Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Membalas Jason


__ADS_3

Ibu Ria tidak menyangka Claire bisa mengatakan kata mengerikan itu.


"Jangan pernah lakukan itu nak, bayi tidak berdosa dan biarkan dia lahir ke dunia ini," ucap ibu Ria sambil menggenggam tangannya.


"Claire tidak bisa Bu," tolaknya.


"Kau yakin Claire? Kau lakukan ini sama saja hilangkan nyawa yang tidak berdosa," tambah Rio.


"Ayah ya saja tidak mau tanggung jawab bahkan bayi ini kalau lahir ke dunia dia?" Claire menangis sesenggukan bayangkan ucapan Jason dulu.


"Aku yang akan bertanggung jawab atas bayi yang kau kandung," ucap Rio.


"Aku tidak mau Rio," tolaknya.


"Hentikan! Kalian dua sama saja bodoh tidak bisa cari solusi. Nak Claire, ibu tahu keadaanmu saat ini berat memikirkan masa depan yang akan kau jalani. Tapi, soal bayi lahirkan dia ke dunia ini dan berikan kepada ibu. Biarkan ibu yang merawatnya karena jadi seorang wanita sempurna itu adalah seorang ibu yang hebat." Claire tiba-tiba sesak napas mendengar ucapan ibu Ria.


Tubuhnya lemah dan tidak berdaya memikirkan kehidupannya saat ini. Rio tidak kuat melihat Claire sedih karena ingin rasanya dia memeluk tubuh lemah itu.


"Claire, biarkan aku yang menjadi sandaran mu," batin Rio dalam hati.


Ibu Ria dan Rio membiarkan Claire sendirian mereka berdua tidak mau buat perasannya semakin berkecamuk.


"Nak Rio, jangan sedih ya pelan-pelan Claire pasti kembali seperti dulu," hibur ibu Ria.


"Mudah-mudahan saja Bu," ucap Rio pelan.


Ibu Ria memperhatikan Rio sedih dan tatapannya kosong lurus ke depan begitu juga dengan Claire. Sebagai orang tua, turut sedih karena dia juga pernah mengalami hal paling buruk.


"Claire jangan sampai melakukan itu, bayi tidak berdosa dia harus lahir ke dunia ini," batin ibu Ria.


Malam semakin larut semua diam dalam kamar dalam kesendirian. Sama halnya dengan Jason minum sambil menatap langit yang bersih tanpa ada bintang.


"Kenapa perasaanku kosong ya?" ucapnya.


Sepintas dia melihat wajah Claire menangis sesenggukan hingga minuman menyembur keluar begitu saja.


"Oh astaga wanita itu jelek sekali menangis," decaknya.


"Kak, buka pintunya?!" panggil Jesy sambil gedor pintu.


"Mau apa lagi si Jesy malam-malam seperti ini?" ucapnya kesal.


"Lama banget sih kak bukanya," protes Jesy langsung main masuk begitu saja.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Jason.

__ADS_1


"Kak, aku sudah dapatkan jejak Claire," ucapnya langsung ke points.


"Apa?! Di mana Claire, Jesy?" tanya Jason terbelalak.


"Tapi bohong," tawa Jesy tanpa merasa bersalah.


"Keluar dari sini!" ucap Jason dengan perasaan yang gondok.


"Sebentar kak, bukan itu yang mau Jesy katakan," ucapnya sambil bertahan agar tidak dikeluarkan.


"Katakan sejujurnya dulu kau berada di mana baru kuperbolehkan masuk ke sini," tawar Jason.


"Kakak kejam sekali, aku dulu pergi karena ada alasan tidak beritahu kakak," balasnya.


"Makanya katakan dulu!" sentak Jason.


"Bodoh amat, lebih baik Jesy balik ke kamar daripada ceritakan kisahku." Jason melongo melihat kepergian Jesy.


"Dia hilang dan kembali seenaknya tanpa merasa berdosa. Jesy, kau pikir kakak tidak bisa menemukan fakta tentangmu. Tapi, keberadaan Claire saja belum ada tanda-tanda apalagi si cunguk," ucapnya kesal.


Tidak mau berpikir panjang karena malam semakin larut rasa lelah mulai menyerang kedua bola mata cokelat itu.


