
Claire memilih mematikan televisi tiba-tiba mood ya berubah melihat wajah Jason, apalagi mendengar ucapannya itu membuat pikirannya menjadi tidak karuan.
Pelayan memberitahukan kepada Rio kondisi Claire karena sudah mendapatkan perintah agar diperhatikan setiap waktu.
''Nona sudah ke kamar Tuan,'' lapor ya.
''Pergi kau kamar dan pastikan Claire tidak kenapa napa!" perintahnya.
''Baik Tuan,'' jawabnya.
Pelayan langsung menuju ke kamar Claire sambil membawa minuman serta buah.
''Nona, saya membawa buah,'' panggilnya sambil mengetuk beberapa kali.
''Ya Mbak,'' jawab Claire lalu mengusap wajahnya yang sudah basah.
''Maaf Nona, saya mengganggu,'' ucapnya.
''Tidak apa-apa, ayo silahkan masuk ke dalam!" ajak Claire.
Pelayan tersebut mencuri pandang mengenai ekspresi wajah Claire setelah melihat Jason dibalik layar.
''Kak Rio tumben tidak menghubungiku ya Mbak?" tanya Claire lalu ia memakan buah tersebut.
''Mungkin Tuan banyak pasien Nona,'' jawabnya sambil mengelupas buah apel.
Claire kembali terlihat sendu rasanya ia ingin sekali bebas seperti dulu tanpa ada yang mengganggu. Namun untuk saat ini dirinya kena kurung untuk sementara waktu untuk menghindari Jason.
''Mbak, aku bosan di rumah,'' keluh Claire.
''Nona, saya tidak bermaksud untuk melarang keluar namun saat ini tidak bisa,'' tolaknya.
Claire memilih untuk menjatuhkan tubuhnya yang semakin lama terlihat berisi. Untuk duduk saja ia mulai kesulitan.
''Mbak, aku ingin tidur,'' ucapnya pelan.
''Baik Nona.'' Pelayan tersebut keluar sekaligus melapor kepada Rio.
Di tempat lain Jason merasa semangat hidupnya tidak ada lagi. Berusaha keras untuk mencari keberadaan Claire namun petunjuk yang dia dapat belum membuahkan hasil.
''Derulo, belum mendapatkan informasi keberadaan Claire?" tanya Jason lemas.
''Saya sudah memerintahkan anak buah ke puncak gunung Tuan tapi jejak Nona di sana tidak ada ditemukan,'' ucapnya.
''Kenapa jejaknya tidak ada?'' tanya Jason lagi.
''Saya menduga ada orang kuat yang melindungi Nona untuk saat ini Tuan.'' Jason membuka kedua mata ya se lebar mungkin.
''Kau yakin dengan dugaan mu ini, Derulo?" tanya Jason.
''Ya Tuan, bahkan nama pemilik vila di gunung sama sekali tidak ada Tuan.'' Jason menaikkan alisnya.
''Claire?" ucapnya lirih.
Mobil mewah milik Jason memasuki halaman rumah ya dia langsung disambut oleh Jesy dengan senyuman lebar.
''Hai kak, tumben cepat pulang?" sindir Jesy.
''Minggir!'' Jesy sempat mundur beberapa langkah karena Jason mendorongnya.
''Kakak apaan sih main dorong,'' kesal Jesy.
''Kau menghalangi jalanku, makanya jangan di pintu,'' tambah Jason.
''Kak, Jesy mau bertanya sesuatu boleh?" tanya Jesy terus mengekor.
''Apa?" balas Jason ketus.
''Serius kakak mengatakan itu yang di pers?" Langkah Jason langsung terhenti lalu menatap Jesy datar.
''Menurutmu bagaimana?" tanya Jason.
''Kakak pelan-pelan ternyata sudah mencintai Claire ya?" tebak Jesy.
Wajah datar Jason langsung terlihat merah mendengar tebakan Jesy.
''Claire itu masih istriku tentu aku mencintainya.'' Jason langsung meninggalkan Jesy begitu saja dan menuju ke atas.
''Kakak mah gengsi ya tinggi,'' cebik Jesy lalu dia kembali ke kamar.
Jason melempar jas yang dia gunakan satu harian ini di atas sofa. Pikirannya terus-menerus kepada Claire, padahal dulu dia tidak pernah memikirkannya yang ada memberikan perlakuan buruk.
