Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Bekerja Di Kota


__ADS_3

Spontan Jason teringat kepada Claire perasaannya menjadi tidak tenang mendengar kabar buruk yang melandanya saat ini.


''Kalau Claire hamil tidak mungkin karena ia selalu minum obat yang kuberikan,'' batinnya.


''Kak?" panggil Jesy.


''Apa sih Jesy,'' kesal Jason karena Jesy tiba-tiba membuat jantungnya berdetak.


''Apa yang kakak pikirkan?" tanya Jesy sambil menelisik wajah Jason yang tiba-tiba pucat.


''Kau kembali ke rumah, kakak mau ke kantor dulu,'' potong Jason.


''Aku naik taksi maksud kakak?" tanya Jesy melongo.


''Ya, kakak sedang terburu-buru sekarang!" Jesy tidak habis pikir dengan Jason.


Daerah ini tidak terlalu dia kenal bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki ke sini.


''Menyebalkan!" dengus Jesy lalu membanting pintu kuat.


Jason tidak peduli mobil ini langsung membelah jalan raya dengan kecepatan yang tinggi. Jesy memperhatikan sekelilingnya taksi tidak ada yang lewat bahkan jalan sepi.


Jason terus memikirkan ucapan ibu Ria dan penjaga apoteker membuat dia semakin ketakutan. Sekretaris Derulo melihat kedatangan Jason kaget karena hari ini adalah cuti bagi sang big bos.


''Tuan anda datang?!" tanya sekretaris Derulo panik.


''Panggil dokter pribadiku Derulo, cepat?!" sentaknya.


''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Derulo cepat.


''Claire tidak mungkin mengandung?'' teriaknya begitu kuat.


''Apa? Nona mengandung?!" gumam sekretaris Derulo setelah menghubungi dokter pribadi Jason.


''Mana dokternya?" tanya Jason berapi-api.


''Lagi di perjalanan Tuan,'' jawab sekretaris Derulo cepat.


''Lama sekali, lima menit tidak datang pecat dia Derulo,'' sentaknya.


''Astaga, Tuan sungguh mengerikan,'' batin sekretaris Derulo.


Sudah lama bekerja dengan Jason namun kali ini Derulo melihat amarah yang sesungguhnya. Kali ini dia tidak bisa berkutik tetap mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu kedatangan dokter pribadinya.


''Di mana Tuan Jason?" tanya ya begitu panik karena dihubungi tiba-tiba.


''Masuk saja, jangan melakukan kesalahan!" peringat sekretaris Derulo.


''Memangnya ada masalah apa sampai segenting ini?" tanya dokter tersebut.


''Bodoh! Waktumu sisa sepuluh detik lagi.'' Mereka berdua langsung masuk tergesa-gesa karena sudah panik melihat waktu telah habis.


''Tuan, dokter anda sudah tiba!" seru sekretaris Derulo.


''Duduk dan jawa pertanyaan ku ya atau tidak,'' ucap Jason.


''Baik Tuan,'' jawabnya gugup.


''Obat apa benar untuk orang hamil?" tanya Jason.


''Ya Tuan,'' jawabnya cepat.


''Apa itu?" tanya Jason lagi.


''Meredakan mual Tuan.'' Jason tertegun mendengar ucapan dokter tersebut tidak ada kata kebohongan yang dia dapatkan.


''Derulo, percepat pencaharian Claire karena dia sudah membawa calon buah hatiku!" perintah Jason dingin.


''Apa?!" pekik sekretaris Derulo.


''Kau tidak mendengar ucapanku, Derulo?!" bentaknya kuat.


''Ba-baik Tuan,'' jawabnya dengan cepat.


''Kau pergi dari sini tugasmu sudah selesai,'' ucap Jason.


''Ya Tuan,'' jawab dokter dan langsung berdiri dari sana karena pernapasannya tinggal satu-satu.


''Jangan panik, kau sepertinya tidak tahu bagaimana karakter Tuan,'' kekeh sekretaris Jason.


''Tapi dia itu mengerikan sekali kalo marah,'' balasnya.


''Ya kau benar tapi apa memang benar obat itu adalah untuk orang hamil yang sedang mual?" tanya sekretaris Derulo karena dia tidak mengerti mengenai hal seorang wanita.


''Ya Derulo. Sepertinya Tuan sebentar lagi akan memiliki penerus dan ini adalah kabar paling bahagia yang kita tunggu,'' kekeh ya.

__ADS_1


''Masalahnya Nona Claire melarikan diri dari rumah sekaligus membawa calon pewaris,'' sentaknya.


