
Makan malam berlangsung dengan nikmat tanpa ada obrolan hingga suasana semakin canggung.
"Bagaimana kandunganmu, Claire?" tanya Rio akhirnya dia membuka suara.
"Baik kak," jawaban tidak suka.
"Besok kita memeriksa kandunganmu, mau kan?" Claire meletakkan sendok karena tidak berselera lagi makan.
"Claire sudah kenyang kak, kalau butuh sesuatu bibi bisa bantu." Claire akhirnya meninggalkan meja makan langsung masuk ke dalam kamar.
"Claire tidak mau bahas baby," batin Rio.
"Kau tidak tahu Rio perasaanku saat ini," tangisnya.
Malam itu mereka berdua diam bahkan suasana hening hanya suara jangkrik terdengar. Rio memeriksa pekerjaannya yang belum diselesaikan.
Pandangannya teralihkan bunyi suara getaran ponselnya hentikan pekerjaannya.
"Ibu Ria?" ucapnya pelan.
"Halo Rio, kalian sedang apa?" tanya ibu Ria.
"Rio kerja Bu dan Claire sudah istirahat," sahut Rio.
"Apa ibu ganggu kamu?" tanya ibu Ria lagi.
"Tidak Bu. Ibu mau mengatakan sesuatu?" tanya balik Rio.
"Ya, ibu baru dapatkan informasi kalau Jason adalah suaminya Claire, apa benar?" tanya ibu Ria cemas.
"Ya Bu, maaf Rio tidak kasih tahu sebelumnya," lirihnya.
"Rio, Claire memiliki ikatan dengan Jason apalagi saat ini ia sedang mengandung," tambah ibu Ria lagi.
"Tapi Claire tidak mau kembali ke sana Bu." Kening ibu Ria mengerut mendengar ucapan Rio.
"Apa yang terjadi selain yang kalian ceritakan kemarin?" tanya ibu Ria panik.
"Claire korban dari ibu serta saudara ya Bu. Ia dijadikan sebagai wanita penebus hutang karena usaha keluarganya collapse. Tapi setibanya di tempat kejadian semua berbanding terbalik, Claire dibeli Jason," terang Rio.
"Orang macam apa mereka itu tega bener melakukan itu kepada Claire!" pekik ibu Ria.
"Dan Claire mengandung sekarang tapi ia seperti tidak menginginkan baby ya Bu," lapornya.
"Apa?! Rio jangan biarkan Claire melakukan hal yang tidak kita inginkan. Baby ya kasihan dia tidak bersalah dalam hal ini," peringat ibu Ria masih dalam keadaan panik.
"Ya Bu, Rio akan pastikan itu tidak akan terjadi," balasnya.
"Baiklah, akhir pekan ini ibu akan berkunjung tapi jangan kasih tahu kepada Claire ya, Rio?" pinta ibu Ria.
__ADS_1
"Baik Bu." Obrolan akhirnya selesai.
"Andai ibu tahu dan Claire juga aku sangat mencintainya. Baby? Aku siap jadi ayah sambungnya dan hadapi Jason kalau dia adalah pria paling buruk di dunia ini," ucap Rio dalam hati namun tatapannya lurus ke depan.
Rio habiskan waktunya memikirkan Claire mulia menutup diri. Padahal ia seharusnya sudah lebih baik setelah meninggalkan Jason.
Padahal Jason saat ini sedang tidak terkendali karena terlalu banyak minum. Dia terus bergumam soal Claire karena sudah ditinggal.
"Kak Jason payah sekali jadi pria hanya karena seorang wanita dia jadi berubah. Lalu, bagaimana kak Jason dulu ketika aku pergi meninggalkannya?" Jesy merasa bersalah tidak kembali saat itu atau hubungi.
"Claire, kembalilah!" ucapnya sambil jalan sempoyongan.
"Jadi penasaran rupa Claire. Kak Jason tidak mencintaiku hatinya sudah berpaling kepada wanita baru," batin Jesy lalu meletakkan Jason ke atas tempat tidurnya.
Jesy turun ke bawah menemui sekretaris Derulo masih berada di bawah.
"Om Derulo?" panggil Jesy.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya sekretaris Derulo.
"Foto Claire, aku menginginkannya!" ucap Jesy.
"Untuk apa Nona?" alis sekretaris Derulo menyatu dengar permintaan Jesy.
"Om tidak mau mempermudah pekerjaan dari kak Jason?" ucap Jesy enteng.
