
Ibu Ria menghubungi Rio karena perasannya tidak tenang setelah bertemu dengan Jason.
"Ya Bu?" ucap Rio pelan.
"Nak, sibuk atau tidak?" tanya ibu Ria.
"Tidak terlalu Bu," jawabnya.
"Ibu tadi mengalami insiden nak di jalan raya." Kedua bola mata Rio terbelalak mendengar ucapan ibu Ria.
"Ibu tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Rio panik.
"Tidak, hanya saja ibu bertemu dengan Jason nak." Mulut Rio terbuka lebar.
"Bagaimana kelanjutannya, Bu?" tanya Rio panik.
"Jason tidak menuntut apapun tapi ibu takut nak," tambahnya.
"Bu, tenanglah Jason tidak akan melakukan apa-apa Rio yakin itu," ucapnya.
"Semoga saja nak, Jason tadi bersama dengan wanita muda kalau tidak salah namanya Jesy," ucapnya.
"Pria itu memang tidak tahu diri, habis Claire sekarang Jesy. Semoga saja Claire tidak pernah lagi bertemu dengan pria seperti Jason," batin Rio dalam hati.
"Nak, kau masih di sana?" tanya ibu Ria.
"Ya Bu. Ibu tetap tenang ya jangan panik," balas Rio.
"Ya nak." Obrolan usai Rio menghembuskan napas.
Pagi itu Rio cepat bekerja karena jarak tempuh cukup jauh, setelah pamit dengan Claire.
__ADS_1
"Kakak pergi ya. Kalau butuh sesuatu hubungi saja," ucap Rio.
"Ya, jangan lupa pesananku ya kak," kekeh Claire.
"Tentu," ucap Rio sambil mengusap kepala Claire pelan.
Claire menatap kepergian Rio perasannya bergetar kalau bersama dengan Rio. Kembali ke dalam karena suasana sunyi hanya suara jangkrik terdengar di mana-mana.
"Bibi, di mana?" panggil Claire.
"Saya di belakang Nona," sahut bibi.
"Bibi sedang apa?" tanya Claire.
"Masak tahu goreng, Nona mau?" tawar bibi.
"Tapi beri cabai yang pedas ya bi," ucap Claire.
Claire menikmati tahu goreng pedas buatan bibi hingga habis satu porsi sepuluh piring. Bibir tipis itu memerah alami hingga keringat bercucuran turun sampai ke lehernya.
"Enak sekali bibi, boleh nambah tidak?" kekeh ya.
"Tentu tapi jangan makan cabai banyak-banyak bibi khawatir dengan kandungan Nona masih muda." Spontan tahu goreng tersebut jatuh begitu saja tepat di atas piring.
"Tidak jadi bibi, Claire sudah kenyang," ucap Claire pelan lalu beranjak dari sana.
"Kasihan Nona," lirihnya.
Claire mengusap perutnya yang rata perasannya semakin berkecamuk membayangkan kalakuan Jason.
"Kenapa kau harus tumbuh di sini? Karena kau masa depanku hancur." Claire menangis sesenggukan sendirian dalam kamar yang masih kosong. Hanya tempat tidur serta lemari kecil menemaninya.
__ADS_1
Bibi tidak sengaja mendengar semua yang diucapkan Claire lalu melapor kepada Rio. Sementara Rio mengeram kesal mendengar laporan bibi.
"Bahaya kalau Claire melakukan sesuatu yang tidak diinginkan," gumam Rio.
"Dokter Rio, keluarga pasien sedang menunggu anda," panggil perawat.
"Baik," jawab Rio.
Waktu terus berputar begitu cepat keramaian terjadi di lobi perusahaan Jason. Karyawan berbondong-bondong keluar agar cepat pulang ke rumah.
"Tuan, jadwal anda saat ini bertemu dengan Tuan Karman," ucap sekretaris Derulo.
"Kita kembali saja ke rumah Derulo. Tubuhku tiba-tiba ingin sekali istirahat sambil makan ayam goreng super pedas." Sekretaris Derulo melihat Jason telan ludah membayangkan makanan itu masuk ke dalam mulutnya.
"Dalam diri Tuan ada yang aneh," gumam sekretaris Derulo.
"Derulo, kau tidak mendengarku?" tanya Jason.
"Ya Tuan," jawab sekretaris Derulo cepat.
Cepat-cepat mobil itu meluncur membelah jalan raya cukup padat. Setibanya Jason langsung turun dan suguhkan ayam yang diinginkannya.
"Enak sekali," ucapnya berbinar.
"Kakak cuci tangan dulu!" protes Jesy sambil memukul tangan Jason.
"Apa yang kau lakukan? Berikan ayam itu kepadaku?" pekik ya.
"Tidak mau, cuci tangan dulu cepat!" perintah Jesy sambil berkacak pinggang.
"Baiklah Nyonya," sahut Jason lemas.
__ADS_1