
Pelan namun pasti nasi goreng sudah masuk semua ke dalam perut. Makanan yang seharusnya jadi daging tapi tidak menunjukkan itu pada tubuhnya.
"Mbak, boleh aku keluar?" tanya Claire pelan.
"Anda mau ke mana, Nona?" tanya pelayan tersebut.
"Taman," jawabnya singkat.
Pelayan tampak berpikir resikonya membawa Claire tinggi apalagi tanpa sepengetahuan Jason.
"Saya tidak bisa, Nona," jawabnya tegas.
"Mbak meragukan saya?" tanya Claire datar.
"Saya akan minta izin terlebih dahulu kepada Tuan karena wewenang terhadap anda ada ditangan beliau." Setelah mengatakan itu pelayan langsung meninggalkan kamar itu.
"Bodoh sekali kau Claire, cocoknya berada dalam ruangan ini," lirihnya.
Memilih istirahat balik selimut karena esok hari masih panjang dengan kehidupannya yang terjebak dalam naungan Jason Monta.
Pintu terbuka begitu kuat hingga Claire yang dari tadi hanya memejamkan mata tersentak kaget.
"Kau mau keluar?" tanya Jason dingin.
"Aku jawab percuma tetap tidak akan diberi izin," batin Claire.
"Kenapa tidak menjawab?" sentak Jason.
Jason menghampiri Claire lalu menarik selimut yang dari tadi menghalangi pandangannya.
"Aku tidak niat jangan khawatir soal itu," balas Claire berpura-pura tegar.
"Bohong!" bentak Jason.
"Bukanlah hari ini kau berkerja? Pergilah agar uang yang kau cari bisa hasilkan wanita lebih muda, bukan wanita sepertiku sudah basi," ucapnya.
Jason mengeram kesal mendengar perkataan Claire barusan. Rasanya dia ingin memberikan pelajaran lebih dari sebelumnya.
"Kau terlalu berani sekali mengatakan itu kepadaku Claire. Akan kupastikan kau akan menyesal." Jason langsung meninggalkan kamar itu dengan wajah yang kesal.
"Tuan, jangan diambil hati yang dikatakan Nona. Ia hanya emosional karena keadaannya yang tidak stabil," ucap sekretaris Derulo.
"Diam kau Derulo?!" sentak Jason.
"Padahal saya hanya berikan penghiburan," decak ya.
__ADS_1
"Jantungku kenapa berdetak kencang? Oh Claire, apa yang kau lakukan barusan?" ucapnya dalam hati sambil mengusap telapak tangannya yang berkeringat.
Waktu makan siang telah tiba Jason tidak mood habiskan pikirannya terus kepada Claire saat ini ia sedang apa di kediamannya.
"Tuan, duapuluh menit lagi hadiri rapat awal tahun," ucap sekretaris Derulo.
"Siapkanlah semua sekarang ke sana!" Jason langsungnya berdiri lalu keluar.
Sekretaris Derulo panik karena persiapan rapat belum selesai bahkan satupun karyawan tidak ada masih yang datang.
"Tuan, bagaimana kalau anda menyeruput kopi secangkir sebelum melakukan rapat?" Jason mengangguk lalu dia duduk di bangku panjang.
"Aman, aku harus tekan tombol darurat kalau Tuan muda sudah dekat dengan pintu ruang rapat." Pesan telah tersebar, benar saja para karyawan panik bukan main atas pemberitahuan sekretaris Derulo.
"Kenapa dia lama sekali kembali?" decak Jason karena waktunya terbuang sia-siakan hanya sebuah kopi.
Dari ujung sekretaris Derulo terbirit-birit menuju ke arah Jason yang seharusnya tepat waktu kembali malah telat lima menit.
"Gajimu aku potong tiga puluh persen." Setelah mengatakan itu, Jason meninggalkan sekretaris Derulo sambil menyeruput kopi.
"Malang sekali nasibmu, Derulo," batinnya.
Selagi Jason mengadakan rapat beda dengan Claire kembali termenung sendirian dalam kamar. Setiap detik hanya bisa termenung dan ia tidak tahu sudah berapa banyak bulir bening lolos melewati kedua pipinya itu.
"Aku lapar," lirihnya.
Waktu terus berputar mobil Jason memasuki rumahnya dia turun namun kedua bola matanya menuju kamar Claire.
"Wanita itu apa sudah bertobat?" decak ya.
