Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Buat Ia Waras


__ADS_3

Jason mendobrak pintu namun tidak membuat Claire ketakutan tapi tubuh kecilnya bergetar melihat tatapan pria matang itu.


"Ternyata kau wanita pengertian apa yang diinginkan majikan langsung kena persiapkan sedemikian rupa. Uang yang aku berikan ternyata tidak sia-sia hanya saja aku terkecoh karena ulah saudara dan ibumu," sindir Jason.


"Tidak perlu basa-basi, kau menginginkan ini bukan?" Claire seketika langsung polos di hadapan Jason.


"Aku tidak berselera." Jason langsung meninggalkan Claire setelah mengatakan itu.


"Dia pria yang mengerikan," tangisnya.


Tubuh lemah itu ambruk ke lantai tangisannya bahkan memenuhi ruangan tersebut.


"Wanita lemah, ingin kuat di hadapanku tapi rapuh," decih Jason.


Kedua pelayan selalu setia membantu Claire mengenakan pakaian untuknya. Tatapan itu kosong yang ada hanya bulir bening terus lolos membasahi wajah pucat tersebut.


"Nona, sebentar lagi Tuan muda akan kembali jadi bersiaplah!" ucap pelayan itu.


Tanpa mengatakan apapun Claire langsung naik ke atas tempat tidur sambil membelakangi kedua pelayan.


"Aku sakit," lirihnya.


Claire memejamkan mata menahan denyut kepalanya yang tiba-tiba menyerangnya. Untuk melayani Jason tidak akan mungkin mengingat tenaga pria itu begitu kuat.


Pintu terbuka begitu kencang tapi Claire sama sekali tidak menoleh. Mengangkat satu jari saja tidak bisa apalagi menoleh kepada Jason.


"Kau tidak mau melihatku?" tanya Jason tidak suka.


"Aku tidak bisa gerakkan tubuhku," ucap Claire pelan tapi Jason tidak mendengar suaranya.


Jason semakin berang melihat Claire menantangnya lalu dia langsung menarik tangannya hingga tubuh lemah itu jatuh ke lantai.


"Kau menyakitiku." Setelah mengatakan itu kesadarannya hilang bahkan lebih menyakitkan cairan merah telah keluar dari hidung itu.


"Dia pingsan lagi," decak Jason.


Dokter pribadinya kembali memeriksa Claire dengan cekatan. Kepalanya sesekali geleng-geleng hingga Jason yang melihatnya menaikkan alisnya.


"Apa yang kau temukan?" tanya Jason dingin.


"Kau merusak mentalnya. Jika seperti ini terus-menerus ia tidak akan bisa diselamatkan lagi." Kedua bola mata Jason menyipit dia menyapu seluruh tubuh Claire.


"Lalu?" tanya Jason.


"Jangan lakukan itu lagi kepadanya. Lihatlah semua kau tinggalkan jejak kepadanya itupun tidak tanggung-tanggung." Dokter itu menghela napas pasien yang dia tanganin kali ini benar-benar sulit.

__ADS_1


"Yang lain ada kau temukan?" tanya Jason lagi.


"Kau menginginkannya tapi tidak dengan anak. Ternyata kau masih takut ya memiliki anak?" Jason mengeram kesal.


"Anak? Pria ini apa sudah pernah menikah? Kenapa dokter ini banyak berbohong dengan kondisiku? Bagaimana nanti pria arogan ini tahu kalau aku tidak sakit separah itu?" Claire semakin ketakutan mendengar perkataan dokter itu kepada Jason.


"Kau tidak berhak mengatakan itu, soal anak hanya Jesy yang berhak bisa memberikannya kepadaku, bukan wanita ini," semprot Jason.


"Ya Tuhan, sakit sekali mendengar perkataan pria ini?" batin Claire.


"Sampai sekarang kau belum bisa move on? Aku tahu betul soal Jesy tapi Jason kembalilah seperti dulu dan wanita ini terserah mau kau apakan!" telaknya.


"Dokter sama saja jatuhkan aku ke dalam lingkaran pria arogan ini?!" jerit Claire.


"Jangan sebut nama Jesy sembarangan, dia wanita spesial yang tidak dimiliki wanita lain. Ingat itu!" tekan Jason.


"Spesial? Kau bahkan mengotori tubuhmu hanya wanita seperti ini," tunjuk ya kepada Claire.


