
Jeana murung selama berhari-hari ketika ia tinggal bersama Yudha di pulau pribadi milik keluarga mertuanya. Ada banyak hal yang tampak membebaninya, namun ia tak mengatakan itu pada Yudha.
Ingatannya satu persatu mulai kembali dan itu sangat membuatnya tersiksa, begitupun dengan Yudha. Yudha bahkan juga membatasi aksesnya dengan dunia luar. Ia tidak memberi gadis itu izin untuk menggunakan ponsel dan juga internet. Bahkan TV pun juga tidak.
Gadis itu sedikit merasa tertekan. Ditambah lagi dengan ingatan yang muncul secara tidak berurutan. Ia sering mengeluhkan sakit kepala parah dan juga mentalnya tampak sangat tidak stabil. Tetapi kegundahan Yudha lagi-lagi yang menjadi penghalang bagi dirinya untuk bisa merasa tenang dan bebas. Ia terkekang, bahkan meski ia bersama dengan orang yang sangat di cintainya.
“Kak Yudha..” gadis itu terjaga di tengah malam dan melihat Yudha tengah terpaku menatapi bintang malam sendirian di balkon kamar mereka.
“Kenapa? Apa kau merasa dingin? Aku akan menutup pintu ini.” Yudha bergegas menutup pintu itu dan menghampiri wanitanya.
Ia kembali memosisikan dirinya di samping Jea dan tidur sambil memeluk gadis itu agar bisa membantunya untuk tertidur.
“Kak Yudha.” Seru gadis itu lagi.
“Ya?” Yudha hanya bergumam. Ia mencium puncak kepala gadis itu cukup lama. Ia menghirup aroma gadis itu sebanyak-banyaknya dan mencoba untuk menenangkan dirinya dengan itu. Gadis itu candu untuknya. Meskipun dengan hanya sekadar memeluk atau mengecupnya saja, maka itu sudah sangat cukup bagi dirinya.
“Aku mencintaimu.” Serunya yang langsung membuat mata Yudha terbelalak dan menciptakan sedikit jarak untuk bisa memandangi wajah gadisnya itu dengan sangat jelas.
“Ya? Tiba-tiba?” ujarnya bingung.
“Tidak, aku sudah mengingatnya. Perlahan dan semua benang kusut itu mulai tersusun begitu rapi. Maaf karena beberapa hari ini aku sudah begitu acuh kepadamu.” Ujarnya terdengar absurd.
“Maksudnya?”
“Jujur, Jea lagi nyusun semuanya. Semua ingatan yang ada, aku lagi nyusun semuanya sesuai urutan yang benar. Dan pagi ini, aku nemuin semua kebenarannya.”
__ADS_1
“Apa itu?” Mata Yudha tampak bergetar. Ada kegentaran yang sedang berusaha dia sembunyikan.
“Aku mencintaimu.” Ujar gadis itu mantap.
"Apa karena kau hanya mengingatku?" tanya Yudha masih tidak percaya.
“Bukan, aku mencintaimu sejak kejadian di lift delapan tahun yang lalu." jawabnya mantap.
"Kak Yudha adalah cinta pertamaku. Aku bahkan tidak pernah memiliki perasaan yang lebih kepada Aksa. Aku hanya menganggapnya teman masa kecilku. Tetapi Kak Yudha berbeda. Aku bisa pastikan bahwa aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa Kak Yudha.”
Ada buliran air mata yang tengah berjuang keras untuk keluar dan Yudha masih berusaha untuk menahannya. Ini semua terlalu rumit untuknya. Terkadang gadis itu tampak begitu acuh, terkadang juga perhatian dan sekarang ia malah menyatakan cinta kepadanya. Kepada seorang yang selalu mengutarakan kebohongan di depannya.
“Mama bilang, sebelum operasi aku ngigauin nama Kak Yudha. Aku takut Kak Yudha marah, karena lihat aku bersama Aksa. Aku udah minta dia pergi Kak. Serius.” Gadis itu menunjukkan dua jarinya ke arah Yudha seakan ia menyatakan kesungguhan.
“Dia kekeuh. Dia mau jelasin semuanya. Bahkan sekalipun aku bilang kalau aku gak peduli sama itu semua. Aku takut Kak Yudha salah paham.” Gadis itu mulai menangis, dan menghentikan kalimatnya. Ia benar-benar terlihat polos saat ini. Ia lebih terlihat seperti seorang remaja saat ini, ketimbang seorang gadis berusia dua puluh satu tahun yang menjadi istrinya.
“Aku selalu takut kalau Kak Yudha benci aku. Aku selalu takut kalau aku gak pernah punya kesempatan buat dekat lagi sama Kak Yudha. Pernikahan itu, pernikahan dengan Aksa. Aku terpaksa demi Rayden dan Bang Raga. Tetapi dia terlalu baik, sampai aku tidak punya kebernaian untuk menceraikannya.
