
Rio kembali meninggalkan Claire sendirian bersama dengan bibi di vila. Kali ini dia benar-benar harus turun ke kota demi tugas yang di embannya.
''Hati-hati ya kak, kalau sudah tiba kabarin Claire,'' ucap Claire.
''Ya, kalau ada sesuatu yang kau inginkan hubungi saja aku.'' Claire mengangguk mengerti lalu Rio mas aku dalam mobil dengan perasaan yang tidak tenang.
''Semoga saja Claire tidak melakukan sesuatu yang membuatnya terluka,'' batin Rio.
Claire kembali masuk ke dalam sambil mengusap kedua lengannya karena suhu yang dingin.
''Nona, mau menemani bibi memasak?" ucap bibi.
''Tentu, lagian aku tidak tahu ngapain selain bersama dengan bibi di sini,'' jawabnya.
''Mari Nona, supaya tidak bosan bibi mau membuat taman di belakang setelah selesai memasak,'' usulnya.
''Taman?" tanya Claire.
''Ya Nona, di belakang vila ini terdapat halaman yang luas di belakang.'' Claire baru mengetahuinya setelah bibi menunjukkan.
''Luas sekali,'' ucapnya kagum.
''Ibu Ria menyuruh saya untuk membuat taman bunga Nona,'' seru bibi.
''Terus bunganya dari mana bi?" tanya Claire.
''Ibu Ria akan membawanya ke sini Nona.'' Claire mengangguk mengerti lalu mereka berdua masuk ke dalam.
''Kalau Nona capek duduk saja di sana,'' tunjuk bibi.
''Aku baik-baik aja bi,'' balas Claire sambil fokus mengadon tepung.
''Baik Nona.'' Claire sejenak melupakan masalahnya karena banyak melakukan aktivitas di vila.
Rio mendapatkan laporan bibi perasaannya menjadi tenang lalu kembali bekerja salah satu rumah sakit terbaik di kota tersebut.
''Rio?" panggil seorang wanita.
''Ibu!" Rio langsung berlari menyusul ibu Ria.
''Sudah lama menunggu atau tidak? Ibu tadi terkena macet,'' ucapnya.
''Baru tiba Bu,'' jawab Rio.
''Oh, ayo masuk ke dalam!" ajak ibu Ria.
''Ya Bu,'' sahut Rio.
''Bagaimana keadaan, Claire?" tanya ibu Ria.
''Sudah lebih baik daripada sebelumnya Bu. Bibi memberikan video ini kalau Claire banyak melakukan aktivitas di vila.'' Ibu Ria senang melihat Claire kembali tersenyum dan tertawa.
''Baguslah!" Mereka berdua masuk ke dalam, selaku pemilik rumah sakit ibu Ria banyak perawat yang memberikan hormat.
''Ruangan siapa ini, Bu?" tanya Rio berdecak kagum.
''Milik suami ibu tapi setelah kepergiannya ruangan ini menjadi kosong.'' Rio merasa bersalah menanyakan itu karena wajah ibu Ria terlihat sedih.
''Maaf Bu,'' lirihnya.
''Tidak apa-apa sudah biasa ibu mendengar pertanyaan itu,'' ucapnya.
''Lalu, apa yang mau ibu tunjuk kepadaku?" tanya Rio.
''Oh astaga ibu sampai melupakannya. Ayo tempatnya ada di sana.'' Rio mengangguk mengerti dan mengikuti ibu Ria ke lantai dasar.
''Unit gawat darurat?" ucap Rio pelan.
''Ya, kami kekurangan dokter Rio jadi mau tidak bekerja di sini untuk sementara waktu?" tanya ibu Ria.
''Lalu, bagaimana dengan Claire Bu? Tidak mungkin saya meninggalkannya di sana sendirian?" balas Rio.
''Sekali seminggu kau bisa menjenguknya Rio. Ibu tahu bagaimana perasaanmu kepadanya tapi bekerja di desa tidak akan menghasilkan apa-apa. Ibu sengaja melakukan itu karena ingin membuat Claire bisa hidup tenang.'' Rio benar-benar bimbang dengan apa yang dikatakan ibu Ria.
''Rio tidak bisa memutuskan cepat Bu. Hal ini harus aku katakan terlebih dahulu kepada Claire,'' jawab Rio.
''Tentu, ibu akan menunggu jawabanmu yang terbaik Rio.'' Rio mengangguk mengerti lalu dia mengikuti ibu Ria menuju ruangannya.
''Bu, balas Rio mengatakan sesuatu?" tanyanya pelan.
