
Larisa tidak peduli yang dikatakan Rio dia tetap terus menarik pria setengah sadar itu.
"Naik dan pergi sejauh mungkin, kau sama Claire memang benar-benar menyusahkan. Supir bawa dia terserah diturunkan di mana pun!" ucap Larisa.
"Baik Nona," jawab supir taksi tersebut.
"Pria bodoh. Kekasih? Sejak kapan Claire pacaran dengan pria sepertimu," pekik Larisa.
Dari kejauhan Jason dari tadi memperhatikan Larisa mendumel di parkiran. Dia teringat bekas operasi Claire lalu dihampiri.
"Boleh bicara sebentar?" ucap Jason.
"Oh My God?! Apa aku sedang bermimpi?" ucap Larisa sambil menutup mulutnya.
"Ikut aku!" Jason melangkah masuk ke dalam mobil dan diikuti Larisa.
"Kita mau ke mana Tuan Jason?" tanya Larisa pelan.
"Kau tidak mau uang?" lirik Jason.
"Tentu Tuan tapi aku kau tanya sesuatu boleh?" tanya Larisa memberanikan diri.
"Apa itu?" balas Jason sambil fokus menyetir.
"Claire, ia bagaimana sekarang?" Mobil tiba-tiba berhenti tepat di hotel Jason Monta.
"Keluar!" ucap Jason dingin.
"Kita tidak masuk atau di sini melakukannya?" tanya Larisa tidak percaya.
"Tunggu aku di dalam." Larisa senyum penuh arti.
"Baiklah Tuan tampan." Jason memperhatikan Larisa dari belakang.
Tidak tahu apa dalam pikirannya membawa Larisa ke hotel namun tidak masuk ke dalam. Jason memilih kembali ke kediamanku saat ini pikirannya kepada Claire.
Jason merasa telah disihir Claire pikirannya terus menerus kepadanya. Setibanya dia langsung ke kamar ingin mengetahui keadaannya pasca pingsan.
"Anda kembali, Tuan?" ucap Claire Danes dingin.
"Apa yang kau lakukan?" Jason membuang semua isi meja karena Claire tiba-tiba saja merapikannya.
"Aku seorang wanita, melihat yang berantakan mataku jadi sakit. Tapi aku tidak tahu kalau pria sepertimu bisa melihat dan kenyataannya adalah fakta," tantang Claire.
"Kau terlalu banyak mengoceh. Selama beberapa hari ini aku salah sudah lunak kepada wanita sepertimu." Jason dorong Claire hingga ia terlentang di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kau mau apa?" tanya Claire panik.
"Apa? Bukankah ini yang kau mau?" Jason kembali gelap mata tidak peduli Claire memohon aksi ini dihentikan.
"Claire, kau lakukan ini benar pelan-pelan dan pasti suatu saat akan bebas," ucapnya dalam hati.
Jason semakin jengkel Claire memilih diam sambil memejamkan mata. Kekesalannya bertambah setelah mengeluarkan cairannya tidak ada suara teriakan keluar.
"Lama-lama aku akan mati rasa dengan wanita ini," ucapnya dalam hati.
Jason tidak lupa memberikan obat agar diminum setelah selesai berolahraga. Seperti biasa, Jason langsung meninggalkan Claire dalam keadaan polos serta jejak yang banyak berserak di mana-mana.
"Tubuhku sakit sekali, sekian lama pria itu melakukannya tapi ini paling sakit. Apa karena aku lemah?" tangisnya.
Pelayan masuk membawa pakaian ganti Claire setelah melihat Jason keluar. Mereka berdua prihatin melihat keadaan Claire namun menolong pun tidak bisa.
"Nona, kami membawa pakaian ganti anda," ucap ya.
"Aku mau istirahat, kalian keluar!" balas Claire.
"Tapi sesuai dengan prosedur anda harus mandi dan tempat tidur wajib dibersihkan setelah Tuan keluar." Claire benar-benar jengkel ia duduk lalu mengulung rambut ya ke atas.
Banyak stempel warna merah dari leher hingga ke bawah terlihat begitu kontras. Setelah berpakaian Claire turun pelan-pelan karena kepalanya berdenyut.
"Sepertinya aku demam," ucapnya sambil menyentuh keningnya.
