Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Separuh Jiwa Rio Hilang


__ADS_3

Sekretaris Derulo cepat-cepat memeriksa media online ramai-ramai membicarakan Jasin Monta.


"Kau sudah lihat kan? Katakan kepada majikan mu itu ubah sifatnya. Jangan sok jagoan hanya mengandalkan kekuasaan baru kami bisa tunduk kepadanya?" sekretaris Derulo mengeram kesal mendengar ucapan pria itu. Baru kali ini Jason diolok terang-terangan.


"Baiklah! Saya mengerti yang kau maksud tapi jangan samakan kau dengar Tuan Jason karena kalian beda. Kau orang suruhan dan Tuan Jason orang terhormat jadi tunggu saja kabar selanjutnya." Sekretaris Derulo langsung meninggalkan tempat itu dia harus mengurus media terlebih dahulu.


"Apa maksudnya?" tanyanya dalam hati.


"Kenapa Tuan Jason tidak mengangkat ponselnya?" umpat sekretaris Derulo.


Jason justru memilih minum mengurangi pening memikirkan masalah perceraiannya ini. Sedangkan Jesy harus turun dari kamar ya karena sekretaris Derulo memanggilnya turun.


"Ada apa, Om?" tanya Jesy malas.


"Tuan Jason ada di dalam?" tanya ya.


"Kakak lagi tidur atau tidak mau diganggu," ucapnya.


"Nona bisa bantu saya?" pinta sekretaris Derulo.


"Apa itu, Om?" tanya ya lagi.


Dia tunjukkan semua media yang menggambarkan wajah Jason bersama dengan Claire. Kedua bola mata Jesy terbelalak melihat ya.


"Siapa yang melakukan ini, Om?" pekik Jesy.


"Sepertinya ada seseorang ingin hubungan Tuan dan Nona berakhir di meja hijau," ucapnya.


"Tapi siapa?" tanya Jesy lirih.


"Nona, Tuan sedang depresi berat mohon kerjasama mencari keberadaan Nona Claire!" mohon sekretaris Derulo.


"Bagaimana caranya, Om?" tambah Jesy.


"Nona bisa menyamar tidak menjadi warga biasa, saya mencurigai seseorang," ucapnya.


"Siapa orang itu?" Jesy semakin terbelalak karena dia begitu menyukai dokter dokter Rio yang baru dikenalnya.


"Apa hubungannya dia dan Claire?" tanyanya sambil menutup mulut.


"Mereka teman dekat dan juga satu kampus Nona. Saya hanya menduga saja kalau tidak Tuan muda pasti akan semakin depresi," mohon ya.


"Kapan aku melakukannya, Om?" tanyanya.


"Hari ini!" Jesy mengangguk mengerti lalu melakukan seperti yang dikatakan sekretaris Derulo.


Hal paling utama Jesy memilih tempat tinggal di area pemukiman Rio.


"Beruntung ya aku dulu tersesat di sini," kekeh ya.


Pemandangan begitu jelas tertuju ke arah tempat tinggal Rio. Jesy begitu kagum melihat isi halaman yang rapi disertai bunga berwarna-warni.


"Pasti pekerja kebun ya pintar dan baik," tambah ya.

__ADS_1


"Nona jangan sampaikan ketahuan tinggal di sini!" peringat sekretaris Derulo.


"Ya, aku mengerti Om. Santai saja aku tidak akan pernah ketahuan," ucapnya.


"Kalau begitu saya pamit Nona, saya tidak bisa meninggalkan Tuan lama." Jesy mengangguk mengerti lalu dia mulai mempersiapkan diri.


Jason bangun dari tidurnya dia merasa tubuhnya sakit karena salah tidur di sofa.


"Jam berapa ini?" gumamnya.


"Selamat malam Tuan," sapa sekretaris Derulo.


"Kau? Kenapa ada di kamar ku?" tanya Jason masih belum sadar sepenuhnya.


"Tuan harus menerima kabar buruk, media dan kepolisian sedang memantau pergerakan anda karena hilangnya Nona Claire ditambah lagi beredarnya surat cerai ya," ucap sekretaris Derulo.


"Apa kau bilang barusan Derulo?!" pekik ya.


"Kurir sudah mempersiapkan diri Tuan hadapi kita, sepertinya ada orang di balik masalah ini," duga sekretaris Derulo.


"Siapa Derulo! Katakan siapa orangnya?!" sentak ya.


