Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Jason Dan Claire


__ADS_3

Kedua pelayan begitu takjub melihat penampilan Claire yang cantik dan anggun. Setetes air mata lolos hingga mengenai telapak tangannya.


"Hidup apa yang kujalani ini?" batinnya.


"Apa sudah siap?" Claire menatap Jason dari balik cermin.


"Saya sulit menerima pernikahan ini, boleh dibatalkan?" ucap Claire.


"Karena Rio dan mami?" tanya Jason.


"Tidak! Hanya saja anda melanggar semua yang pernah kau ucapkan dahulu sebelumnya." Mata Jason menatap wajah Claire sipit.


Dia memang tidak melupakan kata-kata itu tapi kali ini harus dilanggar karena ada misi yang harus Claire ketahui.


"Siapa di sini bos?" Claire terhenyak mendengar empat kata yang diucapkan Jason barusan.


"Anda menang Tuan," lirihnya.


Tamu undangan bertepuk tangan melihat kedatangan Jason dan Claire. Rio melihat Claire dari kejauhan hanya bisa menitikkan air mata.


"Kau ternyata sudah bahagia Claire. Bisa menikahi CEO kita sendiri dan impianmu menikah dengan pria kaya akhirnya terwujud. Selamat Claire Danes," ucap Rio dalam hati.


"Rio, kau datang?!" pekik Claire.


"Fokus jangan buat malu di hadapan tamu," ucap Jason penuh penekanan.


"Perutku sakit, bisa aku ke toilet?" tanya Claire.


"Derulo akan menemanimu." Claire mengangguk mengerti ia tahu betul Jason menjaganya dari orang-orang.


"Tunggu di luar!" ucap Claire.


"Baik Nona," jawab sekretaris Derulo.


"Rio, semoga kau melihatku dan melihat ini sebagai bukti kalau aku selama menderita," ucapnya.


"Nona, waktunya anda kembali," panggil sekretaris Derulo.


"Ya sebentar," sahutnya.


Claire menunjukkan diri setelah merapikan riasannya yang sempat ia acak-acak hanya ingin meninggalkan jejak.


"Claire?" Rio tidak sengaja berpapasan dengan Claire pintu toilet.


"Rio, lihat mata ini begitu banyak yang ingin aku katakan kepadamu tapi kau sudah terlebih dahulu membohongiku. Tapi karena Jason sedang merencanakan sesuatu aku samping kan perasaanku." Rio terus menatap Claire hingga tinggal dia seorang di sana.


"Claire tidak mau bicara denganku. Kau banyak sekali berubah Claire, andaikan beberapa Minggu lalu dirimu sadar kita berdua sempat mengobrol tapi yang berkuasa memisahkan jarak," ucapnya lemah.


Rio mengusap wajahnya berulang kali dia terus terbayang dengan tatapan Claire yang begitu kosong.


"Claire sudah bahagia dengan pilihannya. Rio, tugasmu mencari Claire sudah berakhir dan ayo mulai kehidupan baru," ucapnya penuh semangat.


Rio keluar sambil mengantongi benda kecil namun tiba-tiba dia terbelalak melihat tangannya bercampur dengan warna merah.

__ADS_1


"Darah siapa ini?" tanyanya pelan. Rio semakin kaget melihat pesan yang ditinggal Claire.


Resepsi pernikahan Jason dan Claire berlangsung begitu meriah. Nyonya Meneer tidak menyangka kalau Claire sudah menjadi menantunya saat ini.


"Seandainya Jesy melihat Jason menikah, mungkin wanita ini akan hilang selamanya," ucapnya dalam hati.


"Apa yang dipikirkan ibu Jason? Tatapannya begitu dingin?" batin Claire.


"Selamat Tuan, Claire. Maksud saya Nona Claire," ucap Rio.


"Kau tidak mau menyalim ya?" bisik Jason.


"Terima kasih sudah hadir," ucap Claire pelan.


"Maaf Tuan, saya telat." Rio menatap mata Claire yang begitu kosong.


"Tidak masalah penting kau sudah tahu siapa istriku." Kedua bola mata Rio dan Claire bersamaan terbelalak mendengar yang dikatakan Jason barusan.


"Claire, sesakit itu kah hatimu selama ini?" batin Rio.


"Rio, terima kasih sudah mengetahui keadaan ku," ucapnya dalam hati sambil menatap Rio hilang balik kerumuman tamu.


"Kau mencintai pria itu?" tanya Jason spontan.