"Maksud Nona, bagaimana?" tanya sekretaris Derulo tidak mengerti.
"Ya Nona," jawab sekretaris Derulo pelan.
"Maka berikan dulu samaku foto Claire!" tangan Jesy sudah gantung di udara berharap sekretaris Derulo memenuhi permintaannya.
"Baik Nona." Tanpa ragu-ragu sekretaris Derulo memberikan foto Claire.
"Om boleh kembali," ucap Jesy lalu masuk ke dalam sambil memperhatikan foto Claire.
"Baik Nona," angguk sekretaris Derulo.
Berulang kali Jesy miringkan foto Claire karena dia begitu kesulitan mengingat wajah yang tidak asing baginya.
"Di mana pernah melihat wajah ini ya?" tanyanya.
"Nona, Tuan Jason memanggil anda?!" panggil pelayan.
"Oh ya, tunggu sebentar," sahut Jesy.
Jesy asal meletakkan foto Claire di atas nakas lalu berlari kecil menuju kamar utama melihat kondisi Jason.
"Jesy, kau yang membawaku ke sini?" tanya Jason setelah mengejutkan isi perutnya dan lebih baik Sekaran.
__ADS_1
"Ya, siapa lagi yang berani memasuki kamar kakak selain aku?" tanya Jesy.
"Claire," ucapnya pelan.
"Kak, sudah hampir satu Minggu tapi sampai sekarang aku belum mengetahui siapa Claire?" tanya Jesy.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Jason lalu wajahnya dia buang ke samping.
"Kak, Jesy sudah tahu wajah Claire tapi boleh aku tahu kenapa ia pergi dari sini?" tanya Jesy memohon agar tahu tentang Claire.
"Dari mana kau tahu wajah Claire?" tanya Jason serius.
"Apapun bisa kulakukan kak cari tahu." Jason mendengus seharusnya Jesy tidak perlu terlibat.
"Udah larut kau sebaiknya istirahat!" usir Jason.
"Tega kakak." Jesy langsung keluar dengan perasaan begitu kecewa.
Jason mengusap wajahnya kuat karena bisa dia bodoh merusak tubuhnya minum setiap malam. Dia ingat wajah Claire yang sedih namun perlakuannya tidak baik.
"Apa yang ia lakukan sekarang ya?" ucap Jason pelan. Pertanyaan itu membawanya bodoh.
Mentari memasuki seluruh ruangan hingga panas mulai menyerang tubuh kecil itu yang sekarang sudah mulai terlihat berisi.
"Selamat pagi, Claire!" sapa Rio.
"Pagi, mau berangkat kerja ya kak?" tanya Claire.
"Ya, kau mau ikut tidak?" tawar Rio.
"Lain kali aja kak," tolaknya halus.
"Yakin tidak mau ikut? Banyak lho mencari tahu wajah kamu Claire, mereka penasaran ingin mengenalmu lebih jauh," tambah Rio.
"Tidak apa-apa ya kak kalau aku gabung dengan masyarakat?" tanya Claire pelan.
"Tidak apa-apa, lagian siapa yang mau menyakitimu lagi?" Claire menunduk dengar ucapan Rio yang mengingatkan kelakuan Jason kepadanya.
"Claire, aku bukan bermaksud tadi mengatakan itu," ralat Rio setelah melihat wajah Claire yang tiba-tiba berubah.
"Lain waktu saja aku ikut kak, hari ini aku masih menyusun pakaian," ucap Claire.
"Baiklah, kakak tidak akan paksa. Jaga kesehatan ya jangan sampai terjadi sesuatu kepada kalian," ucap Rio sambil menatap perut Claire yang mulai terlihat.
"Kak Rio sepertinya menyukai kandunganku tapi kehadiranmu ke dunia ini malapetaka untukku." Claire dalam sekejap berubah tetap tidak mau ada baby dalam perutnya.
"Sesuai yang pernah kukatakan, kalau kehadiranmu tidak ada yang menginginkan. Bahkan yang ciptakanmu tidak ada kabar sampai sekarang." Claire menarik napas panjang sambil perhatikan pada ibu-ibu sedang cengkraman saja ya.
"Nona, ada panggilan untuk anda?" ucap bibi.
__ADS_1
"Siapa bi?" tanya Claire pelan.
"Ibu Ria, beliau ingin bicara sesuatu kepada anda Nona." Claire mengangguk patuh menerima ponsel tersebut.