Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Menandatangani Surat Cerai


__ADS_3

Rio dan ibu Ria bersamaan menuju ke rumah sakit karena tujuan mereka sama.


"Kakak kerja dulu ya Claire," ucap Rio halus.


"Hati-hati ya kak," balas Claire.


"Ya, kalau butuh sesuatu hubungi saja kakak kalau tidak pelayan minta," tambah Rio.


Claire mengangguk mengerti lalu ia menghampiri ibu ria habis selesai menghubungi seseorang.


"Kamu semakin cantik nak," ucap ibu Ria.


"Masa sih Bu? Claire kan tidak pernah mengenakan make-up apalagi karena hamil bawaannya pengen banget rebahan," kekeh Claire malu.


"Ya nak, tapi jangan dibiasakan ya malas ambil kesibukan di rumah ini," ucap ibu Ria lagi.


"Ya Bu, Claire akan coba." Ibu Ria dan Rio berangkat kerja.


Selama perjalanan Rio terlihat gelisah kadang menyetir mobil tidak fokus hingga ibu Ria menjadi waspada.


"Nak, suasana hatimu sedang buruk kah?" tanya ibu Ria.


"Maaf Bu, Rio lupa jalan bersama ibu," jawabnya gugup.


"Jujur saja nak, kepribadianmu tidak seperti ini. Ibu tahu betul tentangmu walau baru kita kenal." Rio hentikan mobilnya ke pinggir karena saat ini adalah waktu yang mengobrol dengan ibu Ria.


"Bu, Rio ingin Jason dan Claire cerai," ucapnya pelan.


"Apa?! Kau tidak bercanda kan Rio?" pekik ibu Ria.


"Saya serius Bu. Claire terlalu banyak menderita bahkan selama kami masa pendidikan keluarganya kerap sekali menyiksa dirinya. Tapi Claire tidak pernah menjawab pertanyaan ku," keluh Rio.


"Jason mana mau pisah Rio? Kau tidak tahu Jason pria yang mengerikan?" tambah ibu Ria.


"Karena dia pria yang mengerikan Rio ingin bahagia kan Claire, Bu." Ibu Ria menjadi pusing tujuh keliling.


"Claire sudah tahu hal ini?" tanya ibu Ria.


"Belum Bu," jawabnya pelan.


"Ibu belum bisa jawab nanti kita bicarakan ini lagi." Rio mengangguk mengerti lalu kembali menuju ke rumah sakit.


Setibanya di sana langkah Rio dan ibu Ria terhenti karena Jason sudah berdiri tepat di hadapan mereka berdua.


Rio langsung masuk ke dalam karena tidak mau Jason curiga dengan mereka.


"Jason sudah melihatku, apa sekarang keberadaan Claire akan terungkap?" batinnya.


"Selamat pagi Nyonya Ria," sapa Jason.


"Pa-pagi Tuan Jason, anda tiba dari jadwal yang sudah dibuat?" alih ibu Ria.


"Ya, siang ini saya harus ke luar kota," ucapnya.


"Silahkan masuk Tuan Jason." Jason mengangguk mengerti kedua bola matanya menyapu seluruh rumah sakit ibu Ria bersih serta rapi.


"Nyonya Ria bisa saya bertanya sesuatu?" tanya Jason.


"Ya, apa itu Tuan Jason?" Jason mengalihkan pandangannya ke arah Rio sedang mengobrol dengan pasien.


"Dia Rio anak angkat saya tapi untuk saat ini dia belum mau karena masih memikirkan masa depannya. Dia tidak mau ketergantungan dengan saya karena itu mandiri adalah jalan utama untuknya meraih kesuksesan," ucap ibu Ria.


Jason tidak terlalu menanggapi lalu mereka masuk ke dalam lift menuju ruangan ibu Ria. Mereka berdua membicarakan proyek rumah sakit selanjutnya.


Lantai unit gawat darurat Rio tidak tenang Jason terus datang ke rumah sakit ini. Sewaktu-waktu dia akan mengetahui keberadaan Claire.


"Dokter Rio anda di panggil ibu Ria ke ruangannya," panggil suster.


"Ya," balas ya.


Rio heran ibu Ria memanggilnya padahal Jason masih ada di sana. Kegugupannya semakin dalam karena mereka bertiga sudah berada dalam satu ruangan.


"Ibu memanggil saya?" tanya Rio berbasa-basi.