"Karena kau, kesehatanku berkurang. Maaf ya aku mengeluh seharusnya tidak karena aku ikhlas memberikannya kepadamu," ucap Claire lalu ia tersenyum kecut.
Makan malam telah tiba bagaikan tahanan kosong empat hari ia makan apa adanya. Wajah yang cantik itu semakin lama terlihat pudar karena termakan batin.
"Apa ia sudah makan?" tanya Jason.
"Ya Tuan," jawab pelayan tersebut.
Jason kembali menikmati makanannya tapi pikirannya kembali kepada Claire. Seharusnya dia menahan diri agar tidak memaksa melakukan hubungan itu pasca diobati.
"Lama-lama aku butuh ahli psikologis," ucapnya kesal.
Malam semakin larut Jason memilih kerja daripada memiliki Claire membuat tubuh kekarnya tersiksa.
Keesokan harinya Jason mengadakan rekrutmen pegawai rumah sakit khusus untuk tamu spesial. Peserta tercantum begitu banyak karena gaji yang dicantumkannya fantasis.
"Tuan sebenarnya mau rekrutmen pegawai buat siapa sampai mencari orang ya begitu teliti?" bisik perawat rumah sakit terdekat.
"Kita tunggu dan lihat saja. Tuan Jason tidak pernah menyembunyikan sesuatu tapi kali ini aku ingin tahu apa yang disembunyikan." Para staf rumah sakit benar-benar pusing memilih kriteria yang diinginkan Jason.
__ADS_1
Sampai sore hari kandidat itu belum juga di temukan akibatnya gaji kena potong setengah.
"Bagaimana aku lunasi kreditan kalau gaji dipotong setengah?" keluh salah satu dari mereka.
"Ya kau benar, padahal tanggungan banyak malah kena masalah." Mereka bertiga menyusuri halaman parkir.
"Nona, boleh kita bicara sebentar?" tanyanya.
"Ya, apa ada yang bisa kami bantu?" balas perawat tersebut.
"Di mana saya bisa mengantar lamaran ini?" Perawat memberitahukan lantai berapa dan cara prosedur ya agar daftar dengan baik.
Setibanya hanya beberapa orang yang belum selesai melakukan wawancara ekslusif. Akhirnya namanya di panggil maju dengan wajah penuh percaya diri.
"Kau seorang medis?" tanya kepala rumah sakit.
"Benar," jawabnya lantang.
"Kenapa mau bekerja di sini padahal waktunya hanya tiga bulan?" tanyanya lagi.
"Kalau perut sudah lapar apapun akan dikerjakan Pak dokter yang terhormat," sindirnya.
"Pernah bekerja di mana?" Pertanyaan ini membuatnya jengkel.
"Apa kalian tidak baca dulu baru bertanya kepada saya?" Semua kaget langsung panik.
"Beraninya kau mengatakan itu kepada kami, saat ini juga kau di diskualifikasi?!" bentaknya.
"Menyebalkan, mana ada ya mau kerja sama kecuali CEO yang memilih." Suara tepukan tangan mengagetkan semua yang ada di sana.
"Sayangnya kau adalah yang pantas besok datang ke alamat ini." Setelah itu Jason langsung meninggalkan rumah sakit.
Pria itu adalah Rio tidak menyangka bisa diterima dalam waktu yang singkat tapi dia heran kenapa diterima padahal peserta lain masih lebih bagus kualifikasinya.
"Ini namanya rejeki. Setelah ini aku pasti bisa menemukan Claire walaupun perasaan ini sakit," ucapnya.
"Pantau pria itu baru pertemukan dia dengan Claire, kau mengerti Derulo?" ucap Jason tegas.
"Baik Tuan. Kalau boleh tahu apa rencana anda mempertemukan Nona dan pria ini Tuan?" tanya sekretaris Derulo.
"Karena dia adalah pria demensia." Sekretaris Derulo naikkan alisnya dia tidak salah dengar yang dikatakan Jason barusan.
"Tuan muda mungkin yang demensia. Hanya karena Nona Claire hidup anda jadi rumit," rutuk sekretaris Derulo.
Claire melihat kedatangan Jason ia tidak terkejut lagi baginya pria dewasa itu menghampirinya.
__ADS_1
"Aku harus siap-siap melayani pria ini," ucapnya dalam hati.