''Kalau sudah seperti ini aku jadi ingin makan udang pedes,'' kesalnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering dengan malas dia mengangkat karena sekretaris Derulo menghubunginya.
''Apa?!" sentak Jason.
''Tuan mau udang bakar, saya lagi berada di pinggir jalan yang kemarin,'' ucap sekretaris Derulo.
''Bawa ke sini!" balasnya sambil berdehem.
''Sampai kapan mood ya kembalinya?" gumam sekretaris Derulo setelah mematikan telepon ya.
Jason memilih menuju ke kamar mandi karena tubuhnya lengket setelah satu harian menjamu para tamu.
Di bawah guyuran air panas Jason tidak pernah melepaskan pikirannya terhadap Claire. Hanya tiga puluh menit kembali ke kamar hanya menggunakan handuk.
''Kak, Om Derulo datang!" teriak Jesy.
''Berisik tahu, kau pikir kakak tuli,'' pekik Jason.
''Aku sudah memanggil kakak dari tadi tapi tidak ada sahutan,'' kesalnya.
__ADS_1
''Bilang kepadanya tunggu sebentar,'' ucap Jason.
''Ya,'' balas Jesy lalu meninggalkan kamar Jason yang luas dan rapi.
Tidak lama kemudian Jason turun ke bawah menggunakan pakaian santai. Sekretaris Derulo langsung berdiri melihat kedatangan Jason.
''Duduk Derulo, bantu aku menghabiskan udang ini.'' Kedua bola mata sekretaris Derulo terbelalak kaget mendengar ucapan Jason.
''Ba-baik Tuan,'' balas sekretaris Derulo.
Jason menghabiskan dua porsi berbeda dengan sekretaris Derulo tidak sanggup lagi menghabiskan udang bakar tersebut.
''Habiskan semua ini Derulo, aku sudah kenyang,'' ucap Jason tanpa merasa bersalah sedikitpun.
''Tapi Tuan udang ini masih banyak,'' jawabnya gugup.
''Siapa suruh membeli sebanyak ini,'' balas jason.
''Kena lagi,'' batinnya sambil melihat udang masih banyak di atas meja yang belum habis.
''Kak, kalian sedang apa?" Jesy tiba-tiba datang hanya menggunakan piyama.
''Astaga Nona berpakaian yang sopan kenapa?'' batin sekretaris Derulo lalu membuang wajahnya ke samping.
''Mau makan ini tidak? Sepertinya sekretaris Derulo tidak sanggup memakannya Jesy!'' ajak Jason.
''Kakak lagi mengidam ya?" tawa Jesy.
Seketika wajah Jason berubah sendu, dia teringat dengan Claire masih diduga mengandung.
''Kalian habiskan ini jangan sampai terbuang, awas!'' peringat Jason langsung naik ke atas.
''Apaan habiskan ini semua?!" pekik Jesy.
''Nona, bantu dihabiskan ya,'' pinta sekretaris Derulo memohon kalau tidak dia akan mendapatkan masalah.
''Baiklah!" Sekretaris Derulo begitu senang mendengarnya namun hanya beberapa menit Jesy merasa kepanasan setelah melahap cabai.
''Om, air dingin ada?" tanya Jesy sambil menahan pedas.
''Sebentar ya Nona,'' balas sekretaris Derulo dan langsung berlari ke dapur.
Secepat kilat kembali membawa air dingin yang begitu banyak namun kedua bola matanya tiba-tiba terbelalak melihat penampilan Jesy.
Tangannya seketika bergetar hampir saja air minum yang dia bawa nyaris terjatuh.
''Mana? Kok bengong di sana Om?!" pekik Jesy.
''Ini Nona,'' ucapnya gugup.
''Nah gitu, Om sih lama sekali dari dapur udah tahu Jesy di sini sudah kepanasan,'' protesnya lalu meminum air tersebut.
''Nona jangan menguji iman ku di sini? Bagaimana kalau aku khilaf Tuan Muda pasti sudah membawaku jauh dari muka bumi ini?!" pekik sekretaris Derulo.
''Nona, Om lebih baik pulang karena besok subuh harus mengikuti rapat,'' alasannya.
''Di sini saja tidur Om. Jesy akan persiapan kamar tamu,'' tambah Jesy.
''Tidak perlu Nona, saya lebih baik kembali saja,'' tolaknya halus.
''Jangan menolak Jesy, lebih baik malam ini kau tidur di sini Derulo,'' potong Jason.
''Tapi Tuan, saya.'' Jason menatap tajam sekretarisnya itu agar mau tidur di sini.
