Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Perut Kram


__ADS_3

Rio begitu senang mendapatkan kode dari Claire tidak terasa waktu terus berputar semua penghuni panti kembali istirahat dengan tenang.


Claire dan Rio sebelum istirahat berkeliling taman namun karena dinginnya cuaca mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam.


''Dingin ya?" tanya Rio.


''Lumayan kak,'' jawabnya.


''Ayo kita lebih baik masuk ke dalam tidak baik kandunganmu Claire,'' tambah Rio.


Claire mengangguk lalu namun tangan Rio merangkul pundak kecil itu tanpa sadar.


''Kalau membutuhkan sesuatu panggil aku ya,'' ucap Rio setelah menyelimuti Claire.


''Kakak mau ke mana?" tanya Claire.


''Menemui ibu.'' Claire mengangguk mengerti tapi ia sama sekali tidak bisa memejamkan kedua bola mata.


Tiba-tiba ia teringat kepada Jason pria yang sudah membuatnya hancur. Gelisah, membuatnya tidak bisa tidur.


''Apa yang dilakukan pria itu sekarang ya?" gumamnya pelan.


''Claire tunggu sebentar lagi kita akan bertemu,'' batin Jason sambil menikmati wine.


''Kak?" panggil Jesy.


''Kenapa kau di sini?" tanya Jason.


''Memangnya tidak bisa kembali ke sini?" ketus Jesy.


''Lucu saja, tengah malam kau datang ke sini dek padahal besok kan bisa?" tawa Jason.


''Jesy males sendirian di puncak itu, tidak ada yang menarik,'' keluh ya.


''Apa ada yang kau temukan di rumah itu?" tanya Jason penasaran.


''Tidak ada yang mencurigakan kak, dokter Rio setiap hari melakukan aktivitasnya seperti biasa.'' Jesy langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Jason.


''Apapun tidak tidak ada yang mencurigakan?" tanya Jason lagi.


''Ya,'' angguk ya.


''Jadi Claire tidak ada di sana ya?" lirih ya pelan.


''Jesy memiliki informasi dari seseorang kak, dia seorang pria yang aku kenal di sebuah klub.'' Jason menaikkan alisnya kenapa Jesy bisa mengenal seorang pria di sebuah klub padahal tempat itu belum pernah dia injak.


''Kau dugem di klub, Jesy?" tanya Jason dingin.


''Bukan kak, jangan curiga dulu karena Claire terpaksa Jesy menapakkan kaki di sana,'' terang ya.


''Sekali lagi kakak mendengar kau ke sana lagi jangan harap kasih sayangku akan hilang selamanya,'' ancam Jason.


''Astaga, kak Jason sungguh pria yang mengerikan,'' batin Jesy dalam hati.


''Jesy?" panggil Jason berulang kali.


''Ada apa kak?" tanya Jesy gelagapan.


''Siapa pria yang kau bilang itu?" tanya Jason penasaran.

__ADS_1


''Oh, bagaimana kalau besok kakak bicara dengannya?" usul Jesy.


''Kau atur saja!" Jesy mengangguk mengerti lalu dia meninggalkan kamar Jason karena tubuhnya sudah lelah selama perjalanan ke sini.


''Kenapa kak Jason tiba-tiba menjadi pria yang bodoh ya? Biasanya dia begitu mudah mencari informasi?" gerutu Jesy.


''Nona?!" pekik sekretaris Derulo.


''Hai Om!'' ucapnya sambil menuju ke kamarnya tidak memperdulikan wajah sekretaris Derulo yang datar.


''Sejak kapan Nona kembali?" batinnya.


Kedua bola mata sekretaris Derulo terbelalak dan langsung menghubungi orangnya di sekitar rumah Rio.


''Halo Tuan?" sahutnya.


''Kalian saja yang bekerja awasi rumah dokter Rio!" perintahnya.


''Baik Tuan,'' jawab pria tersebut yang tidak disebut nama ya.


''Nona Jesy memang tidak pernah bisa diandalkan,'' kesalnya.


Pukul empat dini hari Claire merasakan perutnya sakit dan terus mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.


Rio merasa terusik mendengar suara dari belakang padahal dia baru saja tidur beberapa jam yang lalu.


''Siapa di sana?" tanya Rio sambil mengucek kedua bola mata ya yang masih ngantuk.


Namun Claire tidak menjawabnya justru terus mual, hingga Rio panik langsung memegang pundak Claire.


''Claire, apa yang terjadi?" tanya Rio.


''Kak, perutku seperti diaduk-aduk,'' jawabnya lemas.


