Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Mengikuti Semua Kemauan


__ADS_3

Malam yang seharusnya nikmati berbalik seratus delapan puluh derajat. Dinginnya udara hingga menembus ke tulang-tulang rusuk.


Claire memeluk tubuhnya yang kurus, ia menatap sekelilingnya yang gelap gulita. Langit tiba-tiba bergerumuh serta petir mulai mewarnai langit malam itu.


"Ayah, ibu, Claire takut," ucapnya pelan.


"Wanita lemah," ucap Jason lalu hidupkan lampu.


"Dia yang membuatku seperti ini," batinnya.


"Turun!" Claire terbelalak mendengar perkataan Jason.


"Tapi-" Jason langsung mendorong tubuh lemah itu hingga mendarat ke lantai yang begitu dingin.


"Aku tidak sudi satu tempat tidur denganmu. Hanya Jesy yang bisa berbaring di sini," ucap Jason penuh penekanan.


"Jesy? Nama itu selalu aku dengar dan siapa dia sampai Jason tidak bisa melupakannya?" batinnya.


Pada akhirnya Claire di lantai tanpa beralas hingga suhu udara malam itu semakin dingin. Jason sama sekali tidak memperdulikan Claire dan dia tidur begitu nyekak.


Claire berdiri melihat wajah tampan Jason damai dalam tidurnya. Air matanya lolos begitu saja lalu ia kembali duduk di pojok ruangan sambil memeluk tubuhnya semakin lama dingin.


"Ayah, ibu, mungkin sebentar lagi kita akan bersama seperti dulu. Rio, kau sahabatku bukalah lembaran baru dan hiduplah dalam damai," ucapnya dalam hati.


Tengah malam Jason terjaga karena tenggorokannya kering lalu dia turun dan tidak sengaja melihat Claire meringkuk.


"Ia tidur di sana?" ucapnya tidak percaya.


Jason menyentuh kulit tangannya dia terbelalak merasakan dingin bagaikan es batu. Terus menyentuh memastikan kalau tangannya tidak salah tapi kenyataannya benar.


"Ayah, ibu, Claire melihat kalian," gumamnya pelan sambil tersenyum.


"Dia tersenyum dalam keadaan seperti ini. Wanita tidak waras?!" pekiknya.


Hujan yang masih turun hingga angin berputar tiba-tiba lampu mati. Jason mendengus kesal cari ponselnya agar dokter pribadinya datang memeriksa Claire.


"Tuan, anda di dalam?" panggil sekretaris Derulo.


"Derulo, ia sakit keras," ucap Jason setelah lampu menyala.


"Saya akan hubungi dokter anda, Tuan." Jason dengan cepat cegah.


"Tidak perlu, aku sudah hubungi tapi ia aku tidak tahu bisa bertahan atau tidak karena cuaca begitu buruk." Malam itu pelayan pribadi Claire sibuk menurunkan panas tubuhnya yang mendadak tinggi.


"Tuan, suhu tubuh Nona tetap tidak turun," lapor ya.


"Apa?! Minggir, aku mau periksa!" Jason terbelalak merasakan tubuh Claire yang begitu tinggi.


"Tuan, dokter sudah tiba," ucap sekretaris Derulo.

__ADS_1


"Cepat suruh dia masuk!" Derulo mengerti dan menyuruh dokter masuk.


"Maaf Tuan, saya terjebak macet di jalan," ucapnya pelan.


"Cepat periksa wanita ini!" dokter terpengarah mendengar ucapan Jason kalau di hadapannya ini adalah istrinya sendiri.


"Baik Tuan," jawabnya cepat.


Satu jam berlalu namun suhu tubuh Claire belum juga turun bahkan kedua bola matanya sulit untuk dibuka.


"Kenapa belum bangun?" tanya Jason heran.


"Saya akan memeriksanya lagi, Tuan," ucap dokter tersebut.


Jason hampir gila tengah malam merawat seorang wanita yang seharusnya dia berikan pelajaran namun, justru dirinya yang terjebak.


Pada akhirnya mata cokelat itu terbuka pelan-pelan namun penglihatannya buram dan sulit melihat sekelilingnya.


"Mataku kenapa jadi seperti ini?" batinnya.


"Tuan, Nona sudah sadar," ucap dokter sambil bernapas lega.


"Hei, kau mendengarku?" panggil Jason.


"Dia pikir aku tuli, aku tidak bisa melihat," ucapnya dalam hati.


"Kenapa lagi ia?" tanya Jason.


