
Jason tersenyum lebar karena Claire sepenuhnya sudah sadar dari koma. Dia langsung memeluk Jesy sambil menangis waktu yang ditunggu selama ini akhirnya berbuah.
"Claire sudah bangun Jesy, ia saat ini menyuruhku untuk membawa anak-anak kepadanya," lirihnya.
"Benarkah? Jesy akan membawa mereka ke sini kak!" sorak Jesy.
"Cepatlah, Claire menginginkan sekarang." Jesy mengangguk mengerti lalu langsung berlari menuju ke ruang bayi karena Claire menunjukkan tubuhnya bergerak dokter menyarankan anak-anak dipindahkan untuk sementara waktu.
Jason menghampiri ibu Ria langsung menunduk tidak berani menatap wajah wanita tua itu.
"Nyonya, saya minta maaf," lirihnya.
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu sekarang Claire sudah sadar. Boleh saya masuk ke dalam?" tanya ibu Ria halus.
"Tentu, Claire mencari anda tadi.'' Ibu Ria mengangguk mengerti langsung masuk ke dalam dia melihat tubuh lemah itu masih dipenuhi dengan alat medis.
"Claire?" panggil ya pelan.
"Bu," balas Claire dan langsung ingin bangun dari tempat tidurnya.
"Jangan banyak bergerak kamu belum pulih sepenuhnya," cegah ibu Ria.
__ADS_1
"Claire kangen ibu," ucapnya sambil menitikkan air mata.
''Ibu juga sayang, apa ada yang sakit?" tanya ibu Ria mengalihkan obrolan.
"Di sini Bu," tunjuknya.
"Kamu ini bisa saja.'' Pertama kali Claire tertawa semenjak dinyatakan koma.
"Kak Rio mana, Bu?" tanya Claire baru ia mengingat sosok pria yang selama ini melindunginya.
"Kerja Claire. Saat ini Rio sudah menjadi dokter spesialis di rumah sakit milik ibu," ucapnya.
"Kenapa kak Rio tidak menjengukku, Bu?" tanya ya sedih.
Claire mengangguk mengerti pandangan mereka berdua teralihkan sosok baby yang begitu menggemaskan. Hingga akhirnya senyuman itu redup karena Jason ada diantara mereka.
"Lihatlah! Ini bayi kita Claire, aku belum memberikan nama untuk mereka karena kuasa itu aku berikan kepadamu," ucap Jason sambil tersenyum.
Claire sama sekali tidak menjawab ucapan Jason karena anak-anak mengalihkan perhatiannya. Baby girl ia gendong lalu diberikan sentuhan hangat pertama kali ke keningnya bukti kalau cinta dari kasih sayangnya tidak akan pernah pudar.
"Mami tetap akan mencintai kalian berdua sampai selamanya," bisik ya lalu bergantian kepada baby boy.
__ADS_1
Semua yang melihat yang dilakukan Claire terharu hingga air mata tanpa diundang tiba-tiba menetes saja.
"Kok aku jadi sedih ya? Jadi teringat dengan almarhum ibu?" batin Jesy sambil mengusap air mata ya sebelum yang lain melihat dia.
Jason mendekati mereka bertiga dia berharap Claire melihatnya dan mengampuni perbuatannya dahulu.
"Claire?" panggil Jason pelan.
"Bu, bisa ambilkan aku minuman tenggorokanku haus," alih Claire.
"Tunggu sebentar ya nak." Ibu Ria mengerti arti ucapan Claire langsung menarik Jesy memberikan mereka privasi.
"Bu, kenapa aku ditarik?" pekiknya.
"Jangan jadi nyamuk, biarkan mereka bicara!" Jesy baru menyadarinya dan langsung mendukung hal itu.
"Lebih cepat selesai masalah ini lebih baik karena kisahku sebentar lagi akan dimulai," lirihnya.
Suasana tempat Claire dirawat dingin dua insan itu begitu sulit untuk mengeluarkan suara. Sekian lama berpisah secara dramatis kembali bersama dalam keadaan pilu.
Jason tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada Claire karena atas perbuatan di dahulu sampai sekarang belum bisa dimaafkan.
__ADS_1
Kini mereka berdua alias berempat hanya bisa saling menatap satu sama lain karena suasana begitu canggung.