun aku. Kalian main secara terang-terangan dan kamu masih bisa minta aku untuk dengerin kamu?” gadis itu menohoknya dengan kenyataan yang sama sekali tidak pernah ia tahu.


“Aku, aku, ada yang masukin obat tidur di minuman aku Je.” Ujarnya terbata-bata begitu gadis itu menatapnya dengan sangat intens dan mengancam.


Wajah Aksa memerah. Ia ingat persis bahwa gadis yang dia pikirkan waktu itu adalah Jea istrinya. Tetapi mengapa bisa ada Alicya disana?


“Aku datang ke pesta ulang tahun kamu. Tapi kamu gak datang. Ada yang kasih aku minuman dan aku gak sadarkan diri. Aku bangun di kamar UGD Rumah Sakit Je. Aku pingsan di pinggir jalan.” Ujarnya memberikan pembelaan.


“Tapi sayangnya mata aku menyaksikan adegan lain disana Aksa.” Jea mangambil tas tangannya di atas nakas dan langsung berbalik pergi setelah meraih sebuah kotak kado berwarna merah muda yang berada di dalam laci nakasnya.


Itu adalah kalung hadiah ulang tahunnya yang pertama dari Aksa. Pemuda itu tersentak. ia berusaha memahami situasi yang tengah tercipta saat ini dan menelaahnya dengan baik. Ia menitikkan air mata secara beriringan seolah tak mau berhenti. Bibirnya gemetar, ketika ia berlari mendahului gadis itu dan menahan pintu dengan lengan kirinya.


“Apa yang berusaha kamu tunjukin sama aku? Aku gak ngerti!” ujarnya sedikit berteriak ketika matanya saling beradu tatap dengan gadis itu dari jarak dekat.

__ADS_1


“Itu kalung pemberianku. Kamu datang Cuma mau jemput itu, tetapi kamu gak kasih aku kesempatan?” rengeknya dengan nada memelas.


“Aku datang, untuk memenuhi janjiku atas pernikahan kita. Kamu bilang kalau aku punya sedikit aja perasaan buat kamu, maka aku harus pertahankan pernikahan ini dan mengumumkannya ke publik. Tapi apa yang aku


lihat di malam itu Aksa.” Gadis itu pun tak bisa mencegah air matanya untuk menetes.


“Kamu mabuk dan manggil dia sayang. Kamu manggil dia gadis kecil sama kayak panggilan kamu buat aku. Aku masih berpikir waras dan ngira kamu mabuk dan mikir kalau itu aku.” Aksa mengangguk sambil meraih tangan gadis itu. Ia seakan memberi isyarat bahwa pernyataannya itu benar.


“Tapi aku salah. Baju Alicya robek. Bahunya ada bekas cakaran, dan kemeja kamu dipenuhi bekas kecupan bibir Sa. Aku lihat dengan mata kepala aku sendiri dan itu dari jarak dekat. Kamu khianatin aku Sa. Di hari aku mau perbaikin semuanya sama kamu.” Gadis itu menepis kasar tangan Aksa dan mencoba meraih handle pintu namun Aksa terus mencegatnya.


“Kamu salah paham Je.” Rengek pemuda itu.


“Aku kira iya, aku bahkan masih ambil kamu dari dia. Aku bawa paksa kamu pulang dan aku yang antar kamu ke kamar. Tapi ada begitu banyak jejak Alicya disana. Kamu pingsan di jalan waktu kamu setengah sadar dan ngejar aku Sa. “ ujarnya gusar dengan air mata yang terus mengalir.


Percakapan mereka di penuhi dengan bentakan, teriakan dan juga tangisan. Tak ada yang berjalan mulus disana.


“Aku paham kalau kamu mabuk. Tapi kalau kamu nyembunyiin semuanya bahkan soal kamar pribadi kamu yang dimasukin perempuan lain. Itu keterlaluan Sa. Bahkan setelah aku lihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri.” Jelas gadis itu dengan suara yang makin parau.


“Je, dengerin dahulu.” Rengek Aksa lagi.


“Bahkan aku sendiri gak pernah masuk ke kamar kamu Aksa!” Aksa bungkam. Ia kehabisan semua kata-katanya.


Tangannya melemah dan terlepas dari handle pintu itu dengan sendirinya. Jea mendorong tubuhnya dengan kasar agar menjauh dari balik pintu. Gadis itu berlari sekuat tenaga untuk keluar dan pergi dari apartement itu. Meninggalkan Aksa yang terdiam membeku, larut dalam pemikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2