Ruangan yang terlihat sederhana mulai hangat, mentari sinar matahari lambat laun menembus dari lobang kecil-kecil.


"Selamat pagi, Bu," sapa Claire halus.


"Baik Bu. Ibu bagaimana?" tanya Claire sambil memotong sayur.


"Baik juga nak." Claire kembali memotong sayur namun tatapan ibu Ria tidak lepas melihat wajah sendu itu.


"Kau berbohong nak. Wajah itu tidak bisa kau bohongi ibu," lirihnya.


"Ibu, Claire selamat pagi," sapa Rio sambil mengancingkan pakaiannya.


"Pagi," balas Claire dan ibu Ria bersamaan.


"Sedang apa, Claire?" tanya Rio halus.


"Masak mie instan kak, bibi habis panen sayur kebun tetangga," jawab Claire.


"Jangan terlalu lelah ya," peringat Rio.


"Ya kak," jawabnya pelan.


"Mau kerja ya nak?" tanya ibu Ria.

__ADS_1


"Hari ini Rio cuti Bu." Tangan Claire berhenti ia memiliki rencana untuk keluar dari tempat ini.


"Terus kakak mau ke mana?" tanya Claire.


"Cari tempat baru jauh dari masyarakat Claire. Kau tahu Jason mencari keberadaanmu." Claire ketakutan Jason menemukannya.


"Jangan takut ya nak, ibu dan Rio ada disisimu," ucap ibu Ria.


"Dia pasti mau buat Claire menderita lagi Bu. Lalu, anak ini juga pasti akan merasakan apa yang kurasakan." Claire tiba-tiba menangis sesenggukan.


"Hei, jangan menangisi yang tidak penting. Aku sudah lapar dan mie instan ini sepertinya enak karena aromanya bergitu nikmat. Ya kan Bu?" tanya Rio sambil mengeringkan mata kepada ibu Ria.


"Ya nak, nanti masuk angin kalau tidak mengisi makanan di pagi hari," tambah ibu Ria.


"Ya Bu," jawab Claire halus.


"Aku harus buat Claire bisa melupakan Jason, jauhkan ia dari masyarakat. Soal anak, Paman bisa gantikan ayah mu nak dan kasih sayang itu akan kuberikan berlimpahnya kepadamu kelak," ucapnya dalam hati.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi hunian baru mereka tinggali terletak di puncak. Ibu Ria pada akhirnya membran sebuah vila keluarga miliknya.


"Nak, kau bisa tinggal di sini untuk sementara waktu ya. Rio bisa sesekali berkunjung karena klinik yang dia jaga hanya setengah jam jaraknya." kedua mata Claire berkaca-kaca mendengar ucapan ibu Ria.


"Kenapa ibu baik sekali kepada kami?" tanya Claire.


"Sudah ibu jawab kalau kalian dua anakku jadi jangan menolak pemberian ibu, kalian dua mengerti!" ucap ibu Ria tegas.


"Ya Bu," jawab mereka berdua bersamaan.


"Rio, ibu mau bicara empat mata boleh?" tanya ibu Ria halus.


"Baik Bu," jawab Rio dengan cepat.


Claire gugup melihat wajah ibu Ria yang serius menatapnya apalagi hanya mereka berdua saat ini.


"Ibu mau bicara apa?" tanya Claire pelan.


"Ibu bukan bermaksud ikut campur dalam urusan pribadimu nak. Kau masih muda peluang masa depan masih ada di depan, maksud ibu bangkitlah nak jangan terpuruk sendirian. Ibu juga pernah merasakan kehilangan tapi tidak ada yang bisa membuat hati ini tenang. Hanya dirimu nak, obatnya hanya kau seorang," ucap ibu sedih.


"Kasus kita Bu," balas Claire dingin.


"Ibu tahu perasaanmu, semua butuh proses nak tapi kembalilah seperti dulu dan ingat ada nyawa saat ini sedang tumbuh di sini." Tangan ibu Ria mengusap perut Claire berulang kali.


"Nyaman sekali usapan tangan ibu," batinnya.


Akhirnya tangis itu kembali mereka berdua saling berpelukan dan itu tidak luput dari perhatian Rio.

__ADS_1


"Jason harus mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya." Kedua tangan itu mengepal kuat.


__ADS_2