Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Tidak Mau Bangun


__ADS_3

Jason masih menunggu jawaban ibu Ria karena hal ini memang benar-benar membuatnya penasaran mengenai perasaan Claire terhadapnya.


''Katakan Nyonya Ria, apa benar Claire mencintaiku atau bukan?" tanya Jason penuh penekanan.


''Ya,'' jawabnya singkat.


Spontan jantung Jason berdetak begitu kencang ternyata selama ini juga hanya benar kalau Claire memang mencintainya walaupun perlakuannya tidak adil kepadanya.


''Karena buah hati kalian dia merelakan dirinya untukmu Tuan Jason,'' tambah ibu Ria.


''Apa?!" jerit Jason tidak terima dengan jawaban terakhir ibu Ria.


''Karena anak, Claire berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak kacau memikirkan perlakuan mu kepadanya dahulu Tuan Jason. Tidak tahu bagaimana perasaanmu begitu kejamnya dahulu terhadap Claire.'' Jason melihat manik mata ibu Ria yang terlihat bersungguh-sungguh.


Beberapa bulan ini ternyata Claire banyak bercerita kepada Nyonya Ria dan itu sangat menyakiti perasaannya.


''Claire yang mengatakan ini kepadamu Nyonya Ria?" tanya Jason butuh penjelasan hal ini.


''Tidak! Claire lebih banyak menyembunyikan perasaannya selama ini. Saya dan Rio memperhatikannya setiap hari walaupun senyumannya keluar dan banyak berbicara dengan kami tapi kesedihannya tidak bisa ditutupi, itu semua karena anda Tuan Jason dan Claire menerima semua itu sekarang!" bentak ya.


''Tidak mungkin,'' ucap Jason sambil geleng-geleng kepala kalau semua yang dikatakan ibu Ria tidak benar.


''Sudah cukup penderitaan Claire sekarang ini juga Tuan Jason. Anda membelinya dengan harga yang begitu fantastis apakah itu disebut manusia?" sentak ibu Ria lagi.


Kedua bola mata Jason terbuka lebar mendengar ucapan ibu Ria yang menyakiti perasaan ya.


''Apa anda tahu bagaimana rasanya dibeli oleh seseorang yang tidak dikenal?" cecarnya terus.


''Saya tidak bersalah akan hal itu Nyonya Ria,'' elak Jason.


''Kini anda sudah memiliki seorang putri Tuan Jason, bagaimana kalau kelak suatu saat putri mau mengalami hal yang sama? Bukan hanya itu namun anda memiliki seorang adik perempuan?!" Jason semakin menegang mendengar ucapan ibu Ria.


''Jesy?" ucapnya nyaris tidak terdengar.


''Cukup sudah semua drama yang anda ciptakan ini Tuan Jason, saya harap Claire mendapatkan kebahagiaannya kembali,'' lanjut ibu Ria.


''Siapa anda sampai mengatakan itu semuanya kepadaku?" Ibu Ria tertawa mendengar pertanyaan Jason yang terkesan bodoh.

__ADS_1


''Mau tahu siapa aku? Bukankah kita sudah bekerjasama selama beberapa tahun ini? Kurasa kedekatan kita baru tahun ini terjalin dengan begitu erat karena Claire,'' ucapnya sinis.


''Karena Claire?" tanya Jason semakin tidak mengerti arah bicara ibu Ria.


''Claire sudah saya anggap sebagai putriku dan anda tidak berhak menyakitinya lagi Tuan Jason!" ungkapnya.


''Tidak mungkin karena Claire memiliki keluarga dan tidak semudah itu ia mau menerima,'' elak Jason.


''Di mana Jason yang saya kenal selama ini terlihat tegas, berani, gagah bahkan ditakuti oleh orang-orang di luar sana? Memecahkan misteri seperti ini saja sulit sungguh malang nasib Claire berakhir dengan anda!" Ibu Ria semakin membuat Jason kepanasan apalagi kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya begitu pedas.


''Jaga ucapan anda Nyonya Ria, tahu apa mengenai masalah pribadi ku sampai mengatakan itu kepadaku?" ucapnya dingin.


''Claire itu korban dari oknum yang tidak bertanggung jawab seharusnya anda menyikapi hal itu biar tidak menjadi kerugian untuk kalian berdua suatu saat,'' tambah ya.


Jason untuk sementara diam pikirannya memang benar-benar sulit untuk berpikir bahkan kali ini semuanya yang dikatakan ibu Ria memang benar.