"Bagaimana?" tanya Jason.


"Maaf Tuan. Nona mengalami buta." Kedua bola mata Jason melebar dengar ucapan dokternya.


"Apa?! Aku buta?" pekik Claire.


"Kau jangan asal bicara!" ucap Jason langsung menarik kerah baju dokter tersebut.


"Hanya sebentar Tuan. Satu jam lagi akan kembali semula," tambahnya.


"Keluar kau!" usir ya.


"Baik Tuan." Dokter tersebut langsung keluar dengan perasaan yang begitu lega. Empat jam terjebak akhirnya bebas untuk sementara.


"Sekarang aku akan diapakan pria ini?" batinnya.


"Kau sudah dengar kan? Wanita Lemah." Jason langsung meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan yang tidak baik.


Dia memilih minum di ruang kerjanya sambil menatap foto Jesy yang tersenyum hangat.


Claire menangis penderitaannya semakin bertambah ia beranjak secara perlahan sambil meraba-raba.

__ADS_1


Ia menubruk meja hingga apa yang di atas berjatuhan ke lantai, Claire panik karena Jason pasti akan semakin marah terhadapnya.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Jason karena benda kesayangannya telah pecah.


"Maaf aku tidak sengaja melakukannya. Kalau mau hukum saya silahkan," ucapnya pasrah.


"Di sini cocok untukmu agar tidak menyusahkan." Jason langsung menariknya lalu mengurung Claire dalam kamar mandi.


"Apa tidak sebaiknya aku di hilangkannya saja dari muka bumi ini? Kesalahan apa yang kulakukan dulu sehingga harus menerima kenyataan ini." Claire menangis sesenggukan dalam kejeniusan kamar mandi yang dingin.


Jason meraih sisa pecahan kaca tersebut dia tidak bisa memperbaiki lagi karena kerusakannya begitu besar.


Hingga pagi hari telah tiba, mentari menyambut seluruh penghuni kediaman Jason. Nyonya Meneer bersiap hendak kembali ke Eropa.


"Mami, mau ke mana?" tanya Jason pura-pura tidak tahu.


"Mana istrimu?" tanya Nyonya Meneer.


"Lagi tidur mami. Ia kelelahan habis melayaniku satu malam ini." Nyonya Meneer mulas mendengar ucapan Jason.


"Sampaikan kepadanya, satu Minggu lagi aku akan kembali," ucapnya.


"Kenapa tidak tinggal di sini saja mami? Kalau mau berkeliling Eropa Jason bisa menyediakan fasilitas." Nyonya Meneer terdiam sejenak lalu tanpa mengatakan apa-apa kembali masuk ke dalam kamar.


"Tuan, Nona kembali drop," lapor sekretaris Derulo.


"Wanita itu sungguh merepotkan." Jason naik ke atas memastikan keadaan Claire.


"Nona kembali demam Tuan," ucapnya.


"Bawa ia ke rumah sakit tanpa sepengetahuan mami dan awak media!" perintahnya.


"Baik Tuan," jawab sekretaris Derulo cepat.


Claire merasakan sinar matahari yang mengenainya namun panasnya suhu udara pagi itu tidak menembus ke dalam kulitnya.


Rumah sakit Rio tidak sengaja melihat Claire di bawa tergesa-gesa. Sebagai sahabat, Rio langsung berlari kencang mengikuti ke mana Claire di bawa.


"Claire, apa yang terjadi?" tanya Rio akhirnya berhasil bisa membawanya ke ruang periksa.


"Rio, aku minta maaf ya sudah membencimu. Mungkin aku akan bertemu dengan ayah dan ibu," lirihnya.


"Kau bicara apa Claire? Jangan pergi tanpa seizin ku, kau dengar tidak?" pekik Rio.


"Dokter Rio, kami harus memeriksanya tolong keluar dulu," ucap dokter Hadi.


"Lakukan yang terbaik kepadanya dan jangan sampai kenapa-kenapa ia, dokter mengerti?" ucap Rio panik.


"Serahkan semuanya kepada kami." Rio keluar dari ruangan tersebut namun sebuah tangan melayang ke wajahnya hingga mengeluarkan noda berwarna merah dari sudut mulutnya.

__ADS_1


"Beraninya kau masuk ke dalam sana tanpa seizin ku?!" ucap Jason dingin.


"Aku diam selama ini dan mengikuti kemauanmu tapi apa yang kau lakukan kepadanya?" sentak Rio lalu membalas seperti yang dibuat Jason kepadanya.


__ADS_2