Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Pencaharian Claire


__ADS_3

Ibu Ria terkejut melihat Jason tepat berada di hadapannya padahal dia menginginkan makeup menghindari agar pertemuan tidak terjadi lagi.


''Nyonya Ria, kita bertemu lagi,'' sapa Jason.


''Ya, saya juga tidak menyangka bisa bertemu dengan anda Tuan Jason,'' balas ibu Ria kikuk.


''Sedang apa di rumah sakit ini Nyonya? Apa ada keluarga yang sakit?" tanya Jason.


''Tidak ada, saya hanya ingin bertemu dengan dokter kandungan ingin konsultasi lebih banyak,'' ucapnya.


''Oh, lanjutkan saja Nyonya!" seru Jason.


''Ya,'' angguk ibu Ria dan langsung masuk ke dalam.


''Nyonya Ria kan tidak memiliki anak lalu untuk apa berkonsultasi dengan dokter kandungan?" batin Jason dalam hati.


''Tuan!" panggil sekretaris Derulo.


''Kita kembali saja ke rumah Derulo tiba-tiba tubuhku tidak fit lagi,'' ucapnya.


''Baik Tuan Muda,'' balas sekretaris Derulo.


Sebelum meninggalkan rumah sakit sekali lagi Jason melihat pintu masuk. Bahkan sekretaris Derulo menatap heran Jason begitu serius menatap pintu tersebut.

__ADS_1


''Tuan?" panggil sekretaris Derulo lagi.


''Di ujung jalan ini ada warung, kau belikan nasi pakai sambel pedas!'' perintah Jason.


''Baik Tuan,'' angguk ya.


Jason menatap keluar sambil memikirkan keberadaan Claire serta kandungannya. Sebagai calon seorang ayah, ikatan mulai menjeratnya.


Jesy bersorak melihat kepulangan kakak kandungnya itu.


''Kak!" soraknya. Namun Jason sama sekali tidak membalas sambutan tersebut dan langsung naik ke kamar dengan wajah yang petak.


''MInggir kau?!" sentaknya.


Jesy terus memperhatikan punggung Jason sudah hilang di balik anak tangga yang terakhir. Tidak tahu apa yang ingin dia dilakukan dengan rumah yang begitu besar tanpa ada yang menemani.


''Mami juga selalu bepergian keliling dunia jadinya aku sendirian di sini,'' kesalnya.


Jason meneguk wine mengurangi rasa kesal satu harian ini. Tidak lupa nasi yang dicampur dengan sambal pedas habis dilahap.


''Satu bulan ini tidak ada kabar mengenai keberadaanmu Claire, kau akan menyaksikan sesuatu yang mengerikan,'' janji Jason lalu bungkus nasi dia lempar ke bawah hingga mengenai kepala Jesy.


Jesy kebetulan berkeliling untuk mengurangi rasa kekesalannya namun justru semakin kesal.

__ADS_1


''Kak Jason keterlaluan?!'' teriaknya kuat sehingga penghuni rumah tersebut tertawa namun tidak dengan Jason.


''Astaga kenapa sampai lupa mengatakan kepada dokter, sampai kapan aku mengalami ini?" kesalnya.


Nama tiba-tiba lamunannya buyar karena mendengar suara gedoran pintu berulang kali kena ketuk.


''Kak, buka atau tidak?!" teriaknya.


''Anak ini benar-benar menggangu ketenanganku. Sebaiknya aku mengirim dia ke Dubai biar di ruqyah,'' ucapnya lalu dibuka.


''Lama banget sih kak buka pintunya, lihat tanganku sampai merah!" rutuk ya.


''Mau apa kau ke sini?" tanya Jason datar.


''Kak, jangan galak nanti cepat tua lalu nanti tidak bisa menggendong anak lho,'' peringat Jesy.


''Bilang saja langsung point ya, aku masih banyak pekerjaan yang harus ku urus!" pekiknya.


''Kakak mau tidak bekerja sama untuk mencari keberadaan Claire?" ucap Jesy santai.


Kali ini mereka duduk bersama bangku sofa yang begitu panjang muat untuk tiga orang.


''Apa yang ku harapkan darimu? Padahal kisahmu yang seharusnya kau ceritakan terlebih dahulu baru Claire,'' protes Jason.

__ADS_1


''Kalau Jesy nanti menceritakan semua yang terjadi dahulu, pencaharian Claire tidak akan pernah dilanjutkan walaupun ia sudah memiliki anak.'' Kedua bola mata Jason terbuka lebar mendengar penuturan Jesy membuatnya bingung serta takut.


__ADS_2