"Tuan perintah anda ternyata sudah dijalankan pelayan dengan baik. Saya sudah dapatkan informasi kalau Nona Claire satu harian ini tidak menerima asupan apapun," lapor sekretaris Derulo.
"Bagus! Ia wanita yang keras kepala Derulo, kau tahu seharusnya ia beruntung bisa menyentuh dan tinggal satu atap dengan pria sepertiku," ucap Jason bangga.
"Anda tidak khawatir, Tuan?" Langkah Jason berhenti di anak tangga terakhir.
"Apa maksudmu?" tanya Jason sambil menatap sekretaris Derulo dengan sorot yang menakutkan.
"Setelah saya cek profil Nona Claire ternyata ia memiliki riwayat kesehatan yang buruk." Kedua bola mata Jason melebar dengar perkataan sekretaris Derulo barusan.
"Kenapa dengan wanita itu?" tanya Jason penasaran.
"Salah satu isi dalam tubuhnya sudah tidak ada Tuan. Nona Claire telah melakukan transplantasi ginjal kepada seseorang dahulu. Namun nama penerima sangat dirahasiakan." Jason langsung naik ke atas dengan langkah yang tergesa-gesa.
Pintu kena dobrak kedua bola mata Jason menyapu seluruh ruangan tersebut.
__ADS_1
"Hai Tuan, tidak biasanya anda kembali dengan cepat? Apa anda merindukan wanita sepertiku?" tanya Claire pelan sambil tersenyum lebar.
Jason melangkah hampiri Claire dan dia langsung memastikan yang dikatakan sekretaris Derulo.
"Apa ini?" tanya Jason dingin.
"Jangan khawatir Tuan. Bekas luka ini adalah hal spesial yang kulakukan kepada orang yang membutuhkan. Lagian untuk apa anda mempertanyakan luka ini? Oh ya aku baru ingat, uang yang kau keluarkan apakah rugi karena salah memilih wanita?" Rahang Jason mengeras dengar celoteh Claire, bukan ini yang dia mau dengar setelah kembali dari perusahaan.
Jason langsung meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan yang begitu kecewa.
"Kau tidak tahu kalau bekas luka ini hanya untuk menolong orang yang kita kasihi. Tapi semua itu sia-sia bahwa kenyataan kalau yang berduit menang daripada orang seperti saya." Claire menangis sesenggukan menahan semua sakit yang ia derita saat ini.
Kamar utama Jason menatap foto Jesy tersenyum lebar sekujur tubuh itu seketika lemah dan tidak berdaya.
"Jesy, kenapa wanita itu selalu menyebalkan? Aku muak sekali mendengar celotehnya membuat kedua kupingku sakit," keluh Jason.
Jason terus berkata-kata kepada Jesy bagaikan orang yang tidak waras berbicara dengan benda mati.
Makan malam telah tiba Jason turun dengan santai bahkan wajah tampan ya terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Baru lima sendok masuk ke dalam mulut suara teriakan mengagetkan kediaman Jason.
"Tuan, tolong?!" Jason langsung lari ke atas baru dia ingat kalau satu harian ini Claire kena hukum.
"Bodoh jangan sampai ia kenapa-kenapa aku pula nantinya yang pusing," umpatnya.
"Nona pingsan Tuan?!" pekik pelayan tersebut.
"Panggil dokterku!" perintahnya.
"Baik Tuan," balasnya.
Jason memperhatikan wajah Claire yang begitu pucat bahkan tangannya dingin.
"Berikan minum!" ucap Jason.
"Baik Tuan," jawabnya.
Claire mulai membuka mata walupun agak sulit apalagi cahaya sinar lampu tepat mengenai wajahnya.
"Air," ucapnya pelan.
"Berikan air!" pelayan tersebut langsung menyanggupi permintaan Claire.
Setelah habiskan satu gelas Claire kembali memejamkan mata. Rasa lapar pada perutnya tidak bisa ia tahan apalagi bekas operasi juga terasa nyeri.
"Buka matamu? Jangan tunjukkan kelemahanmu di sini?" peringat Jason namun Claire sama sekali tidak mengindahkan perkataan Jason karena semakin lama pernapasannya tinggal satu-satu.
__ADS_1
"Ayah, ibu aku melihat kalian," ucap Claire pelan.
"Ayah, ibu?" gumam Jason namun kedua bola matanya langsung melebar.