Setelah keadaan sudah lebih baik Claire menjatuhkan tubuhnya di lantai. Rio kembali membawa air hangat serta minyak angin.


''Minumlah!'' seru ya.


''Sebentar kak perutku masih tidak enak,'' tolaknya.


''Kenapa tidak membangunkan kakak?" tanya Rio panik.


''Maaf kak, aku pikir hanya mual biasa,'' lirihnya.


''Ayo, kembali ke kamar di sini tidak baik untukmu.'' Tanpa berpikir panjang Rio langsung menggendong Claire ala bridal.


''Aku bisa jalan kak,'' tolaknya.


''Diam lah! Jangan melawan kalau tidak nanti aku turunkan di sini,'' tunjuknya ke dapur.


Claire akhirnya menurut namun ia malu karena digendong seperti ini.


''Pakai minyak ini pasti membuat perutmu menjadi hangat,'' tambahnya.


''Ya kak,'' angguk Claire.


''Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Rio memastikan sebelum kembali beristirahat.


''Kak, aku ingin makan udang saos,'' ucapnya pelan.

__ADS_1


''Dari mana aku mendapatkan makanan itu, sementara kami di desa jauh dari kota,'' batin Rio.


''Tidak bisa ya kak?" tanya Claire pelan.


''Tunggu sebentar ya, jangan ke mana-mana sebelum kakak kembali, mengerti!" balas Rio.


''Ya kak,'' jawab ya berbinar sambil membayangkan udang itu sudah dihadapannya saat ini.


Rio secara perlahan keluar dari panti agar anak-anak tidak bangun begitu juga dengan pengelola yayasan.


''Gusti, di mana aku bisa mendapatkan udang saos?!" pekiknya dan terus menerus berkeliling menyusuri jalan yang cukup sepi itu.


Hanya beberapa warung dia lewatin namun satu pun tidak ada yang buka karena masih jam empat pagi. Satu jam berkeliling namun tidak membuahkan hasil hingga, mobil itu berhenti di tepi pantai karena beberapa nelayan mulai melaut.


''Anak muda mau ke mana?" tanya seorang wanita paruh baya hendak menghantarkan nasi kepada suaminya.


''Anu Bu, saya mau mencari udang saos tapi sepertinya di sini tidak ada yang menjual?" keluh Rio.


''Istrimu lagi mengidam ya anak muda?" Pertanyaan itu membuat wajah Rio memerah karena dia dan Claire sama sekali tidak memiliki ikatan.


''Ya Bu,'' jawabnya berbohong.


''Itu biasa anak muda.'' Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia memperhatikan sepasang suami istri itu begitu idaman.


''Andaikan aku dan Claire sama seperti mereka berdua, indahnya dunia ini,'' halunya.


''Anak muda?!" panggil ibu itu karena Rio menghayal.


''Maaf Bu tadi saya melihat bintang sepertinya jatuh,'' alasannya.


''Bintang? Tidak ada bintang anak muda?" tanya ibu itu begitu polosnya melihat ke langit.


''Hanya canda Bu,'' kekeh ya.


Rio mendapatkan pukulan dari wanita paruh baya itu lalu mereka berdua menuju rumahnya yang tidak jauh dari pantai.


''Kalau mau menunggu atau suka masakan ibu, silahkan tunggu,'' ucapnya langsung.


''Saya pasti menyukainya Bu,'' balas Rio.


''Kamu yang memakannya atau istrimu?" Rio tertawa kecil sampai menunjukkan giginya yang putih.


''Istri tetangga Bu.'' Mereka berdua tertawa terbahak-bahak di luar karena dapur ibu sengaja dibuat begitu.


Rio merasa tertolong akhirnya udang yang ditunggu masak dan aromanya begitu wangi.


''Mudah-mudahan Claire suka,'' ucapnya dalam hati.


''Nak, melamun lagi ini bocah?" ucap itu.


''Maaf. Berapa harganya Bu?" tanya Rio panik.


''Tidak perlu bayar karena ibu memberinya gratis,'' ucapnya.


''Tapi Bu?" Ibu itu langsung memotong ucapan Rio.


''Sehat sampai lahiran ya nak untuk istrinya calon buah hati kalian berdua. Sampaikan salamku kepadanya!" seru ya.


''Tapi Bu semua ini adalah milik Ibu, bagaimana mungkin aku menerimanya dengan cuma-cuma?" Rio panik si ibu tidak mau menerima upah ya.

__ADS_1


''Kamu mau berdebat dengan ibu atau istrimu tidak mau memakan udang ini?" Rio baru menyadari dia sudah dua jam di luar.


''Oh My God?!" pekik ya.


__ADS_2