Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Aku Sangat Mencintaimu


__ADS_3

Sudah lama Claire menunggu Rio kembali ke rumah namun wajahnya tidak nampak.


''Kak Rio, kenapa lama sekali padahal ini sudah lewat jam makan siang?" gumam Claire sambil memandangi keluar berharap yang ditunggu datang.


''Nona lebih baik masuk ke dalam dan beristirahat, ingat saat ini Nona sedang mengandung?" peringat bibi.


''Tapi kak Rio sampai sekarang belum kembali bibi,'' ucapnya.


''Tuan Rio mungkin memiliki pasien yang banyak Nona. Karena di desa ini banyak penduduk yang mengidap penyakit,'' tambah bibi.


''Kasihan kak Rio, andaikan saja aku bisa bekerja juga bagaimana ya bi?" tanya Claire.


''Nyonya Ria kemungkinan besar tidak akan pernah mengijinkan Nona bekerja,'' balas bibi.


''Kenapa?" tanya Claire heran.


''Nona berbadan dua otomatis akan mempengaruhi kandungan.'' Seketika Claire terdiam mendengar ucapan bibi.


Perasaannya begitu sakit mengetahui saat ini ia berbadan dua dari hubungan Jason. Ia sepintas mengingat wajah pria itu yang menakutkan.


''Claire takut bibi sewaktu-waktu dia menemukan keberadaanku.'' Tubuh Claire bergetar hebat membayangkan hal itu akan terjadi kepadanya.

__ADS_1


''Nona tenang, pria itu tidak akan kembali karena keberadaan kalian sudah dijaga ketat oleh Nyonya Ria,'' tambah bibi.


''Bibi tidak tahu bagaimana pria itu sebenarnya, dia sungguh menakutkan hanya tatapannya saja kita tidak bisa bergerak sedikitpun.'' Bibi mengerti maksud perkataan Claire hal ini sudah biasa dia lihat dan dengar dari mantan majikan dahulu.


''Sudah jam dua, sudah waktunya Nona istirahat!" ajak bibi.


Claire mengiyakan karena kedua kakinya juga sudah terasa pegal berdiri terlalu lama menunggu kepulangan Rio.


''Kak Rio, Claire mohon cepat kembali,'' gumamnya.


Di puskesmas Rio baru aja selesai mengobati para pasiennya mengantri begitu banyak. Dia baru menyadari desa Indramayu kekurangan dokter dan itu membuatnya lelah.


''Dok, anda melewatkan jam makan siang?" ucap perawat.


''Ada apa dengan dokter Rio?" Perawat geleng-geleng kepala melihat kepergian Rio a.


''Claire pasti menungguku? Astaga Rio bagaimana bisa kau melupakan makan siang?" pekiknya.


Hanya beberapa menit menuju ke rumah akhirnya sampai dengan napas naik turun.


''Tuan?" ucap bibi kaget melihat wajah Rio yang penuh keringat.

__ADS_1


''Claire, di mana bibi?" tanya Rio sambil mengedarkan seluruh ruangan.


''Nona baru aja tidur Tuan, sudah dua jam yang lalu Claire menunggu kepulangan anda,'' tambah bibi.


''Pasien banyak sekali bibi, aku sampai kewalahan menangani mereka. Desa ini butuh dokter karena tidak sebanding dengan pasien yang ditangani,'' keluh Rio.


''Yang sabar Tuan, mudah-mudahan kepala desa mendengar keluhan para warga dan anda.'' Rio mengangguk mengerti lalu dia pamit untuk melihat keadaan Claire.


Wajah damai dan tenang membuat perasaan Rio senang melihat Claire sudah lebih baik daripada sebelumnya. Tangan itu tiba-tiba mengusap kepala berulang kali.


''Kak Rio sudah kembali ya?" tanya Claire karena ia terusik usapan tangan Rio.


''Maaf, aku jadi membuatmu terbangun.'' Claire langsung duduk karena ia bahagia melihat Rio sudah ada dihadapannya.


''Kakak sudah makan siang belum?" tanya Claire.


''Sudah, maaf ya aku tadi tidak sempat pulang karena pasien banyak yang harus kutangani,'' ucap Rio.


''Ya kak,'' jawabnya sendu.


''Bagaimana perasaanmu sekarang, Claire?" tanya Rio karena suasana tiba-tiba canggung apalagi hanya mereka berdua dalam kamar tersebut.

__ADS_1


''Aku baik kak.'' Claire bingung harus menjawab apa karena Rio terlalu menatapnya begitu dalam.


''Aku sangat mencintaimu Claire,'' batin Rio.


__ADS_2