
Jesy tampak berpikir yang dikatakan Ibu Ria itu benar dengan adanya suara tangisan anak-anak tertentu ya mendapatkan keajaiban.
''Aku harus bicara dengan kak Jason,'' gumamnya.
Setelah memastikan keadaan anak-anak tidur dengan nyenyak Jesy menuju ke ruangan Claire. Jason sengaja membuat Claire dan anak-anak saling berdekatan agar mudah untuk menjenguk.
Namun langkah Jesy terhenti karena melihat Jason memeluk Claire.
''Kasihan kamu kak Jason,'' lirihnya.
Jesy mengurungkan niatnya untuk menemui Jason dia lebih memilih menuju ke taman untuk menghirup udara segar.
Udara yang dingin tidak mempengaruhinya untuk lepas dari bau obat. Tiba-tiba pandangannya tertuju ke depan, dia melihat sosok pemuda yang sedang memukuli pohon mangga tidak jauh darinya.
''Bukankah itu dokter Rio?" gumam Jesy.
''Apa yang harus kulakukan sekarang, Claire?'' ucapnya dan tidak memperdulikan tangannya sudah mengeluarkan noda berwarna merah.
''Dokter Rio?" panggilnya.
Rio menghentikan aksinya secara perlahan berbalik wajahnya terlihat kusut karena tidak tidur beberapa hari ini.
''Mau apa kau?" ujarnya tidak suka melihat Jesy.
''Apa yang kau lakukan? Tanganmu sudah berdarah ayo aku bantu mengobati?" ucap Jesy prihatin melihat keadaan Rio yang acak-acakan.
''Lepaskan! Kau tidak berhak menyentuh tanganku ini!" sentaknya hingga Jesy terhempas, untung saja tubuhnya ditahan agar tidak jatuh.
''Tanganmu harus diobati dok, bagaimana nanti mengobati pasien kalau tanganmu seperti ini?" tambah Jesy, dia benar-benar khawatir dan tidak memperdulikan penolakan Rio.
Rio berdecak kesal tanpa mengatakan sepatu kata pun langsung masuk ke dalam. Dia membiarkan Jesy mengikutinya dari belakang.
''Pria keras kepala,'' gerutunya.
Beberapa perawat langsung datang menghampiri Rio mereka begitu panik melihat dokter mereka luka.
''Kalian bersihkan tangannya sabar cepat pulih, jangan sampai terinfeksi nanti bahaya,'' peringat Jesy.
''Ya Nona,'' jawab mereka bersamaan.
''Pergi!" usir Rio.
''Apa? Kondisimu belum pulih tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini!" tolaknya.
''Aku bilang pergi dari sini!" sentaknya lagi.
__ADS_1
''Aku tidak mau,'' balasnya.
Rio beranjak dari sana hendak meninggalkan rumah sakit karena dia tidak mau melihat wajah Jesy. Sama saja dia melihat Jason yang begitu jahat kepada Claire.
''Kau mau kemana tanganmu belum selesai dibersihkan?" tahan Jesy.
''Diam kau?!" bentaknya.
Jesy melongo tidak percaya melihat Rio meninggalkannya di sana sendirian. Bisik-bisik mulai terdengar membuat kupingnya sakit.
Untuk menghindari gosip Jesy berdehem beberapa kali lalu meninggalkan ruangan tersebut.
''Dasar keras kepala,'' gerutu Jesy.
Rio meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang kecewa sampai saat ini Claire belum juga sadar dari koma ya.
Waktu terus berputar hingga mentari telah muncul dari timur sampai mengenai ruangan yang saat ini penuh dengan alat medis. Jason bangun merasakan hangat karena cahaya yang mengenainya begitu juga dengan Claire.
Wajahnya terlihat teduh apalagi sinar matahari yang membuat semakin nyaman dipandang.
''Pagi sayang,'' bisik Jason.
Cukup lama memandangi wajah Claire akhirnya keluar dari sana untuk memastikan keadaan anak-anak.
''Jason cobalah untuk berdamai dengan dirimu sendiri,'' ucapnya dalam hati.
Ibu Ria melihat kedatangan Jason langsung menunjukkan wajahnya yang datar. Berbeda ketika kali bersama dengan baby girl tertawa, tersenyum.
''Nyonya Ria, bisa kita bicara sebentar?" tanya Jason.
''Ya,'' angguknya.