__ADS_1
''Apa itu?" tanya ibu Ria sambil menatap Rio.
''Kenapa ibu begitu baik kepada kami dan memberikan fasilitas?" tanya Rio dengan hati-hati.
''Salah melakukan yang baik kepada sesama?" tanya balik ibu Ria.
''Maaf Bu, hanya saja Rio tidak yakin bisa membalas semua kebaikan ibu di kemudian hari.'' Ibu Ria menggenggam tangan Rio berharap semua kebaikannya ini diterima.
''Anggap saja ibu sebagai orang tua kandungmu ya,'' pinta ibu Ria. Kedua bola mata Rio terbelalak mendengar keinginan ibu Ria.
''Tapi Bu-'' ibu Ria langsung memotong cepat ucapan Rio.
''Ibu berpikir dari kemarin kapan saja Jason pasti akan berkunjung ke sini?" Rio semakin kaget mendengar ucapan ibu Ria.
''Jason?!" pekik Rio.
''Ya nak, dia pasti akan mengunjungi ibu kapanpun dia mau. Kecelakaan kemarin membuat adiknya terluka.'' Rio semakin prustasi, kenapa dunia ini sempit hingga orang yang ingin kita jauhi semakin dekat.
''Tidak mungkin dia berkunjung ke sini Bu. Bukankah Jason juga memiliki rumah sakit terbesar di kota ini?" tanya Rio.
''Ya, ibu tahu hanya saja kita tidak bisa menghindarinya nak,'' tambah ibu Ria.
''Bagaimana kalau ibu lebih baik menghindar saja,'' usul Rio.
''Tidak mungkin nak. Ibu sudah memberitahukan alamat rumah sakit ini.'' Rio semakin terjepit mendengar semua jawaban ibu Ria.
''Kita baik menunggu saja Bu. Semoga saja Jason tidak berkunjung ke sini.'' Ibu Ria mengangguk mengerti.
Waktu terus berputar akhirnya Rio meninggalkan rumah sakit dan menuju ke sebuah toko obat.
''Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya penjaga toko.
''Ada obat ini Mbak?" Rio menunjukkan resep obat yang diinginkannya.
''Sebentar ya Mas.'' Rio mengangguk mengerti lalu dia menoleh ke belakang namun kedua bola matanya menangkap seorang pria yang dikenalnya.
''Jason?!" pekiknya tidak percaya.
''Kak, untuk apa kita ke toko obat ini?" protes Jesy.
''Mengobati ini,'' tunjuk Jason ke jidat Jesy.
''Tidak perlu ke situ berobat, lagian kakak memiliki rumah sakit kenapa tidak berobat saja ke sana?" Jesy menunjukkan seluruh gigi ratanya.
''Sekali saja kak berobat ke tempat lain,'' kekeh ya.
''Baiklah! Tapi tunggu di sini kakak mau beli vitamin dulu.'' Jesy mengangguk mengerti lalu menunggu di luar.
''Oh My God?! Jason ke sini?" pekiknya lalu Rio melihat maker yang dijual langsung diraihnya.
''Mas, ini obatnya!" ucap penjaga toko tersebut.
''Ya, Mbak saya beli master ini ya,'' tunjuknya.
''Ya Mas, total keseluruhannya dua ratus ribu.'' Rio dengan cepat mengambil uang tunai dari dompetnya.
''Ini dan terima kasih Mbak,'' ucap Rio lalu keluar tergesa-gesa tanpa memperdulikan Jason terus memperhatikannya dari atas sampai ke bawah.
''Pria yang aneh,'' gumam Jason.
''Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko tersebut karena dari tadi Jason terus menatap keluar.
''Saya mual, tiap hari ingin makan sambal pedas,'' ucapnya.
''Maaf, sudah berapa lama Tuan mengalaminya?" Jason menautkan alisnya.
''Hampir satu Minggu ini,'' jawabnya santai.
''Sebentar Tuan.'' Jason memainkan ponsel sembari menunggu pesanannya.
''Kak, lama sekali?!" protes Jesy.
''Bawel, kau tidak melihat tadi ada seorang pelanggan yang duluan baru kakak?" ucap Jason.
''Ya, bosan menunggu kak,'' kekeh ya.
''Sebentar lagi tunggu saja dulu.'' Jesy mengangguk mengerti lalu mereka berdua melihat kedatangan penjaga toko obat.
''Dua kali sehari diminum Tuan. Mual dan menginginkan yang pedas hal biasa untuk seorang suami yang saat ini mengidam menggantikan istri.'' Kedua bola mata Jason terbuka lebar sama halnya dengan Jesy.