"Kamu sudah kenal belum Tuan Jason?" tanya ibu Ria halus.


"Belum Bu," jawabnya dingin.


"Tuan Jason menginginkan kerjasama dengan kita proyek rumah sakit selanjutnya berada di pusat kota. Beliau ingin kamu yang gantikan ibu handle!" tambah ibu Ria.


"Kenapa harus saya? Jason pria picik," dengus Rio.


"Dokter Rio?" panggil Jason karena tidak ada sahutan.


"Baik!" ucapnya spontan.


"Nyonya Ria kesepakatan selesai saya harap kerjasama ini membuahkan hasil yang signifikan," tambah Jason.


"Saya juga mengharapkan itu Tuan Jason," angguk ibu Ria.


"Baiklah, saya harus ke luar kota." Jason berdiri namun sebelum meninggalkan tempat itu dia melirik kepada Rio.


"Saya antar anda ke depan Tuan." Jason mengangguk.


Rio membiarkan Jason di depan belakang sambil memperhatikan bahasa tubuh pria yang sudah menyakiti Claire.


''Dokter Rio, sejak kapan bekerja di sini?" tanya Jason.


''Baru Tuan,'' jawabnya singkat.


''Oh ya, setelah saya pikir dari tadi sepertinya anda pernah bekerja di rumah sakit milikku?" Rio mengangguk lalu sesampainya di halaman parkiran Jason masuk ke dalam.

__ADS_1


''Baguslah! Menjadi dokter itu tidak mudah dan harus banyak pengalaman.'' Jason langsung menutup pintu.


''Hati-hati di perjalanan Tuan,'' ucap Rio sambil menunduk.


Jason langsung meluncurkan mobilnya sambil memperhatikan Rio dibalik cermin mobilnya.


''Derulo, pria itu yang kau sebut teman Claire dulu?" tanya Jason.


''Ya Tuan, tapi informasi yang saya dapatkan sampai sekarang kalau dokter Rio tidak ada terlibat mengenai hilangnya Nona,'' jawab sekretaris Derulo.


''Dari wajahnya terlihat seperti itu Derulo.'' Tidak ada obrolan lagi Jason langsung menuju keluar kota.


Rio tidak jadi memeriksa pasien langsung menuju ke ruangan ibu Ria. Begitu banyak yang harus dia tanya keinginan Jason.


''Bu?" panggil Rio halus.


''Kau sudah mengantar Jason?" tanya ibu Ria.


''Sudah Bu. Ada yang ingin aku katakan kepada ibu?" ucap Rio lalu mereka berdua lalu duduk.


''Soal kerjasama proyek kah?" tanya ibu Ria.


''Ya Bu, kenapa aku terlibat dalam proyek ini?" tanya ya.


''Biar Jason tidak menaruh curiga kepada kita Rio. Kau lupa pernah bekerja di rumah sakit ya kan?" Rio baru menyadari hal itu dia merasa bodoh.


''Sekaligus teman Claire dahulu Bu,'' lirihnya.


''Saat ini Jason mungkin sudah mengetahui hubunganmu dengan Claire, Rio,'' ujar ibu Ria.


''Apa?!'' pekiknya.


''Ikuti apa yang ibu katakan ya, kau menginginkan Jason dan Claire cerai kan? Inilah saatnya Rio!" tambah ibu Ria.


''Tapi Jason pria yang pintar dan tidak akan pernah mau menandatangani surat itu Bu?" ucapnya cemas.


''Jadikan Claire sebagai alat agar mereka berdua cepat bercerai, kau tidak tahu bagaimana terpuruknya ia melewati masa ini?" Rio memutar kembali semua perlakuan ibu dan Larisa serta Jason.


''Malam ini Rio akan yakinkan Claire, Bu,'' ucapnya dengan penuh percaya diri.


''Semoga berhasil Rio,'' batin ibu Ria.


Rio kembali beraktivitas dan sesekali menghubungi Claire bahkan sedetikpun dia tidak mau melewatkan momen itu.


''Bagaimana perasaanmu hari ini, Claire?" tanya Rio.


''Baik kak tapi aku ingin makan buah anggur kak langsung dari pohonnya,'' pintanya.


''Anggur? Dari mana ada pohon anggur di daerah kita ini Claire?" tanya Rio sambil menggaruk kepalanya.


''Claire juga tidak tahu kak tapi kalau tidak ada tidak masalah kak,'' ucapnya pelan.