Ibu Ria memberikan baby girl kepada pengasuh lalu mengikuti Jason menuju ke taman.
''Nyonya Ria, ada yang ingin kukatakan kepada anda?" ucapnya.
''Apa itu?" tanya ibu Ria datar.
''Saya minta maaf dengan kejadian kemarin, saya memang pria yang bodoh karena terlalu memendam perasaan. Claire mungkin tidak menyukaiku karena itu,'' lirihnya.
Ibu Ria tersenyum namun tidak ditunjukkan di hadapan Jason, untuk sesaat dia merasa kalau pria di hadapannya ini benar-benar sudah kembali ke semula.
''Saya hanya berharap Claire dapat bangun dari koma ya dan semua bisa kembali berkumpul.'' Jason mengangguk berulang kali hanya itu harapannya sekarang Claire bangun dari koma ya.
''Setelah Claire bangun dari koma, saya siap untuk menanggung akibat dari perbuatan yang tidak baik kepada Claire dulu,'' tambahnya.
__ADS_1
''Jangan terlalu merasa bersalah Tuan Jason, semua orang memiliki masalah dan masa lalu. Saya yakin anda adalah pria yang baik bukan yang dibicarakan orang-orang di luar sana.'' Jason merasa tidak seperti itu namun kalau memang itu yang dikatakan ibu Ria dengan senang hati menerima dengan baik.
''Sekali lagi saya minta maaf Nyonya, mungkin permintaan maaf ku ini tidak di waktu yang tepat namun, saya yakin anda adalah seorang ibu yang berhati mulia,'' tambah Jason.
Ibu Ria terlihat sendu ketika jalan mengatakan dia adalah seorang ibu. Berumah tangga hanya sebentar membuatnya jatuh ke dasar. Untuk menjadi seorang ibu adalah impiannya dahulu kala namun tersendat suaminya harus meninggal.
''Mari kita masuk ke dalam anak-anak sedang membutuhkanmu Tuan Jason,'' alih ibu Ria.
''Panggil saja Jason, saya pikir tidak baik ibu mengatakan itu karena anda adalah sekarang ibu mertuaku.'' Ibu Ria terharu mendengar ucapan Jason, kini dia benar-benar menjadi wanita sempurna memiliki anak dan keluarga.
''Ya,'' ucapnya berbinar.
Jason pengen kembali ke semula kehidupannya yang dahulu berantakan. Kedatangan Claire dalam hidupnya benar-benar membuat perubahan besar.
''Kakak dari mana saja?" tanya Jesy heran karena tidak melihatnya dari tadi pagi.
''Ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan,'' ucapnya.
Jesy melihat ibu Ria yang dari tadi berbinar bahkan senyumannya tidak mau dilepaskan.
''Apa ada sesuatu yang terjadi, Bu?" bisik Jesy.
''Apa ya Nak?" tanya ibu Ria berpura-pura tidak mengerti.
''Ah lupakan.'' Ibu Ria terkekeh melihat Jesy sudah ambruk di atas sofa untuk beristirahat.
''Anak Daddy wangi sekali,'' ucap Jason sampai menghirup aroma baby dalam tubuh anak-anak.
''Mereka baru dimandikan kak,'' balas Jesy tetap dalam posisinya.
''Jadi aunty ya belum mandi?" goda Jason.
''Enak saja, gini-gini sudah mandi ya,'' kesalnya.
Ibu Ria tertawa melihat Jesy yang begitu lucu mereka begitu fokus melihat perkembangan baby. Namun tiba-tiba Jesy beranjak dari sana untuk bicara empat mata dengan Jason.
''Kak, aku punya usul mengenai anak-anak,'' pekiknya hingga Jason cukup terkejut mendengar suara cempreng Jesy.
''Bicara bisa bagus tidak kupingku sakit Jesy?!" protesnya.
''Maaf, habisnya baru kuingat dari tadi sibuk ke sana ke sini,'' kekeh ya.
''Mau bilang apa sepertinya serius?" tanya Jason sambil menatap wajah adiknya itu yang terlihat lelah karena banyak mengurus anak-anak.
''Kak, tadi aku bicara dengan seorang dokter katanya bisa Claire dan anak-anak satu ruangan. Mungkin kakak tahu kontak batin bisa jadi Claire bakal bangun karena mendengar suara tangisan,'' ucapnya sambil memperhatikan ekspresi wajah Jason.
__ADS_1