Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Ingin Menyerah


__ADS_3

Kabar mengenai Claire sakit terdengar ke telinga Larisa ketika mengunjungi rumah sakit. Dia tidak menyangka kalau Claire koma.


''Kog bisa ya si Claire koma?" batinnya.


''Kau sedang apa di sini?" Rio tidak sengaja melihat Larisa berkeliaran di sekitar Claire.


''Memangnya kenapa kalau aku di sini?" tanya Larisa menahan keterkejutannya karena kepergok Rio.


''Kau mau menyakiti Claire ya?" tuduh Rio.


"Enak saja, untuk apa aku menyakiti Claire sementara dia di sini antara hidup dan mati.'' Rio begitu membenci Larisa sekarang belum juga berubah.


''Pergi kau! Wanita seperti ini tidak pantas berada di sini?!" usir ya.


''Lagian siapa pula yang mau di sini,'' cebik Larisa dan langsung meninggalkan Rio.


''Wanita itu, aku tidak akan pernah mengampuni kalian berdua,'' ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


''Dokter Rio mengenal wanita itu?" Jesy tidak sengaja kedua kalinya memergoki Rio dan Larisa.


Rio memilih untuk keluar untuk menghirup udara segar karena kedatangan Larisa memberikan dampak negatif kepada Claire.


''Larisa pasti ingin menyakiti Claire lagi, aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu melakukan sesuatu kepadanya,'' batin Rio.


Jesy sendirian termenung di ruang rawat inap dan anak-anak pikirannya kosong.


''Jesy, kau sudah memikirkan apa?" tanya Jason sambil menepuk pundak Jesy.


''Kakak sudah kembali?" tanya Jesy tidak menjawab pertanyaan Jason.


''Ada apa? Sepertinya kamu memiliki masalah?" tanya Jason lalu duduk sambil menatap Claire.


''Hanya kepikiran tentang Claire kak, kapan ia bangun ya?" alihnya.


Jason mengusap wajah ya kuat hal ini lah yang ditunggunya selama ini. Berharap Claire secepatnya bangun dari tidur panjang ini.


''Kemungkinan besar kakak akan memindahkan Claire ke rumah agar bisa tenang merawat ia,'' ucap Jason.


''Kakak serius ingin melakukan itu?" tanya Jesy.


''Ya, anak-anak juga biar bebas dan jauh dari penyakit karena di sini tidak cocok untuk mereka,'' tambahnya.

__ADS_1


''Ya kak, benar sekali karena anak-anak butuh ketenangan. Lihatlah, mereka berdua sudah bisa diajak main-main,'' kekeh Jesy.


Jason tersenyum kecil melihat tingkah kedua buah hatinya itu perasaannya semakin sakit karena anak-anak harus menderita karena ulahnya sendiri.


''Andai dulu Claire tidak mendapatkan perlakuan buruk dariku, kalian berdua tidak akan pernah merasakan meminum susu formula,'' lirihnya pelan.


Jesy berhambur memeluk Jason perasaan yang begitu sakit mendengar ucapan kakak ya itu.


''Jangan merasa bersalah seperti itu kak! Claire mungkin tidak akan mau mendengar kata-kata keluar seperti itu dari mulut kakak,'' ucapnya.


''Aku yang menyebabkan masalah ini semuanya Jesy. Seandainya dulu aku tidak membeli Claire semua ini tidak akan terjadi.'' Jesy mengusap air mata ya tiba-tiba lolos begitu saja mendengar ucapan Jason.


''Sesakit itu kah kakak merasakan sakit yang dialami Claire?" batinnya dalam hati.


Suara ketukan pintu membuat keduanya melepaskan pelukan, Jesy mengusap air mata ya lalu keluar.


''Jesy akan buka pintu ya kak,'' ucapnya.


''Ya,'' angguk Jason.


Ternyata sekretaris Derulo datang untuk memberitahukan kalau semua fasilitas Claire dan anak-anak sudah selesai dibuat.


''Tuan, pukul empat sore Nona Claire dan anak-anak sudah bisa dibawa ke rumah. Dokter juga tidak mengijinkan namun harus difasilitasi dengan alat medis,'' ucap sekretaris Derulo.


Sekretaris Derulo terbelalak mendengar ucapan Jason barusan dia tidak menyangka kalau seorang pria angkuh bisa mengatakan ucapan terima kasih.