"Cinta? Dalam hidupku tidak ada kata cinta?" Jason terhenyak mendengar jawaban Claire.


"Jason, mami lelah acara tiadakan saja!" potong Nyonya Meneer.


Balik semua acara sekretaris Derulo bekerja ekstra mengatur seluruh tamu. Jason dan Claire sudah tiba di kediamannya, kali ini mereka berdua satu kamar.


"Mulai malam ini kau tidur di sini!" ucap Jason sambil berganti pakaian.


"Penderitaanku bakal nambah mulai malam ini," ucapnya dalam hati.


"Kau tidak mendengar yang kukatakan?" pekik Jason.


"Ya," jawabnya singkat.


"Kalau mami mengatakan soal kehamilanmu tidak perlu jawab. Mami akan jengah dengan sendirinya kalau tidak dijawab." Claire diam sambil memperhatikan Jason hilang balik pintu kamar mandi.


"Aku tidak hamil tapi?" Suara ketukan pintu membuat pandangannya teralihkan.


"Lama sekali hanya buka pintu. Di mana Jason?" tanya Nyonya Meneer.


"Lagi mandi Nyonya," jawab Claire singkat.


"Kenapa belum ganti pakaian? Orang hamil mana ada tahan mengenakan pakaian seperti ini tapi kau?" cebik Nyonya Meneer.


"Maaf, saya akan ganti Nyonya," ucapnya.


"Menyebalkan," dengus Nyonya Meneer.


"Mami, sedang apa di sini?" tanya Jason.

__ADS_1


"Besok kau ke luar kota kan?" tanya Nyonya Meneer.


"Memangnya kenapa mami?" tanyanya lagi.


"Beli besok tiket, mami tidak betah tinggal di sini," ucapnya sambil menatap Claire yang menundukkan kepala.


"Secepat itu mami kembali?" tanya Jason tidak percaya.


"Mami tunggu esok." Nyonya Meneer meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang begitu kecewa.


Claire menuju ke kamar mandi namun tangan kekar Jason hentikan ia.


"Layani aku!" Claire menatap Jason kosong lalu mengangguk.


Tanpa membersihkan diri Jason memuaskan kebutuhan ya malam itu tanpa ada suara keluar dari mulut Claire.


"Rio, dia sedang apa?" batinnya.


Rio menghempaskan semua benda di atas meja kerjanya, dia tidak menyangka Claire sesakit itu selama ini dalam naungan Jason.


"Hanya meninggalkan jejak, kau rela berkorban demi aku Claire tapi kenapa kau tidak mau bicara langsung denganku?" ucapnya sambil menatap foto Claire.


Sampai detik ini Rio belum mengetahui apa yang terjadi kepada Claire hingga ia berakhir di tangan Jason. Namun masalah ini semua berawal dari Larisa dan ibunya jebak Claire di Club Paradise dahulu.


"Larisa, aku akan menemuinya lagi," ucapnya lalu pergi dalam keadaan yang kacau.


Suara dentuman musik membuat para pengunjung menari-nari di bawah lampu yang berwarna-warni.


"Larisa?" panggil Rio.


"Kau? Seorang dokter bisa juga ya datang ke tempat ini?" ledeknya.


"Larisa, aku ingin bicara denganmu!" Rio langsung menarik Larisa keluar dari kerumunan itu.


"Kau mau apa Rio lepaskan aku!" ucap Larisa sambil memberontak.


"Aku mau bicara soal Claire. Kalian jual berapa dia dengan pria itu?" tanyanya.


"Rio kau pasti sedang bermimpi. Kembalilah ke tempatmu dulu dan jalani kehidupan yang baik-baik karena pria sepertimu tidak cocok dengan Claire." Larisa langsung meninggalkan Rio sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tuan, Rio sedang mencari cara untuk menyelamatkan Nona dari genggaman anda," lapor sekretaris Derulo.


"Biarkan dia mencari cara Derulo. Biarkan dia berusaha menyelamatkan wanita ini," balas Jason.


"Tapi Tuan, bagaimana kalau dia berhasil?" tanya sekretaris Derulo.


"Berikan dia pelajaran!" Claire terbatuk-batuk mendengar obrolan Jason dengan sekretaris Derulo.


"Yang dia bicarakan Rio kau? Jangan sampai Rio kenapa-kenapa?" batinnya.


"Besok kita bicara Derulo." Jason langsung mematikan ponselnya.


Claire memejamkan mata menahan tangan Jason yang mulai menariknya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2