Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Gengsi Terlalu Tinggi


__ADS_3

Rio tersenyum ketika Claire melihatnya lalu ibu Ria kembali berbicara untuk memberitahukan hal selanjutnya.


''Dan kalian berdua akan tinggal bersama di kota nak,'' lanjut ibu Ria.


''Kenapa memangnya tinggal di sini Bu?" tanya Claire.


''Tidak kenapa napa nak hanya saja tempat ini sepi dan tidak siapapun. Ibu khawatir dengan keselamatanmu di sini,'' tambahnya.


''Kak Rio, bagaimana?" tanya Claire lirih.


''Kalau kau tidak mau kakak akan tetap di sini bersamamu,'' ucapnya.


''Baiklah Claire menurut.'' Ibu Ria langsung memeluk Claire memberikan kehangatan agar tidak merasa sendirian.


''Ayo kita makan kue ya keburu meleleh.'' Claire dan Rio mengangguk malam itu seperti tidak ada suatu yang terjadi.


Ibu Ria dan Rio saling menutupi mengenai pertemuan mereka bersama dengan Jason dan adiknya. Bahkan, Claire tidak menaruh rasa curiga sedikitpun selalu menikmati suasana malam itu dengan baik.


''Claire, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Rio sambil menikmati cuaca malam sejuk dengan angin yang tidak terlalu kencang mengenai wajah mereka berdua.


''Baik kak,'' jawabnya sambil menunduk.


''Kakak baru ditempatkan salah satu rumah sakit di kota Claire,'' ucap Rio.


''Di mana itu kak?" tanya Claire antusias.


''Milik ibu Ria, mereka kekurangan dokter.'' Claire baru mengerti kenapa ibu Ria memberikan kunci rumah kepadanya sebagai hadiah ulang tahun.


''Kakak mau ya?" tanya Claire pelan.


''Semua kan ada keputusan pada dirimu Claire,'' kekeh Rio.


''Maaf kak, Claire sudah membuat kehidupanmu menjadi sulit karena aku,'' lirihnya.


''Hei jangan seperti itu, pokoknya kita harus tetap bersama dan membesarkan baby.'' Claire mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat.


''Claire tidak yakin bisa membesarkan baby ini suatu saat kak.'' Rio mengepalkan tangannya mendengar jawaban Claire.


''Apa salah baby ini Claire sampai kau membencinya?" tanya Rio sambil memegang kedua pundak Claire yang bergetar.


''Ayah ya, semua salahnya karena sudah menanam benih ya di sini!" teriak Claire.


''Kalau kau tidak menyukai baby ini, serahkan kepada ku nanti kalau sudah lahir ke dunia ini,'' ucap Rio.


''Aku membenci pria itu kak,'' tangisnya sesenggukan.


''Ya, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang Claire tapi kita tidak bisa mengembalikan waktu.'' Rio memeluk erat Claire agar perasaannya tenang.


''Perkataan pria itu jahat sekali kak, dia tidak akan pernah menginginkan bayi ini,'' isaknya.

__ADS_1


''Jangan menangis ya, kakak akan pastikan kalian berdua,'' janji Rio.


''Claire tidak yakin kak.'' Claire menepiskan tangan Rio sedang mengusap wajahnya.


''Tatap mata kakak!" Claire nama melihat mata Rio serius tidak ada kebohongan di sana.


''Claire minta maaf kak sudah membuat kekacauan malam ini,'' ucapnya pelan.


''Tidak, kau pantas mengatakan itu Claire dan sekarang ayo kita istirahat ya nanti kalian berdua masuk angin,'' ajak Rio.


''Ya kak,'' balasnya.


Ibu Ria memperhatikan mereka berdua dari tadi perasaannya berkecamuk melihat tangisan Claire.


''Bagaimana kalau kau tahu kami tadi bertemu dengan Jason mungkin detik ini dirimu akan pergi selamanya,'' batin ibu Ria.


Waktu terus berjalan tengah malam hujan turun disertai dengan angin yang cukup kencang. Claire gelisah karena hanya ia seorang tidur sendirian dalam kamar tersebut.


''Kak Rio, Claire takut,'' ucapnya pelan.


''Claire bagaimana di kamar ya? Malah hujan semakin lebat lagi?" gumam Rio. Sementara ibu Ria enak sekali tidur tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.