''Om?!" panggil Jesy.
''Baik Nona, saya akan tidur di sini,'' ucapnya pasrah.
Jason tertawa kecil melihat wajah panik Derulo lalu malam itu semuanya kembali beristirahat.
Sendirian di kamar yang besar yang biasanya dipenuhi dengan suara jeritan Claire. Jason melihat langit kamarnya yang di nominasi warna putih.
Namun tiba-tiba dia teringat dengan kehidupan Claire sebelum dia mengenalnya. Spontan Jason langsung duduk menatap lurus ke depan karena dirinya merasa bodoh selama ini tidak memikirkan sampai ke sana.
''Jason, ternyata kau pria yang paling bodoh padahal orang-orang menganggap dirimu pintar di luar sana. Kali ini keberadaanmu akan ku ketahui Claire, tunggu aku!" ucapnya penuh dengan seringai.
Suara bersin berulang kali mengganggu tidur Claire hingga Rio baru kembali dari rumah sakit bangun merasa terganggu.
''Ada apa?" tanya Rio panik.
''Kak, hidungku sakit sekali,'' ucapnya lalu kembali bersinar.
''Sebentar ya kakak coba periksa.'' Rio hati-hati melihat hidung Claire namun tidak ada gejala flu.
''Kamu baik kog, tidak ada yang serius,'' ucap Rio.
''Tapi hidungku sakit sekali kak.'' Claire kembali bersinar untuk yang kelima kalinya.
''Astaga kog bisa dirimu seperti ini Claire?" panik Rio karena Claire sudah menahan perutnya agar tidak sakit.
''Aku juga tidak tahu kenapa kak,'' ucapnya.
''Coba kamu tenang dan tahan napas untuk beberapa detik ini!' Claire melakukan yang dikatakan Rio.
''Sudah kak, untung ada kakak,'' lirihnya.
''Apa ada yang sakit?" tanya Rio memastikan keadaan Claire tidak kenapa-napa.
''Hanya perutku kak, sepertinya kram karena aku menahannya.'' Rio dengan cepat langsung memeriksa tanpa peduli bagaimana reaksi Claire karena tangannya menyentuh perut itu.
''Bagaimana? Sudah lebih baik atau belum?" tanya Rio setelah mengusap perut itu berulang kali.
''Sudah kak,'' balasnya.
__ADS_1
''Sekarang berbaringlah tidak baik ibu hamil begadang,'' ucap Rio sambil menaikkan selimut sampai ke leher Claire.
Rio kembali mematikan lampu lalu mereka berdua tidur namun pisah ranjang. Claire membuka kedua bola matanya melihat punggung Rio yang semakin lama terlihat tidak terurus.
''Aku terlalu bergantung sama kak Rio, dari dulu sampai sekarang. Karena Ku masa depan kak Rio terhambat,'' gumam Claire.
''Claire harus cepat pisah dengan Jason, semakin lama kami berdua seperti ini akan tersiksa,'' batin Rio.
Malam yang semakin dingin bahkan di luar sana hujan mulai turun membasahi tanah. Jason meneguk wine beruang kali sambil merasakan air hujan yang sesekali mengenai wajah tampannya.
Namun berbeda dengan Jesy tetap berkomunikasi dengan pria yang memberikan informasi kepadanya keberadaan Claire.
''Kau harus temukan Claire sampai dapat karena hanya ia petunjuk menuntaskan semua masalah keluarga ini!' perintah Jesy.
''Baik Nona, tapi imbalannya besar kan?" tanya pria itu.
''Jangan meragukanku, besok kita bertemu lagi di klub kamu mengerti!" tambah Jesy.
''Baik Nona,'' balas pria itu.
''Dapat! Nona Jesy ternyata mempermudah pencaharian dengan ini Tuan pasti senang dan gengsi ya bakal hilang,'' kekeh sekretaris Derulo setelah selesai menyadap ponsel Jesy.
Subuh Claire bangun lebih awal ketimbang pelayan karena ingin memasak yang spesial untuk Rio. Ia ingin sekali membalas kebaikan Rio selama ini kepadanya. Tidak bisa bekerja di luar sana memasak adalah untuk membalasnya.
Pelayan mendengar suara ribut di dapur kaget melihat keberadaan Claire.
''Nona sedang apa di sana?!" tanya ya begitu panik.
''Mbak sudah bangun ya?" kekeh Claire.