__ADS_1
''Maksudnya kakak saya ini sedang hamil ya?" tanya Jesy.
''Bodoh? Siapa pula yang hamil?" Jason memukul kepala Jesy.
''Aduh kak sakit,'' protes Jesy.
Penjaga toko tertawa kecil melihat kakak beradik itu keluar dari toko ya. Sepanjang perjalanan Jason terngiang-ngiang ucapan penjaga toko obat.
''Jesy, apa benar kakak hamil?" tanya Jason juga sudah bodoh pengaruh dari Jesy.
''Bodoh! Bagaimana bisa seorang pria hamil kak?" tawa Jesy.
''Lalu, yang dikatakannya itu bagaimana lagi dan obat ini sudah membuktikannya Jesy.'' Jesy untuk sesaat diam mendengar ucapan Jason.
''Kakak habis menghamili anak orang ya?" tembak Jesy.
Suara decitan ban mobil milik Jason membuat sekelilingnya harus menepi. Dua kali Jesy mengalami benturan ke jidatnya namun kali ini tidak separah yang kemarin.
''Kakak sengaja membuat Jesy lupa ingatan selamanya ya?!" teriaknya kencang.
''Kita sudah sampai di rumah sakit?" ucapnya datar.
''Apa? Rumah sakit siapa yang kakak maksud?" tanya Jesy merasa bodoh seketika.
''Turun!" perintah Jason.
''Wah permintaan aladin terkabul juga,'' tawa Jesy langsung keluar dengan semangat empat lima.
''Lumayan juga rumah sakit ini,'' gumam Jason.
''Di mana kak ruangan ibu itu?" tanya Jesy begitu antusias.
''Kau belum lupa ingatan kan?" tanya Jason.
''Kakak jangan bicara seperti itu dong, Jesy mendapatkan luka ini karena siapa?" tanya ya.
''Di mana ruangan ibu ini?" tanya Jason kepada resepsionis.
''Sudah membuat janji dengan ibu Ria sebelumnya, Tuan?" tanya penjaga receptionist.
''Katakan saja yang ingin bertemu dengan dia Jason.'' Kedua bola mata penjaga resepsionis tersebut terbelalak baru menyadari siapa di hadapannya.
''Ba-baik Tuan, tunggu sebentar saya akan memanggil ibu Ria,'' ucapnya.
''Kakak jangan menakuti tante itu, lihatlah wajahnya sudah penuh dengan keringat,'' bisik Jesy.
''Diam kau!" Jason sentil jidat yang memar itu hingga membuat Jesy meringis kesakitan.
''Aduh kak sakit,'' ucapnya.
''Tuan Jason, kenapa tidak menghubungi saya terlebih dahulu. Kedatangan anda kesini bisa saya sambut dengan baik,'' ucap ibu Ria kaget mendengar kabar kedatangan Jason.
''Maaf tapi adik saya mengalami luka untuk kedua kalinya,'' tunjuk Jason.
''Apa?!" ibu Ria langsung memegang wajah Jesy dan memperhatikan jidat itu mulai terlihat berbentuk telur.
''Mari kita periksa lukamu.'' Jesy tercengang melihat kekhawatiran ibu Ria hingga dia langsung mendapatkan perawatan terbaik.
''Bagaimana kondisinya?" tanya Jason.
''Tidak terlalu serius hanya saja perban harus diganti dua kali sehari,'' ucap ibu Ria.
''Oh, saya mau bertanya sesuatu boleh?" tanya Jason serius.
''Tentu,'' jawab ibu Ria cepat.
''Obat ini memang benar menghilangkan rasa mual?" tanya Jason lalu memberikan bungkusan tersebut.
''Astaga! Jadi pria ini yang mengalami ngidam bukan Claire?!" pekik ibu Ria dalam hati.
''Ibu, apa ada yang salah dengan pertanyaan saya?" tanya Jason karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
''Tidak ada yang salah Tuan. Obat ini memang untuk mengurangi rasa mual,'' jawab ibu Ria.
''Lalu kenapa saya mengalaminya?" tanya Jason lagi.
''Maaf, apakah istri Tuan sedang mengandung saat ini?" Mendapatkan pertanyaan seperti itu ekspresi wajah Jason tiba-tiba memerah.
''Bukankah kakak sudah menikah? Mami pernah mengatakan itu kepada Jesy dan nama istri kakak, Claire?" ibu Ria merasakan jantungnya berpacu cepat mendengar nama Claire diucapkan Jesy.
__ADS_1