
Waktu berlalu begitu cepat ibu Ria akhirnya mengunjungi kampung Indramayu. Dia sudah tidak sabar lagi melihat Claire dan Rio yang sudah anggap anaknya sendiri.
"Rio?" panggil ibu Ria.
"Ibu, kapan datang?" Rio langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Baru aja nak, sengaja ibu datang ke sini kejutan," kekeh ya.
"Ibu sudah makan atau belum?" tanya Rio lalu mereka duduk bersama.
"Sudah nak, warung di ujung ternyata enak juga ya," ucap ibu Ria.
"Ya Bu, tempat itu warung favorit Claire." Ibu Ria minum teh sudah sediakan perawat.
"Masih sibuk atau belum?" tanya ibu Ria lagi.
"Tidak terlalu lagi Bu." Akhirnya mereka menuju ke rumah jalan kaki karena klinik tempatnya bekerja tidak jauh.
"Claire, kakak pulang," panggil Rio.
"Aku di belakang kak," sahut Claire.
"Bu, Claire ada belakang," ucap Rio.
"Ayo kita kebelakang." Rio mengangguk mengerti.
Claire belum menyadari kedatangan ibu Ria sibuk mengisi tanah ke pot bunga. Lalu, ia berbalik kedua bola matanya langsung melebar.
__ADS_1
"Ibu?!" pekik Claire spontan ia memeluk wanita paruh baya itu.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya ibu Ria.
"Baik Bu, ibu bagaimana?" tanya Claire antusias.
"Biak juga, oh ya apa tidak bolehkan duduk?" canda ya.
"Ibu memang bisa aja." Rio pamit membersihkan tubuhnya, Claire dan ibu Ria mengobrol di ruang tengah.
"Bagaimana kandunganmu nak? Apa ada yang membuatmu tidak enak? Atau ada yang ingin kau makan tapi belum kesampaian?" tanya ibu Ria bertubi-tubi.
"Semuanya baik Bu hanya saja aku." Claire tidak melanjutkan ucapannya namun setitik air mata lolos begitu saja.
"Ada apa nak, katakan kepada ibu, jangan dipendam sendiri," tanya ibu Ria lalu menggenggam tangan Claire yang dingin.
"Kenapa? Bukannya status kalian suami istri di sini?" tanya ibu Ria lagi.
"Mereka tidak yakin Bu kami suami istri karena tidak bisa membuktikan ada surat akta nikah," potong Rio.
"Mereka keterlaluan sekali," ucapnya dengan nada yang terdengar kesal.
"Tapi ibu mau mengatakan sesuatu?" Ibu Ria menatap mereka berdua serius.
"Apa itu, Bu?" tanya Claire.
"Suamimu sedang mencari keberadaanmu, Claire." Rio terbelalak mendengar perkataan ibu karena mereka berdua sepakat untuk tidak memberitahukan kepada Claire.
__ADS_1
"Bu?!" pekik Rio.
"Jason," lirihnya.
Jason justru tersedak karena terlalu banyak makan daging gulai yang pedas bahkan, dua kali lipat dari sebelum.
"Kakak makannya pelan-pelan dong, makan sudah seperti bedua aja?" cebik Jesy.
"Apa bedua?" tanya Jason heran setelah dia merasa baik.
"Hewan babi kak." Jason menyemburkan air minum ke wajah Jesy.
"Maaf kakak tidak sengaja, jangan marah ya nanti kakak beli mobil edition limited," rayu Jason.
"Kakak menyebalkan," teriak Jesy kencang.
"Gini banget punya adik perempuan tapi galak," kekeh ya.
Beda di kampung Indramayu kediaman Rio dingin setelah Claire tahu Jason masih mencarinya bahkan sampai menyebarkan foto ya ke media.
"Kak, aku tidak mau kembali dengannya," tangisnya.
"Kakak mengerti Claire tapi ingat kandunganmu saat ini butuh seorang ayah," ucap Rio.
"Claire bisa hilangkan anak ini kak, biar pria itu tidak bisa mengikatku lagi." Ibu Ria jatuhkan piring berisi buah-buahan segar baru dikupas.
"Apa yang kau bilang barusan nak?" tanya ibu Ria sambil menutup mulutnya karena dia tidak mungkin salah dengar yang dikatakan Claire barusan.
__ADS_1