Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Mulai Insyaf


__ADS_3

Claire tanpa ia sadari terus mengusap perutnya sambil membayangkan wajah Jason yang menyeramkan. Seketika ia meringis mengingat semua perlakuannya terlebih lagi ibu dan Larisa yang membawanya ke dalam maut ini.


"Bagaimana kabar mereka sekarang ya?" batinnya.


Suara dengan musik membawa sosok wanita muda terus berputar lalu menari-nari di bawah lampu yang berwarna-warni. Banyak pria asing mengelilinginya bahkan tangan nakal terus colek dirinya.


"Teruskan baby, ayo kita menari!" teriak Larisa lalu tertawa terbahak-bahak.


"Bro, wanita ini menarik ayo kita sikat," bisik pengunjung yang bersama dengan Larisa.


"Baik! Wait aku bawakan minuman ya." Pria tanpa disebutkan namanya itu mengangguk mengerti, dia menemani Larisa menari-nari.


Sudut ruangan Jesy juga ikut menikmati musik sesekali pria nakal ingin boking dirinya namun hanya menunjukan wajah galak mereka ketakutan.


"Tempat yang membosankan!" gumam Jesy lalu meneguk minuman tersebut.


"Sendirian ya?" tanya seorang pria.


"Tidak!" jawabnya singkat.


"Kau adik Jason Monta kan?" tanyanya sok akrab.


"Siapa tidak mengenal kak Jason?" cebik ya lalu berdiri karena tidak suka diganggu.


"Tunggu!" tahan pria itu.


"Tanganmu jauhkan dari sana atau?" tatapannya tajam menatap pria itu.


"Maaf, tangan ini refleks tapi ada sesuatu yang mau kukatakan kepadamu?" Jesy berbalik dia tidak suka.


"Apa itu? Aku mau pulang?" ucapnya dingin.


"Dulu ada seorang wanita cantik duduk tepat di sini. Semua mata pria tertuju kepadanya termaksud saya." Jesy menaikkan alisnya mencerna apa yang dimaksud pria asing ini.


"Aku tidak tahu apa yang kau maksud, buang waktu saja," ketus ya.


"Tunggu! Aku belum selesai bicara," tahan ya lagi.


"Tanganmu?!" pekik ya.


"Makanya denger dulu, jangan main pergi aja," tambah ya.


"Katakan saja langsung the points?" sentaknya.


"Wanita itu ini," tunjuknya.


"Claire?!" pekik ya.


"Wajahnya kan sekarang ada di mana-mana karena kakak mu jadi, aku mau bilang lagi kalau si Claire ini tinggal kemarin di puncak gunung," ucapnya.


"Apa? Kenapa kau tidak hubungi kakak ku?" tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


"Masalahnya yang mengangkat telepon ku saat itu wanita Mak lampir. Masa dia teriak sambil maki-maki di sini bukan tempat pusat pengemis." Wajah Jesy memerah mendengar perkataan pria ini.


"Jadi pria ini yang hubungi aku kemarin? Bodoh sekali kau Jesy?!" maki ya.


"Halo Mbak?" panggilannya karena tiba-tiba Jesy diam tidak seperti pertama bicara.


"Terima kasih informasinya, aku akan kabarin kakak ku," balasnya tulus.


"Yakin bisa kalian temukan Claire? Soalnya ia sudah meninggalkan tempat itu beberapa hari yang lalu?" tambah pria itu lagi.


"Kenapa kau berikan informasi tanggung?!" teriak Jesy tanpa sadar mereka berdua diperhatikan Jason dari jarak jauh.


"Karena kau selalu potong ucapan ku, makanya denger dulu sampai selesai bodoh!" ucapnya.


"Apa kau bilang barusan? Bodoh?" Jesy tidak terima langsung menarik telinga pria itu sampai memerah.


"Ajak pria itu makan malam besok, Derulo!" perintah Jason.


"Baik Tuan," balas sekretaris Derulo cepat.


"Ayo pulang." Mobil langsung cepat melaju kencang membelah jalan yang lengang.


Jason terus teringat ucapan pria itu selama ini Claire tinggal di gunung. Pikirannya berkenala kemana-mana seketika dunianya hampa tanpa ada sosok Claire yang menemaninya selama ini.


"Sepertinya Tuan sudah mulai insyaf," batin sekretaris Derulo.