"Beraninya kau?" Jason menarik kerah pakaian temannya itu.


"Kalau marah silahkan. Jason kau perlu dibawa ke ahli psikologis. Aku bukan bermaksud hanya saja karena Jesy kau menyakiti wanita ini." Jason melepaskan tangannya dia menatap wajah pucat Claire dengan tatapan penuh kebencian.


"Pergi! Kau sudah selesai memeriksa ia bukan?" usir Jason.


"Aku harap kau mengerti yang kukatakan Jason. Jangan sampai yang kedua kalinya kau akan merasakan kehilangan." Jason semakin berang dia mengejar temannya lalu memberikan pelajaran hingga wajah bersih itu memerah.


"Kau terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadiku karena itu terima ini!" Jason nyaris saja membuat temannya itu tidak bisa bergerak kalau bukan karena Claire.


"Hentikan! Kalian ribut karena aku dan kau Tuan muda masalahmu ada maka selesaikan dengan baik-baik jangan libatkan kami?!" sentak Claire.


"Apa yang kau lakukan di sini?" pekik dokter itu.


"Aku lelah Tuan. Anda terus menyakitiku dan tidak mau mendengar suara jeritan ku. Aku tahu saat ini tubuhku adalah milikmu tapi lebih baik tubuh ini hilang selamanya. Demi Tuhan saya tidak kuat lagi menahan semua perlakuan anda selama ini," ucap Claire sambil menangis.


"Sudah selesai bersandiwara?" tanya Jason dingin.


"Kau di sini?" tanya Claire gugup.


"Kau pikir aku ke mana?" Claire memilih diam.


"Aku berkhayal apa tadi?" tanyanya dalam hati.


"Terus minum obat ini. Aku tidak mau memiliki anak dari wanita sepertimu." Jason langsung meninggalkan Claire setelah mengetahui keadaannya sudah lebih baik.


"Anak? Bukan hanya kau tapi aku juga tidak menginginkan. Anak adalah masalah terbesarku saat ini, cukup masalahku kau, ibu dan Larisa," tangisnya sesenggukan.

__ADS_1


Setelah memastikan Claire meminum obat keluar merasa tidak bersalah. Namun Jason lengah kali ini Claire membuang sisa obat tersebut.


"Aku benci baumu," ucapnya.


Jason mengusap wajahnya berulang kali dia terus dibayangin wajah Claire yang polos.


"Tuan, saya sudah mengirim data diri yang akan mengobati Nona," pesan sekretaris Derulo.


"Leonardo?" ucap Jason pelan.


Keesokan harinya Jason milih tidak bekerja karena dia ingin melihat pekerjaan anak magang yang baru di rekrut.


"Tuan, dia sudah datang," ucap sekretaris Derulo.


"Bawa dia ke sini!" sekretaris Derulo mengiyakan.


"Rumah atau istana? Luar biasa sekali bisa tinggal di sini?" gumam Leonardo sambil menyapu seluruh ruangan tersebut.


"Jadi kau yang bernama Leonardo?" tanya Jason.


"Benar Tuan," jawab ya santai.


"Kalau kau berhasil buat ia waras gaji yang tertera akan lebih dari situ, ucap Jason.


"Baik Tuan," jawabnya.


Leonardo garut kepala tidak tahu apa yang dia lakukan setelah bicara dengan Jason sementara pria itu terus menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Kau tidak ingat dengan wajah ini?" tanya Jason dingin.


"Apa? Oh itu anda pasti salah mengenali orang Tuan karena mana mungkin seperti saya pernah tatap muka kecuali kemarin dan sekarang," balas Leonardo gugup.


"Yakin tidak ingat wajah ini?" tanya Jason lagi memastikan.


"Ya Tuan," jawab Leonardo datar.


"Derulo bawa dia menemui Claire dan pastikan wanita itu mau diobati!" perintah Jason.


"Claire?! Apa aku tidak salah dengar?" gumam Leonardo.


"Apa yang kau lakukan, ikut saya?" sentak sekretaris Derulo.


"Baik Tuan," jawabnya gugup.


Pintu dibuka pelayan Derulo dan Leonardo masuk namun pemandangan tidak asing membuatnya semakin bergetar.

__ADS_1


"Claire?" panggil yang pelan nyaris tidak terdengar bahkan tenggorokannya tercekat.


__ADS_2