
Claire melihat kepergian Jason dari atas balkon perasaannya sakit karena ia butuh perhatian untuk saat ini. Sambil mengusap perut Claire menangis sesenggukan.
''Maaf ya sayang, bunda tidak bisa memberikan kasih sayang kepadamu,'' lirihnya.
''Nona?!" pekik pelayan sambil menjatuhkan gelas yang berisi susu.
''Mbak? Saya bisa menerangkan semuanya tidak seperti yang kau lihat,'' ucap Claire lalu menarik pelayan tersebut.
''Benarkah Nona saat ini sedang mengandung?" tanyanya tidak percaya.
''Bisa kau merahasiakan kalau saya memang mengandung mbak. Saya mohon jangan diberi tahu kepada yang lain,'' pinta Claire.
''Tapi, bagaimana dengan Tuan muda?" ucapnya masih tidak percaya.
''Saya akan beritahukan kepadanya. Tapi kumohon jangan satupun ada yang tahu kalau saat ini saya sedang mengandung,'' pinta Claire lagi.
''Saya tidak berjanji, Nona.'' Claire semakin prustasi fakta yang seharusnya ia jaga ada yang mengetahuinya.
''Mbak, kau lihat bagaimana Jason memperlakukan saya tidak baik. Bagaimana nanti nasib bayi dalam kandungan ini?" Claire mengusap perutnya yang rata.
''Nona, apakah ada niat anda hendak meninggalkan tempat ini?" kedua bola mata Claire terbelalak mendengar ucapan pelayannya tersebut.
''Tidak semudah yang kau katakan. Penjaga ada di mana-mana mbak,'' lirihnya.
''Saya yang akan menyelamatkan anda Nona!" ucapnya penuh keyakinan.
''Tapi Jason pasti akan mencari ku berbagai dengan cara,'' balas Claire.
''Saya yang akan menjamin keselamatan kalian Nona.'' Claire begitu terharu mendengar perkataan pelayannya tersebut.
''Kapan?" tanya Claire.
''Saya akan memberikan kabar secepatnya Nona.'' Claire mengangguk mengerti ia merasa berhutang budi kepada pelayan yang ia anggap selama ini musuh.
Untuk pertama kali baginya tidur tenang malam begitu dingin sambil mengusap perutnya. Seulas senyuman terbaik dari bibir merah itu.
''Dulu bunda tidak mengharapkan keberadaanmu sayang tapi tidak tahu kenapa ada dorongan yang membuat kita berdua jadi terikat,'' bisik Claire.
Berbeda di tempat lain Jason menggebrak semua yang ada di hadapannya. Nyonya Meneer berteriak melihat amarah putranya yang tidak pernah dia lihat.
''Jason, hentikan?!" teriaknya.
''Apa mami bilang hentikan? Lalu bagaimana dengan Jesy, apa mami bisa menghentikan orang-orang di luar sana mencelakainya?" balas Jason.
''Itu dulu kecelakaan, mami memang tidak bisa menghentikannya Jason. Kau tahu kan tenaga mami tidak kuat pada saat itu melawan orang-orang yang mengambil Jesy,'' ucapnya lagi.
''Katakan! Di mana Jesy saat ini mami?" tanya Jason sambil menekan lengan Nyonya Meneer.
''Kau menyakiti mami, Jason!" pekiknya.
__ADS_1
''Di mana Jesy, mami?" ucapnya penuh penekanan dan tidak memperdulikan wajah Nyonya Meneer yang memerah menahan rasa sakit pada lengannya.
''Sudah ada di hadapanmu selama ini?" Kedua bola mata Jason terbuka lebar mendengar jawaban Nyonya Meneer.
''Apa?!" Nyonya Meneer berhasil melepaskan tangan Jason lalu mengambil sebuah surat dari lemarinya.
''Mami akan memberitahukannya tapi berikan harta ini setengah untukku!" Jason benar-benar marah mendengar negosiasi mami ya yang tidak adil.
''Katakan terlebih dahulu di mana, Jesy?'' tanyanya.
''Tanda tangani surat ini dulu Jason,'' balas Nyonya Meneer tidak mau kalah.
''Jesy di mana?" tanya ya sekali lagi.
''Tanda tangani ini Jason.'' Tidak terduga Jason langsung menyobek kertas tersebut di hadapan Nyonya Meneer.
''Kau bukan ibuku tapi batas kesabaranku ada untuk menghadapi wanita sepertimu. Jesy dia adalah Claire.'' Nyonya Meneer tertegun mendengar ucapan Jason, sebagai orang tua dia gagal menjadi seorang ibu bagi Jason.