Tapi takdir berkata lain. Tuhan mengembalikan kehadiran kakak untukku. Hiks….” Gadis itu makin terisak dalam pelukan Yudha. Yudha menepuk-nepuk pundaknya pelan dan ia makin menenggelamkan dirinya dalam pelukan Yudha.
“Kamu satu-satunya laki-laki yang aku mau dan aku minta untuk Tuhan kasih ke aku. Aku gak peduli dengan yang lainnya. Bahkan jika aku harus menghadapi sifat iblis kamu yang dulu, aku gak peduli. Aku gak peduli sekalipun kamu usir aku dan bunuh aku di sini. Aku cuma mau kamu, sampai kapan pun.” Ujarnya mantap dan membuat hati Yudha makin menghangat.
“Je…” Yudha baru saja hendak membuka mulutnya, namun gadis itu langsung membekapnya. Ia melepaskan pelukannya dari Yudha dan langsung beranjang bangun. Ia beringsut duduk di hadapan suaminya itu.
“Jangan, jangan bilang apa-apa. Aku malu.” Wajah gadis itu memerah.
__ADS_1
Yudha melepaskan tangan itu dengan sentuhan yang sangat lembut. Ia mengikutinya untuk duduk dan makin mendekat. Ia mengikis jarak yang kini tengah ada diantara mereka.
“Kamu yakin? Kamu udah ingat semua? Termasuk semua kenangan buruk kita?” tanya Yudha ragu. Gadis itu mengangguk.
“Kamu gak akan pernah nyesal ngomongin ini?” tanyanya lagi. Jea menggeleng mantap. Ia memanyunkan bibirnya sejauh mungkin ke depan dan bersamaan dengan itu air matanya kembali jatuh. Menerobos dengan begitu saja, tanpa lagi bisa dia tahan.
“ Apa ini bentuk penolakan? Apa Kak Yudha lagi berusaha nolak aku, secara halus?" Yudha menggeleng pelan, namun gadis itu tak mempercayainya.
"Apa perasaanku sepihak? Apa Kak Yudha mau menolakku? Setelah semua yang kita hadapi bersama?” gadis itu menggelengkan kepalanya sekuat yang ia bisa. Ia berusaha mencegah air mata itu makin keluar. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya sudah terlalu sakit untuk tidak menangis.
“Hei, kenapa?” ujar Yudha lagi, seakan kehilangan kata-kata untuk bisa berkomunikasi dengan Jeana. Ia berusaha melepaskan tangan gadis itu dari wajahnya, namun gadis itu berusaha mempertahankannya.
“Jangan, Kak Yudha jahat! Ini pertama kalinya aku jatuh cinta dan menyatakan perasaanku ke seseorang. Aku malu, dan Kak Yudha juga nolak. Aku udah gak punya muka lagi buat natap Kak Yudha.” Isaknya yang terdengar seperti anak kecil yang tengah dimarahi oleh ibunya.
“Je, aku belum bilang apa-apa.” Yudha lagi-lagi menarik tangannya untuk terlepas dari wajah cantiknya. Namun dia masih bersikeras.
Yudha tergelak dan melepaskan tangan gadis itu. Ia memilih untuk mengalah. Ia membiarkan semua tingkah konyolnya yang terlihat sangat manis. Ini pertama kali baginya melihat gadis itu seperti itu. Ini pertama kalinya menunjukkan sikap kekanak-kanakan seperti itu, terutama di hadapannya.
“Kan Kak Yudha ngetawain aku.” Gadis itu menurunkan tangannya dan menangis lebih keras hingga membuat Yudha salah tingkah.
“Je, dengerin aku.” Yudha menaikkan sedikit nada suaranya. Tetapi bukan untuk memarahinya,ia hanya mencoba menarik perhatiannya. Dan benar saja, cara itu berhasil. Gadis itu diam sambil menatap ke arahnya tajam.
CUP
Yudha mengecup bibir gadis itu dan membuat pipinya makin memerah. Kali ini dia membenamkan wajahnya di balik bantal. Ia benar-benar tersipu kali ini.
__ADS_1
“Kak Yudha jahat! Itu artinya apa coba?” gerutunya yang tak terdengar jelas karena ada bantal yang menutupi wajahnya.
“Itu jawabanku. Coba aja tebak.” Goda Yudha yang membuat tangisnya berhenti. Wajahnya pasti makin memerah di balik bantal itu, terka Yudha. Ia tersenyum malu tanpa mengeluarkan suara. Ia tak ingin jika gadis itu kembali merajuk, karena berpikir bahwa ia tengah menertawakannya.