
Claire termenung sendirian sambil mengetuk pipi kanannya, ia melihat wajahnya balik cermin yang semakin kurus dan tidak birisi.
"Apa yang kau pikirkan, Claire?" ucapnya pelan.
"Nona bersiaplah waktunya belajar," ucap pelayan tersebut.
"Belajar apa?" tanya Claire heran.
"Tuan muda sudah menunggu, Nona," tambahnya.
Claire langsung berdiri melewati pelayan tersebut dengan wajah yang datar. Untuk pertama kalinya ia turun secara bebas di lantai dasar.
Ia takjub melihat isi rumah Jason memiliki furniture yang tidak biasa.
"Ini yang aku takutkan kalau nanti pernikahan terjadi." Suara bariton dari belakang mengagetkannya.
"Lepaskan saya biar anda tidak malu," balas Claire.
"Kau menantangku?" tanya Jason mulai tidak suka.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kau mengenal pria ini?" Jason melemparkan foto tersebut langsung tepat bawah kakinya.
"Rio?!" pekiknya.
"Namanya Leonardo bukan Rio," ralat Jason.
"Dari mana foto ini dapat anda?" tanya Claire lirih.
"Kenal atau tidak?" tanya Jason.
"Tidak. Ternyata aku salah orang," bohong Claire.
"Dia adalah tamu spesial yang akan hadiri pernikahan penebus hutang." Kedua bola mata Claire terbelalak mendengar perkataan Jason barusan.
"Rio jadi tamu spesial? Bagaimana bisa?" batin Claire.
"Yakin tidak mengenal pria ini?" tanya Jason lagi.
"Tidak ada pernyataan lain selain pria ini? Bukankah ada sesuatu yang ingin anda katakan kepada saya?" alih Claire.
"Hari ini mami akan datang menguji kemampuan yang kau miliki. Katakan yang sejujurnya ada anak di dalam sana," tambah Jason.
"Aku tidak bisa melakukan itu," tolak Claire.
"Karena kau sudah milikku sepenuhnya jadi lakukan yang kukatakan ini!" tekan Jason.
"Nyonya pasti akan melakukan apapun padahal saya tidak mengandung," ucap Claire.
"Lakukan atau." Claire langsung mengangguk mengerti ia benar-benar takut melihat sorot mata Jason yang memerah.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya Meneer sudah tiba," potong sekretaris Derulo.
"Bersiaplah!" ucap Jason dingin.
"Ya," angguk Claire.
"Jason?" panggil Nyonya Meneer.
"Cepat sekali mami datang," ejek Jason.
"Jadi ini wanita itu? Tidak berkelas!" Nyonya Meneer langsung duduk sambil menyapu Claire dari atas sampai bawah.
"Langsung ke points saja mami. Jason masih banyak pekerjaan," ucapnya.
"Apa benar kau sudah mengandung anak Jason?" tanya Nyonya Meneer.
"Ya Nyonya," jawab Claire singkat.
"Mami tidak mempercayai wanita ini Jason. Hari ini juga kita ke dokter memeriksa ya." Claire menatap Jason, ia semakin kejepit hal ini.
"Baik, ayo dengan senang hati mami," balas Jason.
"Ya Tuhan, bagaimana sekarang? Lambat laun pasti akan ketahuan?!" jerit Claire dalam hati.
"Awas kalau tidak mengandung, detik ini juga wajah itu akan berganti," ucap Nyonya Meneer dalam hati sambil menatap Claire dari balik cermin.
"Ayo mami, kita sudah sampai," ajak Jason.
"Ini kan rumah sakit tempatku kerja? Rio pasti di sini juga," ucap Claire dalam hati sambil melihat sekelilingnya.
"Rio, kau tidak mau melihatku?" ucapnya pelan.
Kedua mata itu saling pandang hingga kerinduan yang mendalam pada akhirnya terobati setelah sekian lama.
"Claire, aku merindukanmu," ucap Rio dalam hati.
"Rio, kalau bukan karena kau berbohong dulu aku pasti sudah berlari ke dalam pelukanmu," ucap Claire dalam hati.
"Kita akan bertemu lagi nanti Claire tapi kau menyakitiku, selama ini kau ternyata sudah jalin asmara dengan Tuan Jason," tambahnya.