''Nona lagi mengandung jangan lakukan ini nanti Tuan Rio marah,'' cegah ya.
''Biarkan Claire melakukan itu,'' potong Rio.
''Tapi Tuan, Nona saat ini sedang mengandung dan tidak baik bangun lebih awal,'' tambah pelayan tersebut.
''Mbak, aku bisa jaga diri jangan khawatir ya,'' ucap Claire.
''Baik Nona.'' Pelayan tersebut mundur, Rio langsung mendekati Claire dan memegang kedua pundaknya.
''Lain kali kalau ingin memasak jangan diam-diam ya, aku tahu kau ingin melakukan aktivitas tapi bukan seperti ini caranya Claire. Kakak tadi khawatir tidak melihat dirimu di kamar ternyata berada di sini,'' keluh ya.
''Maaf ya kak, Claire tidak akan pernah mengulanginya lagi,'' janjinya.
''Baiklah! Kakak mempercayaimu kalau begitu ayo kita lanjutkan memasak, sudah tanggung untuk tidur lagi.'' Claire mengangguk lalu mereka berdua memasak sambil cerita-cerita.
Tidak terasa waktu terus berputar akhirnya sarapan pagi tersaji Claire begitu senang melihat mahakarya ya sudah berada di atas meja.
''Ayo kak makan!" seru Claire.
''Mandi dulu,'' tegur Rio.
''Oh ia lupa aku,'' cengirnya.
''Dasar.'' Rio memastikan Claire sudah berada dalam kamar lalu dia menuju ke lantai bawah untuk mandi.
Berhubung kamar mandi lebih dari satu dari bisa mandi bersama. Rio dari tadi tersenyum hingga dia sampai ke meja makan lalu disusul Claire yang dibalik dengan dress berwarna pink.
''Cantik!" gumam Rio dalam hati.
''Kak, apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Claire karena dari tadi Rio menatapnya tidak berkedip.
''Kamu semakin lama semakin cantik Claire,'' jawabnya jujur.
''Jadi selama ini aku tidak cantik ya kak?" tanya Claire sendu.
''Cantik kog, bahkan dulu lebih cantik tapi sekarang makin cantik,'' goda Rio.
''Dasar gombal.'' Rio tertawa lalu mereka berdua sarapan pagi dengan nikmat.
Selama mengandung Claire sama sekali tidak merasa kesusahan di pagi hari ataupun di malam harinya. Tapi ada satu yang membuatnya tidak tenang karena bawaannya selalu membayangkan wajah tampan Jason.
Acara sarapan pagi mereka berdua di kaget kan dengan kedatangan ibu Ria.
''Hai selamat pagi,'' ucapnya.
''Ibu?!" pekik mereka berdua langsung berdiri.
''Hei, kalian duduk aja tidak usah berdiri,'' cegah ibu Ria.
''Ibu datang kenapa tidak mengabari kami?" tanya Rio.
''Kejutan, ternyata ibu melihat kalian sedang sarapan pagi.'' Ibu Ria langsung duduk dan melihat hidangan yang begitu mengunggah selera.
''Ibu sudah sarapan kah?" tanya Claire.
''Kebetulan belum,'' kekeh ya.
''Claire bantu ibu ya,'' ucapnya sambil berdiri.
''Tidak perlu biar pelayan yang melakukan ya Claire, saat ini kau sedang mengandung ingat itu,'' cegah Rio.
''Ya nak, biarkan pelayan yang melakukan ya,'' tambah ibu Ria. Claire akhirnya mengangguk.
Pelayan langsung mengambil piring dan sendok nasi mereka bertiga sarapan pagi bersama begitu nikmat. Ibu Ria memperhatikan Claire dan Rio layaknya seperti suami istri.
Perasaannya sakit karena hubungan mereka berdua sama sekali tidak ada. Terlebih lagi dengan kandungan yang membuat Claire kapan saja bisa depresi.
''Semoga saja masalah ini cepat berlalu tapi bagaimana caranya sementara ini Jason belum berhenti mencari keberadaan Claire?" batin ibu Ria.
''Aku harus bicara dengan ibu Ria, agar Claire bisa melakukan gugatan cerai kepada Jason,'' gumam Rio dalam hati.
Suasana meja makan tersebut terasa menjadi dingin berbeda sebelumnya. Claire tidak menyadari suasana tersebut ia begitu lahap menghabiskan sarapan paginya tanpa memikirkan apapun.
__ADS_1