''Ini berita yang sungguh menyedihkan,'' lirihnya.


Sementara itu Jason begitu prustasi sendirian dalam ruangannya sambil memikirkan Keadaan Claire saat ini.


''Di mana kau Claire? Kalau memang saat ini dirimu sedang mengandung kenapa tidak memberitahukan kepadaku?" batin ya.


Tiba-tiba Jason teringat dengan ucapan yang dulu kepada Claire pertama kali mereka berdua melakukan hubungan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat bahkan keringat sampai bercucuran membasahi wajah dan lehernya.


''Tidak mungkin aku pernah mengatakan itu kepada Claire,'' teriaknya kuat.


''Tuan, apa yang terjadi?" tanya sekretaris Derulo panik melihat meja sudah berantakan.


''Aku melakukan kesalahan besar Derulo ternyata malam itu Claire melarikan diri karena terancam,'' ucapnya lemas.


''Tuan,'' lirih sekretaris Derulo.


''Kenapa aku tidak menyadari kalau Claire sudah mengandung saat itu?" pekiknya.


''Tuan, kalau boleh jujur saya tidak bermaksud menyalahkan anda. Nona Claire jatuh ke dasar karena perbuatan ibu dan saudara tiri ya dan anda semakin membuat jiwa raganya hancur.'' Tidak tahu keberanian dari mana sekretaris Derulo mengatakan itu kepada Jason dalam keadaan yang tidak baik.


''Semua karena uang! Claire sebenarnya tidak bersalah tapi karena obsesi aku membuatnya semakin terluka,'' ucapnya.


''Tuan, apapun yang anda lakukan dahulu kepada Nona Claire sudah menyisakan luka yang dalam. Bukankah anda dulu menolak ada bayi dan malam itu Nona berhasil keluar dari mansion.'' Jason terdiam untuk sesaat dia memang melakukan itu kepada Claire.


Tidak tahu dorongan apa yang membuat dia begitu menginginkan Claire saat ini. Terbaru bodoh dia selama ini tidak menyadari perubahan terhadap diri Claire.


''Bagaimana kalau Claire memang benar-benar tidak menginginkan baby itu, Derulo?" tanya Jason lemas.


''Nona tidak akan pernah melakukan itu Tuan, buktinya sampai sekarang anda mengalami mual dan itu sudah membuktikan Nona masih melindungi calon buah hati anda.'' Jason merasakan ada peluang untuk mencari keberadaan Claire dan calon buah hatinya.


Waktu terus berputar begitu cepat Jesy sampai sekarang tidak meninggalkan tempat tersebut. Hingga, ibu Ria tidak sengaja melihatnya dari jarak jauh.


''Bukankah wanita itu adik Jason?'' tanya ibu Ria dalam hati.


''Ada apa, Bu?" tanya Rio.


''Lihat di sana!" tunjuk ibu Ria.


''Adik Jason?" pekik Rio.


''Di mana Jason? Berani sekali dia meninggalkan adiknya seorang diri di sana? Tempat ini berbahaya apalagi dia seorang wanita?" ucap ibu Ria cemas.


''Maksud ibu, dia ikut dengan kita?" tanya Rio.


''Maaf ya Bu tadi kak Jason meninggalkan aku seorang diri di sana,'' lirihnya.


''Memangnya ke mana kakak mu?" tanya ibu Ria.


''Kembali ke kantor katanya ada hal darurat yang harus dia selesaikan,'' jawabnya lemas.


''Rumah Nona Jesy di mana?" tanya ibu Ria berpura-pura tidak tahu.


''Maaf ya Bu. Di ujung jalan ini ada perumahan yang kompleks durian,'' tunjuknya.


''Nak, kita ke sana!" ucap ibu Ria kepada Rio.


''Baik Bu,'' jawab Rio sambil memperhatikan Jesy dari balik kaca.


''Anak ibu ya?" tanya Jesy dengan hati-hati.


''Ya, sebentar lagi dia kan bekerja dengan ibu,'' balasnya.


''Oh dokter juga ya anak ibu?" tanya Jesy.


''Ya,'' jawabnya.


''Wanita ini terlalu banyak bicara, sungguh menyebalkan,'' dengus Rio.


Akhirnya mobil tersebut berhenti salah satu perumahan elit, Rio tercengang melihat kediaman Jason yang begitu luas dan megah.


''Terima kasih, saya akan membalas kebaikan ibu,'' ucap Jesy.


''Tidak perlu sudah kewajiban kita saling menolong bukan?" Jesy mengangguk.


