
Berulang kali Jason terus memperhatikan surat cerai ya masih belum ditandatangani. Sesekali mengusap wajah karena tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh saat ini.
''Claire, harus dengan apa aku bisa menemukanmu sekarang?" gumamnya.
''Kak Jason pasti sedang memikirkan Claire,'' batin Jesy.
Jesy benar-benar kasihan melihat Jason yang dulunya kuat sekarang menjadi lemah bahkan tidak berdaya. Kehidupan yang dia jalani beberapa bulan ini sungguh berantakan semenjak kepergian Claire.
Waktu terus berputar hingga usia kandungan Claire sudah menginjak delapan bulan. Selama itu tidak ada perubahan yang didapat anak buah sekretaris Derulo.
Mereka secara perlahan mulai mundur mengintai Rio tidak menunjukkan kecurigaan.
''Claire, kenapa belum bangun?" tanya Rio.
''Kak Rio ngapain ke kamar Claire?" ucapnya tidak jelas.
Rio merasa gemas melihat wajah bantal Claire dia langsung duduk di pinggir tempat tidur.
''Bangun ya, hari ini kita harus memeriksa kandungan mu,'' ucap Rio halus.
''Gendong kak,'' kekeh ya.
''Yakin digendong?" tanya Rio.
__ADS_1
''Tidak jadi habisnya nanti kakak menjadi kurus.'' Claire tertawa melihat wajah Rio tanpa ekspresi.
''Sana mandi nanti nyamuk banyak berkeliaran,'' canda Rio.
Claire menjulurkan lidahnya lalu menuju ke kamar mandi dengan rambut yang berantakan. Rio menuju ke jendela kamar melihat keluar orang-orang sudah berlalu lalang keluar dari kediamannya masing-masing.
''Tetangga memang tidak pantas untuk diajak berteman,'' decak Rio.
Ibu Ria memilih untuk tinggal bersama dengan Rio dan Claire karena bosan sendirian tidak ada teman untuk diajak bicara.
''Mana Claire, Rio?" tanya ibu Ria halus.
''Mandi Bu,'' jawab Rio lalu duduk di depan ibu Ria.
''Jason belum memberikan salinan ya Bu, aku merasa sampai sekarang dia belum mau menandatangani surat itu karena belum pernah bertatap muka dengan Claire,'' ucap Rio cemas.
''Orang yang kau suruh bagaimana nasibnya?" tanya ibu Ria lagi.
''Sudah bebas Bu. Namun anak-anak buah Jason terus memantau pergerakannya.'' Ibu Ria cemas menyembunyikan Claire sama saja membawanya ke dalam jurang.
''Aku harap Jason tidak akan mengamuk seandainya mengetahui kami melindungi Claire,'' batin ibu Ria.
Claire turun ke bawah hati-hati karena perutnya sudah terlihat besar. Rio langsung berdiri cepat untuk memegang Claire agar tidak tersandung untuk menuruni anak tangga.
__ADS_1
''Kalau mau turun panggil kakak, Claire,'' protes ya.
''Maaf kak, aku ingin mencoba jalan sendiri,'' ucapnya.
''Tapi kondisimu lihat Claire, nanti kalian kenapa napa bagaimana?'' Claire menunjukkan gigi ratanya lalu duduk bersama.
''Selamat pagi, Bu,'' sapa Claire.
''Pagi nak, bagaimana sekarang perasaanmu sudah siap untuk melahirkan Claire?" tanya ibu Ria halus.
''Sudah Bu,'' jawabnya pelan.
''Kandunganmu besar ya nak, bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan boy atau girls,'' ucap ibu Ria.
''Claire ingin mengetahuinya setelah mereka lahir Bu.'' Claire mengangguk melihat perutnya yang sudah besar bahkan untuk berjalan saja ia sudah mulai sulit.
''Baiklah! Kalau butuh sesuatu panggil kami ya?" Claire mengangguk mengerti dia merasa dicintai dengan keadaan yang saat ini.
''Dulu aku tidak pernah menerima kasih sayang dari ibu dan Larisa tapi kenapa aku harus menerimanya dari orang yang tidak aku kenal?" batinnya.
Bulir bening lolos beberapa butir hingga mengenai perutnya dan itu disaksikan Rio.
''Kau pasti memikirkan keluargamu kan, Claire?" gumam Rio karena dia sudah mengetahui ekspresi yang ditunjukkan Claire kalau keadaan sudah seperti ini.
__ADS_1