Secara perlahan Rio pelan-pelan keluar dari kamar untuk memastikan Claire tidak kenapa-napa.


''Claire?" panggil Rio pelan.


''Kak!" Claire langsung memeluk Rio karena tiba-tiba lampu padam.


''Claire takut kak,'' ucapnya dan semakin mempererat pelukannya.


''Jangan takut kakak sudah ada di sini,'' modus Rio.


Akhirnya lampu hidup kembali Rio melepaskan pelukannya dan menatap wajah Claire yang terlihat pucat.


''Maaf kak, Claire tidak sengaja memeluk seperti tadi,'' ucapnya malu.


''Tidak apa-apa, sampai esok pagi dipeluk kakak suka kog,'' godanya.


''Menyebalkan,'' cebik Claire.


''Bagaimana sekarang perasaanmu sudah tenang atau belum?" tanya Rio.


''Sudah, kakak mau kembali ke kamar ya?" tanya Claire cemas.


''Ya, memangnya kenapa?" tanya Rio.


''Claire mengira kakak kembali menginap di sini,'' ucapnya.


''Kalau kau yang meminta baiklah aku aku penuhi.'' Rio langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Claire melongo tidak percaya Rio langsung mengiyakan.

__ADS_1


''Pakai selimut kak nanti masuk angin!" seru Claire.


''Terima kasih ya,'' ucap Rio senang.


''Ya,'' angguk Claire.


''Andaikan saja kau benar-benar istriku tidak tahu lagi bagaimana bahagianya hidupku Claire,'' batin Rio sambil melihat Claire sudah hilang di balik selimutnya.


Berbeda dengan Jason sama sekali tidak bisa tidur karena kepikiran tentang Claire mengandung.


''Tidak mungkin Claire mengandung karena obat yang ia minum kadarnya tinggi,'' ucap Jason sambil berguling ke kiri dan kanan.


''Tapi kalau Claire memang mengandung bagaimana?" tanyanya lagi.


Jason memutuskan menuju ke ruang kerja untuk menghilangkan gelisah yang melandanya. Lima botol wine habis dalam sekejap namun tidak mengurangi pening di kepalanya.


Keesokan harinya Jesy terkejut melihat wajah Jason sudah seperti batman. Dia tertawa karena pertama kali melihat kakaknya terlihat kacau.


''Kakak habis ngapain semalaman?" tanya Jesy.


''Diam kau bodoh,'' kesal Jason.


''Mata kakak tuh, seperti habis dihantam,'' tawanya.


''Kakak pusing memikirkan Claire dan juga kandungan ya kalau memang ia hamil,'' lirih Jason.


''Sejak kapan kakak peduli kepada, Claire?" tanya Jesy serius.


''Tidak tahu.'' Jason tidak sarapan pagi dan langsung berangkat ke kantor dengan wajah yang tidak bersemangat.


''Kasihan kau kak,'' batin Jesy.


Sekretaris Derulo langsung membuka pintu ketika melihat Jason menuju ke arahnya dengan langkah yang gontai.


''Selamat pagi Tuan,'' sapa sekretaris Derulo.


''Satu harian ini kita cari keberadaan Claire!" perintah Jason.


''Maaf Tuan, sampai detik ini saya belum bisa mencari keberadaan Nona,'' ucap sekretaris Derulo.


''Di mana keahlianmu Derulo? Tidak biasanya kau lalai bekerja?" tanya Jason.


''Saya menduga ada orang kuat yang menyembunyikan keberadaan Nona, Tuan,'' balas sekretaris Derulo.


''Apa?! Itu tidak mungkin, siapa yang mau menampung wanita seperti Claire?" decih Jason.


''Nona cantik Tuan, siapapun akan menampung beliau.'' Kedua bola mata Jason terbuka lebar dia memang mengagumi kecantikan Claire yang alami tapi mereka berdua hanya sebatas wanita penebus hutang untuk keluarganya.


''Dia hanya wanita setengah triliun mana ada yang mau menampung ya. Kalaupun ada mereka tidak akan pernah menerimanya dengan baik,'' ucap Jason ketus.

__ADS_1


''Tuan gengsinya terlalu tinggi, tidak tahu nanti kedepannya bagaimana semoga saja Nona Claire baik di luar sana,'' gumam sekretaris Derulo.


Jason terus memperhatikan keluar jendela melihat kendaraan banyak melewati mereka.


__ADS_2