
Jason menggebrak meja hingga para pelayan ketakutan melihat wajah sang majikan yang menakutkan.
"Korban apa yang kalian maksud?" tanya Jason.
"Maaf Tuan, kami salah menyebut nama," elak pelayan tersebut tanpa diketahui siapa namanya.
"Apa? Lalu atas dasar apa kalian bicarakannya?" tanya Jason terus.
"Tuan, ketahuilah kalau kami hanya seorang pelayan mengabdi kepada majikan. Hal itu tidak luput kepada Nona Claire sudah pergi dengan sakit yang beliau derita selama di sini. Kalau anda ingin hukum saya karena lancang bicara, saya siap Tuan," ucapnya sambil menangis.
"Sakit? Wanita itu pantas mendapatkannya karena ia sudah kubeli dari ibu ya yang bodoh." Para pelayan sama sekali tidak terkejut karena sudah biasa melihat Jason seperti itu tapi ada yang menarik dari Claire sehingga mereka kasihan terhadapnya.
Jason langsung meninggalkan dapur dengan perasaan yang begitu jengkel. Masalah tambah dalam hidupnya, bukan tidak senang kedatangan Jesy.
"Di mana kau, Claire?" gumamnya.
"Tuan, kami mendapatkan informasi kalau Nona pergi meninggalkan kota ini," lapor sekretaris Derulo.
"Ke mana Claire pergi?" Yahya Jason panik.
"Luar negeri Tuan," balas sekretaris Derulo.
"Apa? Temukan Claire bagaimanapun caranya Derulo!" perintah Jason.
"Baik Tuan," jawab sekretaris Derulo cepat.
"Claire? Nama wanita itu cantik sekali, pasti orangnya juga cantik," ucap Jesy.
"Sedang apa kau di sana?" tegur Jason.
"Siapa wanita itu sampai kakak mencarinya? Sepertinya ia spesial makanya sekretaris Derulo mencarinya?" tanya Jesy.
"Kisahmu ceritakan, baru kisah Claire kakak ceritakan," potong Jason.
"Tunggu Claire kembali baru aku ceritakan yang sebenarnya," tolak Jesy.
"Kalian di sini?" tanya Nyonya Meneer.
"Mami dari mana?" tanya Jesy.
__ADS_1
"Kau tidak melihat mami sedang belanja pakaian musim panas nanti," jawabnya lalu duduk.
"Habiskan duit ujungnya," cibir Jesy.
"Kau dari mana selama ini? Kenapa baru pulang?" tanya Nyonya Meneer.
"Jesy ceritakan sekarang tidak ada artinya karena itu sudah masa lalu." Jesy membuang wajahnya ke samping karena gondok mendengar pertanyaan Nyonya Meneer.
"Jesy, kakak mau bicara denganmu!" Jason langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Kalian dua mau ke mana? Mami baru saja tiba sudah ditinggal?" panggil ya.
"Mami lebih baik susun pakaian itu, kalau bisa buat museum samping rumah kakak," teriak Jesy.
"Oh itu lebih baik." Dengan senang hati Nyonya Meneer menyuruh pelayan melakukan seperti yang dikatakan Jesy.
"Kakak mau bicara apa?" tanya Jesy sambil melipat kedua tangannya.
"Selama ini kakak terpuruk karena kau hilang tiba-tiba. Terakhir kali kejadian yang kau timpa adalah beberapa pria membawamu ke sebuah kapal pesiar." Jesy mengepalkan tangannya hal itu tidak akan pernah dia lupakan.
"Cari dulu Claire kak, baru aku ceritakan yang sebenarnya." Hanya mengatakan itu Jesy meninggalkan ruang kerja Jason.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya sekretaris Derulo kaget melihat ruang kerja Jason hancur.
"Jesy, dia sudah kembali Derulo tapi tidak mau bercerita tentang kehidupannya dahulu dan bersikeras untuk menemukan Claire terlebih dahulu," ucap Jason.