''Mami hanya bercanda Jason, yang kau katakan itu tidak benar,'' jawabnya.
Jason tertawa terbahak-bahak melihat wajah Nyonya Meneer yang begitu panik.
''Jason hanya bercanda mami, lagian wajah Jesy begitu jauh dengan Claire,'' tawanya.
''Kau ternyata pintar sekali buat mami naik tensi ya.'' Mereka berdua tertawa terbahak-bahak ruangan tersebut.
''Mami, Jason merindukan Jesy,'' lirihnya.
''Sampai kapan mami? Sudah empat tahun berlalu tapi keberadaan Jesy sampai sekarang belum juga ditemukan?" tambahnya.
''Derulo belum ada kabar mengenai keberadaan Jesy?" tanya mami lagi.
''Satupun jejak yang ditinggalkan Jesy tidak ada,'' lirihnya.
''Mami juga heran dengan anak itu kenapa bisa hilang tiba-tiba? Bukankah hubungan kalian dulu begitu dekat dan harmonis?" Jason berdiri dan menatap keluar begitu banyak burung berterbangan alam bebas.
''Mami tahu, Jesy adalah wanita spesial yang pernah berada dalam hati ini. Hilangnya dia hanya menyisakan sebuah pahit. Jason tidak bisa melupakannya mami,'' lirihnya.
''Karena itu kau menampung wanita di rumahmu?" Jason mengangguk.
''Hanya tempat untuk meluapkan amarah ini mami,'' ucapnya.
''Mami kurang setuju hubunganmu dengan wanita itu Jason. Apalagi kau sudah menikahinya,'' tambah mami.
Jason terdiam dia juga tidak tahu kenapa mau menikahi Claire padahal di antara mereka berdua sama sekali tidak ada kata cinta.
''Mami, malam ini kita kembali ke tanah air!" ucap Jason tiba-tiba.
''Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
''Ada sesuatu yang menyuruhku untuk kembali.'' Alis Nyonya Meneer naik mendengar ucapan Jason yang aneh.
''Tapi mami tidak menyukai wanita itu Jason,'' tolaknya.
''Mami, cobalah untuk memahami perasaanku!" pintanya.
''Baiklah! Kalau mami bosan akan kembali ke sini.'' Jason mengangguk cepat dia tidak mau mami tinggal seorang diri karena hanya beliaulah keluarganya saat ini.
Hari telah berganti pagi itu Claire untuk pertama kalinya bisa mengelilingi isi kediaman Jason. Ia begitu takjub melihat pemandangan yang begitu mempesona.
''Besar sekali rumahnya,'' ucap Claire dalam hati.
''Nona, anda harus minum susu!" ucap pelayan tersebut.
''Oh, saya melupakan ini. Terima kasih mbak,'' ucap Claire dengan senang hati menerima gelas tersebut.
''Ya Nona. Nona bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.
''Ya,'' jawab Claire dengan cepat.
''Malam ini, seorang pria akan menolong Nona dari pintu belakang. Dia akan membawa Nona jauh dari tempat ini,'' bisiknya.
''Siapa?" tanya Claire gugup.
''Rio,'' ucapnya.
''Apa Rio katamu?!" pekik Claire.
''Ya Nona, saya tidak sengaja bertemu dengannya ketika belanja. Ternyata dia mengenalku dan bertanya tentang Nona dan kami berbicara sebentar.'' Claire tidak menyangka kalau Rio masih mau menolongnya.
''Dia kembali padahal, aku tidak tahu bagaimana keadaannya di luar sana sekarang,'' batinnya.
''Nona?" panggilnya.
''Baik mbak, saya mengerti,'' ucapnya.
Claire kembali masuk ke dalam dengan perasaan yang begitu cemas. Rio kembali menolongnya demi ia padahal hubungannya mereka berdua renggang.
Hingga waktu yang telah ditentukan akhirnya tiba, Claire mengendap-endap menuju halaman belakang sambil memperhatikan sekelilingnya yang sepi bagaikan tidak berpenghuni.
''Ya Tuhan, jangan sampai ketahuan!" pintanya dalam hati.
''Claire?" panggil seseorang dari belakangnya.
Claire menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang ia terperanjat melihat kedatangan Jason bersama dengan Nyonya Meneer.
''Rio?!" pekik Claire.
''Jangan bergerak Claire, aku akan ke sana,'' bisik Rio.
__ADS_1
''Jangan Rio, Jason ada di sini?!" balas Claire.