"Aku wanita bodoh, terlalu mempercayai perkataan MU selama ini Rio." Pintu lift terbuka hingga pandangan itu putus.
Jason tersenyum lebar melihat Rio dan Claire saling membenci, hal ini yang dia tunggu ketika pertama kali tiba di rumah sakit.
"Periksa wanita ini, apa benar mengandung atau tidak!" ucap Nyonya Meneer galak.
"Baik Nyonya. Nona silahkan anda berbaring!" ucap dokter kandungan tersebut.
"Ya," jawabnya pelan.
"Mami, kalau Claire mengandung bagaimana?" tanya Jason memastikan.
__ADS_1
"Mami tidak akan pernah menerima ya tapi tidak dengan calon cucuku," jawabnya.
"Jadi aku akan di sebut sebagai ibu pengganti. Tapi aku kan memang tidak mengandung, apa yang kau takutkan Claire?" hiburnya dalam hati.
"Bagaimana, apa dia mengandung atau tidak?" tanya Nyonya Meneer memastikan.
"Benar Nyonya. Usia kandungan Nona Claire baru dua Minggu dan ini adalah calon buah hatinya masih kecil," tunjuknya.
"Apa?! Tidak mungkin?" pekik Nyonya Meneer.
"Aku mengandung? Lelucon macam apa ini?!" tawanya dalam hati.
"Mami sudah percaya kan kalau Claire mengandung anakku dan calon cucu mami juga," balas Jason.
"Periksa lebih teliti lagi. Pasti ada yang salah?" ucapnya.
"Nyonya, pemeriksaan kami belum pernah salah. Ini adalah bukti nyata kalau Nona Claire saat ini sedang mengandung," tambahnya lagi.
"Jangan panik Claire. Pria arogan ini pasti mengakali drama yang dia ciptakan. Aku tidak mengandung titik!" teriaknya dalam hati.
"Restui pernikahan ini mami." Nyonya Meneer tidak bisa mengatakan lagi.
"Kau sudah menyakiti hati mami Jason dan karena kau keluargaku harus menanggung aib," tuduh Nyonya Meneer.
"Apa salahku? Semua terjadi begitu saja, andai saja aku dilahirkan kembali kehidupan yang kuinginkan kesendirian tanpa ada pengganggu," batinnya.
"Ayo kembali! Mami sudah puas kan sebentar lagi akan memiliki cucu sekaligus penerus keluarga Monta grup," ucapnya.
"Jason, mami mengaku kalah bawalah ia ke rumah dan acara pernikahan kalian esok di selenggarakan sana dengan meriah," ucap Nyonya Meneer lemas.
"Terima kasih mami. Jason yakin kalau Jesy pasti bahagia aku akan menikah." Jason memeluk Nyonya Meneer begitu erat karena mami merestui hubungan ini.
Claire terhenyak dengan situasi saat ini yang tidak ia mengerti bahkan Nyonya Meneer seketika langsung merestui hubungan mereka dua.
Hamil? Apa aku benar-benar hamil sementara obat tiap berhubungan aku selalu minum. Claire mengusap perutnya yang terlihat rata dan itu tidak luput dari pengelihatan Jason.
"Hanya sandiwara, tidak sesuai fakta," ucap Jason dalam hati.
Mereka kembali ke kediaman Jason tanpa ada sepatah kata hingga Claire pada akhirnya tiba kembali ke kamarnya.
Pernikahannya esok dan semua yang dikatakan Jason pertama kali dia langgar. Rio? Dia jadi tamu spesial hari pernikahan begitu banyak kejutan yang menanti ia kedepannya.
"Ayah, ibu, Claire lelah," ucapnya pelan nyaris tidak terdengar.
Lambat laun mata sipit itu tertutup dengan rapat hingga esok hari menyambutnya dengan mentari yang terik.
"Nona, bangun sudah waktunya anda di make up," ucap peletakan tersebut.
"Sudah pagi ya?" Claire mengusap kedua bola matanya.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah, Nona," tambahnya.
__ADS_1
"Aku pikir ayah dan ibu menungguku, mimpi itu seperti kenyataan," ucap pelan.
Pelayan saling pandang hingga mereka teralihkan panggilan Claire yang sudah tiba di kamar mandi.