"Kalau Claire ketemu, apa aku minta maaf saja ya?" ucapnya dalam hati.


"Claire hampir di temukan, aku harus siap-siap karena kisahku akan segera tayang," ucapnya tanpa sadar didengar sekretaris Derulo.


"Andaikan saya duluan yang tahu kisah Nona, semua teka-teki silang ini akan cepat terpecahkan," batin sekretaris Derulo.


Pagi yang cerah secerah wajah Claire sambil membantu pelayan memasak sarapan pagi. Sejenak ia melupakan Jason karena ada aktivitas ya dan tidak memengaruhi pikirannya.


"Mbak, ambil tepung itu!" tunjuknya.


"Ya Nona," balas ya.


"Kita buat sarapan pagi gorengan saja ya Mbak, kak Rio pasti suka," ucapnya senang.


"Tuan ada dibelakang Nona." Claire berbalik namun kakinya tersandung hingga tepung mengenai wajah dan pakaian Rio.


"Maaf kak, aku tidak sengaja?!" pekik Claire.


"Sengaja juga tidak apa-apa kog Claire," balas Rio tanpa mengedipkan matanya.


"Kak Rio ngawur ya." Claire langsung melepaskan diri dari pelukan Rio.


"Lagi masak apa sampai main tepung?" tanya Rio tanpa disadari mereka berdua posisi saat ini sudah membelakangi.


"Aku masak goreng pisang kak, kakak suka tidak sarapan ini?" tanya Claire sambil mengadon.

__ADS_1


"Apapun kau masak kakak akan makan semuanya kog termaksud dirimu." Siku tangan Claire mengenai perut Rio hingga pria itu meringis kesakitan.


"Aduh Claire sakit," ucapnya pelan lalu ambruk ke lantai.


"Maaf kak, aku tidak sengaja habis ya main goda muluk kan jadinya kena," protes Claire lalu memapah Rio ke bangku.


"Tuan Rio mengambilkan kesempatan," kekeh pelayan.


"Makanya jangan suka main pukul kan sakit. Kalau seperti ini sepertinya aku tidak kerja," alasannya.


"Masa tidak bisa kerja kak? Apa separah itu?" tanya Claire bertubi-tubi.


"Sangat! Apalagi melihat wajah cantikmu sakit ini semakin parah Claire," bisik ya.


Claire baru sadar lalu ia beranjak dari sana kembali memasak pisang goreng hampir gosong.


"Kakak sarapan dulu ya, nanti telat ke rumah sakit," ingatkan Claire.


"Dia belum mau membuka hatinya," batin Rio.


"Kakak denger tidak?" panggil Claire lalu menolah ke belakang.


"Manis tidak goreng ya?" tanya Rio lalu duduk.


"Tidak terlalu kak," balasnya.


"Aku pikir manis karena yang memasak abisnya manis banget," goda Rio lagi.


"Kak! Bisa tidak jangan goda-goda?!" pekiknya.


Rio hanya menanggapi tertawa kecil melihat wajah Claire yang sudah merah. Pagi itu sangat lucu baginya bisa goda Claire sambil berpelukan. Booster penguat semangatnya kian full untuk kerja hari ini.


"Kakak kerja ya," ucap Rio setelah sudah rapi.


"Ya kak, kabarin ya kalau sudah tiba," balas Claire.


"Tentu! Apapun kakak akan laporkan semua aktivitas ku." Claire merasa canggung dengan suasana pagi ini.


Rio meninggalkan rumah sambil berorasi agar Claire jangan sampai keluar rumah karena wajahnya ada di mana-mana untuk saat ini.


Kembali sendirian, hanya ditemani televisi yang siarannya begitu membosankan. Claire menonton acara peresmian gedung pencakar langit.


"Jason?" ucapnya pelan.


"Gedung ini aku dedikasikan kepada istriku, aku mencintaimu sayang," ucap Jason halus namun tatapannya nanar menatap kamera.


"Dia mengatakan apa barusan?" ucap Claire sambil menutup mulutnya.


Berita Jason menjadi trending, Rio juga tidak ketinggalan informasi.


"Pasti Claire juga melihat berita ini?" batin Rio kedua tangannya terkepal kuat menahan amarahnya, kalau bukan karena seorang pasien memanggil ya dia pasti sudah mengamuk di meja perawat.

__ADS_1


__ADS_2