''Makan apa hari ini?" tanya Rio mengalihkan obrolan karena dia perlu memikirkan cara untuk mencari buah anggur.


''Pasti enak ya?'' Claire tertawa kecil mendengar suara Rio yang terdengar lucu.


''Kakak mau? Satu ekor lagi kak ada di sini?'' serunya.


''Benarkah? Baiklah nanti kakak akan makan sekarang aku harus kembali memeriksa pasien Claire,'' pamitnya.


''Baik kak,'' ucapnya lalu panggilan merasa berdua putus.


Claire kembali beraktivitas bersama dengan pelayannya untuk mengurangi bosan mereka berdua melakukan bercocok tanam di belakang rumah. Hampir dua jam menyusun berbagai macam bunga namun, suara pintu bel mengalihkan pandangan mereka berdua karena tidak ada tamu yang diundang kecuali hanya ibu Ria.


''Siapa itu Mbak?" tanya Claire takut.


''Nona lebih baik masuk ke dalam biar Mbak yang melihatnya ke depan,'' seru pelayan tersebut.


''Baik,'' jawabnya cepat.


Claire memperhatikan dari dalam karena ia juga penasaran siapa yang datang ke rumah ini. Pelayan mengintip dari dalam sesuai dengan pesan Rio tidak boleh ada siapa pun yang masuk ke dalam kecuali dia dan ibu Ria.


''Siapa wanita muda itu?" gumam Claire.


''Cari siapa Nona?" tanya pelayan dari dalam dan tidak berani membuka pintu.


''Bibi, saya tersesat di daerah ini untuk kembali ke kota jalannya dari mana ya?" tanya Jesy.


''Nona datangnya dari mana?" tanya ya.


''Saya sedang mencari seseorang di daerah ini tapi salah alamat,'' tambah ya.


''Nona lurus ke depan di ujung sana ada simpang lalu masuk ke kiri!" tunjuk ya.


''Boleh bantu saya Bibi?" pinta ya.


''Saya sedang bekerja Nona, tidak berani keluar kecuali majikan yang menyuruh,'' tolaknya.


''Ayolah bibi, saya seorang wanita muda daerah ini tidak ku ketahui, bagaimana nanti terjadi sesuatu?" mohon ya.


Obrolan mereka berdua terhenti karena mobil Rio handak memasuki halaman rumah. Suara klakson membuat Jesy tergelonjak kaget.


''Astagfirullah?! Telingaku tidak tuli, bisa tidak kondisikan suara klakson ya?" teriak Jesy.


''Minggir!" ucap Rio datar.


''Eh, kau pikir jalan ini milikmu?" sentak Jesy bahkan yang diajak berantem sama sekali tidak menunjukkan wajahnya.


''Wanita ini sepertinya mengajak perang?" geram Rio.


''Keluar tidak?" teriak Jesy hingga akhirnya kaca mobil terbuka namun tidak seluruhnya.

__ADS_1


''Anda menghalangi jalan saya memasuki rumah ini, minggir!" usir Rio.


Jesy terbelalak dia begitu malu karena sudah menunjukkan sisi preman ya. Pelayan dengan cepat langsung membuka pagar yang cukup tinggi.


''Maaf ya Nona, saya harus kembali masuk ke dalam karena majikan sudah pulang,'' pamitnya.


''Apa majikan?'' ucapnya geram.


Rio melihat Jesy dari balik kaca spion mobilnya sebelum keluar, semakin lama keberadaan Claire tidak aman karena orang-orang dekat Jason berkeliaran di sekelilingnya.


''Claire harus aku sembunyikan lebih dalam,'' ucapnya dalam hati.


''Tuan maaf saya minta maaf terlalu lama membuka pagar karena wanita itu telah minta tolong untuk keluar dari daerah ini,'' ucap pelayan tersebut.


''Dia tersesat?" tanya Rio.


''Ya Tuan,'' jawabnya.


''Wanita sekelas Jesy bisa tersesat di daerah ini?" gumam Rio tidak percaya.


Claire menyambut kepulangannya dengan senyumannya yang manis. Rio merasa adalah dalam dirinya satu harian ini sekejap hilang.


''Tumben kakak cepat pulang?" kekeh Claire.


''Ikan bakar, kakak harus memakannya saat ini juga,'' tawanya.


Claire tertawa kecil lalu mereka berdua masuk dalam, sementara Rio naik ke atas untuk membersihkan tubuhnya dan Claire menyiapkan nasi dan ikan bakar di dapur.