''Ya Bu tentu,'' jawabnya cepat.


Mobil ibu Ria akhirnya meninggalkan kediaman Jason namun mobil mereka berdua saling berpapasan.


''Bu, mobil Jason,'' ucap Rio.


''Biarkan saja, ayo kita kembali ke rumah!" seru ibu Ria.


''Ya Bu,'' jawab Rio cepat.

__ADS_1


Jason menatap mobil ibu Ria sudah meninggalkan kediamannya. Jesy langsung menepuk pundak Jason hingga membuat pria dewasa itu kaget.


''Kak!?" teriaknya.


''Bodoh! Mobil siapa itu?" tanya Jason tidak suka.


''Ibu dokter,'' jawabnya senang.


''Kenapa bisa sampai ke sini?" tanya Jason sambil masuk ke dalam.


''Jesy penumpang di mobilnya. Kakak jahat sekali meninggalkanku di sana sendirian. Bagaimana kalau ada yang berbuat jahat kepada aku lagi?" Langkah Jason berhenti karena menangkap kata-kata yang diutarakan Jesy.


''Siapa orang yang berani berbuat jahat kepadamu?" tanya Jason tidak suka.


''Abaikan saja, kakak sudah makan belum?" alih Jesy.


''Mau mandi dulu.'' Jesy melihat punggung Jason sudah hilang di balik tembok tangga.


''Semoga saja kakak tidak menemukan masa laluku,'' batinnya.


Jason sengaja membuat air hangat membasahi seluruh tubuhnya hingga kulit putih tersebut berubah menjadi merah. Pikirannya terus kepada Claire bahkan dengan ucapan dokter menyakinkan kalau dia saat ini menjadi calon ayah.


Padahal wanita yang berbadan dua karena ulah ibu dan saudaranya cemas menunggu kepulangan Rio.


"Sebentar lagi petang kak Rio belum kembali,'' ucapnya pelan.


''Nona, ada panggilan untuk anda!" panggil bibi.


''Dari siapa bi?" tanya Claire.


''Tuan Rio,'' jawabnya.


''Kak Rio?" panggil Claire begitu senang.


''Sedang apa sekarang?" tanya Rio.


''Menunggu kakak,'' jawabnya.


''Untuk apa menunggu kakak?'' Wajah Claire seketika jadi cemberut tidak senang mendengar pertanyaan Rio.


''Kakak belum kembali kah?" alih Claire.


''Kakak mau memberitahukan kalau malam ini tidak bisa kembali, maaf ya,'' ucap Rio.


''Kenapa kak?" tanya Claire cemas.


''Hujan deras sekali di sini Claire,'' ucapnya.


''Tapi di sini tidak hujan kak?" balasnya.


''Beda tempat kita dua Claire'' Claire tidak semangat secara perlahan masuk ke dalam sambil menggenggam telpon tersebut.


''Surprise!'' Claire mundur beberapa langkah karena di hadapannya saat ini ada ibu Ria dan Rio sambil membawa kue.


''Ibu, kak Rio?!" pekiknya.


''Selamat ulang tahun Claire,'' ucap Rio dan ibu Ria bersama.


''Apa? Hari ini aku ulang tahun?" tanya Claire tidak percaya.


''Ya, masak lupa?" kekeh Rio.


''Tiup dulu lilinnya nanti saja mengobrol,'' potong ibu Ria.


''Ya Bu,'' sahut Claire.


''Selamat ya usiamu akhirnya bertambah Claire,'' ucap Rio.


''Terima kasih tapi semua ini kenapa tidak aku tahu?" tanya Claire.


''Kejutan nak, semua ini Rio yang membuatnya dan ibu hanya ikut aja.'' Rio hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.


''Kalian baik sekali.'' Claire menangis sesenggukan masih ada orang yang baik kepadanya.


''Hei, kenapa jadi menangis?" tanya ibu Ria lalu membawa Claire masuk ke dalam pelukannya.


''Claire terharu Bu,'' jawabnya.


''Sudah jangan menangis lagi karena malam ini adalah spesial untukmu. Hadiah dari ibu terima dan jangan menolak!" tekan ibu Ria.


''Apa ini, Bu?" tanya Claire.


''Buka saja!" Claire ragu-ragu membuka kotak kecil itu karena perasaannya tidak enak.


''Kunci?" ucapnya tidak percaya.

__ADS_1


''Ya, tadi ibu bicara dengan Rio memutuskan mulai minggu depan dia bekerja di kota,'' terang ibu Ria.


__ADS_2