"Maaf Tuan, saya tidak mengetahui kepulangannya," balas sekretaris Derulo bersalah.
"Untuk sementara ini cari tahu apa yang terjadi dengan Jesy. Kau jangan lupa juga mencari keberadaan Claire, aku terlalu menganggap remeh dengan wajah polos itu, ia bisa mengelabuiku dalam sekejap." Jason memukul meja hingga tangannya sedikit memar.
"Baik Tuan Muda." Setelah itu sekretaris Derulo meninggalkan ruangan yang sudah bagaikan kapal pecah.
Di tempat lain Claire dan Rio baru saja tiba di desa Indramayu, mereka berdua langsung disambut oleh kepala desa yang begitu baik karena sudah berbicara dengan ibu Ria sebelumnya.
"Saya sudah menerima panggilan dari ibu Ria dan mengetahui kondisi kalian berdua. Nak Rio, kau disini adalah sebagai dokter umum saya tunjuk karena desa ini memerlukan sosok dokter seperti anda," terang kepala desa.
"Terima kasih Pak, saya akan bekerja sebaik mungkin dan melayani masyarakat di sini sebaik mungkin," jawab Rio.
"Nak Claire, untuk saat ini kalian berdua saya nyatakan sebagai suami istri untuk menghindari desas-desus di desa ini." Claire dan Rio saling pandang, padahal ia adalah istri Jason.
__ADS_1
"Pak, bagaimana mungkin kami melakukan peran itu padahal kami hanya sebatas teman," tolak Rio namun perasaannya begitu senang mendengar ucapan kepala desa.
"Tolong hargai posisi saya sebagai kepala desa di sini nak, kalian berdua datang dari kota tentu tinggal bersama tanpa status sudah biasa namun di sini berbeda." Rio baru menyadarinya lalu mereka berdua mengangguk mengerti.
"Baik Pak kami mengerti," balas Rio.
Kepala desa meninggalkan mereka berdua lalu kini hanya Claire dan Rio tinggal dalam satu atap. Kecanggungan diantara mereka berdua terlihat begitu jelas hingga Rio sesekali menabrak dinding karena dia sesekali melirik Claire sedang berbenah.
"Kak, boleh kita bicara?" panggil Claire.
"Tentu, apa yang ingin kau bicarakan Claire?" tanya Rio.
"Claire minta maaf kak," lirihnya.
"Hei, kenapa kau harus minta maaf kepadaku?" tanya Rio sambil menangkup wajah Claire.
"Dari dulu aku selalu menyusahkanmu." Claire menangis sesenggukan ia sangat sakit setelah apa yang dialaminya.
"Aku mau tanya boleh?" tanya Rio.
"Apa?" tanyanya manja.
"Sejak kapan kau memanggilku kak Rio?" goda Rio.
"Aku ralat, Rio," ucapnya malu karena wajahnya terlihat semu merah.
"Istirahatlah, besok kita harus buka lembaran baru bersama dengan baby." Tanpa sengaja atau tidak Rio mengusap perut Claire berulang kali.
Claire tertegun ia seketika membeku merasakan tangan itu mengusap perutnya. Ada getaran aneh ketika itu menyentuhnya, air mata itu lolos begitu saja karena seharusnya Jason lah di sana bukan Rio.
"Sedang apa pria itu?" batinnya.
"Kau lagi memikirkan apa, Claire?" tanya Rio tidak sengaja melihat Claire menatap kosong.
"Jason, dia pasti akan terus mencari kita Rio," lirihnya.
"Kau jangan khawatir ya, kakak ada menjagamu," bisik Rio.
"Ya kak," angguk Claire.
__ADS_1
"Besok kita lanjutkan, sebaiknya kau beristirahat wajahmu lelah sekali." Claire tersenyum kecil menanggapi ucapan Rio lalu ia menatap punggung itu sudah hilang balik pintu.