Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Ibu, Larisa Dan Rio


__ADS_3

Claire tidak menyangka kalau Jason tega memaksanya meminum obat agar ia tidak mengandung anaknya suatu saat. Jason langsung meninggalkan Claire dengan wajah yang begitu tenang karena masalah pertama sudah kelar.


''Derulo, pastikan kalau Claire tidak akan pernah mengandung, kau mengerti?" titah Jason.


''Bukankah Nona Claire adalah wanita yang anda cari selama ini, Tuan?" tanya sekretaris Derulo.


''Aku tidak pernah percaya siapapun Derulo, termaksud dengan wanita itu.'' Sekretaris Derulo diam, dia hanya bisa mengikuti semua yang dikatakan Jason.


Jason sesekali meneguk wine sambil menatap langit yang begitu bersih. Suhu udara malam ini terasa hangat ditemani lampu kerlap-kerlip menghiasi kota metropolitan tersebut.


''Jesy, kau lihat bagaimana aku memperlakukannya. Apa yang kau rasakan kini mereka juga merasakannya,'' ucapnya.


Tanpa Jason sadari Claire mendengar barusan yang dikatakannya. Ia heran maksud perkataan pria matang itu, tidak mau dapatkan masalah akhirnya Claire kembali masuk ke dalam kamar.


Sendirian dalam kamar yang luas tapi tidak ada apapun dalam sana. Suasana begitu mencekam hanya ada cermin yang menemaninya.


Claire mendekati cermin tersebut ia melihat wajahnya yang pucat serta kulitnya mulai kembali normal karena obat yang diberikannya Jason ternyata mengurangi bekas merah.


"Kau sangat memprihatikan Claire," lirihnya.


"Sudah puas bercermin?" Claire tergelonjak kaget mendengar suara Jason yang berat.


Jason mendekati Claire yang menundukkan kepalanya lalu tangan kekar itu langsung menarik dagu itu.


"Mau apa dia?" batin Claire sambil mengalihkan wajahnya ke samping.


"Layani aku lagi." Seluruh tubuh Claire langsung membeku, ia teringat perlakuan Jason kepadanya kemarin malam.


Claire melepaskan tangan Jason lalu ia menuju ke tempat tidur, air matanya lolos beberapa butir serta perasannya sesak. Tidak ada suara jeritan keluar malam itu ia berusaha menahan semua perlakuan Jason.


"Apalagi yang kutangisi, pria ini sudah mengambil segalanya. Ibu, Larisa dan Rio mereka sama saja," ucapnya dalam hati.


Claire memejamkan kedua bola matanya tanpa ia sadari Jason terus memperhatikan wajahnya. Paling menarik perhatiannya adalah mata indah Claire telah kosong tidak ada tanda-tanda apapun di sana.

__ADS_1


"Kalau seperti ini, aku mana puas!" Jason dorong tubuhnya ke atas hingga Claire tersentak kaget.


"Sakit?!" pekiknya.


"Lihat aku dan keluarkan suara jeritanmu Claire! Di mana Claire yang aku kenal semalam?" ucap Jason.


"Lakukan sepuasmu Tuan, kalau anda merasa saya hasil jual beli bukankah memperlakukan hal lebih adalah kesenanganmu?" tantang Claire.


Jason menaikkan alisnya dia merasa tertantang untuk melakukan lebih dari sini namun, kalau bukan karena besok dia harus rapat awal malam ini permainannya menjadi singkat.


"Kau beruntung malam ini. Istirahatlah besok kita akan pergi jauh," ucap Jason sambil mengikat tali piyamanya.


"Anda mau membawaku ke mana?" tanya Claire penasaran.


"Minum ini." Jason melemparkan sebuah bungkusan kecil lalu keluar.


Dua pelayan masuk membawa pakaian ganti Claire mereka sama sekali tidak kaget melihat keadaan kamar itu acak-acakan.


"Nona, kami membawa pakaian anda." Claire menatap pakaian kurang bahan itu.


Di kamar mandi suara tangisan memenuhi ruangan tersebut karena dingding kedap suara, maka para pelayan sama sekali tidak mendengar jeritannya berkali-kali keluar.