''Paman, kenapa diam?" senggol Jesy.


''Ya Tuan,'' balas ya gugup.


Hingga waktu yang ditentukan oleh para dokter Claire dan anak-anak dipindahkan ke kediamannya Jason.


Ibu Ria memberikan izin kepada Jason agar sepenuhnya dirawat namun dibalik itu semua Rio keberatan karena tidak akan bebas untuk menjenguk Claire.


''Ibu seharusnya membawa Claire ke rumah kita,'' protes ya.


''Jason suaminya Rio dan kita mana berhak atas Claire. Baiklah mungkin selama ini kita berdua yang merawat namun, Jason lebih berhak atas istrinya,'' terang ibu Ria.


''Jason tidak akan pernah bersungguh-sungguh menjaga Claire, Bu?" lirihnya.


''Kau harus bisa melepaskan Claire, sampai kapan kamu seperti ini Rio?" Kali ini ibu Ria benar-benar marah kepada Rio yang kelihatannya egois tidak mau melepaskan Claire.

__ADS_1


''Apa maksud ibu? Aku hanya ingin Claire bahagia Bu tidak menderita seperti yang dilakukan pria itu?" belanya pada diri sendiri.


''Sama saja yang kau katakan itu Rio! Claire tidak akan pernah bahagia kalau kau terus menghalanginya. Jadi pikirkan baik-baik yang ibu katakan ini Rio, lepaskan Claire karena ia sudah memiliki anak dan suami.'' Rio terbelalak mendengar ucapan ibu Ria.


Dia merasa bersalah karena terlalu mencintai Claire hingga ingin memisahkan mereka berdua.


''Rio minta maaf, Bu,'' lirihnya.


Ibu Ria membawa Rio masuk ke dalam pelukannya berharap pria dewasa di hadapan ya ini secepatnya mendapatkan calon pendamping hidup.


''Ayo kita bantu Jason membawa Claire pulang ke rumah!" ajak ibu Ria.


Walaupun barat hati Rio menurut apa yang dikatakan ibu Ria walaupun hatinya tidak baik apalagi melihat wajah Jason.


Rio melihat Claire tanpa mengedibkan kedua bola mata ya tidak mau melepaskan sedetik pun.


Jason akhirnya berhasil memindahkan Claire masuk ke dalam mobil ya. Ditemani oleh beberapa dokter bedah suster agar bisa memantau perkembangan ya.


''Claire, mungkin ini pertemuan kita yang traktir kalinya dan aku berharap kau mendapatkan kebahagiaan setelah ini,'' batin Rio lalu meninggalkan rumah sakit setelah semuanya sudah beres.


Jason begitu senang sekali kalau dokter salah berhasil memindahkan ke ruangan yang baru.


''Tuan bisa menghubungi kami juga sesuatu yang buruk terjadi kepada Nona,'' ucap sang dokter.


''Jesy antar mereka ke kamar agar beristirahat!" seru Jason.


''Baik kak! Dok, mari ikut dengan saya!" ajak Jesy.


''Baik Tuan, Nona.'' Claire ada akhirnya bisa tenang dan secepatnya bisa pulih.


''Claire, aku bahkan mengubah kamar ini menjadi lebih baik agar kau tidak mengingat apa yang pernah terjadi di sini,'' bisik Jason.


Claire koma sudah berlangsung cukup lama anak-anak bahkan sudah bisa duduk. Sejak saat itu Rio tidak pernah lagi muncul di hadapan Jason.


Pintu terbuka Jason masuk ke dalam dengan langkah yang begitu hati-hati. Rambut yang terlihat tidak terurus, penampilan bahkan berubah drastis.


''Hai, sudah lama tidak bersua. Apa kabarmu Claire?'' tanya Jason sambil menggenggam tangan Claire yang hangat.


Setiap hari Jason terus berkomunikasi dengan Claire berharap wanitanya itu bangun dari tidur panjangnya.


Suara anak-anak terus mengisi ruangan tersebut namun perubahan sama sekali tidak pernah ada.

__ADS_1


Terkadang Jason ingin menyerah namun karena melihat kedua buah hati ya terus memanggil nama Claire tidak tega melakukannya.


''Sampai kapan kau menghukum aku, Claire?" isak Jason sambil meletakkan wajahnya punggung tangan Claire.


__ADS_2