"Saya sudah mengirim Nona Jesy memantau seseorang Tuan dia adalah dokter Rio." Jason langsung memutar otak ya semuanya aneh ketika dia bersama dengan Rio.


"Apa Rio yang menyembunyikan, Claire?" tanya Jason pelan.


"Semoga saja Tuan agar kasus ini mudah diselidik. Dokter Rio bukan orang yang berbahaya hanya saja ini semua terjadi karena Nona Claire trauma di masa lalu," tambahnya.


"Semua ini saya yang salah Derulo, andai dulu Claire tidak mendapatkan perlakuan buruk semua ini tidak akan terjadi," ucap Jason lemas.


"Aku ikut Jesy, Derulo!" ucapnya pelan.


"Tuan jangan ke sana, dokter Rio curiga nanti kepada anda. Biarkan Nona Jesy yang melakukannya." Jason mengangguk pelan.


Sebuah mobil hitam memasuki halaman pekarangan rumah itu dan langsung disambut pelayan.


"Selamat sore Tuan," ucapnya.


"Sore Mbak, apa yang dilakukan Claire satu harian ini?" tanya Rio.


"Nona tidak banyak melakukan aktifitas Tuan hanya saja tidur siang cukup lama," lapornya.


"Baiklah." Rio masuk ke dalam tidak sabar melihat wajah Claire yang semakin lama semakin cantik.


"Kakak sudah pulang." Rio langsung berbalik dia tersenyum lebar melihat calon istri ya itu.


"Belum," canda Rio. Claire cemberut lalu Rio meraih tangannya untuk digenggam.


"Kangen ya?" candanya.


"Apa sih kak, gak jelas banget," balas Claire wajahnya merona.


"Kakak mandi dulu ya, nanti kita lanjutkan mengobrol." Claire mengangguk ia melihat tubuh yang menjadi sandaran ya itu hilang balik pintu.

__ADS_1


"Maaf kak, aku belum bisa membuka perasaan ku kepadamu," lirihnya.


"Nona, Nyonya Ria menghubungi anda," potong pelayan.


"Oh, terima Mbak," balas Claire sambil menerima ponselnya.


"Halo nak Claire?" panggil ibu Ria.


"Halo Bu?" balasnya.


"Mau menemani ibu ke panti asuhan besok?" tanya ibu Ria.


"Kak Rio tidak akan pernah memberikan izin keluar Bu," ucapnya.


"Biar ibu yang bicara dengan Rio ya," pinta ibu Ria.


"Baik Bu." Obrolan usai Claire menatap ponselnya yang baru itu lalu membuang napas kuat.


Tidak lama kemudian Rio turun dengan menggunakan pakaian santainya. Dia tersenyum lebar karena Claire sedang membuat kue bersama dengan pelayan.


"Wangi sekali," ucap Rio.


"Kak Rio mau mencicipi?" tawar Claire.


"Apa bisa?" goda Rio.


"Tidak jadi." Rio tertawa kecil lalu meraih sendok untuk dia cicipi.


"Tidak enak," ucapnya namun terus dia makan.


"Mbak, tolong ambilkan lagi ya sepertinya kita harus lebih banyak bersedekah." Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak karena bisa bercanda walau masalah masih banyak yang harus diselesaikan.


"Tadi ibu Ria hubungi aku, Claire," ucap ya.


"Soal panti asuhan ya kak?" tanya Claire.


"Kakak mau tanya, kau mau ikut?" Claire menunduk kan wajahnya karena semua ini Rio yang memutuskannya.


"Claire tidak tahu kak," lirihnya.


"Kita pergi bersama ya, aku tidak mau kalian pergi tanpa diriku," kekeh Rio.


"Kakak bisa saja dari tadi selalu bercanda," dengus Claire.


"Kau tahu Claire, wajahmu masih banyak terpampang di luar sana. Jason masih terus mencarimu karena itu kakak tidak mau kau kembali ke sana," ucap ya.


"Kalau Claire kembali bagaimana kak?" Rio seketika diam membisu karena dia tidak mau hal itu terjadi.


"Kakak akan pergi untuk selamanya Claire," batinnya.


"Kak?" panggil Claire.


"Kalau pria itu bertobat kau kembali kepadanya Claire?" Mereka berdua saling melemparkan pertanyaan.

__ADS_1


"Mungkin kak, karena kami segera memiliki anak." Seketika separuh jiwa Rio hilang mendengar ucapan Claire.


__ADS_2