"Nona bersiaplah waktunya anda tidur!" panggil pelayan tersebut namun namanya sangat dirahasiakan oleh penanggung jawab kediaman Jason.


Claire keluar sesudah merasa cukup baik setelah mengeluarkan perasannya yang sakit. Tidak peduli kedua pelayan masih di situ, Claire menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya.


"Selamat malam Nona," ucap mereka berdua secara bersamaan.


Claire membuka kedua bola matanya, ia turun dari tempat tidur lalu menuju balkon. Tatapannya lurus ke depan yang ada hanya kegelapan, ia teringat perkataan Jason jelas-jelas pendengaran ya tidak salah dengar menyebut nama seorang wanita.


"Jesy?" gumamnya pelan.


Dari belakang Jason memperhatikan Claire memeluk tubuhnya menggunakan kedua tangan ya. Suhu udara yang dingin tidak membuatnya ingin cepat-cepat masuk ke dalam.

__ADS_1


"Wanita ini memang aneh tapi itu belum seberapa bandingkan yang dialami Jesy masih lebih menyakitkan," ucapnya dingin.


Rahang Jason terukir begitu jelas ditambah dengan sorot mata yang menyipit. Cukup lama memperhatikan Claire Jason meninggalkan kamar karena esok dia harus berangkat subuh ke perusahaan.


"Ayah, ibu kalian sedang apa di sana? Bolehkah Claire ikut dengan kalian berdua malam ini?" ucapnya penuh kegetiran.


Hidup yang ia jalani saat ini tidak ia duga harus berakhir di tempat yang sempit penuh dengan penekanan. Waktu terus berputar, rintik hujan mulai turun hingga mengenai wajahnya yang pucat.


"Kalian adalah temanku malam ini maka obati hatiku yang sedang rapuh," batinnya.


Claire tidak peduli pakaiannya basah rintik hujan yang semakin lama turun cukup deras. Hingga pelayan tidak sengaja melihatnya dari bawah kaget langsung naik ke atas dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Nona, apa yang anda lakukan di sana?" pekiknya.


"Jangan pedulikan saya Mbak. Lagian aku akan masuk kog ke dalam jadi jangan khawatir." Setelah mengatakan itu Claire benar-benar kembali ke dalam.


"Nona harus ganti pakaian. Tuan muda tidak menyukai ada yang tidak suka dengan miliknya." Claire berdecak dengar perkataan pelayan itu.


Setelah ganti pakaian pelayan kembali keluar namun Claire tidak bisa tidur. Pikirannya terngiang-ngiang Jason soal ia akan dikembalikan jika sudah bosan.


"Tidak mungkin aku kembali ke rumah. Ibu dan Larisa pasti akan melakukan hal yang sama lagi. Rio? Dia sama saja manis di mulut bodoh sekali kau Claire, terlalu polos sampai mereka bisa membawamu masuk ke dalam lingkaran pria arogan." Claire tertawa pilu meratapi nasibnya di tangan Jason.


Keesokan harinya Jason sudah berangkat ke luar kota menghadiri rapat darurat bersama dengan para pemegang saham. Dia tidak sempat mengisi amunisi karena sudah dikejar oleh waktu.


Suara ketukan pintu sebanyak tiga kali lalu pelayan masuk tanpa ada sahutan dari dalam. Claire sedikit kaget melihat kedatangan mereka membawakan sarapan serta pakaian ganti ya.


"Selamat pagi Nona. Pakaian anda hari ini adalah pilihan Tuan muda. Beliau ingin anda mengenakan untuk nanti malam!" ucap pelayan itu lalu meletakkan di atas tempat tidur.


Claire menatap pakaian itu kosong tidak ada rasa kagum melihat cantiknya pakaian kurang bahan itu kalau ia kenakan apalagi warna merah yang dipilih hingga terlihat begitu kontras.


"Seleranya buruk sekali," decak Claire.


"Kami sudah mempersiapkan sarapan pagi untuk anda Nona," tambah pelayan.

__ADS_1


"Tahanan kosong tiga hari akhirnya sarapan," ucapnya sambil menelan begitu susah payah. Kedua pelayan itu saling pandang karena tidak mengerti yang dikatakan Claire barusan lalu mereka keluar setelah tugas selesai.


__ADS_2