Rio begitu senang dilayani Claire sampai nasi dalam piringnya ia isi. Senyumannya tidak lepas sampai disitu saja, Claire sudah seperti istri idaman.


''Maaf ya kak, hanya satu ekor lagi,'' ucap Claire lalu duduk.


''Sepertinya enak,'' alih Rio.


Claire memperhatikan Rio begitu menikmati ikan bakar tersebut sampai habis. Tidak ada tersisa sedikit pun di atas piringnya.


''Enak ya kak?" tanya Claire tidak percaya kalau Rio sampai bersih.


''Ya, apalagi kalau kamu yang memasaknya,'' goda Rio.


''Padahal hanya garam doang kak,'' lirih Claire.


''Tapi enak,'' kukuh Rio.


Namun dalam hatinya berbeda rasanya dia ingin sekali berteriak kalau ikan bakar ini kebanyakan garam.


Setelah selesai makan Rio senang langsung naik ke atas dengan alasan untuk melihat pekerjaannya. Padahal tidak karena ingin membersihkan mulut ya penuh garam.


''Aku pikir Claire pintar memasak ternyata tidak,'' keluhnya.


Claire melihat sisa sedikit ikan bakar lalu ia cicipi lidahnya langsung keluar.


''Kog asin sih?!'' pekik Claire lalu minum bekas gelas Rio.


''Ternyata Claire juga keasinan,'' tawa Rio tidak sengaja melihat Claire memakan ikan bakar buatan ya itu.


Claire langsung menghampiri Rio karena penasaran dengan keadaannya setelah memakan ikan bakar tersebut.


''Kak, kakak tidak keasinan makan ikannya?" tanya Claire cemas.


''Asin? Kakak memakannya manis kog? Memangnya kenapa?" tanya Rio berpura-pura.


''Tadi aku makan ternyata asin kak,'' keluhnya.


''Lidahmu kali yang bermasalah,'' tawa Rio lalu mereka berdua duduk di ruang tengah.


''Benarkah? Sepertinya tidak?" Claire mencoba merasakan lidahnya tidak bermasalah.


''Sudahlah lupakan ikan asin sekarang kakak ingin mengatakan sesuatu kepadamu Claire?" ucap Rio tiba-tiba terlihat serius.


''Apa itu kak?" tanya Claire.


''Bagaimana perasaanmu kepada Jason saat ini? Maaf kakak tidak bermaksud mengungkit ya Claire?" ucap Rio.


''Claire juga tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini kak,'' lirihnya.


''Kakak tahu Claire sudah saatnya kau membuat keputusan agar kehidupanmu masa yang akan datang baik,'' tambah Rio.


''Bagaimana caranya kak? Kakak melihat keadaanku sekarang kan?" lirihnya sambil menatap perutnya yang sudah terlihat berisi.


''Kau mau ceraikan Jason?" Pertanyaan itu membuat jantung Claire berdetak kencang.


''Apa? Tidak mungkin aku ceraikan Jason kak sementara keadaanku seperti ini?" balasnya.


''Apa Jason mengetahui keadaanmu? Tidak kan?'' Claire mengangguk memang sampai saat ini Jason belum mengetahui keadaan yang sedang berbadan dua.


''Aku tidak yakin kak, Jason mau menandatangani surat cerai?" gumamnya.


''Kakak yang akan wujudkan itu semuanya!" seru Rio.


''Caranya kak?" Rio meminta Claire menandatangani berkas yang dia bawa tadi.


Tanpa berpikir panjang Claire menandatangani surat tersebut karena kebenciannya terhadap Jason masih membekas sampai sekarang.


''Kakak akan kabari secepatnya Claire,'' ucap Rio.


''Kakak yakin kan? Jason real yang tidak mudah dihadapi?!" peringat Claire.


''Kalau sudah menyangkut dirimu dia pasti akan luluh Claire, kau tenanglah tidak usah khawatir dan tetap fokus pada kehamilanmu saat ini.'' Claire mengangguk mengerti ia pasrahkan semuanya kepada Rio.


Walaupun berat hati menandatangani surat tersebut ia tidak ada jalan lain untuk lepas dari jeratan Jason.

__ADS_1


''Maafkan bunda nak,'' batin Claire sambil mengusap perutnya dan bulir bening lolos membasahi tangan dan perutnya.


Rio merasa sakit melihat air mata itu kembali ke luar namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2