''Kalau tidak sanggup menjaga Claire dan tersakiti lepaskan dia karena masih ada pria yang mau menampungnya.'' Jason menatap tajam ibu Ria karena dia mengerti apa yang dikatakan ibu Ria barusan.


''Rio?!" pekiknya.


Obrolan mereka berdua berhenti karena dokter bersama dengan perawat datang untuk memeriksa keadaan Claire.


''Silahkan,'' balas Jason.


Jason menatap ibu Ria sebelum masuk ke dalam lalu memperhatikan dokter memeriksa keadaan Claire masih dipenuhi dengan alat medis.


''Bagaimana keadaannya dok?" tanya Jason.


''Masih tetap sama Tuan, untuk beberapa hari ini kami akan terus memantau perkembangan Nona Claire. Mudah-mudahan ada keajaiban yang membuatnya cepat sadar dari koma,'' balas dokter tersebut.


Jason mengusap wajahnya yang terlihat kusut beberapa hari ini begitu banyak masalah yang datang. Bahkan perusahaan sampai terbengkalai untuk saja ada sekretaris Derulo menghandle semuanya.


''Tidak bisa dipercepat dok, anak-anak membutuhkan ibunya,'' pinta Jason.


Wajahnya bahkan terlihat putus asa karena tidak ada orang di sampingnya kecuali Jesy. Walaupun ada ibu Ria namun perasaannya berlawanan dengan dia begitu juga dengan Rio sampai saat ini tidak tahu di mana keberadaannya semenjak Claire dirawat.


''Maaf Tuan, kami tidak bisa mendahuluinya.'' Jason mengangguk mengerti.

__ADS_1


Dia sendirian dalam ruangan tersebut ditemani dengan alat medis. Jason berulang kali mengusap punggung tangan Claire berharap wanitanya itu bangun dari koma.


''Apa kamu tidak mau melihat anak-anak kita Claire?" bisik Jason.


Namun tidak ada respon sampai Jason benar-benar putus asa melihat keadaan Claire yang begitu memprihatinkan. Waktu terus berputar Jason sampai tertidur sambil menggenggam tangan Claire.


Suara tangisan para bayi mengganggu Jesy sedang beristirahat. Dia benar-benar kewalahan menjaga anak-anak walaupun ada asistennya membantu namun sulit untuk mereka mendiamkan.


''Sayang kalian lapar ya?" ucap Jesy sedih.


'''Nona sepertinya anak-anak haus.'' Jesy menoleh ke arah baby sitter lalu menerima susu yang sudah disiapkan dalam botol.


''Apa sudah dingin Mbak?" tanya Jesy memastikan agar anak-anak tidak kepanasan ketika meminum susu botol formula tersebut.


''Sudah Nona.'' Jesy akhirnya berhasil mendiamkan baby boy yang terdengar begitu rewel.


''Nona lebih baik istirahat dulu, biar kami yang menjaga mereka,'' ucap baby sitter karena kasihan melihat wajah Jesy terlihat lesu.


''Aku baik kog Mbak, kalian lebih baik beristirahat karena kapan saja baby girl bangun.'' Baby sitter mengangguk langsung mematuhi perintah Jesy.


Jesy berusaha keras untuk membuat kenyamanan parrot keponakannya. Dia berharap Claire secepatnya pulih dari koma dan melihat anak-anaknya begitu cantik dan imut.


Ibu Ria masuk ke dalam setelah mendapatkan izin dari dokter untuk menemui anak-anak.


"Ada apa dengannya?" tanya ibu Ria.


"Ibu, aku tidak tahu kenapa baby menangis padahal sudah kuberi dia minum susu," lirihnya.


"Berikan kepada ibu!" Jesy mengangguk mengerti.


"Mirip sekali dengan Claire," ucapnya halus.


"Tapi ibunya tidak mau bangun dari koma dan melihat anaknya sudah rindu dengan kasih sayang ya," kesalnya.


"Kalian tidak mau mencoba anak-anak satu ruangan dengan, Claire?" usul ibu Ria.


"Apa bisa seperti itu, Bu?" tanya Jesy heran.

__ADS_1


"Kenapa tidak? Begitu banyak kasus seperti ini dan keajaiban itu muncul setelah adanya anak-anak bersama kita. Saya tidak tahu bagaimana nanti pendapat kakak mu dengan usulan ini," ucapnya sambil memandang wajah baby girl yang terlihat teduh.


__ADS_2